IMG-LOGO
Pustaka

Menyusuri Kisah Sang Wali Cukir

Senin 10 November 2014 8:2 WIB
Bagikan:
Menyusuri Kisah Sang Wali Cukir

Kiai, panggilan prestisius yang disematkan pada seseorang yang memiliki kemampuan dalam bidang agama, pengobatan atau memiliki karomah melebihi orang lain pada umumnya. Sehingga tak jarang kiai menjadi “konsultan sosial” dari berbagai masalah yang menerpa masyarakat di sekitarnya. Menjadi pemecah kebuntuan kehidupan sosial  dalam berbagai aspek dan sendi-sendi kemasyarakatan.

Anang Firdaus, dalam buku Karomah Sang Wali. Sebuah biografi tentang jejak langkah seorang ulama kharismatik ini mengisahkan kehidupan KH Muhammad Adlan Aly yang penuh dengan karomah dan keteladanan. Melalui buku ini ia menyatakan bahwa dalam kehidupan seseorang harus memiliki akhlakul karimah dalam pergaulan sehari-hari. Setiap tindak tanduk anak adam akan memiliki arti. Arti yang akan memberikan pengaruh pada kehidupan generasi selanjutnya.

Berawal dari sebuah pesantren di daerah Maskumambang, Gresik. Adlan kecil mulai menempa pendidikan agama. Pesantren Maskumambang merupakan tanah kelahirannya dan disini pula Adlan memperoleh ilmu agama dibawah asuhan pamannya KH Faqih Abdul Jabbar yang merupakan putra dari KH Abdul Djabbar (Pendiri Pesantren Maskumambang).

Kesungguhanya dalam belajar agama membawa Adlan kecil melanjutkan rihlah Ilmiahnya  kepada KH Munawwar, Kauman, Gresik untuk menghafal Al-Qur’an saat berumur 14 tahun. Merasa haus dengan samudra ilmu ia melanjutkan tabarukkan kepada KH Muhammad Said bin Ismail di tanah Madura dan memperoleh sanad Al-Qur’an yang muttasil dengan baginda Rosul. Hingga akhirnya berguru langsung kepada Hadratus Syaikh Hasyim Asyari di pesantren Tebuireng.

Saat menjadi santri di Tebuireng, Yai Delan (panggilan KH M Adlan Aly) menjadi kepercayaan dan santri kesayangan Yai Hasyim Asyari. Pasalnya beliau adalah Hafidz Al-Qu’ran dan alim. Tak jarang Yai Hasyim sering meminta pendapat kepada beliau bilamana ada permasalahan seputar fiqh. Beliau sering diminta menjadi imam mengantikan Yai Hasyim saat berhalangan hadir. Khususnya saat Ramadhan, menjadi imam shalat tarawih di masjid Tebuireng.

Sejak saat itu, KH Adlan Aly kerap menjadi qori’ dan guru dalam kegiatan belajar mengajar di Tebuireng. Hampir setiap hari kesibukannya diisi untuk mengajar kitab dan menerima setoran hafalan Qur’an para santri. Membantu pesantren gurunya yang sangat beliau kagumi. Hingga puncaknya beliau mendirikan pondok putri Walisongo di Cukir dan masih eksis sampai sekarang.

Kiai Adlan merupakan seorang wali yang memiliki banyak karomah. Diantaranya selalu turun hujan saat Yai Delan mengaji kitab Fathul Qarib bab Istisqa’. Ketika beliau membaca bab tersebut lalu mempraktekan shalat istisqa’ dan mengalungkan sorban ke pundaknya dalam seketika itu hujan turun. (hal 76)

Buku karya Anang Firdaus ini mengajarkan kepada kita, bahwa siapa yang bersungguh-sungguh dia akan menemukan jalan. Barang siapa yang menanam dia akan memanen. Dan siapa yang enggan mencicipi pahitnya mencari ilmu, maka ia akan meminum hinanya kebodohan sepanjang waktu. Sebuah karya yang memberikan contoh perilaku baik dan sayang untuk dilewatkan.


Data Buku

Judul Buku : Biografi KH Adlan Aly Karomah Sang Wali
Penulis : Anang Firdaus
Penerbit : Pustaka Tebuireng
Cetakan : Pertama, 2014
Tebal : 258 halaman
Harga : Rp 55.000,-
Peresensi : Muhammad Septian Pribadi, mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asyari semester V. Aktif di Tebuireng Media Group dan Penerbitan Majalah Tebuireng

Bagikan:
Senin 3 November 2014 18:0 WIB
Memikirkan Kembali Pesantren
Memikirkan Kembali Pesantren

Nasaruddin Umar selaku penulis buku ini gerah dengan pertanyaan orang Barat yang menstigmatisasi pondok pesantren. Nasar yang seringkali berkunjung ke Amerika mendapatkan sederet pertanyaan dari warga di sana, tentang bagaimana sebenarnya pesantren itu. Bagaimana model pendidikannya, materi apa saja yang diajarkan. Bermula dari sinilah Nasar menuliskan buku kecil tentang pesantren ini.
<>
Walaupun Nasar memiliki kesadaran bahwa kemampuan dan keluangan waktu yang terbatas untuk menorehkan pemikirannya tentang pesantren. Buku ini bisa menjadi jawaban singkat untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat awam yang belum memiliki pengetahuan mengenai seluk-beluk pesantren.

Buku ini bercerita tentang sejarah awal pesantren bermula. Banyak ahli menyatakan tentang berbagai definisi tentang pesantren. Setidaknya Nasar menarik benang merah dari sekian pendapat yang telah dipaparkan bahwa pesantren tak akan lepas dari kata dasarnya yaitu santri. Santri menurut Nasar tidak hanya terbatas pada orang yang sedang atau pernah mengenyam pendidikan agama di pesantren ataupun dibawah asuhan kiai-ulama. Tetapi, kepada mereka yang belajar dan memahami ilmu-ilmu keagamaan baik secara otodidak maupun secara institusi formal yang kemudian diwujudkan dalam aktivitas kesehariannya. (halaman 6)

Selain itu, keberadaan pesantren menjadi tulang punggung bangsa Indonesia sejak dahulu kala. Namun, secara mudahnya kita bisa melacak keberadaan pesantren mulai abad 15 ketika Walisongo mulai menyebarkan agama Islam di bumi Nusantara. Pesantren menjadi lembaga pendidikan yang tertua seiring berkembangnya kerajaan dan kesultanan Islam di Nusantara. Ditambah bahwa pesantren tidak hadir ruang kosong. Melainkan mengisi ruang kosong pendidikan keagamaan masyarakat. Berawal dari pengajaran Al-Qur’an bertambah kitab kuning hingga kita bisa melihat perkembangan pesantren yang sedemikian pesatnya. Dengan berbagai ikhtiar yang dikerjakan. Pesantren salaf (tradisional) dengan di bawah naungan yayasannya memiliki perguruan tinggi, lembaga keuangan, lembaga perekonomian dan lain sebagainya.

Nasar yang juga pernah menjabat sebagai wakil menteri agama memiliki optimisme tinggi terhadap perkembangan pesantren ke depan. Dalam Musabaqah Qira'atul Kutub (MQK)  yang diselenggarakan Kementerian Agama secara berkala dan tahun ini berlangsung di Jambi (3/9) menyatakan Indonesia akan menjadi pusat peradaban Islam. Pondok pesantren di Indonesia terus bergerak maju dalam membangun ilmu-ilmu keislaman. Tidak heran, jika suatu saat nanti Indonesia akan menjadi pusat peradaban Islam. "Suatu saat nanti, Indonesia akan menjadi pusat peradaban Islam," demikian penegasan Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar  saat mengisi Talkshow di TVRI Jambi, Selasa (02/09). (kemenag.go.id)

Kontribusi pesantren

Pesantren tumbuh menjadi pohon tinggi menjulang ke angkasa. Dahan dan daunnya meneduhkan masyarakat sekitarnya sebagai tempat menimba ilmu, tempat menempa diri dan membentuk karakter seseorang agar memiliki akhlaq yang mulia. Dan akarnya kuat menghujam ke tanah dengan memegang tradisi masyarakat yang ada di sekitar tanpa harus menghilangkannya. Dari sinilah sebenarnya kita bisa melihat mutakhorijin (baca: alumni pesantren) telah mewarnai perjalanan bangsa ini. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi presiden RI keempat merupakan salah satu contohnya. Gus Dur kita kenal dengan tokoh pluralis, inklusif, moderat dan terbuka.  

Nasar juga menyisipkan secuil biografi tokoh pesantren Teuku Fakinah dan Kiai Syam'un (halaman 87). Keduanya merupakan potret kiai dalam ranah perjuangan. Disinilah peran kita sebagai bangsa mulai menggali, menyemai dan mengingatkan sejarah kepada penerus bangsa untuk terus. Ikatan itulah yang sejatinya mempererat kita sebagai bangsa utuh hingga sekarang.

Selain itu perjalanan awal sebelum kemerdekaan dari kalangan pesantren dalam hal ini kelahiran Nahdlatul Ulama, berawal dari Komite Hijaz dibentuk untuk menyuarakan ketidak- setujuannya terhadap pemerintah Hijaz pada waktu itu yang hendak menghancurkan seluruh makam di Mekah termasuk makam Rasulullah SAW. (halaman 23) Selain itu karya-karya kiai pesantren juga digunakan sebagai kurikulum pesantren di Indonesia bahkan di Yaman. Salah satunya adalah kitab Thariqatal-Hushul ila Ghayahal-Ushul karya KH Sahal Mahfudz. (Kiai Sahal Sebuah Biografi: 2012)

Kita juga bisa menilik laskar Hizbullah yang menjadi "bumper" perjuangan kemerdekaan banyak yang tidak masuk dalam berbagai divisi kemiliteran di berbagai daerah di Indonesia. Ada sebagian pula yang melebur dalam TNI. Akhirnya, para kiai dan santri ini kembali ke pesantren dan mendidik masyarakat. Diantara pesantren yang menjadi pusat benteng pejuang dalam perang kemerdekaan. Yaitu, pesantren Lirboyo, Al-Hikmah Kediri, Sidogiri Pasuruan, Al-Muayyad Surakarta, Al-Hikmah Brebes, Gambiran dan Pulosari Lumajang (Zainul Milal Bizawie: 2014). Bahkan pahlawan bangsa kita juga banyak dari kalangan pesantren seperti Imam Bonjol, Pengeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin, Teuku Umar dan lainnya.

Karel A Steenbrink (1986) salah satu peneliti dari Belanda menyatakan bahwa perkembangan pesantren memantik lembaga pendidikan yang lain untuk lahir. Yaitu madrasah. Banyak juga pesantren yang memiliki madrasah sebagai penguatan pesantrennya. Terakhir, ditilik dari sisi modernitas dan globalisasi beberapa pesantren mengikuti arus yang menjadi sebuah keniscayaan dengan segala konsekuensinya. Namun, masih ada pesantren yang berteguh diri menggunakan sistem klasikal tradisional misalnya penggunaan penanggalan hijriyyah dan bulan Syawwal menjadi awal tahun ajaran baru. Dari sinilah yang menjadi ciri khas lembaga pendidikan keagamaan yang secara tidak langsung meneruskan perkembangan intelektual Islam.

Data Buku

Judul : Rethinking Pesantren  
Penulis : Prof Dr H Nasaruddin Umar, MA
Penerbit : PT Elex Media Komputindo 
Cetakan : 2014
Tebal: XVI + 142 halaman
ISBN : 978.602.02.3761.9  
Peresensi: Mukhamad Zulfa, penikmat buku keagamaan dan kebudayaan tinggal di Semarang

Senin 27 Oktober 2014 6:0 WIB
Cahaya Bagi Amaliyah NU yang Dipertanyakan
Cahaya Bagi Amaliyah NU yang Dipertanyakan

Amaliyah yang gampang dikerjakan dan mendatangkan pahala yang besar itu sebenarnya banyak. Seperti Yasinan, Tahlilan, Ziarah Kubur, Shalawatan, dzikir, dan lain-lain. Amaliyah yang demikian mayoritas warga NU yang mengamalkan. Namun dewasa ini, dari beberapa amaliyah yang gampang itulah ternyata menuwai banyak kritik dari berbagai golongan. <>Bahkan kritikan terkadang datang dengan sedikit keras. Meraka terlalu gampang menyalahkan seseorang, mensyirikkan seseorang, bahkan mengkafirkan seseorang. Memang sebuah ironi. Mereka seakan lupa bahwa Islam itu sebagai agama yang rahmatal lil’alamin.

Zaman sudah dipola sedemikian rupa. Yang benar terkadang jadi salah dan yang salah terkadang jadi benar. Baik dalam konteks pemerintahan maupun agama. Beragam aliran baru dalam beragama bermunculan. Akhirnya, hal inilah yang menggoyah jalannya organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama (NU) itu. Sebagian ulama NU mengatakan bahwa sekarang keadaan NU sama dengan waktu dulu semenjak NU baru dilahirkan. Kondisi NU sekarang lebih pada mempertahankan diri.

Bagi warga NU yang pengetahuan agamanya sudah luas, mungkin problematika yang seperti ini tidak sampai menimbulkan permasalahan atau murusak amaliyahn yang sudah mentradisi dalam NU. Namun, bagi warga NU yang hanya mengamalkan amaliyahnya tanpa tahu dalil-dalil yang menjelaskan tentang amaliyahnya, disinilah bahayanya. Saya mengibaratkan hal ini dengan orang yang berjalan yang hanya berjalan. Ia tidak tahu atas dasar apa ia berjalan dan ia tidak mengerti mengapa ia berjalan. Maka, orang itu bisa jadi ditengah perjalanan nanti akan mengalami kejenuhan, bosan, dan malas. Apalagi dalam perjalanan itu ada orang yang mengolok-olok bahwa perjalanan yang sedang dijalani itu membawa kesesatan. Kemungkinan besar orang yang melakukan perjalanan itu kembali pulang dan akhirnya dia tidak mau melakukan perjalanan lagi.

Nah, terbitnya buku yang berjudul Dalil-dalil Praktis Amaliyah Nahdliyah (Ayat dan Hadits Seputar Amaliyah Warga NU) itulah seolah menjadi cahaya yang menyinari amaliyah-amaliyah  warga Nahdlatul Ulama (NU). Dengan cahaya itu, dasar-dasar atau dalil-dalil tentang amaliyah NU menjadi tampak dan jelas. Sehingga bisa dipahami bahwa amaliyah yang dilakukan oleh warga NU tidak asal buat. Semuanya bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits.

Beberapa amaliyah yang ditentang keras oleh beberapa golongan antara lain adalah seperti Tahlilan, Shalawatan, Ziarah Kubur, dan Maulid Nabi, juga di sajikan penjelasannya dalam buku yang setebal 245 itu. Misalnya tentang Tahlilan, Zainuddin Fanani, MA dan Atiqa Sabri Daila, MA mengungkapakan bahwa Tahlilan itu adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan keagamaan umat Islam. Tahlilan adalah media yang sangat penting untuk dakwah dan penyebaran Islam. Dari segi sejarah, Tahlilan sudah ada sejak dahulu sebelum berdirinya Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Perbedaan dan pertentangan dalam tradisi Tahlilan hanya terjadi di antara pemimpin intlektual NU dan Muhammadiyah. Sementara umat mengamalkan tradisi ini.

Tradisi Tahlilan memiliki dua aspek, ketuhanan (hubungan dengan Allah) dan kemanusiaan (hubungan sesama manusia). Tahlilan adalah masalah khilafiyah, maka tidak boleh menjadi penghalang persatuan dan kesatuan umat Islam setelah mengesahkan Allah. (hal 198)

Yang menarik, permaslahan yang terjadi setiap tahun seperti penetapan awal Ramadan  dan Syawal (hal 126), bahkan  ringkasan kitab Risalah Ahlusunnah wal Jama’ah (Karya Hadratus Syaik Muhammad Hasyim Asy’ari) juga ada dalam buku yang ditulis oleh ketua PCNU kota Malang itu. (hal 179). 

Dari sisi lain, membaca buku yang ditulis oleh KH. Marzuqi Mustamar itu mencerminkan bahwa beliau mempunyai tanggung jawab besar dalam membantengi dan menjaga warga NU. Menjaga bagaimana Warga NU tetap dalam jalan yang telah dibina oleh NU. Beliau takut warga NU menghentikan langkah dan tidak mau meneruskan lagi perjalanannya. Maka dari itulah, buku yang ditulis oleh dosen di UIN Maulana Malik Ibrahim itulah sangat dianjurkan untuk dibaca oleh semua masyarakat terutama warga NU. Wallahu a’lam.

Data buku

Judul : Dalil-dalil Praktis Amaliyah Nahdliyah (Ayat dan Hadits Pilihan Seputar Amaliyah Warga NU)
Penulis : KH. Marzuqi Mustamar
Penerbit : Muara Progresif Surabaya
Cetakan : I, Maret 2014
Tebal : xi + 245 hal. 14,5 x 21 cm
Peresensi : Moh. Sardiyono, alumnus PP. Nasy-atul Muta’allimin Gapura  Sumenep Madura dan Mahasiswa di UIN Sunan Ampel Surabaya

Senin 20 Oktober 2014 20:0 WIB
The Founding Fathers of Nahdlatoel Oelama’
The Founding Fathers of Nahdlatoel Oelama’

Jika bukan karena perjuangan sesepuh yang telah mendahului kita, niscaya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) masih dalam cengkeraman penjajah, dan jika bukan karena jerih payah para kiai dan santri dari surau maupun pesantren yang telah memperjuangkan Islam ala ahlusunnah wal jamaah ke dalam bentuk sebuah organisasi sosial keagamaan,<> Nahdlatoel Oelama (NU), maka tidak menutup kemungkinan kalau ajaran Sunni yang sudah berkembang sejak Islam pertama kali datang di Indonesia akan selalu digerus, baik secara internal (sesama muslim, seperti kelompok Islam Modernis) maupun eksternal (non muslim, seperti zending-zending Kristen).

Selain mempunyai visi misi untuk menjadi organisasi sosio religius, Nahdlatoel Oelama’ berkeinginan untuk melepaskan belenggu penjajah yang telah menjerat di atas pundak Negara Kasatuan Republik Indonesia. Sehingga, tidak mengherankan ketika detik-detik menjelang lahirnya Nahdlatoel Oelama’, Belanda selalu mengawasi dan berusaha untuk menggagalkan supaya organisasi tersebut tidak jadi didirikan. Akan tetapi, atas kecerdikan para kiai, akhirnya Nahdlatoel Oelama’ dapat didirikan pada 16 Rajab 1344 H/31 Januari 1926 M.

Sebelum Nahdlatoel Oelama’ resmi didirikan, para kiai telah mencurahkan jiwa raga, harta dan bendanya agar organisasi yang digadang-gadang sejak puluhan tahun itu bisa berdiri.  Getir pahit dirasakan bersama-sama oleh para pendiri Nahdlatoel Oelama’ yang tersebar di pulau Jawa dan Madura.

“Tak kenal, maka tak sayang” kata pepatah kuno yang memberikan sebuah nasehat, bagaimana seharusnya generasi penerus agar bisa mengenang jasa-jasa generasi yang telah mendahuluinya. Bukan sekedar mendahului belaka, namun, pendahuluan yang dibarengi dengan sebuah perjuangan panjang supaya kelak anak cucunya dapat hidup tenang dan merdeka dalam meneruskan estafet, izzul islam wal muslimin wal buldah.

Kehadiran buku The Founding Fathers of Nahdlatoel Oelama’ di tengah-tengah masyarakat Nahdliyyin sangat membantu untuk mengenalkan mereka kepada tokoh-tokoh yang menjadi perintis atas berdirinya organisasi Nahdlatoel Oelama’. Di buku ini direkam 23 jejak tokoh ulama se-Jawa dan Madura yang ikut berpartisipasi atas berdirinya Nahdlatoel Oelama’ dengan disertai peran khusus mereka, seperti Syaikhona Kholil sebagai penentu berdirinya Nahdlatul Ulama, Kiai Hasyim Asy’ari sebagai Rois Akbar Nahdlatul Ulama, Kiai Wahab Hasbullah sebagai konseptor lahirnya Nahdlatul Ulama, Kiai Raden Asnawi sebagai argumenator Nahdlatul Ulama, Kiai As’ad sebagai mediator lahirnya Nahdlatul Ulama, Kiai Raden Hambali sebagai arsitek Prasasti Nahdlatul Ulama, Kiai Ridwan Abdullah sebagai desainer lambang Nahdlatul Ulama, Kiai Mas Alwi bin Abdul Aziz sebagai pengusul nama Nahdlatul Ulama dan lain-lain. 

Buku The Founding Fathers of Nahdlatoel Oelama’ mempunyai beberapa kelebihan bila dibandingkan dengan buku-buku lain yang mengupas tentang tokoh-tokoh Pendiri NU. Buku ini mampu menghadirkan tokoh yang mungkin sejarahnya belum pernah dijumpai dalam sebuah buku bacaan dengan pembahasan yang khusus, seperti Kiai Reden Hambali (Kudus), Kiai Khalil Masyhuri (Rembang), Kiai Muhammad Zubair (Gresik), Kiai Ridwan Mujahid (Semarang) dan lain-lain. Selain itu, buku ini, kata penulisnya (Amirul Ulum) diinspirasi oleh KH. Maimoen Zubair, salah seorang sesepuh NU yang menjadi Musytasr PBNU dan juga menjadi kiai dari Amirul Ulum. 

Selain kelebihan yang dimiliki, buku ini juga memiliki sebuah kelemahan atau kekurangan. Misalnya, jika kita membacanya halaman perhalaman, maka kita akan menemukan sebuah kesimpulan bahwa sekitar 70 % atau 75 %  dari buku ini adalah hasil kontribusi dari Amirul Ulum selaku sebagai penggagas dan editor. Seharusnya, jika buku itu ditulis oleh sebuah tim atau lebih dari satu penulis, maka kontribusinya harus seimbang, paling tidak jaraknya tidak terlalu jauh supaya tidak timbul persepsi atas kontributor yang lain, bahwa sebagian dari penulisnya kurang sungguh-sungguh dalam menulis sebuah naskah.

Tanpa memandang sedikit kelemahan, buku ini telah  mampu memberikan sumbangsih yang luar biasa untuk masyarakat Nahdliyyin. Kurang lengkap rasanya jika buku ini tidak dimiliki oleh warga Nahdliyyin sebagai media untuk mengenal tokoh-tokohnya supaya kelak bisa menjadikannya sebagai uswah dalam menapaki sebuah kehidupan ala ahlusunnah wal jamaah. Semoga! 

Judul Buku : The Founding Fathers of Nahdlatoel Oelama’
Penerbit : Bina Aswaja
Cover : Soft Cover
Jenis Kertas : HVS 70 gram
Penulis : Amirul Ulum, dkk.
Kata Sambutan : KH. Maimoen Zubair (Mustasyar PBNU)
Kata Pengantar : Prof. Dr. Abdul Karim (Guru Besar Sejarah Islam UIN Sunan Kalijaga)
Tebal : xxviii + 278 Halaman
Ukuran : 13 x 20 cm
Harga : Rp. 50.000,-
Peresensi : Imroatus Shalehah, anggota Muslimat NU Ranting Kayen, Kabupaten Pati Jateng

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG