IMG-LOGO
Daerah

SMA Tebuireng Menuju Sekolah Berkelas Internasional

Rabu 19 November 2014 23:33 WIB
Bagikan:
SMA Tebuireng Menuju Sekolah Berkelas Internasional

Jombang, NU Online
Unit Penjamin Mutu Pesantren Tebuireng mengikutsertakan sekolah-sekolah di bawah naungan Pesantren Tebuireng dalam Ujian Sertifikasi Cambridge awal tahun depan. Rabu (19/11) pagi, utusan Cambridge untuk Indonesia Dian memeriksa kesiapan dan kelayakan SMA Abdul Wahid Hasyim dan SMA Trensains Tebuireng.
<>
“Kita ingin memperbaiki mutu Tebuireng menjadi sekolah internasional,” kata pengurus Unit Penjamin Mutu Pesantren Tebuireng (UPMPT) Ali Subhan.

Wakil Cambridge untuk Indonesia itu datang guna mengakreditasi kelayakan SMA AWH dan Trensains.

Dian mengatakan ada banyak pilihan untuk diambil oleh Pesantren Tebuireng. “Tinggal pilih mata pelajaran yang akan dipakai untuk ujiannya. Hasil tinjauan ini akan saya laporkan ke kantor perwakilan Cambridge International Examination untuk Indonesia,” kata Ibu Dian selaku petugas akreditator sertifikasi Cambridge Indonesia.

Tebuireng akan mengambil The International General Certificate of Secondary Education (IGCSE) Examination yaitu program khusus untuk tingkat SMA yang akan diikuti oleh SMA Transains dan SMA A. Wahid Hasyim. 

Tahun lalu, Tebuireng telah menyertifikasikan SMP A Wahid Hasyim dengan sistem yang sepenuhnya diatur pihak CIE dengan program Checkpoint. Namun dirasa itu sangat menyulitkan. “Tahun ini kita ambil yang program sains, untuk yang sosial studies kita tahan dulu,” kata pegawai UPMPT Zunaidi Kusipa. (Abror/Alhafiz K)

Bagikan:
Rabu 19 November 2014 22:6 WIB
Sejumlah Kelompok “Wahabi” Tolak Ajaran Kekerasan Wahabi
Sejumlah Kelompok “Wahabi” Tolak Ajaran Kekerasan Wahabi

Jakarta, NU Online
Sebagian besar Muslim Suni radikal mengikuti ajaran Wahhabi. Namun, banyak organisasi Wahabi yang menentang kekerasan atas nama agama dan diskriminasi berbasis gender yang diajarkan ideologi Wahabi.
<>
Sejumlah kelompok yang bisa diidentifikasi sebagai Wahabi menolak kekerasan, intoleransi, fanatisme, dan kebencian terhadap wanita. Sejumlah data menyebutkan adanya gerakan Wahabi yang tidak menyukai kekerasan.

Demikian disampaikan pengajar UIN Sunan Kalijaga Dr Inayah Rohmaniyah dalam sebuah diskusi publik yang diselenggarakan Laboratorium Agama dan Budaya Lokal (Label) UIN Sunan Kalijaga bekerja sama dengan AIFIS (American Institute for Indonesian Studies) di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Selasa (18/11).

Penelitian disertasi Inayah mengambil judul "Multikulturalisme dalam Kebahagiaan dari Orang Towani Tolontang dan Orang Kajang di Sulawesi Selatan sampai Orang Wahabi di Jawa Tengah". Berlandaskan penelitiannya itu, ia menolak pandangan sempit terhadap ajaran Wahabi yang keras.

Peelitiannya di pesantren Madrasah Wathoniyah Islamiyah, Banyumas, Jawa Tengah, menunjukkan, ajaran-ajaran Wahabi tidak selalu menyebabkan diskriminasi berbasis gender atau melahirkan sistem representasi di mana kebencian terhadap perempuan (misoginis) menjadi simbol dominasi dan kekuasaan maskulin.

Menurut Inayah, dalam proses pendidikan di Madrasah Wathoniyah Islamiyah ini, kaum perempuan juga terlibat dalam proses pendidikan, baik sebagai pengajar maupun pelajar. Bahkan siswa perempuan diperbolehkan untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan di ruang publik, tetapi dengan syarat memakai jilbab untuk mencegah kekerasan seksual.

"Habitus dan praktik yang berakar pada pemahaman Wahabi dapat berperan dalam rekonstruksi identitas individu dan kolektif dan praktik yang tanpa kekerasan, tentang hubungan antara kemanusiaan dan ke-Ilahian, nasionalisme Indonesia, dan budaya Islam Jawa", pungkas pengajar di Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam itu. (Red Alhafiz K)

Rabu 19 November 2014 21:20 WIB
Pemkab Way Kanan Terbantu Partisipasi Sosial GP Ansor
Pemkab Way Kanan Terbantu Partisipasi Sosial GP Ansor

Way Kanan, NU Online
Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Pemkab Way Kanan Taufik mengucapkann terima kasih atas partisipasi GP Ansor di area pesantren Tahfidzul Quran Senin (17/11) dan Rabu (19/11). Ia meminta GP Ansor terus membangun masyarakat bersama pemerintah.
<>
"Saya bersyukur sahabat-sahabat dari Ansor terlibat dalam kegiatan ini sehingga kita bisa lebih saling mengenal lewat silaturahmi ini," ujar Taufik di Blambangan Umpu, Kamis (19/11) menanggapi sejumlah anggota Barisan ANSOR Serbaguna (Banser) yang turun pada kegiatan "Pendidikan dan Pelatihan Guru Ngaji serta Dewan Hakim MTQ Tingkat Kabupaten Way Kanan".

Taufik menambahkan, dirinya sudah akrab dan sering berkomunikasi dengan pengurus GP Ansor setempat. Namun baru kali pertama ia bisa bekerja sama. "Ini yang pertama kali kita bekerja sama dengan Ansor. Kami senang Ansor bisa bersinergi dengan kami," ujar Taufik lagi.

Pelatihan pendampingan bagi guru ngaji itu bertujuan meningkatkan kapasitas guru ngaji dan dewan hakim serta silaturahmi antarguru ngaji.

"Sudah menjadi kewajiban bagi pemuda NU terlibat aktif dalam kegiatan seperti ini. Ansor memang harus dekat dengan ulama," ujar Ketua PCNU Way Kanan KH Nur Huda menanggapi pernyataan Taufik. (Ery Rezky Putra/Alhafiz K)

Rabu 19 November 2014 20:10 WIB
Pelajari Ciri Nahdliyin, MWCNU Kaliwungu Ngaji Kitab Karya Kiai Sya’roni
Pelajari Ciri Nahdliyin, MWCNU Kaliwungu Ngaji Kitab Karya Kiai Sya’roni

Kudus, NU Online
Pengurus MWCNU Kaliwungu kabupaten Kudus mengadakan pengajian kitab Faraidhus Saniyah  karya Mustasyar PBNU KH Sya'roni Ahmadi di Gedung MWCNU Kaliwungu. Pengajian yang rutin setiap Selasa legi ini diasuh Wakil Rais Syuriyah PCNU Kudus KH Ahmadi Abdul Fatah.
<>
Menurut Sekretaris MWCNU Kaliwungu Noor Kholis, pengajian selapanan ini merupakan wadah tukar kaweruh membangkitkan semangat berorganisasi dan menambah pengetahuan ilmu agama. Tujuannya, penguatan ideologi dan penyadaran berorganisasi di kalangan pengurus, warga NU, dan badan otonomnya.

"Di samping itu, untuk memantapkan eksistensi nahdliyin dalam memperdalam pemahaman aswaja dan merapatkan barisan menggerakkan potensi berjam’iyah," katanya kepada NU Online, Selasa, (18/11).

Dikatakan, kitab Faraidhus Saniyah ini mengandung penjelasan yang mudah dipahami terkait ajaran dan dasar-dasar Aswaja. "Saya kira setiap warga NU perlu mengaji kitab ini agar lebih kuat dan paham aswaja secara gamblang," ujar Kholis.

Dalam pengajian yang sudah ketiga kalinya, Selasa (18/11) kemarin, KH Ahmadi menerangkan tentang 10 ciri-ciri orang penganut ajaran Aswaja. Yakni, sholat berjamaah, tidak menghina sahabat nabi, tidak memberontak negara yang sah, tidak ragu terhadap takdir baik dan buruk, dan tidak membantah agama Allah.

"Ciri lainnya orang aswaja  adalah tidak mengafirkan sesama muslim, mau mensholati jenazah, membasuh sepatu waktu wudlu ketika bepergian, selalu menjalankan sholat meskipun dingin airnya dan selalu membaca sholawat," terang KH Ahmadi mengutip penjelasan kitab Faraidhus Saniyah. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG