Wahyu Kliyu Upacara 15 Muharram di Jatipuro, Karanganyar

Wahyu Kliyu Upacara 15 Muharram di Jatipuro, Karanganyar

Karanganyar, NU Online
Wahyu Kliyu, upacara adat secara turun temurun ini konon telah berlangsung sejak 400 tahun. Upacara ini rutin digelar tiap 15 Muharram oleh warga dukuh Kendal desa Jatipuro kecamatan Jatipuro, kabupaten Karanganyar.
<>
Menurut Munib, salah satu tokoh agama Jatipuro, upacara adat Wahyu Kliyu adalah sebuah upacara yang diselenggarakan warga setempat sebagai wujud doa dan permohonan kepada Tuhan agar diberikan perlindungan dari berbagai kesusahan. Dan kesusahan para petani tentu saja berupa pagebluk atau paceklik, Jum’at (17/11).

Pada upacara adat Wahyu Kliyu, warga menyajikan kue apem sebanyak yang mereka bawa.

“Jumlah kue apem itu pun tidak boleh sembarangan. Setiap kepala keluarga diharuskan membawa kue apem sejumlah 344, entah mau dipotong kecil-kecil atau utuh. Yang penting dalam satu wadah yang mereka bawa di dalamnya terdapat 344 apem,” terang Munib.

Seorang Mudin memmpin jalannya upacara. Sementara ratusan warga melemparkan apem yang dibawanya satu per satu ke tengah-tengah tempat kosong sambil mengucapkan “wahyu kliyu… wahyu kliyu….” Mereka terus melemparkan apem itu hingga tak tersisa di wadah mereka.

Munib menjelaskan “Upacara ini berawal dari datangnya bencana pagebluk di dusun Kendal. Selain paceklik yang berkepanjangan, banyak warga yang terkena penyakit dan akhirnya meninggal dunia.”

Upacara ini hanya boleh dilakukan kaum pria. Sementara “Wahyu Kliyu” sendiri berasal dari Ya Hayyu Ya Qoyyum yang berarti Yang Maha Hidup dan Yang Maha Memelihara. “Mungkin karena orang-orang zaman dulu susah menyebutkannya, akhirnya terpeleset menjadi ‘Wahyu Kliyu,’ ‘Wahyu Kliyu’,” pungkas Munib. (Ahmad Rosyidi/Alhafiz K)

BNI Mobile