IMG-LOGO
Nasional

Mbah Muchit, Menjadi NU Sejak 1941


Selasa 2 September 2014 17:02 WIB
Bagikan:
Mbah Muchit, Menjadi NU Sejak 1941

Depok, NU Online
Seandainya ada rekor Muri untuk anggota terlama NU, mungkin KH Muchit Muzadi atau akrab dipanggil Mbah Muchit menjadi pemenangnya karena ia telah menjadi anggota NU sejak tahun 1941. Bukan hanya anak-anak muda NU, para pengurus senior NU pun banyak yang belum lahir waktu itu.
<>
Santri KH Hasyim Asy’ari ini menuturkan, ber-NU zaman dahulu berbeda dengan sekarang. Kala itu, Muchit muda yang masih nyantri di pesantren Tebuireng ini harus mengajukan diri menjadi anggota kepada pengurus Kring NU atau pengurus Ranting NU agar diterima menjadi anggota. 

Tak semuanya bisa langsung diterima karena pengajuan tersebut harus diproses ditingkat Pengurus Besar NU. Baru pada empat bulan kemudian dinyatakan diterima sebagai anggota NU Kring Tebuireng. Tahap selanjutnya adalah membayar biaya pendaftaran sebesar 25 sen. Saat itu harga gula per kilo 10 sen, sehingga jika dikonversi pada nilai sekarang, biaya pendaftaran sekitar 30 ribuan. Lalu, tiap bulan anggota harus membayar ianah syahriyah atau iuran bulanan sebesar 20 sen atau sekitar 20 ribu rupiah. Ia juga mendapat kartu anggota yang ditandatangani oleh KH Wahab Hasbullah.

Tak hanya itu, anggota memiliki kewajiban untuk ikut dapat pertemuan lailatul ijtima atau pertemuan bulanan, yang sering dipelesetkan dengan night club, karena artinya adalah adalah pertemuan malam.

“Jadi untuk menjadi anggota NU itu sulit dan setelah menjadi anggota lebih sulit lagi,” katanya dalam forum halal bihalal dan sesarehan NU di Pesantren Al Hikam Depok, Sabtu (30/8).  

Muchit yang Desember mendatang berusia 90 tahun ini menjelaskan, keinginannya untuk menjadi NU adalah untuk mengabdi dan berbuat sesuatu untuk NU.

“Saya paling takut kalau dipecat dari NU,” katanya dengan nada suara yang masih sangat jelas. 

Pengurus Kring, katanya, selalu memiliki catatan kewajiban dan keadaan para anggotanya. Karena skupnya masih kecil, maka antara anggota dan pengurusnya semuanya saling kenal. 

Dalam perjalanan menuju Jakarta, pramugari sampai terheran-heran, “Ada urusan apa sampai kakek-kakek yang sudah sepuh masih menyempatkan diri pergi ke Jakarta.” Baginya, NU adalah segalanya, tubuhnya yang sudah renta tidak menghalangi untuk mengikuti kegiatan NU.

Apa yang disampaikan oleh Kakak dari mantan ketua umum PBNU KH Hasyim Muzadi ini bisa menjadi pelajaran, hal-hal baik NU zaman awal yang bisa digali kembali. (mukafi niam)

Bagikan:
IMG
IMG