IMG-LOGO
Nasional

Pemahaman Dangkal Beragama, Jembatan Menjadi Teroris


Jumat 19 September 2014 18:04 WIB
Bagikan:
Pemahaman Dangkal Beragama, Jembatan Menjadi Teroris

Jepara, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj menganjurkan ratusan warga yang menghadiri Harlah ke-71 Mathali’ul Huda, Jepara, untuk meningkatkan intensitas pengajian dan pendalaman ilmu agama. Kiai Said merunut akar gerakan kekerasan pada sempitnya dan dangkalnya pemahaman seseorang terhadap agama.
<>
“Radikalisme dan terorisme itu tidak bisa dilepaskan dari pemahaman yang sempit terhadap Islam yang seharusnya rahmatan lil alamin,” kata Kiai Said di lokasi harlah di desa Bugel kecamatan Kedung, Jepara, Rabu (17/9) malam.

Teror di Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi, dan daerah lain di Indonesia bukan sikap Islami. Islam tidak mengajarkan kekerasan dan perampokan dalam menyebarkan agama.

“Dalam konteks global, paham ISIS jelas bukan ajaran Islam. Mereka membunuh perempuan dan anak-anak, warga sipil yang tidak bersalah dan sesama muslim. Gerakan mereka justru mencederai Islam secara terang-terangan,” tuturnya.

Di hadapan ratusan jamaah, Kiai Said mengingatkan pentingnya pemahaman terhadap ajaran dan amaliyah Islam Aswaja. Pasalnya, saat ini muncul banyak kelompok dan gerakan mengatasnamakan Islam. Mereka merasa benar. Karenanya, mereka tidak segan mengafirkan orang Islam yang berbeda dengan madzhabnya.

Mauludan dengan memuji Nabi Agung Muhammad SAW dan sholawatan dianggap bid’ah. Padahal sholawatan sunah taqririyah. “Yang menganggap maulid dan shalawatan itu bid’ah pastilah tidak memahami tarikh Islam dan hadits Rasulullah secara utuh,” kata pengasuh pesantren luhur Ats-Tsaqafah, Jakarta.

Seorang sastrawan Ka’ab bin Zuhair seperti dicatat sejarah, hidup di masa Nabi Muhammad. Ketika memeluk Islam, kegemarannya memuji dilantunkan di hadapan Rasulullah tanpa larangan. Atas dasar itulah Nahdliyyin meyakini, sholawatan dan maulid adalah sunah taqririyah.

“Untuk itu pelestarian ajaran Islam Aswaja NU di madrasah dan pesantren harus terus kita lakukan bersama dan tanamkan kepada anak-cucu kita,” imbau Kiai Said. (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

Bagikan:
IMG
IMG