IMG-LOGO
Pesantren

Besok, RMI NU Gelar Halaqoh Pondok Pesantren


Ahad 24 Agustus 2014 20:01 WIB
Bagikan:
Besok, RMI NU Gelar Halaqoh Pondok Pesantren

Jakarta, NU Online
Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama akan menyelenggarakan Halaqah Pengasuh Pondok Pesantren di Hotel Aryaduta, Jakarta, pada Senin-Rabu, 25-27 Agustus 2014. Kegiatan tersebut akan menghadirkan 50 kiai Pondok Pesantren dari Jakarta, Banten, Jawa Barat, Sumatera Selatan, Jawa Timur, dan Yogyakarta.

<>
Agus Muhammad menyampaikan para kiai yang diundang sudah mengkonfirmasi kehadirannya. Menurut Koordinator Pusat Data dan Informasi Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah ini, halaqoh sudah dipersiapkan secara matang, meski dalam waktu yang cukup singkat. “Efektif seminggu kita persiapkan acara ini. Dan semoga diberi kelancaran.” tuturnya.

Halaqah tiga hari ini merupakan rangkaian kegiatan pertemuan Nasional Pengasuh Pondok Pesantren yang akan diselenggarakan RMI NU di beberapa titik. Pertemuan ini digagas dalam rangka Konsolidasi Nasional Pondok Pesantren, menghadapi persoalan-persoalan terkini yang dihadapi Pesantren dan umat Islam. Tema yang dibahas diantaranya, penguatan Jaringan Nasional Pondok Pesantren Nahdlatul Ulama dan langkah strategis Pondok Pesantren dalam menyikapi gerakan-gerakan radikal terorisme.

Langkah ini perlu ditempuh menurut Miftah Faqih, pertama, karena pondok pesantren merupakan elemen penting dalam menentukan kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri ini. Pondok pesantren memiliki sifat yang mengakar, bahkan indegeneous atau asli yang lahir dari kearifan para leluhur masyarakat Muslim Indonesia. Pesantren ada bahkan jauh sebelum NKRI ada.

Kedua, kata dia, pesantren memiliki karakter yang terbuka di satu sisi dalam kaitannya dengan perkembangan, tetapi juga sekaligus pesantren memiliki tradisi lama yang baik yang diwariskan turun temurun, terlebih dalam bidang keilmuan. Karakter dan tradisi inilah yang kemudian melahirkan konsep tawasuth, tasamuh, tawazun, dan i’tidal yang sampai sekarang dipertahankan pondok pesantren.

Masih kata Miftah, ketiga, pesantren memiliki andil besar dalam hitam putihnya negeri ini, dengan khidmat yang tak pernah habis diberikan oleh komunitas ini pada negeri ini. Baik hal itu sebelum negeri ini merdeka, dengan peran pesantren sebagai lembaga pendidikan Agama dan juga motor revolusi, saat merdeka, dan era mengisi kemerdekaan.

Dengan peran-peran itu, sambung dia, tak heran, pondok pesantren menjadi benteng bagi bangsa dan menjadi paku buminya negeri ini. Dalam posisi seperti inilah, peran penting pesantren dalam menyikapi persoalan-persoalan kekinian sangat diperlukan. Terlebih komunitas ini memiliki jumlah yang sangat signifikan.

“Kita menghadirkan kiai-kiai untuk menyampaikan informasi di lingkungan mereka. Banyak persoalan tentu dihadapi. Tetapi, dengan mengumpulkan energi bersama, diharap persoalan-persoalan pesantren dan negeri ini dapat dicarikan solusi terbaiknya. Ini sesuai dengan kaidah ilmu Nahwu dan Sharaf dalam Alfiyah Ibn Malik, bahwa isim tak akan bermakna kalau ia tidak membentuk kalimat. Dengan mengumpulkan diri, kita dapat melakukan banyak hal. Di sini jelas tergambar konsep kerjasama yang harus terus dilakukan, bukan sama-sama bekerja.” tutur Sekjen Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama ini.

Dalam halaqah ini, akan menghadirkan Ketum PBNU, KH Said Aqil Siraj, untuk membuka rangkaian acara selama tiga hari ini. Selain itu, Amin Haedari, Ketua RMI NU, juga telah mengkonfirmasi kehadirannya, di hari kedua sebagai pemateri. Kemudian ada, Ansyaad Mbai, Agus Surya Bakti, Syeikh Rajab dari Suriah, KH Dian Nafi’ (Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayyad), dan Irfan Idris. (khayun/alawi)

Bagikan:
IMG
IMG