IMG-LOGO
Pesantren

Manipulasi Naskah, Siasat Belanda Hancurkan Pesantren

Kamis 4 Desember 2014 19:24 WIB
Bagikan:
Manipulasi Naskah, Siasat Belanda Hancurkan Pesantren

Subang, NU Online
Ketika meneliti sejarah Islam Nusantara, Agus Sunyoto menyimpulkan bahwa pesantren adalah elemen bangsa Indonesia yang tidak pernah terjajah oleh kolonial. Pesantren malah melakukan perlawanan.
<>
Ketika sampai akhirnya Belanda tidak mampu mengatasi perlawanan itu, terutama pasca penangkapan Pangeran Diponegoro, kolonial Belanda membuat strategi baru yaitu melalui perang ideologi dengan cara memanipulasi sejarah.

Maka, kata Agus, sejak saat itu Belanda membuat naskah-naskah kuno manipulatif dengan tujuan untuk mengkerdilkan kalangan pesantren.

"Misalnya ada pegawai jabatannya jaksa namanya Mas Ngabehi Purwowijoyo. Dia diberi tugas membikin Babad Kediri,” katanua di hadapan para Mahasiswa Pascasarjana STAINU Jakarta Kelas Ciganjur, Jumat (28/11)

Dalam Babad Kediri, Sunan Bonang, Sunan Giri itu dijelek-jelekkan. Dakwah Islam itu jelek karena merusak tatanan masyarakat dan seterusnya. “Naskah kolonial itu yang bikin pegawainya Belanda," tambahnya.

Dari Babad Kediri ini, lanjut Agus, lahirlah naskah-naskah baru buatan Belanda yang cenderung mendiskreditkan Wali Songo, diantaranya adalah Serat Darmogandul, Serat Syekh Siti Jenar, Kronik Klenteng Sam Po Kong.

Dalam naskah yang disebut terakhir itu diceritakan Wali Songo adalah utusan Kaisar China untuk meruntuhkan Majapahit. Intinya menyebutkan Wali Songo itu pengkhianat.

Menurut Agus, tujuan dibuat naskah-naskah itu adalah untuk memecah belah kalangan pesantren. "Semua bikinan Belanda ini, nggak ada dalam kenyataan. Saya pernah ngejar ini (Kronik Klenteng Sam Po Kong) sampai ke Leiden, Denhaag karena menurut kabar ada di sana, ternyata nggak ada di sana" cerita Agus.

Untuk menelusuri naskah kronik ini, Agus menanyakan ke beberapa Sejarawan, termasuk sejarawan Belanda yaitu De Graaf. Menurut Agus, ketika ditanya tentang naskah kronik, De Graaf hanya tertawa saja karena memang naskah itu adalah fiktif dan tidak ada.

Diceritakan bahwa seorang Residen yang bernama Portman merampas naskah itu dan menurut De Graaf, tidak ada Residen yang bernama Portman. "Saya jadikan kunci itu, saya datang ke Arsip Nasional, saya cari namanya Almanak Van Netherlandsch Indie, 1810 sampai 1942 tiap tahun mengeluarkan almanak yang menceritakan Residen-residen di berbagai daerah,” lanjutnya.

Setelah ia meneliti bupati, wedono, pejabat pemerintah di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, ternyata memang tidak ada residen yang bernama Portman.

“Bohong, naskahnya nggak ada. Portman juga tidak pernah ada. Tujuannya untuk menghancurkan Islam, menjelek-jelekan Wali Songo," tukasnya.

Selain itu, tambah Agus, pada tahun 1860 Belanda secara khusus mengeluarkan naskah Kidung Sunda. Setelah diteliti, ternyata yang bikin orang Bali. Isinya menceritakan tentang Peristiwa Bubat, yaitu Gajah Mada membunuh Raja Sunda sekeluarga dan pasukannya.

"Itu cerita fiktif, rekayasa Belanda. Belanda yang bikin pasti tujuannya devide et impera, memecah belah. Jadi kita harus hati-hati sama naskah kolonial, uji dulu, kita harus mengkompilasi dengan data lain," pungkasnya (Ais Luthfi/Abdullah Alawi)

Bagikan:
Kamis 4 Desember 2014 7:6 WIB
Pesantren Al-Firdaus Didirikan untuk Membimbing Anak Kecil
Pesantren Al-Firdaus Didirikan untuk Membimbing Anak Kecil

Probolinggo, NU Online
Wilayah Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, termasuk daerah dengan jumlah pesantren yang cukup banyak. Di antara yang banyak itu, ada Pesantren Al-Firdaus yang konsentrasinya membina anak usia SD (Sekolah Dasar). Komitmen pesantren adalah membentengi moral para santri dengan ilmu agama.
<>
Pesantren Al-Firdaus berada di Dusun Randulimo RT 03 RW 01 Desa Randuputih Kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo. Pesantren ini tidak menampung santri berusia dewasa, tetapi khusus santri dari kalangan anak kecil.

“Pembinaan kepada santri yang usianya muda lebih mudah jika dibandingkan dengan usia yang sudah dewasa,” ungkap Pengasuh Pesantren Al-Firdaus, Ustadz Sugianto, Rabu (3/12).

Secara geografis Kecamatan Dringu bisa disebut berada di kawasan perkotaan. Ia berpandangan, kondisi sosial masyarakatnya berbeda dengan perkampungan. “Arus pergaulan lebih berbahaya. Karenanya, sejak kecil anak sekitar sini harus lebih dibentengi ilmu agama,” tegasnya.

Pesantren ini memang didirikan untuk khidmah kepada masyarakat sekitar. Sehingga santri yang belajar di pesantren hanya warga sekitar Desa Randuputih dan desa terdekat. Jumlahnya lumayan banyak sekitar 35 santriwan dan 45 santriwati.

Sistem yang diterapkan juga tidak sama dengan kebanyakan pesantren. “Santri kami bisa pulang tiap hari. Mereka hanya mukim tiap Kamis malam Jumat dan Sabtu malam Ahad,” terang Sugianto.

Sistem ini sengaja dipilih karena pesantren ini belum memiliki pendidikan formal. Sehingga santri hanya belajar salaf saja. “Efektif waktu belajar setelah Duhur,” jelas ayah empat anak ini.

Kegiatan di pesantren dilakukan mulai usai salat Duhur di Madrasah Diniyah (Madin). Ini khusus santri usia 7-15 tahun. Sementara untuk santri yang berumur 5-6 tahun, masuk Taman Pendidikan Al Qur’an (TPQ). “Dibagi sesuai jenjangnya,” katanya.

Santri yang belum pernah masuk pendidikan TPQ, tidak diperbolehkan masuk di Madin. “Syarat untuk masuk madin, ya harus lulus TPQ dulu,” imbuhnya.

Di TPQ, santri diajari menulis dan membaca Al Quran. Sementara pada jenjang pendidikan Madrasah Diniyah, materi pendidikan yakni belajar kitab kuning, ilmu Fiqh dan hadits. “Kalau belum bisa baca Al Qur’an, juga belum boleh masuk Madin. Karena materi di Madin jauh lebih sulit,” ungkap Sugianto.

Pengajaran di TPQ dan Madin itu selesai pada pukul 17.00. Para santri kemudian bersiap jamaah Salat Maghrib yang dilanjutkan dengan pengajian Al Qur’an sampai tiba waktu Salat Isyak.

Usai Salat Isyak, masih ada pengajian kitab kuning hingga pukul 20.00. “Setelah itu santri bisa pulang. Tapi kalau mereka mau bermalam, kamar sudah kami sediakan. Tak jarang ada yang menginap. Mereka baru pulang usai Salat Subuh untuk persiapan berangkat sekolah,” katanya.

Sugianto sendiri punya keinginan untuk mendirikan pendidikan formal. Namun, karena pesantren ini baru berdiri pada 2002, dana yang dimiliki masih belum memadai. “Madin hanya punya dua ruang kelas. Mushala juga digunakan untuk ruang belajar. Nanti bertahap saja pembangunannya,” terangnya. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Senin 1 Desember 2014 12:0 WIB
Alumni Pesantren Annadhlah Gelar Dialog Terbuka soal Nahi Munkar
Alumni Pesantren Annadhlah Gelar Dialog Terbuka soal Nahi Munkar

Makassar, NU Online
Ikatan Alumni Pondok Pesantren An Nahdlah (IAPAN) Makassar mengadakan dialog terbuka di Masjid Nurul Ihsan Kelurahan Layang, Kecamatan Bontoala, Makassar, Sulawesi Selatan, Ahad (30/11).
<>
Diskusi bertema “Nahi Mungkar: Dakwah atau Kekerasan?” tersebut menghadirkan beberapa pembicara, di antaranya Kadiv Humas Polda Sulselbar Kombes Pol. Endi Sutendi, KH. Syariansyah Al-Banjari sebagai ketua Dewan Syuro’ Nahi Mungkar DPD Front Pembela Islam Sulsel, dan Firdaus Muhammad, Dosen Komunikasi UIN Alauddin Makassar.

Dalam sambutannya, Pimpinan Umum Pondok Pesantren An Nahdlah KH. Afifuddin Harisah mengatakan, Agama Islam merupakan rahmat bagi alam semesta, dan kemungkaran bertentangan dengan rahmat. Dalam berdakwah, katanya, kita harus mengedepankan konsep dakwah “bil hikmah”, yaitu berdakwah dengan santun, tidak dengan kekerasan.

“Mungkar merupakan segala perbuatan yang menyimpan dari agama, serta berdampak pada kehidupan sosial dan keamanan masyarakat,” imbuh putra Anregurutta Harisah tersebut.

Sementara itu, menurut Kombes Endi Sutendi, sesuai amanah undang-undang, tugas kepolisian adalah mengayomi, melindungi dan melayani masyarakat. Pada dasarnya, pesantren, masyarakat, serta organisasi kemasyarakatan merupakan mitra kepolisian, bukan lawan. Maka dari itu, jika terjadi kekerasan dalam pelaksanaan dakwah beberapa organisasi kemasyarakatan, kami harus bertindak sesuai aturan yang berlaku, agar masyarakat yang lain tidak terganggu.

Firdaus Muhammad sebagai dosen komunikasi mengungkapkan perlunya peran media dalam dakwah. Dakwah dengan kekerasan justru menimbulkan antipati dari masyarakat, maka dari itu perlunya pemahaman dan pengamalan terhadap apa yang didakwahkan.

Dialog yang dipimpin oleh Sekretaris IAPAN Badruzzaman Harisah tersebut, dihadiri oleh Ketua IAPAN Makassar Firdaus Dahlan, dai dari berbagai lembaga dakwah, pengurus IPNU-IPPNU Makassar, serta guru dan ratusan santri Pesantren An-Nahdlah. (Muhammad Nur/Mahbib)

Ahad 30 November 2014 1:2 WIB
Pesantren Darul Ulum Meriahkan Haul Pengasuh dengan Tari
Pesantren Darul Ulum Meriahkan Haul Pengasuh dengan Tari

Jombang, NU Online
Ada banyak cara mengenang kiprah pengasuh pesantren. Tidak semata dengan pengajian, tapi juga lewat tari. Hal inilah yang dilakukan Pondok Pesantren Darul Ulum (PPDU) Peterongan Jombang Jawa Timur. Sebuah kreasi yang layak diapresiasi.
<>
Jumat pagi (28/11), ribuan santri PPDU memadati lapangan utama pesantren. Mereka melakukan senam massal bersama pimpinan pesantren. Ini adalah dalam rangkaian haul keempat, KH As'ad Umar, salah seorang pengasuh pesantren terbesar di kota santri ini.

Ketua Majlis Pimpinan PPDU, KH Za'imuddin As'ad Wijaya SU saat memberikan sambutan menawarkan kepada para santri yang memadati lapangan untuk menjadikan kegiatan senam bersama ini sebagai kegiatan rutin. "Bagaimana kalau senam berjamaah ini diselenggarakan setiap bulan?" katanya disambut setuju para santri.

Gus Zu'em, sapaan akrabnya, menandaskan bahwa olahraga sebagai bagian penting bagi upaya menciptakan dan membentuk jasamani yang sehat. "Karena dari fisik yang sehat, diharapkan akan lahir pikiran yang juga sehat," kata salah seorang pimpinan di Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) ini.

Seluruh santri dari 32 asrama dan unit pendidikan yang ada di PPDU terlihat memadati lapangan utama pesantren. Ada sebelas lembaga pendidikan dari tingkat menengah pertama dan atas serta kampus Unipdu. Kegiatan ini juga diikuti sejumlah anggota masyarakat sekitar pesantren yakni desa Tambar dan Janti.

Prof Dr H Ahmad Zahro, MA selaku Rektor Unipdu mengingatkan para santri untuk terus meneladani para kiai dan ulama serta berupaya menjaga kebaikan. "Dan rangkaian haul kali ini adalah upaya untuk terus mengenang jasa para kiai dan ulama dan mendoakan mereka," katanya.

Karena hal yang sangat dibutuhkan bagi orang yang telah meninggal adalah doa dari anak, keluarga, sahabat serta siapa saja yang bisa diharapkan. "Karenanya, tradisi haul sebagai media untuk terus mengirimkan doa kepada almarhum," ungkap guru besar di UIN Sunan Ampel Surabaya ini. Dan pada saat yang sama, juga disertai dengan mengenang kiprah yang pernah ditorehkan dan melanjutkan jariyah atau peninggalan yang telah diperbuat.

Pada kegiatan ini ditampulkan kreasi santri berupa tari candra cantik yang menceritakan kiprah PPDU dari sejak awal pendirian, pra kemerdekaan, kemerdekaan, hingga perjalanannya saat ini. Tari dilangsungkan di tengah lapangan yang disaksikan oleh pimpinan PPDU serta para santri dan masyarakat.

Tari yang merupakan gubahan dan hasil kreasi sejumlah dosen dan mahasiswa Unipdu ini menjadi inspirasi bagi santri yang hadir.  "Lewat tari, kiprah pesantren bisa digambarkan dengan lebih luwes dan menarik," kata Habib, salah seorang mahasiswa Unipdu.

"Ini terobosan, sejarah pesantren digambarkan lewat tari," kata Seftiana, salah seorang mahasiswi. Apalagi dipentaskan di tengah lapangan dan disaksikan ribuan santri, lanjutnya. Meskipun tidak terlalu mengenal seni tari, ia memastikan bahwa pemantasan tersebut sebagai bagian dari upaya menampilkan sejarah panjang pesantren dengan lebih komunikatif. (Syaifullah/Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG