IMG-LOGO
Cerpen

Masjid Kampus Kami


Jumat 17 Oktober 2014 03:01 WIB
Bagikan:
Masjid Kampus Kami

Kakek tua itu bernama Mardi Raharjo. Kami terbiasa memanggilnya Mbah Mardi. Tubuhnya tidak segesit dulu. Tetapi ia hampir tidak pernah datang terlambat untuk shalat berjamaah di masjid kampus kami.<>

Bahkan ketika kami sedang melakukan kegiatan kampus, ia yang menyerukan adzan dan iqomah. Suaranya memang tidak lantang, tapi mampu memaksa kami datang.

Suatu hari aku berpapasan dengannya di samping masjid. Ia terengah-engah ketika berjalan menuju rumahnya yang berjarak hanya 50 meter dari masjid. Untuk seorang Mbah Mardi yang sudah udzur, 50 meter itu saja sudah cukup melelahkan.

Sering kali aku memperhatikannya saat shalat berjamaah. Nafasnya tersendat-sendat kudengar. Dan ketika aku di belakangnya, terlihat pundak dan tangannya terangkat saat bernafas.

"Mbah, semangatmu untuk berjamaah sangat luar biasa," kataku dalam hati saat itu.

Tanggal 7 Oktober 2014 kemarin, selepas fajar, saatnya pun tiba. Mbah Mardi dipanggil oleh Allah SWT.

Sesaat sebelumnya, pada jam 3 dini hari, ia minta kepada sang istri untuk memandikannya. Setelah itu ia minta segelas air putih dan meminumnya. Kemudian... tubuhnya ringan.

Kabar kematiannya begitu menggertak hati. Aku turut memandikannya. Dan.. wajah Mbah Mardi berseri-seri. Ia terlihat bahagia, entah karena apa. SubhanaAllah. Semoga ia adalah salah satu dari sedikit manusia yang dicintai surga.

Tapi satu hal yang mengusikku. Tidak ada lagi sekarang seorang kakek tua yang membacakan adzan untuk kami, di masjid kampus kami

Ahmad Syaefudin, Yogyakarta

Bagikan:
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Maulid Akbar dan Doa untuk Keselamatan Bangsa
Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
IMG
IMG