Seperti Gus Dur, Santri Harus Angkat Citra Kaum Sarungan

Seperti Gus Dur, Santri Harus Angkat Citra Kaum Sarungan

Yogyakarta, NU Online
Pemimpin Redaksi Majalah Bangkit PWNU Daerah Istimewa Yogyakarta Muhammadun mengatakan, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memunculkan kaum sarungan lewat media massa. Melalui tulisan-tulisannya, Gus Dur membuat kaum sarungan menjadi wacana nasional.
<>
Menurut dia, seperti itu pula yang harus dilakukan santri dengan konteks kekinian. Ia mengatakan hal itu dalam "Sekolah Menulis" di Aula Pondok Pesantran Aji Mahasiswa Al-Muhsin, Sabtu (03/01) pagi. Peserta diajak untuk mempraktekkan menulis berita.

“Teori menulis berita itu gampang, tetapi prakteknya sulit,” katanya. Menurut dia, menulis berita itu seperti menulis cerita. “Karena berita bagi saya itu cerita yang berangkat dari fakta,“ tutur pria kelahiran Pati ini.

Ia menegaskan, santri harus pintar menulis agar setiap kegiatan-kegiatan positif di pesantren bisa terekspos di media.

Selama ini, lanjut dia, berita kegiatan pesantren dan pengabdian para kiai masih kurang dilirik. Para kiai yang berkontribusi kepada masyarakat secara serius justru jarang diliput media mainstrem.

Tahun 1930-an, sambung dia, KH Wahab Chasbullah dan kiai lainnya sudah membuat koran. Sepuluh tahun ia menakhodai “Suara Nahdlatul Ulama”.

Menurut bapak satu anak ini, berita itu pasti memihak. Pertanyaannya memihak apa? Memihak idealisme atau memihak “uang”. Majalah Bangkit dan NU Online, misalnya, itu memuat tentang ke-NU-an, keislaman dan pesantren. Isi berita yang dimuat di dalamnya juga seperti itu.

Peserta yang hadir adalah santri dari berbagai pondok pesantren se-DIY. Mereka sangat antusias mengikuti materi tersebut. Setiap peserta yang bertanya mendapatkan Majalah Bangkit (suhendra/abdullah alawi)

BNI Mobile