IMG-LOGO
Pesantren
KELAS MENULIS SANTRI

Santri Dikenalkan Bagaimana Proses Produksi Berita

Kamis 22 Januari 2015 18:14 WIB
Bagikan:
Santri Dikenalkan Bagaimana Proses Produksi Berita

Yogyakarta, NU Online
Pada sesi terakhir pada kelas menulis santri atau yang disebut KMS, santri diajak kunjungan ke media cetak dan online, Tribun Yogyakarta, Kamis (22/01), pukul 14:00-16:00. Mereka dikenalkan bagaimana proses produksi berita di media mainstream. Pada kunjungan ini, Yudha Kriswanto, Redaktur Tribun Jogja mempersilakan para santri untuk menulis di media online tribunjogja.com.<>

"Teman-teman pakai gadget semua kan? Silakan kalian tulis berita kejadian pada saat Anda perjalanan dari LKiS ke kantor Tribun Jogja." Instruksi Yudha saat mewakili Tribun Jogja untuk mengisi sesi kunjungan santri.

Setelah memberitahukan tata cara mengirim berita ke Tribun Jogja, Yudha juga menjelaskan, saat mengirim berita harus disertai foto. Menurutnya, foto menjadi orisinalitas berita.

"Mengambil foto harus sesuai dengan kejadian. Jangan sampai salah mengambil foto, karena akan memicu permasalahan besar. Dan kalau kalian mengambil foto dari internet, maka harus cantumkan alamatnya." Jelasnya kepada para santri yang sedang asyik mendengarkan paparannya.

Ia juga menjelaskan, tulisan yang dikirim ke tribunjogja.com tiga paragraf sudah cukup. "Ketika ada kejadian, segeralah tulis. Karena media online akan memuat berita-berita yang update." Tandasnya.

Usai menjelaskan bagaimana prosedur penulisan berita di Tribun Jogja, Yudha kemudian memperlihatkan video saat pelatihan pertama kali yang diadakan oleh Tribun Jogja. "Ini merupakan pelatihan angkatan pertama. Pada waktu itu, koran tribun belum ada, bahkan media onlinenya juga belum ada." Jelasnya kepada para santri seraya memperlihatkan video dokumenter Tribun Jogja.

"Setelah hari kedua pelatihan, ada gunung merapi meletus, tepatnya pada tahun 2010. Pada saat itu, para wartawan langsung diterjunkan ke tempat kejadian sebelum rapat redaksi." Tutur Yudha, Pria dengan sosok rambut gondrong. (Nur Sholikhin/Anam)

Bagikan:
Kamis 22 Januari 2015 9:8 WIB
Pesantren Darut Taqwa Dibangun pada Masa Penjajahan
Pesantren Darut Taqwa Dibangun pada Masa Penjajahan

Probolinggo, NU Online
Masjid di Pesantren Darut Taqwa d Desa Kedungrejoso Kecamatan Kotaanyar Kabupaten Probolinggo dibangun pada tahun 1927 silam. Bangunan masjid ini merupakan saksi sejarah dari cikal bakal berdirinya dan perkembangan pesantren tersebut sejak era penjajahan silam.
<>
Dari Kota Kraksaan untuk menuju pesantren ini harus menempuh jarak sejauh sekitar 10 km. Jarak tersebut bisa ditempuh dengan menggunakan sepeda motor atau mobil. Pesantren Darut Taqwa dibangun secara gotong royong pada masa penjajahan.

Pesantren Darut Taqwa saat ini mempunyai lembaga pendidikan diniyah dan umum. Lembaga pendidikan umum/formal yang berdiri terdiri dari SMP dan SMA Darut Taqwa. Sementara pendidikan diniyah dilangsungkan pada sore dan malam hari.

“Tidak ada yang berbeda dengan kegiatan perkembangan di pesantren ini. Hanya saja pendidikan disini ada tambahannya. Yakni sekolah agama,” ungkap putra ketiga Pengasuh Pesantren Darut Taqwa KH. Wahyu Khoirul Anwar, Rabu (21/1).

Pembelajaran informal yang diberikan kepada santri meliputi nahwu, sharraf, baca kitab kuning, tafsir dan pelajaran agama lainnya. Pendidikan informal ini terdiri dari tiga tingkatan. Yakni tingkat ula (awal), wustho (pertengahan) dan ulya (atas). Selain mendidik santri melalui jalur formal dan informal, pesantren ini juga tetap menjaga silaturahim dengan masyarakat.

“Masjid ini adalah saksi bisu perjalanan panjang pesantren ini. Didirikan oleh embah saya sekitar tahun 1927 atau pada masa penjajahan kolonial Belanda,” jelasnya.

Kiai Wahyu mengisahkan secara resmi pesantren tersebut berdiri pada tahun 1989. Namun jauh sebelumnya sekitar tahun 1800-an sudah berdiri pesantren yang diasuh KH Fathorrosyid. “Waktu itu masih berupa masjid. Insya Allah sejajar dengan Pesantren Zainul Hasan Genggong,” terangnya.

Masjid ini didirikan atas dorongan sejumlah ulama sepuh. Setelah masjid, didirikan pula madrasah diniyah. Masjid yang masih kukuh berdiri hingga sekarang itu menyimpan saksi perjuangan para pahlawan Indonesia dalam merebut kemerdekaan.

Menurut cerita yang dituturkan orang tua Kiai Wahyu, pada saat masih berperang dengan Belanda, masjid itu pernah dipakai sebagai tempat untuk menganiaya para pejuang. “Belanda dengan semena-mena naik dengan sepatunya dan menganiaya pejuang kita,” kisahnya.

Setelah Kiai Fathorrosyid wafat, perjuangan dilanjutkan KH. Anwar Abdu Wahab. Pada masa Kiai Anwar inilah didirikan pesantren. Mereka yang nyantri di pesantren ini kebanyakan warga dari daerah selatan atau pegunungan. Meski sudah berbentuk pesantren, namun belum diberi nama.

Pada tahun 1940, pucuk pimpinan pesantren diserahkan kepada KH Joyo Rois Anwar. Antara tahun 1950 hingga 1988, pesantren ini sempat mengalami kevakuman. Artinya santri yang mondok atau menginap tidak ada. Namun santri yang mengaji di masjid tetap ada.

Kemudian pada tahun 1989, Kiai Wahyu pulang ke desa tersebut, setelah selama 10 tahun berdomisili di Desa Sambirampak Lor Kecamatan Kotaanyar Kabupaten Probolinggo

“Ada pesan dari KH Saifurridzal agar saya membangkitkan lagi pesantren yang dulu pernah ada,” terang kakek 6 cucu yang mondok di Pesantren Zainul Hasan Genggong selama 17 tahun tersebut. Apalagi setelah pulang dari pesantren pada tahun 1976, Kiai Wahyu turut membantu KH Hasan Basri, Pengasuh Pesantren Nurul Hasan (mertuanya), menjadi tenaga pengajar.

Pesan Kiai Saifurridzal, kemudian disampaikan kepada ayahnya. Ternyata Kiai Joyo mendukung penuh upaya Kiai Wahyu untuk membangkitkan pesantren.

Pada sekitar Oktober 1976, secara resmi pesantren didirikan. Pada awal berdiri ada sekitar 8 santri, yakni 7 santri laki-laki dan 1 perempuan. Waktu itu, yang ditempati santri bukanlah asrama dengan bangunan tembok, melainkan asrama kayu atau cangkruk.

“Itu berkat dukungan masyarakat sekitar,” aku pria yang dikaruniai 3 anak dalam pernikahannya dengan Hj. Maimunah tersebut.

Perjuangan Kiai Wahyu untuk mengembangkan pesantren tidaklah sia-sia. Saat ini sudah ada sekitar 80 santri yang bermukim dan menimba ilmu di pesantren yang diasuhnya. Selain itu, ratusan santri non mukim yang turut menimba ilmu disana. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Rabu 21 Januari 2015 18:1 WIB
Elemen Jurnalisme Hidangan Santri Pagi itu
Elemen Jurnalisme Hidangan Santri Pagi itu

Yogyakarta, NU Online
Tidak seperti hari-hari sebelumnya, pagi itu langit cerah. Angin tidak mengoyak daun pepohonan di sekitar LKiS. Para santri mulai berdatangan ke Pendopo Hijau. Mereka mau ngaji yang diadakan Pantau dan LKiS, Yogyakarta.
<>
Kedatangan para santri pagi pada Senin (19/1) itu disambut hangat dengan buku-buku pegangan para penulis, khususnya wartawan. Buku Sembilan Elemen Jurnalisme menjadi hidangan peserta pagi itu. Para santri pun membuka-buka buku itu.

"Silakan daftar ulang terlebih dahulu bagi peserta yang baru datang," pinta Khoiriyah, panitia kelas menulis santri yang juga anggota dari yayasan LKiS, kepada para peserta yang baru datang.

Saat kelas itu mulai penuh, datang dua pria muda dengan membawa tas. "Maaf, saya sedikit terlambat," ujarnya kepada orang-orang di sekelilingnya.

Dua orang tersebut adalah pembicara dan sekaligus pihak penyelenggara, Imam Sofwan dari yayasan Pantau. Sedangkan yang satunya, Fahri editor Pindai.

"Elemen-elemen jurnalisme itu sangat penting, karena itu merupakan kesepakatan bersama. Itu adalah pegangan para jurnalis dunia. Di Indonesia juga banyak yang memakai standar sembilan elemen jurnalisme untuk training wartawan," ungkap Imam pada pelatihan yang berlangsung Kamis, (22/1).

Imam juga menerangkan bahwa buku yang dipegang para santri itu adalah buku yang ditulis dengan serius, yaitu dengan wawancara delapan ribu wartawan. "Kita akan bahas buku itu. Kita perkuat basis nilai-nilai jurnalisme," ujarnya.

Diberikan penjelasan tentang buku Elemen Jurnalisme dan buku BLUR: Bagaimana Mengetahui Kebenaran di Era Banjir Informasi, para santri memperhatikan dengan seksama. (Nur Sholikhin/Abdullah Alawi)

Rabu 21 Januari 2015 11:31 WIB
Jika Santri Tak Menulis, Tradisi Bisa Haram Semua
Jika Santri Tak Menulis, Tradisi Bisa Haram Semua

Yogyakarta, NU Online
Para santri dari berbagai pondok pesantren dan universitas mengikuti kelas menulis yang diselenggarakan Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) dan Yayasan Pantau di Pendopo Hijau Yayasan LKiS, Sorowajan, Bantul, Yogyakarta.
<>
Kelas yang berlangsung (19-22/1) ini mendaulat Imam Sofwan (Yayasan Pantau), Fahri Salam (Editor Pindai), dan Nurul Huda (Reporter Tribun Jogja) sebagai narasumber.

“Kalau santri tidak menulis, bisa jadi tradisi-tradisi yang ada akan menjadi haram semua,” ungkap Imam Sofwan pada pembukaan kelas itu, Senin (19/1).

Ia menjelaskan pendapatnya itu karena sekarang banyak situs di internet yang mulai mengharamkan tradisi dan tidak mempunyai sikap toleransi kepada yang lain.

Fahri juga menjelaskan bahwa semangat Kelas Menulis Santri ini adalah menjaga tradisi-tradisi plural kita. "Tradisi bukan hanya dipraktekkan tapi juga ditelurkan menjadi tulisan," ujarnya.

Perwakilan dari Yayasan LKiS, Farid Wajdi mengungkapkan, bahwa santri sangat penting untuk menulis. Ada banyak alasan mengapa santri harus menulis, tapi yang paling pokok, menurutnya, sekarang ini tulisan di internet sedikit banyak mendorong intoleransi.

“Jadi, saya kira itu sebuah alasan mengapa santri harus menulis. Acara semacam ini kita ikuti secara serius. Kita meyakini, Islam di Indonesia adalah cinta damai. Tapi gambar dan tulisan di internet kebanyakan sangat kontroversial,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan bahwa agama yang benar adalah yang bersifat lunak dan lembut. “Saya kira itu yang ingin saya sampaikan, untuk mendorong kita serius mengikuti ini. Rumus dari belajar menulis adalah menulis itu sendiri,” pungkasnya. (Nur Sholikhin/Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG