Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download
AHLUL HALLI (19)

Politisi NU: Aneh Melihat Kiai Berkompetisi

Politisi NU: Aneh Melihat Kiai Berkompetisi

Jakarta, NU Online
Politisi NU Hanif Dhakiri berpendapat sebagai sebuah organisasi NU harus berbasis ideologis, menonjolkan solidaritas dan sifat kulturalnya lebih menonjol. Dengan demikian, membutuhkan pola kepemimpinan yang lebih aman dari konflik. Ia merasa aneh melihat kiai berkompetisi.<>

“Hati saya itu rasanya bagaimana gitu kalau melihat kiai berkompetisi karena biasanya kalau di dunia kiai, yang lebih berbicara adalah soal etika, soal adab. Kalau soal politik di dunia kesyuriyahan, lebih baik diselesaikan melalui mekanisme ahlul halli. Atau semacamnya,” katanya kepada NU Online baru-baru ini.

enteri Tenaga Kerja kabinet Jokowi ini memenyampaikan sebuah konsep kepemimpinan dalam Islam, “La islama bil jamaah, wala jamaata bil imamah, wala imamata illa bittoah” tidak ada Islam tanpa organisasi, tidak ada organisasi tanpa kepemimpinan dan tidak ada kepemimpinan tanpa ketaatan. Menurutnya ketaatan di NU, terkait dengan legitimasi kulturalnya, baru kemudian legitimasi politik. 

“Pemilihan langsung akan memberikan legitimasi politik, tetapi belum tentu legitimasi kultural. Karena proses kultural bisa berbeda,” paparnya.

Berdasarkan pantaunnya di beberapa cabang NU, mekanisme pemilihan langsung tidak menghasilkan legitimasi kuat karena faktor struktur dan kultur tidak nyambung, meskipun ketua NU dipilih oleh Majelis Wakil Cabang (MWC). 

Legitimasi menurutnya tergantung pada bagaimana sosialisasi organisasi kepada umatnya. Ia mencontohkan, paus yang dipilih tidak langsung, legitimasinya kuat sekali, bahkan bukan hanya bagi pengikut Katolik di seluruh dunia, tetapi juga kelompok lain.

Jika di jajaran syuriyah ia sepenuhnya setuju dengan metode ahlul halli, untuk tanfidziyah, menurutnya harus dilihat lebih jauh manfaat dan mudharat pemilihan langsung. 

“Saya juga merasa perlu bertanya. Apa sebenarnya manfaat pemilihan langsung. Kalau kemudian dipuji orang, apa terus kemudian mereka menyumbang dan dan mendorong NU untuk melibatkan diri secara lebih besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kan tidak. Ini harus dihitung lagi. Kalau mudharatnya kan jelas, rentan konflik.”  Intervensi

Terkait dengan alasan model ahlul halli lebih aman dari intevensi, ia berpendapat siapa saja bisa diintervensi, termasuk ahlul halli.

“Jangan dikira LSM ngak intervensi, media ngak intervensi. Semua kepentingan kalau menggunakan bahasa negatif intervensi, kalau politik ya political engagement.” 

Semua akhirnya berpulang pada diri sendiri, mau ngak membuka diri terhadap intervensi. “Jadi jangan lihat ke luar saja, harus juga dilihat problemnya ke dalam. Kalau mau solid, harus disamakan perspektifnya.” (mukafi niam)

BNI Mobile