::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

NU Maroko Kupas Teori Maqashid Syariah

Senin, 13 Oktober 2014 10:04 Internasional

Bagikan

NU Maroko Kupas Teori Maqashid Syariah

Rabat, NU Online
Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul  ulama  (PCINU) Maroko  yang  beranggotakan mayoritas mahasiswa bekerja sama dengan PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) setempat dan Kedutaan Besar RI (KBRI) Rabat menggelar Stadium General Maqashid Syariah di kantor KBRI di Rabat, Maroko, Sabtu (11/10).
<>
Kuliah umum ini menghadirkan Kepala Perpustakaan di Istana Raja Maroko Dr. Khalid Zuhri sebagai pembanding dan H Nasrulloh Afandi, Lc, MA sebagai narasumber inti.

Sebagai penganut madzhab Maliki, Dr Khalid dalam forum tersebut banyak mengaji maqashid syariah atau filsafat  hukum  Islam dari berbagai perspektif, termasuk memaparkan inti-inti pemikiran para pakar di bidang keilmuan ini.

“Para pelajar Indonesia, di Maroko sudah semestinya mempelajari maqhasid syariah. Hal itu karena khazanah intelektual para  ulama  dan cendikiawan Maroko, baik tempo dulu maupun sekarang  yang  masih hidup, beliau- beliau sebagai penganut madzhab Maliki, pemikirannya penuh dengan analisis maqashid syariah,” tuturnya.

Sedangkan Gus Nasrul, sapaan akrab Nasrulloh Afandi, sebagai penganut madzhab Syafi’I, mengajak untuk terlebih dahulu membidiknya dengan ulumul qur’an dan ilmu hadits sebagai wawasan pendahuluan.

“Karena kita tidak akan mampu mencerna aspek nilai-nilai maqashid kecuali terlebih dahulu dengan memandang nash-nash Al-Quran dan al-Hadits,  yang  terkait dengan sebuah topik disyariatkannya sesuatu hal,” tandas Kandidat Doktor Maqashid Syariah Universitas Al-Qurawiyin Maroko itu.

“Setelah itu,” imbuhnya, “Langkah selanjutnya adalah analisis Usul Fiqih, sebagai kata kunci untuk bisa ‘menerobos’ masuk ke wilyah maqashid.”

Di akhir acara  yang  selesai pada pukul 17.00 GMT itu, Gus Nasrul menutup materinya dengan sebuah kesimpulan dan rekomendasi bahwa analisis maqashid syariah adalah sebuah langkah efektif mencari solusi  hukum  Islam di tengah-tengah semakin kompleksnya permasalahan umat, seperti menyikapai perluasan sarana-prasarana tempat ibadah haji di Tanah Suci, transaksi perdagangan lewat dunia cyber dan lainnya.

“Bebarengan dengan  terus berkembangnya teknologi, itu semua kerap menuntut kepastian hukum atau Fikqh An-Nawazil  yang mana hal-hal itu belum dikaji oleh para ulama terdahulu, dan kondisi dewasa ini, sangat tepat untuk merespon problem umat tersebut dengan jawaban perspektif maqhasid syariah,” katanya.

“Gus Nasrul mengakui, kondisi sekarang sangat sulit untuk melakukan ijtihad atau berfatwa secara perseorangan dalam merespon problem umat. Karenanya, lanjutnya, sangat tepat di negara-negara bagian Arab, marak berdiri Majma’ Fiqih,  yang  berperan sebagai lembaga Fatwa Kolektif atau Ifta Jama’i,  yang  diperkuat dengan para anggota dari berbagai disiplin keilmuan, baik kedokteran, ekonomi, teknologi, dan lainnya.

“Alhasil fatwa tidak hanya sepihak hanyaberdasarkan tinjauan fiqih belaka, tetapi atas dasar analisis dari berbagai aspek,” terang pria yang juga juga anggota pengasuh Pesantren Asy-Syafi’iyyah Kedungwungu, IndramayuTimuritu. ini

Sedangkan Kusnadi El-Gazwa Ketua PCINU Maroko, dalam sambutannya mengatakan, acara ini diselenggarakan dalam rangka meningkatkan intelektualitas anggota PCINU yang mayoritas para mahasiswa. Ia menilai, sebagai negeri bermadzhab Maliki Maroko adalah sumber utama terori maqashid syari’ah.

“Atas dasar itu, PCINU Maroko merasa terpanggil untuk menggelar stadium general tentang Maqashid Syariah,” tandas pria alumnus Pesantren Tambakberas Jombang, asal Brebes Jateng ini. (Red: Mahbib Khoiron)