IMG-LOGO
Pustaka

Pendidikan Karakter Khas Pesantren

Senin 12 Januari 2015 11:4 WIB
Bagikan:
Pendidikan Karakter Khas Pesantren

Saat ini kita berada pada era global. Arus globalisasi –tentunya- membawa dampak terhadap pembangunan karakter bangsa dan masyarakatnya. Globalisasi memunculkan pergeseran nilai. Nilai lama semakin meredup, yang digeser dengan nilai-nilai baru yang belum tentu pas dengan nilai-nilai kehidupan di masyarakat. <>

Sudah tidak diragukan lagi bahwa pesantren memiliki kontribusi nyata dalam pembangunan pendidikan. Apalagi dilihat secara historis, pesantren memiliki pengalaman yang luar biasa dalam membina dan mengembangkan (karakter) masyarakat. Bahkan, pesantren mampu meningkatkan perannya secara mandiri dengan menggali potensi yang dimiliki masyarakat di sekelilingnya. 

Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang khas. Kegiatannya terangkum dalam “Tri Dharma Pesantren” yaitu: 1) Keimanan dan ketaqwaan kepada Allah swt; 2) Pengembangan keilmuan yang bermanfaat; dan 3) Pengabdian kepada agama, masyarakat, dan negara. Dalam pengantarnya di buku ini, Siradj (2014:xi) menegaskan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan yang genuin dan tertua di Indonesia. Eksistensinya sudah teruji oleh zaman, sehingga sampai saat ini masih survive dengan berbagai macam dinamikanya. 

Alhasil, pesantren memiliki posisi strategis untuk turut mengawal pengembangan pendidikan karakter. Pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia dalam praktik kehidupan dalam masyarakat. Dalam proses pendidikan, internalisasi nilai-nilai budaya dan karakter merupakan salah satu upaya untuk mencegah terjadinya degradasi etika dan moral di kalangan remaja. 

Perlu disadari bahwa kemajuan suatu bangsa akan tergantung bagaimana karakter orang-orangnya, kemampuan inteligensinya, keunggulan berpikir warganya, sinergi para pemimpinnya, dan lain sebagainya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter adalah penting dalam membangun moral dan kepribadian bangsa. Pendidikan karakter seyogyanya ditempatkan sebagai landasan untuk mewujudkan visi pembangunan nasional, yaitu mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila. 

Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang holistik integratif. Internalisasi pendidikan karakter di pesantren ditekankan untuk menanamkan kebiasaan (habituation) tentang hal yang baik sehingga peserta didik menjadi paham (kognitif) tentang mana yang benar dan salah, mampu merasakan (afektif) nilai yang baik dan biasa melakukannya (psikomotor). 

Buku ini hadir dalam rangka turut berkontribusi dalam pengembangan pendidikan karakter. Buku ini menggambarkan dengan tepat nilai-nilai luhur yang diajarkan, dipraktikkan, dan dihidupkan di pesantren dengan basis keteladanan para kiai/nyai dan doktrin kitab kuning yang telah membentuk karakter para santri. Terbitnya buku ini merupakan sumbangsih nyata untuk mewujudkan insan kamil yang berkarakter. Sangat inspiratif.

Data buku

Judul : Pendidikan Karakter Berbasis Tradisi Pesantren
Penulis : Lanny Octavia, dkk
Kata Pengantar : KH. Said Aqil Siradj
Penerbit : Renebook Jakarta
Cetakan : I, Februari 2014
Tebal : xviii + 290 hlm
ISBN : 978-602-1201-06-0
Peresensi : Abdul Halim Fathani, pemerhati Pendidikan, tinggal di Kota Malang

Bagikan:
Senin 5 Januari 2015 9:30 WIB
Qira’at Syadzdzah sebagai Hujjah Istinbat Hukum
Qira’at Syadzdzah sebagai Hujjah Istinbat Hukum

Tidak banyak yang mempelajari adanya variasi bacaan atau qira’at ketika melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an. Yang paling populer dikenal istilah qiraat sab’ah (qira’at tujuh) atau bacaan yang diriwayatkan oleh tujuh ulama qira’at terkemuka.<> Namun sebenarnya ada beberapa versi qira’at. Ada qira’at asyrah (qira’at sepuluh) dan qira’at arba’a Asyrah (qira’at empat belas). Bahkan buku ini mengkaji versi bacaan yang disebut qira’at syadzdzah atau bacaan yang asing atau bacaan yang tidak umum.

Dalam bukunya “Implikasi Qira’at Syadzdzah terhadap Istinbat Hukum: Analisis terhadap Penafsiran Abu Hayyan dalam Tafsir al-Bahr al-Muhith” seorang ahli qiraat dari Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta Romlah Widayati membuktikan bahwa qira’at syadzdzah yang dinilai asing itu tidak saja dapat dijadikan sebagai hujjah (pedoman) dalam menafsirkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, tetapi juga dapat dijadikan hujjah untuk istinbat hukum atau menggali hukum Islam.

Qira’at syadzdzah adalah qira’at yang tidak memenuhi semua kriteria keabsahan yang ditetapkan oleh ulama. Qira’at ini mungkin sesuai dengan rasm mushaf Utsmani atau ejaan yang dipakai oleh kebanyakan umat islam dan memenuhi tata bahasa Arab tetapi tidak mempunyai sanad (riwayat) yang shahih, atau mempunyai sanad yang shahih dan sesuai tata bahasa Arab tapi tidak sesuai rasm mushaf Utsmani. Qira’at syadzdzah juga bisa berarti qiraat yang mempunyai sanad yang shahih dan sesuai tata bahasa Arab, namun tidak diriwayatkan secara mutawatir (oleh banyak ulama) tapi hanya oleh ulama tertentu saja.

Membaca buku ini akan membuka wawasan kita karena banyak memberikan informasi baru dalam periwayatan al-Qur’an yang disajikan. Misalnya pada surat al-Maidah [5] ayat 89, Ubai bin Ka’ab, Abdullah ibn Mas’ud dan Ibnu Abbas membaca فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ dengan meriwayatkan tambahan kata مُتَتَابِعَاتٍ Riwayat yang tidak mutawatir seperti ini juga termasuk dalam kategori syadzdzah karena hanya diriwayatkan oleh tiga ulama, dan jika digunakan sebagai hujjah pasti akan berbeda makna dan konsekwesnsi hukumnya dengan riwayat lain.

Buku Romlah Widayati merupakan adaptasi dari disertasinya di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta (2009). Kementerian Agama RI memilih disertasi ini sebagai salah satu karya unggulan dan patut diterbitkan. Disertasi ini merupakan antitesis dari pendapat mayoritas yang menolak qira’at syadzdzah dijadikan hujjah dalam istinbat hukum. Penulisnya mengemukakan bahwa qira’at syadzdzah bisa dijadikan sebagai hujjah sepanjang tidak menyimpang dari kaidah bahasa Arab, memiliki riwayat yang shahih dari Nabi, meskipun tidak diriwayatkan secara mutawattir.

Sumber utama dari disertasi ini adalah kitab al-Bahr al-Muhit yang disusun oleh Abu Hayyan (654H/1256 – 754H/1344). Kitab ini banyak melansir qira’at syadzdzah dan melakukan pembelaan kepada model bacaan seperti itu untuk dijadikan hujjah dalam menafsiri Al-Qur’an. Bahkan disebutkan oleh Romlah dalam disertasinya, dalam 168 ayat yang berbicara masalah hukum (ayat ahkam), Abu Hayyan menggunakan qira’at syadzdzah sebagai hujjah.

Buku ini memberikan banyak contoh mengenai perbedaan qiraat baik yang mutawattir atau yang syadzdzah. Misalnya dalam ayat keempat surat al-Fatihah ملك يوم الدين  Kata ملك  bisa dibaca مَلِكِ  atau مَالِكِ atau مَالَكَ sesuai versi riwayatnya. Dan perbedaan bacaan akan menyebabkan perbedaan makna. Penulis buku Implikasi Qira’at Syadzdzah terhadap Istinbat Hukum menegaskan bahwa perbedaan qira’at  hakikatnya memberikan keleluasaan dan wawasan yang memperkaya dan menambah alternatif hukum Islam.

 

Judul buku : Implikasi Qira’at Syadzdzah terhadap Istinbat Hukum
                   (Analisis terhadap Penafsiran Abu Hayyan dalam Tafsir al-Bahr al-Muhith)
Penulis      :  Romlah Widayati
Penerbit     : Kementerian Agama RI Jakarta
Cet/Tahun  : Cetakan I, Desember 2014
Tebal         : 303 halaman 
Pesesensi   : Ahmad Badrus Q.*

 

*Ahmad Badrus Q., peminat studi ilmu Al-Qur'an dan sastra pesantren, tinggal di Depok.

Senin 29 Desember 2014 6:2 WIB
Gus Dur dan Keseteraan Gender
Gus Dur dan Keseteraan Gender

Sosok KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memberikan inspirasi banyak orang. Hal ini erat kaitannya dengan perjuangan beliau dalam membela kaum minoritas. Pemikiran ulama asal Jombang itu telah memberi warna tersendiri dalam wacana kebangsaan selama ini.<>

Gus Dur dikenal sebagai kiai yang memperjuangkan dan menegakkan isu-isu demokrasi, pluralisme dan HAM. Tidak banyak orang yang dapat konsisten seperti halnya dilakukan oleh Gus Dur. Pemikiran dan perjuangannya didekasikan untuk kaum lemah, termasuk kaum perempuan. selama ini perempuan mengalami diskriminasi dalam berbagai bidang. 

Buku bertajuk Gus Dur di Mata Perempuan ini mengulas sosok feminisme Gus Dur. Buku ini mengeksplorasi pendapat para tokoh perempuan tentang Gus Dur. Para penulis yang semuanya perempuan ini menceritakan pengalaman apa yang mereka saksikan tentang pemikiran Gus Dur terkait kesetaraan dan pembebasan perempuan. 

Pandangan-pandangan Gus Dur tentang toleransi dan demokrasi sudah sering disinggung. Namun pandangannya tentang gender dan kesetaraan masih belum banyak yang mengulas. Pandanganya mengenai kedudukan perempuan menunjukkan bahwa dirinya memang serius dalam melakukan pembebasan. Karena perempuan adalah semacam titik masuk dari berbagai pemikiran mengenai pembebasan dan kemanusiaan.

Tidak sekadar wacana, pembelaan Gus Dur terhadap perempuan dilakukan dalam berbagai sikap dan tuturan. Misalnya, Gus Dur ikut serta menolak Rancangan Undang-undang Pornografi dan Pornoaksi. Karena RUU tersebut justru berpotensi menjebak perempuan dalam dilema peran sosial. 

Perjuangan terhadap perempuan juga terlihat ketika Gus Dur menjabat sebagai presiden ke-4. Gus Dur memelopori terbitnya inpres presiden nomor 9 tahun 2000 mengenai pengarusutamaan gender. Pada perkembangannya inpres ini ditingkatkan menjadi UU Keadilan dan Kesetaraan Gender.  

Kepedulian Terhadap Perempuan

Bagi keluarga, Gus Dur adalah orang yang betul-betul menerapkan kesetaraan, bukan sekedar gaya hidup. Baginya, kesetaraan berangkat dari ruh hak asasi manusia yang sama. Sebagai adik kandung Gus Dur, Aisyah Baidhowi menitikberatkan pada kiprah dan pemikiran Gus Dur tentang perempuan di Nahdlatul Ulama (NU). Sejak Gus Dur terpilih pada Muktamar Situbondo 1984 sebagai Ketua Tanfidziyah PBNU, Gus Dur selalu mendorong Muslimat untuk memperhatikan dan okus pada masalah-masalah kemasyarakatan yang lain, bukan hanya isu perempuan. Gus Dur juga selalu menasehatkan jangan berkutat di internal organisasi tetapi harus berani ekspansi, bekerjasama dengan organisasi-organisasi masyarakat di luar. (Halaman 52)

Ala’i Nadjib menuliskan Gus Dur di Mata Keluarga Inti. Tulisan ini berisi hasil wawancara Nadjib dengan istri dan anak-anak Gus Dur. Nadjib memotret kehidupan Gus Dur dalam keluarga. Terutama perhatian Gus Dur terhadap kesehatan reproduksi. Berdasarkan wawancara itu banyak yang disimak mengenai sikap Gus Dur sebagai seorang suami sekaligus bapak dari empat putrinya. Pola pendidikan yang diberikan kepada keluarganya adalah pendidikan yang membebaskan dan bertanggung jawab.

Pemikiran feminis Gus Dur terhadap perempuan tergambar melalui pandangannya terhadap ketimpangan relasi gender. Diskriminasi merupakan persoalan utama untuk membangun keharmonisan relasi gender.

Selain peduli terhadap perdamaian, pluralisme, demokrasi, dan pembelaan terhadap kaum minoritas. Gus Dur juga peduli terhadap hak asasi perempuan Indonesia. Gus Dur memiliki pemikiran-pemikiran yang sangat fundamental bagi terwujudnya kesetaraan hak antara perempuan dan laki-laki.

Jika dicermati, perjalanan karier dan kecendekiawanan Gus Dur juga tidak bisa lepas dari perempuan. Selain istri, Gus Dur memiliki empat putri. Bahkan, publik mengenal salah satu putri Gus Dur Yeni Wahid sebagai salah seorang tokoh politik masa kini. Di mata keluarga Gus Dur sebagai sosok pemimpin yang demokratis. 

Apabila ditelisik, pemikiran Gus Dur yang sdah maju pada eranya tentang kesetaraan sebenarnya telah tumbuh dari keluarga inti beliau, ayah dan ibunya. KH. Wahid Hasyim merupakan pelopor sekolah hakim perempuan pertama pada tahun 1950-an, saat beliau menjadi Menteri Agama.

Gus Dur adalah belantara makna yang seakan tak pernah habis digali. Sudah tak terhitung kajian dilakukan terhadap sosok dan pemikirannya dalam berbagai dimensi. Namun, buku ini memiliki keunikan dan kelebihan dibanding dengan karya-karya lainnya.

Buku ini berawal dari cita-cita Fatayat untuk mendokumentasikan, pandangan dan pengalaman perempuan terhadap sosok dan perjuangan Gus Dur. Buku ini terbit tidak lepas dari upaya Fatayat NU, sebagai organisasi gerakan perempuan di bawah Nahdlatul Ulama (NU). untuk terus menerus mengkampanyekan pemikiran feminisme yang berakar pada khasanah pemikiran dan tradisi keindonesian.

Data buku

Judul buku : Gus Dur di Mata Perempuan 
Editor : Ala’i Nadjib
Penerbit : Gading, Yogyakarta
Cetakan : 2014
Tebal: 296 Halaman
ISBN : 978-602-14913-9-3
Peresensi : Ahmad Suhendra El-Bughury, reporter majalah Bangkit PWNU DIY

Senin 22 Desember 2014 21:3 WIB
Memajukan Usaha dengan Ritual-Spiritual Agama
Memajukan Usaha dengan Ritual-Spiritual Agama

Agama Islam tidak hanya mengajarkan umat manusia untuk melakukan ibadah secara terus menerus tanpa melakukan suatu upaya sebagai penyambung hidupnya. Akan tetapi, Islam juga mengajarkan bagaimana umat manusia bisa menyambung hidupnya agar berkembang dan maju. Di sinilah suatu usaha, pekerjaan, dan dunia bisnis juga dianjurkan dalam Islam.
<>
Nabi Muhammad Saw. saja sudah belajar mencari penghidupan dengan menggembala kambing orang Quraisy. Setelah dewasa beliau mendagangkan barang milik Siti Khadijah yang kelak menjadi istrinya. Anjuran beribadah dalam agama Islam tidak serta-merta meniadakan perintah untuk berusaha bagi umat manusia. Di sini ada keseimbangan antara urusan dunia dan urusan akhirat yang tidak boleh ditinggalkan.

Kehadiran buku karya Dr. Abdul Jalil, M.EI. ini ingin menunjukkan bahwa ritual keagamaan mampu menumbuhkan jiwa pengusaha. Sebuah studi yang akan mengantarkan kita pada spiritual enterpreneur. Studi ini dilakukan di kabupaten Kudus, yang dikenal dengan kota kretek, karena banyak berdiri pabrik rokok/kretek di sana. Dalam kehidupan masyarakat Kudus, ditemukan bahwa ritual-spiritual yang dijadikan pegangan dalam menjalankan suatu usaha/bisnis. Dengan ritual-spiritual yang diajarkan dalam agama Islam itulah, mereka menemukan jalan terang dan kelancaran dalam mengembangkan dunia usahanya.

Ada banyak ritual yang dilakukan oleh masyarakat Kudus. Selain mereka menjalankan usaha/bisnis, mereka juga tak pernah meninggalkan ritual-ritual keagamaan yang diyakini mampu memercikkan api semangat dalam menumbuhkan dan memajukan usahanya. Misalnya mereka sering melakukan puasa Senin-Kamis, puasa Daud dan puasa Dala’il al-Khaiirat. Selain itu, pengusaha Kudus juga melakukan dzikir dan membaca shalawat yang mereka peroleh dari para kiai (hlm. 8-9).

Memang sudah sangat banyak karya yang mengulas tentang nilai ritual keagamaan dalam ajaran agama Islam. Mereka yang rajin melakukan puasa Senin-Kamis, setiap kali menemukan persoalan rumit, dengan izin Allah, persoalan tersebut cepat ditemukan solusinya. Begitu pula dengan mereka yang rajin membaca dzikir dan shalawat, kehidupannya selalu lapang dan segala urusannya lancar. Sehingga, ritual-spiritual yang ada dalam agama Islam mampu menopang kehidupan umat manusia, khususnya masyarakat Kudus sendiri yang menajdi objek kajian.

Urgensitas ritual-spiritual yang dilakukan oleh pengusaha masyarakat Kudus memang sangat manjur. Hal tersebut terbukti seperti yang dipaparkan oleh Bambang Soemadiono, direktur Indomaju yang sekaligus ketua Apindo Kudus. Dia mengatakan bahwa sejak kuliah pada tahun 1987 tidak pernah berhenti puasa Senin-Kamis. Dia tidak memiliki niat apa-apa, kecuali meyakini bahwa apa yang dia lakukan tersebut pasti ada manfaatnya. Dia tidak memiliki guru spiritual khusus, tapi entah mengapa dia merasa hidupnya tibo pas, alias selalu berada dalam yang betul/ beruntung (hlm. 144).

Temuan transformasi spiritual pengusaha Kudus dalam kewirausahaan ini membantah temuan Lance Castle di kota yang sama yang menyimpulkan bahwa ideologi Islam tidak mendukung praktik berusaha, sehingga tidak mampu berakselerasi dengan langgam ekonomi (hlm. 265). Temuan penulis juga melawan  kesimpulan Nanat Natsir yang menyatakan bahwa ideologi para pengusaha adalah tarekat Qadariyah, sedangkan ideologi Asy’ariyah lebih banyak dianut oleh para buruh. Padahal, tidak ada satu pun pengusaha di Kudus yang mengikuti aliran Qadiriyah, dan ternyata sukses.

Menurut temuan ini, faktor yang cukup dominan dalam menentukan kesuksesan pengusaha di Kudus adalah transformasi spritualitasnya, apa pun agama dan alirannya. Temuan ini akhirnya memperkuat Danah Zohar dan Ian Marshal yang menyatakan bahwa kecerdasan spiritual dapat mengantarkan seseorang pada kesuksesan bisnis, sekaligus membenarkan sinyalemen Patricia, bahwa terjadi trend pencarian spiritualitas pada diri penguasha. Tranformasinya tidak hanya pada tingkat individu, namun sudah mencapai tingkat korporasi.

Buku yang ada di tangan pembaca ini ingin menunjukkan suatu fenomena yang terjadi di kalangan masyarakat Kudus, yang dikenal sebagai kota kretek. Di sana, para penguasaha yang dipotret dalam buku ini menunjukkan aspek spiritualitas yang berbanding lurus dengan peningkatan usaha ekonomi mereka. Faktor spiritualitas telah telah menjadi faktor kunci bagi keberhasilan pengusaha Kudus, dengan ditunjang oleh manajemen yang modern dan pengelolaan usaha yang disiplin dan profesional.

Data Buku

Judul : Spiritual Enterpreneurship Transformasi Spiritualitas Kewirausahaan
Penulis : Dr. Abdul Jalil, M.EI.
Penerbit : LkiS
Cetakan: : I, 2013
Tebal : xviii + 290 halaman; 14,5 x 21 cm
ISBN : 978-979-16776-4-6
Peresensi : Junaidi Khab, Pecinta baca buku, tinggal di Surabaya

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG