IMG-LOGO
Pesantren

Alumni Pesantren Annadhlah Gelar Dialog Terbuka soal Nahi Munkar

Senin 1 Desember 2014 12:0 WIB
Bagikan:
Alumni Pesantren Annadhlah Gelar Dialog Terbuka soal Nahi Munkar

Makassar, NU Online
Ikatan Alumni Pondok Pesantren An Nahdlah (IAPAN) Makassar mengadakan dialog terbuka di Masjid Nurul Ihsan Kelurahan Layang, Kecamatan Bontoala, Makassar, Sulawesi Selatan, Ahad (30/11).
<>
Diskusi bertema “Nahi Mungkar: Dakwah atau Kekerasan?” tersebut menghadirkan beberapa pembicara, di antaranya Kadiv Humas Polda Sulselbar Kombes Pol. Endi Sutendi, KH. Syariansyah Al-Banjari sebagai ketua Dewan Syuro’ Nahi Mungkar DPD Front Pembela Islam Sulsel, dan Firdaus Muhammad, Dosen Komunikasi UIN Alauddin Makassar.

Dalam sambutannya, Pimpinan Umum Pondok Pesantren An Nahdlah KH. Afifuddin Harisah mengatakan, Agama Islam merupakan rahmat bagi alam semesta, dan kemungkaran bertentangan dengan rahmat. Dalam berdakwah, katanya, kita harus mengedepankan konsep dakwah “bil hikmah”, yaitu berdakwah dengan santun, tidak dengan kekerasan.

“Mungkar merupakan segala perbuatan yang menyimpan dari agama, serta berdampak pada kehidupan sosial dan keamanan masyarakat,” imbuh putra Anregurutta Harisah tersebut.

Sementara itu, menurut Kombes Endi Sutendi, sesuai amanah undang-undang, tugas kepolisian adalah mengayomi, melindungi dan melayani masyarakat. Pada dasarnya, pesantren, masyarakat, serta organisasi kemasyarakatan merupakan mitra kepolisian, bukan lawan. Maka dari itu, jika terjadi kekerasan dalam pelaksanaan dakwah beberapa organisasi kemasyarakatan, kami harus bertindak sesuai aturan yang berlaku, agar masyarakat yang lain tidak terganggu.

Firdaus Muhammad sebagai dosen komunikasi mengungkapkan perlunya peran media dalam dakwah. Dakwah dengan kekerasan justru menimbulkan antipati dari masyarakat, maka dari itu perlunya pemahaman dan pengamalan terhadap apa yang didakwahkan.

Dialog yang dipimpin oleh Sekretaris IAPAN Badruzzaman Harisah tersebut, dihadiri oleh Ketua IAPAN Makassar Firdaus Dahlan, dai dari berbagai lembaga dakwah, pengurus IPNU-IPPNU Makassar, serta guru dan ratusan santri Pesantren An-Nahdlah. (Muhammad Nur/Mahbib)

Bagikan:
Ahad 30 November 2014 1:2 WIB
Pesantren Darul Ulum Meriahkan Haul Pengasuh dengan Tari
Pesantren Darul Ulum Meriahkan Haul Pengasuh dengan Tari

Jombang, NU Online
Ada banyak cara mengenang kiprah pengasuh pesantren. Tidak semata dengan pengajian, tapi juga lewat tari. Hal inilah yang dilakukan Pondok Pesantren Darul Ulum (PPDU) Peterongan Jombang Jawa Timur. Sebuah kreasi yang layak diapresiasi.
<>
Jumat pagi (28/11), ribuan santri PPDU memadati lapangan utama pesantren. Mereka melakukan senam massal bersama pimpinan pesantren. Ini adalah dalam rangkaian haul keempat, KH As'ad Umar, salah seorang pengasuh pesantren terbesar di kota santri ini.

Ketua Majlis Pimpinan PPDU, KH Za'imuddin As'ad Wijaya SU saat memberikan sambutan menawarkan kepada para santri yang memadati lapangan untuk menjadikan kegiatan senam bersama ini sebagai kegiatan rutin. "Bagaimana kalau senam berjamaah ini diselenggarakan setiap bulan?" katanya disambut setuju para santri.

Gus Zu'em, sapaan akrabnya, menandaskan bahwa olahraga sebagai bagian penting bagi upaya menciptakan dan membentuk jasamani yang sehat. "Karena dari fisik yang sehat, diharapkan akan lahir pikiran yang juga sehat," kata salah seorang pimpinan di Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) ini.

Seluruh santri dari 32 asrama dan unit pendidikan yang ada di PPDU terlihat memadati lapangan utama pesantren. Ada sebelas lembaga pendidikan dari tingkat menengah pertama dan atas serta kampus Unipdu. Kegiatan ini juga diikuti sejumlah anggota masyarakat sekitar pesantren yakni desa Tambar dan Janti.

Prof Dr H Ahmad Zahro, MA selaku Rektor Unipdu mengingatkan para santri untuk terus meneladani para kiai dan ulama serta berupaya menjaga kebaikan. "Dan rangkaian haul kali ini adalah upaya untuk terus mengenang jasa para kiai dan ulama dan mendoakan mereka," katanya.

Karena hal yang sangat dibutuhkan bagi orang yang telah meninggal adalah doa dari anak, keluarga, sahabat serta siapa saja yang bisa diharapkan. "Karenanya, tradisi haul sebagai media untuk terus mengirimkan doa kepada almarhum," ungkap guru besar di UIN Sunan Ampel Surabaya ini. Dan pada saat yang sama, juga disertai dengan mengenang kiprah yang pernah ditorehkan dan melanjutkan jariyah atau peninggalan yang telah diperbuat.

Pada kegiatan ini ditampulkan kreasi santri berupa tari candra cantik yang menceritakan kiprah PPDU dari sejak awal pendirian, pra kemerdekaan, kemerdekaan, hingga perjalanannya saat ini. Tari dilangsungkan di tengah lapangan yang disaksikan oleh pimpinan PPDU serta para santri dan masyarakat.

Tari yang merupakan gubahan dan hasil kreasi sejumlah dosen dan mahasiswa Unipdu ini menjadi inspirasi bagi santri yang hadir.  "Lewat tari, kiprah pesantren bisa digambarkan dengan lebih luwes dan menarik," kata Habib, salah seorang mahasiswa Unipdu.

"Ini terobosan, sejarah pesantren digambarkan lewat tari," kata Seftiana, salah seorang mahasiswi. Apalagi dipentaskan di tengah lapangan dan disaksikan ribuan santri, lanjutnya. Meskipun tidak terlalu mengenal seni tari, ia memastikan bahwa pemantasan tersebut sebagai bagian dari upaya menampilkan sejarah panjang pesantren dengan lebih komunikatif. (Syaifullah/Abdullah Alawi)

Sabtu 29 November 2014 9:1 WIB
Santri Perlu Mengenal Tradisi Wayang
Santri Perlu Mengenal Tradisi Wayang

Yogyakarta, NU Online
Tradisi pesantren tidak bisa dilepaskan dengan tradisi wayang. Sejak adanya tradisi pesantren di Nusantara, wayang mulai menjadi bagian dari kehidupan santri. Saat ini, penghuni pondok pesantren perlu mengenal tradisi wayang. Pasalnya, wayang bisa mnejadi alat introspeksi diri. Tokoh-tokoh dari lakon wayang merupakan refleksi atas manusia.
<>
“Apa salahnya (saat ini) pesantren menyelenggarakan wayangan? Pada masa Nusantara dulu, di Gresik, santri menggunakan wayang sebagai pemersatu masyarakat dari berbagai latar sosial. Tujuan untuk menyampaikan keagamaan juga,” kata pendiri Pesantren Kaliopak M Jadul Maula dalam sambutan pembukaan pameran wayang “Ngaji Wayang”, Kamis (27/11) malam, di Pesantren Kaliopak, Piyungan, Bantul, Yogyakarta.

Jadul menjelaskan, meski wayang zaman sebelum masuknya Islam berguna sebagai alat pemanggil arwah, wayang yang ada pada masa ini tidak tepat dianggap sebagai ritual pemanggilan arwah. Wali Songo mengubah beberapa aspek wayang, dari ritual menjadi alat penyebaran agama Islam. Walisongo mengubah aspek-aspek yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Alumni Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga itu menambahkan, satnri harus mempu memahami kebudayaannya sendiri. Menurut dia, memahami wayang berarti memahami sedikit sejarah Islam di Nusantara.

Pameran wayang “Ngaji Wayang” telah resmi dibuka. Selain Jadul Maula, seremonial pembukaan juga dihiasi kata sambutan dari GBPH Yudhaningrat. Pameran beragam bentuk wayang dan lukisan wayang ini menghadirkan lebih dari 20 karya dari 17 seniman. Pameran akan dilaksanakan hingga 30 November 2014. (Fredy Wansyah/Mahbib)

Sabtu 29 November 2014 3:1 WIB
Santri Pesantren Dilatih Produksi Tahu
Santri Pesantren Dilatih Produksi Tahu

Probolinggo, NU Online
Sedikitnya 40 santri dari Pesantren Bani Rancang Desa Lemah Kembar Kecamatan Sumberasih dan Pesantren Hidayatul Islam Desa Clarak Kecamatan Leces Kabupaten Probolinggo dilatih memproduksi tahu nigarin tanpa limbah, Kamis (27/11) kemarin.<>

Para santri pesantren ini mendapatkan pelatihan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Probolinggo bekerja sama dengan Inspiring Moslem Entrepreneur (IME) Training Center Malang.

Selain mendapat pelatihan pembuatan tahu sehat nigarin tanpa limbah, para santri juga mendapatkan bantuan berupa peralatan Tasudo. Dimana alat ini mampu membuat olahan dari limbah pembuatan tahu mulai dari susu kedelai, sari kedelai, donat kedelai dan nugget kedelai.

Kepala Disperindag Kabupaten Probolinggo HM. Sidik Widjanarko mengungkapkan pelatihan keterampilan kepada santri ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan Pemkab Probolinggo untuk mencetak santri entrepreneur.

“Kami menginginkan agar santri tidak hanya menguasai ilmu agama dan umum saja, tetapi juga memiliki bekal keterampilan yang dapat diterapkan setelah nanti kembali di tengah-tengah masyarakat,” ungkapnya.

Sementara Pengasuh Pesantren Bani Rancang Kiai Ahmad Siddiq menyambut baik pelatihan tersebut. Pasalnya kegiatan ini akan menambah pengetahuan dan keterampilan santri yang dapat diimplementasikan langsung sebagai sumber pendapatan sehari-hari.

“Sudah bukan zamannya lagi santri hanya bisa membaca Al Qur’an dan kitab kuning saja. Tetapi bagaimana seorang santri memiliki keterampilan sebagai bekal menatap masa depannya,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Pengasuh Pesantren Hidayatul Islam KH Sunar Syamsul Arifin. “Mudah-mudahan dengan pelatihan ini, santri pesantren mampu bersaing dalam mengembangkan keterampilan yang dimilikinya sebagai alternatif usaha yang akan digeluti saat keluar dari pesantren,” katanya. (Syamsul Akbar/Anam)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG