IMG-LOGO
Opini

Esensi Ibadah Qurban

Selasa 7 Oktober 2014 16:1 WIB
Bagikan:
Esensi Ibadah Qurban

Oleh Nasrulloh Afandi

--Pengorbanan tertinggi manusia adalah mengikhlaskan sesuatu yang sangat dicintai semata-mata untuk dan karena Allah SWT, meskipun sesuatu itu telah lama dinantikan dan baru saja didapatkannya.<>

Khazanah ini, bisa mengambil i’tibar (perumpamaan) dari kisah keikhlasan jiwa besar Nabi Ibrahim AS, Ia  telah lama berdoa dan menantikan kehadiran seorang putra, namun ketika putra yang telah lama Ia nantikan itu, baru saja Ia miliki dan telah  tumbuh berusia tiga belas tahun, malah justru datang perintah baru dari Allah SWT, untuk menyembelih putranya sebagai qurban, Ia pun ikhlas menerimanya. Maka akhirnya, semakin diangkatlah derajatnya di mata Allah swt.

Mengorbankan Kepentingan Keluarga

Nabi Ibrahim AS adalah sang promotor yang mengajak umat manusia untuk mengorbankan kepentingan pribadi dan keluarganya demi untuk kepentingan yang lebih luas atas dasar kebenaran (agama) sehingga Ia pun tanpa ragu, tanpa menunda-nunda, langsung dengan ikhlas menuruti (Kebenaran) perintah Allah swt untuk menyembelih putranya,

Ia bersikap mengedepankan kepentingan agama (kebenaran di ruang publik)  dan untuk ummat, meski harus mengorbankan putranya.- Subhanallah-. Meskipun akhirnya putranya tidak jadi disembelih, karena Allah SWT mengutus malaikat untuk menggantikan Nabi Ismail AS dengan kambing untuk disembelih.

Syeikh Tohir Bin Asyur Sang penggerak lokomotif  Maqashid Syariah modern, dalam magnum opusnya, kitab “Tafsir At-Tahrir wat-Tanwir”, ia mengomentari tentang perintah Allah swt kepada Nabi Ibrahim as untuk menyembelih putranya ,yang dibadikan dalam al-Quran(QS As-Shaafaat 102-109) : “Sejatinya Allah swt tidaklah akan mensyariatkan kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih putra semata wayang kesayangannya yang telah lamadinantikannya itu, tetapi perintah tersebut hanyalah upaya Allah swt menguji kualitas keimanan untuk menetapkan dan mengangkat derajatnya Nabi Ibrahim as, bersedia atau tidakkah mengorbankan putranya itu. Terbukti, setelah Nabi Ibrahim dan putranya pun bersedia(bersabar) untuk melaksanakn perintah tersebut, kemudian  Allah swt pun menggirim kambing untuk disembelih, sebelum Nabi Ibrahim melaksanakan atau menyembelih putranya”.

Inilah esensi disyariatkan ibadah qurban, pada tahun kedua Hijriah, yaitu tahun bebarengan dengan disyariatkan(diperintahkannya) Dua salat Id dan zakat harta, itu,

Ekslusivisme Ibadah Qurban

Faktor yang menjadi pijakan ibadah qurban, setidaknya ada dua hal:

Pertama; Untuk mengenang kebesaran jiwa antara seorang ayah yang bernama Nabi Ibrahim AS yang sangat berjiwa besar dan ikhlas rela mengorbankan kpentingan pribadi dan keluarganya, terbukti Ia pun bersedia melaksanakan perintah meneyemeblih anaknya atas dasar kebenaran (dari perintah agama).

Kedua; Mengenang kesabaran dan ketaatan  Sang anak (birrul walidain) yang sangat berbakti pada orang tuanya, Ia  bernama Nabi Ismail as yang ikhlas mau disembelih sebagai qurban oleh ayahnya dengan landasan kebenaran(Firman Allah swt).

Karena dua faktor ini pula, ibadah Qurban mempunyai ekslusivisme, diantaranya, memotong hewan Qurban, adalah harus dilakukan pada waktu yang telah ditentukan oleh syariat, yaitu empat hari: Tanggal 10 Dzulhijjah (setelah shalat ‘Id) dan tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah (tiga hari sesudahnya) yang dikenal dengan Ayyamutasyriq.

Hal ini, yang membedakan antara penyembelihan hewan Qurban dengan (ibadah) penyembelihan hewan lainnya. seperti menyembelih hewan aqiqah, atau juga memotong hewan ternak untuk pesta pernikahan atau menjamu tamu, atau memotong hewan karena memenuhi nazar, atau hewan Dam(denda) yang disembelih oleh orang yang berhaji Tamattu, atau haji Qiran, namun itu semua berbeda dengan memotong hewan Qurban dalam momentum Idul Adha ini. Karena amalan-amalan trsebut, bisa dilaksanakan kapanpun.

Inilah dimensi ekslusivis Ibadah qurban dari syiar Islam lainnya yang berupa ibadah menyembelih(hewan)

Bagaimana Berqurban di Ruang Publik?

Betapa pun sesuatu hal yang sangat dicintai dan telah lama diharapkan, dan baru saja dimiliki, tetapi ketika Perintah Tuhan(kebenaran di ruang Publik) menyerukan untuk mengorbankan hal itu, maka harus ikhlas dikorbankannya.

Dalam konteks ini, implementasinya, dalam kehidupan sosial sehari-hari, dengan tidak terbatas waktu, musim atau tempat, kapan dan dimanapun, jelas membantu orang-orang membutuhkan adalah sebuah tuntutan kebenaran yang harus dilakukan. Sebagaimana Nabi Ibrahim ikhlas mengorbankan putranya, meski masih dalam keadaan “bulan madu” bersama putra kesayangannya.

Di berbagai  lini aktivitas sosial, hal ekonomi, pendidikan, keadilan, politik dan kebebasan berpikir, itu semua adalah bagian dari hal-hal yang perlu pengorbanan, wajib dilakukan oleh orang-orang  mampu untuk melakukannya , berkewajiban untuk berqurban demi membantu mereka yang membutuhkan. Bukan sebaliknya, orang yang lebih kuat atau berkecukupan  justeru mengorbankan orang yang lebih lemah atau kekurangan dijadikannya sebagai tumbal angkara ambisi mereka yang kuat.

Jika hal ini bisa terlaksana di kancah kehidupan sosial bermasyarakat, maka kronisnya penyakit moral berupa: “Mengorbankan kebenaran yang merugikan publik, demi tercapainya hal-hal ambisi pribadi , keluarga dan golongannya”, secara estafet, penyakit tersebut akan tergusur. Bahkan niscaya event Idul Adha ini, maka secara estafet akan mampu dijadikan Pijakan Strategis Reorientasi Totalitas Moralitas Bangsa, dari keterpurukannya yang kian bertambah akut ini.

Teladan dari Nabi Ibrahim AS ini, memang tentu sangatlah langka untuk kita temukan dalam kehidupan bangsa Indonesia tercinta itu, utamanya yang menjangkit kalang elite pemerintah negeri tercinta dasawarsa ini.

Di sisi lain, skandal moral, yang menjangkit totalitas bangsa kita itu, di berbagai lini aktivitas kehidupan bangsa Indonesia ini, dengan semakin langkanya jiwa-jiwa sosial, egoistis merajalela, mencari rezeki dengan menghalalkan segala cara. Kebenaran dan kemanusian dikorbankan, -- parahnya lagi kerap mengklaim sebagai pejuang publik---  meski sejatinya demi hanya untuk mengedepankan tercapainya ambisi pribadi dan keluarga atau maksimal golongannya belaka.

Analisis (tafakkur) berbagai unsur nilai ruhaniah (spiritualitas) yang terkandung, atas disyariatkannya ibadah qurban ini. Adalah sebuah pijakan awal untuk langkah menempa setiap individual manusia (Pasca Idul Adha) dengan hal-hal positif, dengan metode mengambil I’tibar( Teladan) dari apa yang telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS putranya.

Semangat Idul Adha atau hari raya Qurban ini, sudah semestinya  “menjadi start awal” medan memerangi nafsu angkara ambisi, dan kedzoliman (kesewenang-wenangan) yang telah subur bercokol di ruang publik tanah air kita ini, dengan cara “menyembelih” kenaifan-kenaifan tersebut, dan kembali kepada semangat autentisitas berqurban sejati, yaitu berkorban untuk mengedepankan kebenaran, kepentingan luas, dan meminggirkan kepentingan sempit, demi terwujudnya kemaslahatan yang lebih luas.

 

Nasrulloh Afandi, Wakil Ketua Yayasan Pondok Pesantren Asy-Syafi’iyyah, Kedungwungu, Indramayu Timur, Jawa Barat.

Bagikan:
Kamis 2 Oktober 2014 23:15 WIB
Reorientasi Dakwah
Reorientasi Dakwah

Oleh Muhammad Zidni Nafi’

--Dakwah selama ini dipahami terlalu dipersempit. Orientasi dakwah tidak selalu untuk mengajak masyarakat agar disiplin dalam melaksanakan ritual ibadah. Tetapi dakwah juga dapat digerakkan bisa dikembangkan pada bidang-bidang kemasyarakatan, dalam konteks ini dakwah sebagai media untuk memberikan stimulan kepada masyarakat agar tergugah untuk mendidik, membangun, mengembangkan dirinya sehingga dapat memanfaatkan segala potensi dan lingkungan disekitarnya.<>

Muncul pertanyaan, mampukah “dakwah” menjawab problem di atas? Lazimnya, seorang tokoh agama yang sudah mempunyai wibawa sehingga masyarakat bakal meng’iya’kan apapun kata tokoh agama tersebut. Inilah salah satu peluang untuk mengajak masyarakat dengan dakwah-dakwah khusus yang membangunkan mental-mental kemandirian masyarakat.

Dakwah dan Orientasi

Dakwah dalam pengertian bahasa berarti mengajak, menyeru, memanggil. Berangkat dari pengertian bahasa itu, lalu dihubungkan dengan nash (teks) Al-Qur’an dan hadist yang berkaitan dengan dakwah Islamiah, Syaikh Ali Mahfudh dalam karyanya yang berjudul Hidayah al-Mursyidin menetapkan definisi dakwah sebagai suatu usaha mendorong (memotivasi) untuk berbuat baik, mengikuti petunjuk (Allah), menyuruh orang untuk mengajarkan kebaikan, melarang mengerjakan kejelekan, agar dia bahagia di dunia dan akhirat (KH. MA. Sahal Mahfudh, 2012: 105).

Dari situ dapat dipahami, bahwa dakwah merupakan usaha sadar untuk mengajak orang lain bagaimana untuk meraih tujuan dengan jalan berbuat baik dan meninggalkan keburukan. Melakukan dakwah pada dasarnya adalah memberikan motivasi kepada orang lain yang memerlukan perhatian. Jelas bahwa orientasi dakwah tidak lain adalah untuk tercapainya kesejahteraan dan kebahagiaan dunia hingga akhirat (sa’adatuddarain). Dalam konteks ini, tentu dakwah yang dimaksud bukanlah dakwah yang sifatnya konvensional, namun diarahkan pada dakwah-dakwah pemberdayaan masyarakat.

Sayangnya, tidak banyak dari para tokoh agama yang subtansi dakwahnya memotivasi masyarakatnya dalam membangun mental dan menggiatkan usaha untuk tercapainya kemandirian sosial maupun ekonomi. Monoton, normatif bahkan dogmatis yang nampak dalam dakwah yang selama ini kebanyakan dijalankan oleh para tokoh dakwah. Padahal dakwah merupakan media yang bagus, netral dan efektif, karena langsung menyentuh dan sudah melekat dalam ritual keagamaan masyarakat.

Masyarakat sebagai sasaran utama dakwah terbawa nuansa-nuansa dakwah yang biasanya terpaku pada dimensi rohaniah. Di samping juga kelemahan masyarakat itu sendiri untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Pelaku dakwah tentu harus tahu persis kebutuhan dakwah yang dibutuhkan oleh suatu kelompok masyarakat. Begitu pula mereka harus menggali potensi-potensi (manusia, alam dan teknologi) yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang kebutuhan kelompok, baik kebutuhan jangka pendek maupun jangka panjang, maupun kebutuhan yang mendesak atau mendasar.

Berangkat dari premis-premis di atas, dapat dipahami bahwa dakwah harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat sasaran. Dalam konteks ini, KH. MA. Sahal Mahfudh atau yang akran disapa Mbah Sahal memberikan perhatian lebih dalam materi dakwah juga perlu dipilah, antara ritual keagamaan dan semangat pemberdayaan. Pemilahan materi dakwah penting untuk diperhatikan. Apabila dakwah berorientasi pada pemenuhan kebutuhan kelompok, maka dibutuhkan pendekatan yang partisipatif, bukan pendekatan teknokratis. Artinya, disamping memotivasi, masyarakat juga diajak untuk bergerak melaksanakan materi dakwah pemberdayaan yang sudah disampaikan.

Dengan pendekatan itu, kebutuhan masyarakat sasaran dakwah yang akan diberdayakan oleh para motivator dakwah (kader) akan berjalan beriringan antara materi dan praktek. Pendekatan seperti ini memerlukan monitoring yang up to date sebagaimana yang kini dikembangkan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat yang populer disebut “riset aksi”.

Dengan demikian, dakwah yang tidak dilakukan dengan perencanaan global yang turunan dari atas (top down), yang kadang-kadang sampai di bawah tidak menyelesaikan masalah. Perencanaan model top down sering mengabaikan pemetaan masalah, potensi, dan hambatan spesifik berdasarkan wilayah atau kelompok, jenis kelamin, dan sebagainya.

Tipe masalah satu kelompok masyarakat lain di tempat yang berbeda. Dakwah inilah yang sekarang Sahal Mahfudh sebut dengan dakwah bil hal atau dakwah pembangunan, atau dakwah bil hikmah menurut istilah di Al-Qur’an. Seperti yang tercantum dalam surat al-Nahl ayat 25, “Serulah manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan jalan yang baik”.

Orang menyebut dakwah bil hal, barangkali merupakan koreksi dakwah selama ini yang banyak terfokus pada dakwah mimbar yang monoton dari sisi penerimaan pembicaranya, sementara dana dan daya habis untuk kegiatan semacam itu tanpa ada arti perubahan berarti.

Namun kalau melalui dakwah bil hal atau dakwah bil hikmah, apakah dakwah bil lisan atau mau’izhah hasanah ditinggalkan? Sama sekali tidak. Sebab harus tetap ada dakwah model mau’izhah hasanah. Karena dakwah yang dicontohkan Mbah Sahal seperti dakwah di atas mimbar tetap penting dalam konteks-konteks tertentu. Juga tidak ditinggalkan metode dakwah yang lainnya, misalnya mujahadah, seperti forum dialog, seminar, simposium, atau diskusi-diskusi.

Metode Penunjang

Melihat sasaran dakwah yang begitu luas, sementara perkembangan teknologi begitu pesatnya, maka dalam menjalankan dakwah juga perlu menggunakan media yang sesuai dengan selara sasaran dakwah. Jika diklasifikasikan bisa ditinjau dari umur, status sosial, tingkat pendidikan, dan kebutuhan kelompok sasaran itu sendiri. Karena dakwah yang berorientasi pada sasaran itu tidak pada ‘ruangan’ yang hampa. Ruangan sudah terisi budaya, sistem nilai, teknologi dan perundang-undangan yang sudah mengakar.

Pembangunan masyarakat adalah proses dari serangkaian kegiatan yang mengarah pada peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat. Setidaknya ada kesamaan antara keduanya. Ia sama-sama ingin mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat atau sekelompok sasaran. Dan ia sama-sama meningkatkan kesadaran dari perilaku dari perilaku tidak baik untuk berperilaku yang baik.

Pada akhirnya, dakwah yang tidak memenuhi selera sasaran dan tujuan, meskipun berjalan, tetapi ibarat berjalan di tempat, atau dengan kata lain, maju tidak, mundur bisa jadi. Hal ini karena orientasi pembangunan negara untuk kepentingan masyarakat, harus lebih diutamakan, bukannya pengembangan sumber daya manusia yang tinggi maupun penguasaan teknis hanya untuk memenuhi kebutuhan modernisasi.

Dengan kata lain, bukan modernitas yang lebih dikejar melainkan terpenuhinya rasa keadilan dalam kehidupan bermasyarakat yang harus diutamakan. Kehidupan modern yang penuh kenikmatan bagi sekelompok orang bukanlah sesuatu yang dituju Islam, melainkan kesejahteraan bagi seluruh penduduk. Prinsip ini sangat menentukan bagi keberlangsungan hidup sebuah negara (Abdurrahman Wahid, 2006: 96).

Hemat penulis, metode dan materi dakwah haruslah disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan objek itu sendiri. Dakwah bukan lagi cara orang untuk meyakinkan orang lain untuk percaya kepada Tuhan yang Haqq, tetapi untuk menggerakkan masyarakat akan menjadi hamba Allah dan warga negara yang terampil, kreatif mandiri dan mempunyai orientasi hidup yang progresif.

 

Muhammad Zidni Nafi’, alumni Ma’had Qudsiyyah Kudus, mahasiswa jurusan Tasawuf Psikoterapi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, kontributor NU Online Bandung.

Kamis 25 September 2014 16:30 WIB
Menjadi Dewan Idaman
Menjadi Dewan Idaman

Oleh Farhan Effendy

--Pernah mendengar istri ato suami idaman? Menjadi menantu kesayangan? Atau pacar idaman, sebagaimana celoteh dan nyanyian Rita Sugiarto di tahun 80an. Sungguh, menjadi seseorang yang diidamkan adalah sebuah kebanggaan dan keberhasilan tersendiri. Prestasi diri sebagai yang bisa dipercaya, dicintai dan diharapkan bisa dimilikinya. Ibarat gadis yang ditimang pangeran karna keistimewaanya. Walhasil menjadi idaman adalah sesuatu yang mewah dalam batin dan pikiran kita. Lalu bagimana dengan Dewan kita? Adakah satu diantara mereka yang bisa kita idam-idamkan perjuangan dan keberhasilanya? Siapakah Dewan yang di idamkan rakyat kita?<>

Adalah sial memang, keberadaan rakyat Indonesia hari ini karena memiliki dewan atau wakil rakyat yang banyak membuat nafas kita sesak karena begitu seringnya korupsi dan menambah istri. Dewan saat ini juga kerap membuat sakit mata karena suka pamer kemewahan ditengah kemiskinan dan kepanikan rakyat mengais harta. Belum lagi sikap aroganya jika berkata serta tidak memiliki andhap-ashor (kerendahan hati) serta solah bawah dalam bergaul dengan rakyat kecil. Kebanyakan mereka suka menasehati rakyat ketimbang mendengar keluh kesah kebutuhan-kebutuhan rakyat.

Jika kita perhatikan tingkahlaku anggota Dewan, dari informasi diberbagai media massa yang memberitakan, berbagai kejahatan ringan, sedang sampai berat, banyak yang melibatkan anggota terhormat tersebut. Di samping gaya hidup bermewah-mewah, mereka kerap melaksanakan rapat yang setengah hati (ketidakhadiran rapat, rapat sambil tidur dan bahkan sampai sempat menonton film porno), melaksanakan rapat/sidang tidak profesional (sidang sambil gontok-gontokan/ribut seperti taman kanak-kanak), membuat kebijakan yang tidak pro rakyat kecil (lapisan bawah), menghambur-hamburkan anggaran negara (bagi-bagi proyek) untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya (seperti yang terjadi di Banggar), dan prilaku koruptif  masih merajalela di sana. Kondisi demikian sungguh sangat memprihatinkan bagi semua rakyat. Ternyata orang-orang pilihan dan mulia tersebut berprilaku demikian kontradiktif, tidak sesuai harapan rakyat. Lebih tepatnya menyeleweng dari pengamalan Pancasila khususnya sila ke 4. Mereka jauh dari hidup yang penuh hikmah dan kebijaksanaan. Gagal menjadi suri tauladan dalam bersikap, berbicara dan bertindakan.

Di hadapan  rakyat Indonesia, sesungguhnya menjadi anggota  merupakan prestasi tersendiri. Ia laiknya mahluk seksi yang banyak dicermati, di dengar dan diharapkan kehadiranya, ibarat artis yang ditunggu dalam pesta jamuan rakyat. Hal ini perlu dimengerti, diingat dan perlu disadari bahwa anggota Dewan merupakan fasilitator (penghubung) antara rakyat dengan pemimpinnya yang mengemban tugas, amanah, dan harapan dari rakyat yang harus diperjuangkan diparlemen. Berkat perjuangan anggota Dewanlah suara rakyat (aspirasi) dapat didengar oleh pemimpin negeri ini. Jadi,  jabatan anggota Dewan sungguh merupakan tugas yang sangat mulia.

Menilik begitu penting posisi Dewan,  dan begitu besarnya harapan rakyat untuk bisa terus melangsungkan hidup dengan baik di negri ini. Ada pantasnya jika para anggota Dewan yang terpilih kali ini (2014-2019) menyudahi praktek buruk Dewan masa lalu. Sahabat-sahabat yang dipilih oleh rakyat kemarin itu harus segera refleksi dan melalukan standing posisi untuk bekerja ke depan sekaligus berusaha keras merubah wajah bopeng mereka. Setidaknya 560 anggota Dewan yang dipilih- entah karena uang atau kecintaan rakyat terhadapnya, perlu menjadi bintang baru yang menyinari dan menghangati kelesuan karena merosotnya kepercayaan rakyat terhadapnya. Anggota Dewan perlu berlomba menjadi kekasih baru yang di idamkan oleh rakyat.

Melalui artikel pendek ini, penulis memberi sumbangan pikiran dan advise terhadap teman-teman yang kini menduduki kursi kehoramatan majlis rakyat itu. Ada beberapa sifat dan karakter Dewan yang yang sangat di sukai dan diminati oleh rakyat, berdasarkan survei dibeberapa lembaga dan media nasional. Diantara sifat tersebut adalah  pertama Jujur.  Rakyat Indonesai mayoritas menghendaki anggota Dewan yang jujur dalam segala hal baik perbuatan, perkataan, hati, dan jiwa.

Untuk memperoleh kriteria jujur seorang Dewan maka indikatornya yaitu perhatikan prilaku sehari-hari yang menerapkan sifat kejujuran. Sifat jujur sangat erat kaitannya dengan latar belakang pendidikan dan wawasan keagamaan yang dijalaninya. Orang yang jujur tidak pernah takut resiko dengan siapapun (termasuk pimpinan atau organisasi yang mendukungnya) demi memperjuangkan sebuah kebenaran dan keadilan demi rakyatnya. Orang yang jujur hanya takut pada sang Pencipta (Allah SWT / Tuhan) akan pertanggungjawabannya dikehidupan akhirat kelak.

Kedua adalah memiliki kepekaan sosial (jiwa sosial). Sebagai anggota Dewan, ketika muncul permasalahan-permasalahan yang akan merugikan rakyat hendaknya bisa memutuskan kebijakan-kebijakan yang membantu dan membela rakyatnya (terutama rakyat kecil yang lemah dan miskin). Selain itu, bahkan bisa memutuskan dan membuat kebijakan-kebijakan yang berpihak ke rakyat pada umumnya. Anggota Dewan yang memiliki kriteria ini biasanya sangat dekat dengan rakyat lapisan bawah dan beliau pernah merasakan hidup susah (himpitan ekonomi) karena berasal dari keluarga berekonomi pas-pasan.

Ketiga, rendah hati dan sederhana. Rendah hati merupakan cerminan dari prilaku pemimpin yang tak akan menyalahgunakan kekuasaannya. Seseorang yang rendah hati cenderung berprilaku baik dalam melaksanakan amanahnya. Sikap rendah hati kontradiktif dengan sikap sombong-angkuh. Juga kesederhanaan gaya hidup sangat penting untuk sosok wakil rakyat. Kesederhanaan harta benda yang dimilikinya dan kesederhanaan dalam berprilaku (bahasa sederhana, sopan dan santun).

Dewan adalah manusia pilihan harapan rakyat. Dewan merupakan pemimpin politik yang mengabdi untuk rakyat. Jalan hidup paling ideal bagi seorang pemimpin politik adalah hidup seperti kehidupan mayoritas rakyatnya. Tidak sepantasnya seorang pemimpin politik yang notabene pelayan bagi rakyatnya menggeluti jalan hidup bermewah-mewahan dan elitis. Pemimpin semestinya hidup sederhana dan peka terhadap persoalan di sekitar. Tak banyak para pemimpin di dunia ini yang bersedia memilih bergaya hidup sederhana. Selamat bertugas untuk para anggota Dewan 2014-2019, semoga kalian mampu mencinta dan dicintai rakyat Indonesia. Wassalam.

Farhan Effendy, Sekretaris DPP PD

 

Rabu 24 September 2014 5:1 WIB
Pesantren, Produktifitas dan Sastra
Pesantren, Produktifitas dan Sastra

Oleh Fathurrahman Karyadi

--Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) pernah mengadakan halaqah nasional kebudayaan pesantren di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Acara tersebut dihadiri oleh banyak penulis, sastrawan, intelektual, redaksi majalah dari berbagai pesantren di nusantara. Hadir pula sebagai pembicara D Zawawi Imron, Jadul Maula, Dr Mastuki, Agus Sunyoto dan Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj membawakan orasi kebudayaan.<>

Intinya membicarakan nasib perkembangan sastra dan budaya tulis menulis di pesantren. Di satu sisi kini mulai berkembang dengan maraknya majalah-majalah yang dikeluarkan pesantren dan dikelola oleh santri sendiri. Seperti Majalah Misykat oleh Pondok Lirboyo, Kakilangit dari Pondok Langitan, Bulettin Sidogiri, Majalah Tebuireng dan sebagainya. Namun di sisi lain juga merosot. Buktinya kita jarang menemukan kiai yang menggeluti dunia sastra kecuali hanya beberapa saja seperti A Mustofa Bisri, celurit emas alias D Zawawi Imron, A Tohari, Kiai Mbeling atau Emha Ainun Nadjib, Acep Zamzam Noor, Habiburaahman El-Shirazy, Zaenal Arifin Thoha, Abidah El Khaliqy, Ishomuddin Hadzik dan lainnya.

Membicarakan sastra kaum sarungan maka tak lepas dari tradisi tulis-menulis yang kental dimiliki ulama tempo dulu. Kita kenal Syekh Mahfudz al-Tarmasi, Nawawi al-Bantani, Ihsan al-Jampasi, atau ulama luar Jawa sekaliber Syekh Hamzah al-Fansuri, Yusuf al-Makasari, Ahmad Khatib al-Minakabawi, Abdurrauf al-Singkili. Mereka semua tercatat dalam sejarah Islam sebagai ulama-ulama Indonesia yang produktif menulis. Karya-karyanya sudah tersebar luas ke seantero jagad.

Sulit dibayangkan bagaimana mungkin kiai jaman dahulu bisa menulis padahal kala itu alat-alat tulis tak mudah diperoleh. Qalam-sebutan pena masa itu-yang digunakan untuk menulis dibuat dari berabagai macam benda, seperti lidi tapas enau (aren), sebilah bambu dan bulu ayam. Qalam yang bagus, menurut D Zawawi Imron, adalah qalam yang dapat menulis huruf ra' seperti layaknya bentuk cerurit orang Madura atau seperti bulan sabit di malam hari, lancip dan runcing.

Setelah qalam selesai dibuat, untuk menulis dibutuhkan yang namanya tinta. Tinta ini diracik dari jelaga yang dicampuri getah pepohonan, atau  dapat dibeli di pasaran dalam bentuk padat, belum dicairkan. Untuk kertas, media yang paling banyak digunakan adalah kulit hewan, sebagian juga kertas-kertas  hasil import dari Eropa dan Cina. Waktu yang digunakan untuk menulis, para kiai mimilih malam hari. Bahkan ada semboyan: bunyi qalam-goresan pena di atas kertas-pada malam hari akan terdengar sampai langit ketujuh.

Meski peralatan serba tradisional, itu tidak membuat mereka patah semangat. Karya-karya yang mereka lahirkan pun cukup beragam, ada yang berupa natsar (prosa) dan nadzam (puisi). Kiai Bisri Mustofa contohnya, ayahanda Gus Mus ini menyusun banyak kitab syair bahasa Jawa, di antaranya Mitra Sejati dan Ngudi Susilo. Bahkan Tombo Ati yang dinyanyikan Opick hingga banyak digemari publik adalah buah karya Kiai Bisri yang diadaptasi dari maqalahnya sayyidina Ali, ra.

Selain Kiai Bisri, ada banyak kiai pesantren yang menulis karyanya dalam bentuk puisi. Kiai Ahmad Sidiq, Jember, mengarang kitab Tanwir al-Hija yang mengulas fiqh dalam 312 sajak. Maka tak heran karena saking bagusnya susunan kalimat dan isi kandungannya, Syekh Muhammad Ali bin Husain al-Makki, ulama fiqh madzhab Maliki terkemuka Mekkah, mensyarahi (memberi komentar) nadzam tersebut dengan kitabnya yang berjudul Inarat al-Duja sebanyak 212 halaman panjang. Selain itu Kiai Abdul Hamid, Pasuruan, juga mengarang kitab nadzam fiqh yang diilhami dari kitab Sullam Al Taufiq sebanyak 553 bait. Syekh Ihsan al-Jampesi tak kalah uniknya, beliau mengulas permasalahan rokok dalam karyanya Irsyad al-Ikhwan dalam bentuk sajak berirama rajaz

Baru-baru ini penulis menemukan tiga buah kitab nadzam karya ulama nusantara. Judulnya Mir'ah Afkar al-Rijal karya Kiai Ahmad Zaini, Solo. Kitab yang dieksplorasi dari kitab Ta'lim al-Muta'allim karya fenomenal Syekh al-Zarnuji ini ditashih oleh Syekh Ahmad Sa'd Ali, ulama besar Al-Azhar, dan diterbitkan oleh Salim Nabhan Surabaya pada tahun 1934. Yang lebih mengherankan, di bagian akhir kitab, sang pengarang mengaku untuk menyusun kitab sebanyak 272 sajak ini hanya memakan tempo sepuluh hari.

Dua kitab selanjutnya karya Al Hajj Muhammad As'ad bin Abdurrasyid, Bugis,  berjudul Mahya' al-Taysir menerangkan ilmu tafsir, diterbitkan tahun 1937. Dan Sullam al-Usul menjelaskan ilmu usul fiqh dalam 127 bait. Ditashih dan diterbitkan tahun 1947. Ironinya, karena tidak dicetak ulang ketiga karya emas kiai nusantara ini tak banyak diketahui publik, padahal bila dikaji memiliki nilai ilmiah yang begitu tinggi.

Kegandrungan kiai terdahulu dalam bersajak tidak hanya terlampiaskan dalam menyusun kitab. Mereka tak jarang berpolemik dan mengirim surat dengan bahasa puisi yang estetik. Sekitar tahun 1935-an, tiga edisi majalah Berita Nahdlotoel Oelama pernah memuat polemik antarkiai NU dalam suatu masalah diniyah. Anehnya, mereka lebih memilih menulis opininya dengan susunan nadzam berbahasa Arab ketimbang natsar bahasa Jawa.

Alm. Gus Ishom, cucu Hadratussyekh KH. M. Hasyim Asy'ari, pernah mengisahkan bahwa sang  kakek pernah berdebat seru dengan Kiai Amar Faqih, Maskumambang Gresik. Keduanya sama-sama menulis kitab agar pendapat salah satu di antara mereka ada yang paling unggul. Namun polemik terus saja berlanjut bahkan tidak ada titik temu sebab dalil dan argumen yang dipakai keduanya merujuk pada Al-Qur'an. Melihat polemik semakin berkepanjangan, spontan Kiai Hasyim menggubah sebuah syair berbahasa Arab:

Aku boleh ragu,

Kalian boleh ragu,

Mereka boleh ragu,

Tapi semua keraguan

tak akan menghapus kebenaran

firman Tuhan

Melalui sajak sederhana tersebut, Kiai Hasyim menegaskan, pendapat seseorang bisa saja diragukan kebenarannya, mengingat manusia adalah tempatnya kesalahan, sebagaimana maqalah populer berbunyi al-insan mahl al al-khatta' wa al nisyan (anusia adalah ladangnya kesalahan dan kelalaian). Akan tetapi, firman Allah SWT yang dijadikan rujukan manusia dalam berbagai macam problematika itu tidaklah diragukan lagi (la raib fih) isinya.

Di salah satu pustaka peninggalan Kiai Hasyim, penulis pernah menemukan surat Kiai Arwani Kudus yang ditujukan untuk Rais Akbar NU itu. Surat tersebut tampaknya sebuah pernyataan Kiai Arwani tentang penentuan hilal Ramadhan dan beberapa hal terkait jamiyah NU yang baru saja didirikan. Uniknya surat berjumlah dua halaman besar itu ternyata terususun dalam gubahan syair sebanyak 39 bait yang semuanya diakhiri huruf alif lam.

Jiwa imajinatif dan puitis kiai terdahulu juga tertuangkan dalam bentuk al-Madaih al-Nabawiyyah atau pujian-pujian kepada nabi Muhammad SAW. Seperti shalawat al-Badriyyah yang sering kita dengar-bahkan menjadi pujian wajib selepas adzan-adalah hasil karya almaghfurlah Kiai Ali Manshur, Tuban. Karena seringnya dilagukan, kita hampir kecelik kalau sebenarnya shalawat itu bukan bikinan orang Arab. Begitu juga shalawat Qur'aniyah, karya Kiai Abdullah Umar asal Semarang.

***

Wacana di atas menunjukkan betapa antusiasnya kiai terdahulu terhadap sastra. Bukan hanya menulis dan menggemari syair, sampai-sampai berpolemik dan menulis surat pun menggunakan sajak-sajak indah. Diantara alasan mereka menyukai sajak adalah al hadits al syarif yang berbunyi "inna fi as syi'ri lahikmatan" (Sesungguhnya dalam puisi terdapat hikmah besar).

Dahulu pelajar Indonesia yang meneruskan thalabul ilminya sampai Timur Tengah amat minim. Berbeda dengan sekarang yang setiap tahunnya mencapai puluhan bahkan ratusan pelajar dari berbagai kota di Indonesia. Namun mengapa para kiai, gus, ustadz dan santri, lebih-lebih  mereka yang pernah merasakan hidup lama di Arab, tak banyak yang menghasilkan karya? Jangankan berbahsa Arab, yang berbahsa Indonesia saja bisa dihitung jumlahnya.

Anehnya, mereka justru lebih tertarik terjun ke ranah politik ketimbang dunia pena dan sastra. Tidak sedikit yang mencalonkan diri sebagai pemimpin daerah, padahal -maaf- belum tentu masyarakat lain mendukung. Menurut tinjauan hukum memang tidak masalah, tapi apa tidak khawatir kalau pesantren akan kering dari sentuhan sastra?

Di samping itu kita juga takut kalau kaum santri tidak lagi mengkonsumsi sastra Islami. Mereka lebih suka membaca novel-novel remaja yang isinya tidak karuan, lebih gemar membaca komik tak berpendidik dari pada menggeluti sastra indah yang sebenarnya mereka miliki sendiri. Dengan begitu secara tak sadar, pesantren telah dijajah!

Maka dari itu, langkah awal yang harus dilakukan pesantren adalah, membiasakan para pemimpinnya untuk bisa berdakwah bi al-qalam (menulis) jangan hanya bisa bi al-lisan (pidato). Para santri yang sekian banyak jumlahnya dikerahkan untuk produktif dan kreatif menghasilkan karya. Biarkan mereka berekspresi sesuka hati, jangan hanya disuruh mengaji dan ibadah. Berkarya pun memiliki peran penting dalam dunia ilmi.

Untuk menampung semua karya, pihak pesantren setidaknya menyediakan wadah khusus semacam unit percetakan. Sehingga karya-karya mereka bisa dinikmati oleh kalangan luas. Kini pun telah banyak penerbit yang mengapresiasikan buah pena santri seperti Mizan, LKiS, Khalista, Risalah Gusti, Mata Air, Republika dan sebagainya. Dengan begitu kita bisa membentengi diri dari berbagai macam bentuk penjajahan yang terjadi di pesantren. Hadanallah bi kitabihi al-mubin. Amin

 

Fathurrahman Karyadi, Penulis adalah lulusan Mahad Aly Tebuireng dan peserta terpilih Akademi Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2014

 

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG