IMG-LOGO
Nasional

KH Hasyim Muzadi Kini Bergelar “Tuanku Imam Nahdliyin”

Selasa 20 Januari 2015 16:4 WIB
Bagikan:
KH Hasyim Muzadi Kini Bergelar “Tuanku Imam Nahdliyin”

Padang Pariaman, NU Online
Ketua yayasan pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan H Idarussalam memberikan gelar “Tuanku Imam Nahdliyin” untuk Rais Syuriyah PBNU KH Hasyim Muzadi di pesantren Nurul Yaqin, Pakandangan, Padang Pariaman, Ahad (18/1). Pemberian gelar kehormatan ini merupakan kali pertama dilakukan pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan.
<>
Pemberian gelar ini berlangsung saat tabligh akbar maulud Nabi Muhammad SAW. Kiai Hasyim sendiri hadir sebagai penyampai taushiyah pada tabligh akbar tersebut.

Menurut H Idarussalam, pemberian gelar merupakan kesepakatan pimpinan dan majelis guru pesantren Nurul Yaqin. "Kami menilai kehadiran Kiai Hasyim ke pesantren Ringan-Ringan patut diberikan penghargaan. Walaupun banyak tokoh yang sudah pernah hadir di pesantren ini, namun kehadiran Kiai Hasyim mampu mengangkat harkat pesantren Nurul Yaqin," kata H Idarussalam.

Yang lebih penting lagi, kata H Idarussalam, Kiai Hasyim merupakan tokoh kiai kaliber nasional yang memahami kitab-kitab yang diajarkan di pesantren Ringan-Ringan. Kiai Hasyim merupakan tokoh ulama, bukan sekadar ulama. Paham keagamaannya Aswaja seperti yang diajarkan di pesantren Nurul Yaqin ini.

"Gelar Tuanku Imam Nahdliyin disematkan karena Kiai Hasyim memang imamnya orang NU yang disebutkan warga nahdliyin. Sebagai pesantren yang melahirkan ulama dengan gelar “Tuanku” dan diakui oleh Pemkab Padang Pariaman, kita patut memberikan gelar tersebut," kata H Idarussalam.

Pesantren Nurul Yaqin selama ini terbuka terhadap kultur masing-masing santri dalam memberikan sebuah gelar. Sehingga gelar dari tamatan pesantren Nurul Yaqin pun beragam. Ada yang berbau Padang Pariaman seperti Tuanku Sidi, Bagindo, Sutan. Ada pula yang berbau Arab, Indonesia, dan juga ada yang menyesuaikan dengan daerah masing-masing di luar Padang Pariaman.

"Kita serahkan kepada masing-masing keluarga santri siapa gelar “Tuanku” yang diberikan kepada anaknya," tambah H Idarussalam. (Armaidi Tanjung/Alhafiz K)

Bagikan:
Selasa 20 Januari 2015 23:1 WIB
Gusdurian Jogja Jaring Suara Rakyat di 0 Km
Gusdurian Jogja Jaring Suara Rakyat di 0 Km

Yogyakarta, NU Online
Jaringan Gusdurian Yogyakarta melakukan aksi di 0 km Jl. Malioboro. Aksi tersebut merupakan penjaringan suara rakyat untuk pemerintah dan para pemimpin dunia. Suara tersebut akan difilter menjadi 15 pesan rakyat untuk pembangunan.
<>
“Ini berkaitan dengan peluncuran target pembangunan bersama yang akan diikuti oleh negara-negara anggota PBB yang disebut Sustainable Development Goals (SDGs),” ungkap Tata, koordinator Aksi 2015 Kamis sore pukul 16:00 (16/01).

Tata mengungkapkan, target pembangunan yang dibangun pemerintah selama ini belum melibatkan masyarakat dalam proses pembuatan dan evaluasinya. Oleh karenanya, Jaringan Gusdurian ingin menjaring suara rakyat.

Kalau kita bicara siapa itu gusdurian, lanjut dia, yaitu ingin melanjutkan pemikiran dan perjuangan Gus Dur. Perjuangannya Gus Dur tidak hanya satu lingkup pluralisme, tetapi juga tentang sosial, ekonomi, pembangunan. “Aksi di sini adalah bagaimana pemerintah bisa pro terhadap rakyat," tambahnya.

Tata menceritakan, bahwa Gus Dur pernah menyuarakan suara rakyat di Kedungombo ketika pembangunan tidak melibatkan masyarakat dan masyarakat dibungkam begitu saja.

"Nah dari situ kita belajar, bahwa pembangunan harus melibatkan masyarakat, apakah ini yang diinginkan masyarakat? apakah ini yang dibutuhkan masyarakat?" tandasnya.

Jaring 2015 suara di seluruh Indonesia
Masih menurut Tata, yang terjun dalam aksi ini tidak hanya di Yogyakarta, melainkan oleh 45 komunitas Gusdurian di seluruh Indonesia. Misalnya di Makassar, Bandung, dan komunitas jaringan di berbagai kota. Komunitas-komunitas itu akan menjaring 2015 suara.

Dari situ penjaringan itu, lanjut dia, Gusdurian ingin melihat, apakah para pemimpin serius memikirkan rakyatnya. “Kita bisa menekan dan mengontrol pemerintah. Kita mengajak masyarakat agar peka terhadap isu sosial. kita terlibat dalam pembangunan bangsa ini,” lanjutnya.

Gusdurian akan melakukan penjaringan suara ini sampai akhir Februari. Setelah didapat, akan melakukan advokasi bukan hanya di pemerintah pusat, tetapi juga pemerintah daerah. (Nur Sholikhin/Abdullah Alawi)

Selasa 20 Januari 2015 16:37 WIB
PBNU akan Serahkan Kertas Kerja Gus Dur ke ANRI
PBNU akan Serahkan Kertas Kerja Gus Dur ke ANRI

Jakarta, NU Online
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan menyerahkan kertas kerja organisasi selama 15 tahun periode kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) atau masa khidmah 1984 hingga 1999 ke Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).<>

Saat ini kertas kerja itu telah tertata rapi di ruang perpustakaan di lantai 2 kantor PBNU.

Menurut Kepala Perpustakaan PBNU, H Satiiri Ahmad, penyerahan arsip PBNU yang selanjutnya disebut Kertas Kerja Gus Dur itu dilakukan setelah melalui tahap identifikasi awal oleh pihak ANRI.

“Selama sekitar lima bulanan sudah dilakukan proses akuisisi. Ada tim dari ANRI yang datang untuk melakukan identifikasi, misalnya apakah naskah ini asli atau foto copy,” katanya kepada NU Onine, Senin (19/12).

Kertas kerja Gus Dur akan diserahkan secara resmi kepada pusat arsip Indonesia itu sebelum pelaksanaan Muktamar ke-33 NU, awal Agustus 2015 mendatang.

Wakil Sekjen PBNU H Abdul Mun’im DZ mengatakan, kerjasama dengan ANRI kali ini adalah tahap kedua. Tahap pertama, tahun 1983 silam beberapa saat sebelum kantor PBNU direnovasi, KH Moenasir Ali (sekjen PBNU waktu itu) menyerahkan arsip dari kantor di jalan Kramat Raya Jakarta Pusat ke pihak ANRI.

Kerjasama dengan pihak ANRI diteruskan oleh Gus Dur pada 1985. Arsip yang diserahkan oleh KH Moenasir Ali itu adalah kertas kerja PBNU selama periode 1952 hingga 1982. Secara berkala PBNU meninjau proses pengelolaan arsip NU di gedung pusat ANRI Jalan Ampera, Jakarta Selatan.

Saat ini arsip PBNU yang telah diserahkan ANRI untuk tahap pertama sudah selesai dikatalogisasi. Pihak ANRI sudah melakukan tematisasi, dan memberikan catatan-tatatan serta deskripsi untuk membantu pembaca dalam memahami konteks sejarah pada saat arsip itu dibuat.

Pada 20 November 2014 lalu, ANRI bekerja sama dengan PBNU menggelar kegiatan Ekspose Inventaris Arsip NU 1952-1982. Kegiatan dibuka langsung oleh Deputi Bidang Konservasi M. Taufik yang diikuti dengan dialog seputar kebijakan pengolahan arsip NU di ANRI dan peta arsip NU. Dari PBNU waktu itu diwakili oleh Wakil Sekje Abdul Mun’im DZ dan Kepala Perpustakaan Satiri Ahmad.

Arsip NU di ANRI berisi bermacam-macam dokumen surat-menyurat, hasil muktamar, pertemuan alim-ulama, sidang pleno, administrasi keanggotaan, hingga catatan keuangan, kepengurusan, dan badan otonom dan lembaga NU.

Arsip yang dipindahkan dari kantor PBNU pada masa khidmah 1952 hingga 1982 ke gedung ANRI juga memuat informasi mengenai amal usaha dan peran NU terkait pendidikan, ekonomi, politik, sosial, ketenagakerjaan, keamanan, pertahanan, dan hubungan luar negeri baik pada masa penjajahan Belanda, Jepang, revolusi hingga masa kemerdekaan RI.

“Arsip ini merupakan etalase NU. Melalui kerja sama dengan ANRI, diharapkan publik akan melihat NU secara positif,” kata Mun’im DZ. (A. Khoirul Anam)

Selasa 20 Januari 2015 9:4 WIB
WIRAUSAHA
Ternak Puyuh, Pilihan Bisnis yang Menjanjikan
Ternak Puyuh, Pilihan Bisnis yang Menjanjikan

Subang, NU Online
Salah satu pilihan wirausaha yang cukup menjanjikan pada saat ini adalah berternak puyuh, karena permintaan pasar terhadap telur dan daging puyuh sekarang terbilang tinggi.
<>
Hal ini diungkapkan seorang wirausahawan peternakan puyuh, Ahmad Syadzili (28) kepada NU Online di kediamannya di Kampung Pungangan, Desa Rancabango, Kecamatan Patokbeusi, Subang, Jawa Barat, Senin (19/1)

"Kemarin saya posting puyuh di grup Facebooker Subang, ternyata banyak yang menghubungi saya. Saya jadi kewalahan karena banyak sekali permintaan dari anggota grup itu. Kata saya wah barangnya belum ada kalau segitu," ungkap Ahmad yang sudah punya puyuh sekitar seribu ekor tersebut.

Dari kiriman di grup Facebook itu, Ahmad yang pernah menjadi santri pesantren di Cianjur, Banten, Petuk dan Kewagean Kediri ini menyimpulkan bahwa permintaan pasar terhadap puyuh ini cukup tinggi.

"Setiap hari ada yang bertelur, telur itu dibagi dua, ada yang dijual dalam bentuk telur, ada juga yang dimasukkan ke mesin penetas. Setelah telur itu jadi DOQ (Day Old Quail) diurus sekitar 41 hari, nanti dia sudah bisa bertelur lagi, yang mau beli puyuh itu ada yang berusia satu hari, hingga 41 hari, harganya beragam" Tukasnya

Ahmad menjelaskan, lebih baik menetaskan puyuh dan mengurusnya hingga berusia beberapa hari, karena keuntungan dari penjualan burung puyuh berlipat dari pada penjualan telurnya.

"Hasil dari penjualan telur puyuh sedikit, kalau menjual puyuh untungnya lumayan, yang usia seminggu sekitar seribu rupiah sampai tiga ribu rupiah, yang sudah siap bertelur tujuh ribu rupiah per ekor tinggal dikali berapa ekor misalnya," imbuhnya.

Menurut cucu KH. Mu'tamad, Pengasuh Pesantren Annur Pungangan ini, modal bahan untuk satu kandang puyuh ukuran 40 cm x 160 cm kurang lebih Rp. 160.000, bisa menampung 160 ekor puyuh.

"Dari 160 ekor, setiap hari bertelur sekitar 80%-90%, biaya pakan sekitar dua puluh lima ribu," tambahnya.

Ahmad membandingkan, peternakan puyuh di Subang masih terhitung sedikit, karena di setiap kampung selalu ada orang yang ternak ayam, tapi tidak setiap kampung ada yang ternak puyuh.

"Kalau kita sudah punya banyak, puyuh yang laki-laki bisa dijual ke tukang pecel, sebab dagingnya lezat, tapi harus kontinyu kalau tidak nanti tukang pecelnya komplain," pungkasnya. (Aiz Luthfi/Mahbib)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG