IMG-LOGO
Nasional

Shalawat Wasiat KH Umar Abdul Mannan

Kamis 5 Februari 2015 9:30 WIB
Bagikan:
Shalawat Wasiat KH Umar Abdul Mannan

Solo, NU Online
Hiruk pikuk panitia, untuk mempersiapkan kegiatan khataman dan haul di Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta, pekan lalu (31/1), masih terlihat. Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 23.30 WIB.
<>
Sebagian dari para santri yang berada di depan halaman masjid, masih sibuk dengan aktivitas mengangkat kursi, mengecek lampu dan sebagainya. Secara kebetulan, saya dan seorang kawan dari NU Online, yang hendak pergi berziarah ke makam tokoh kharismatik di Solo, KH Umar Abdul Mannan, menemukan semacam prasasti yang terletak persis di depan masjid.

Pada prasasti tersebut, tertulis judul dengan huruf kapital: SHOLAWAT – WASIAT K.H. AHMAD UMAR ABDUL MANNAN. Tulisan yang berwarna kuning keemasan tersebut, terlihat menyala di atas prasasti yang berwarna hitam. Di bawah judul, tertulis syair shalawat yang dibuat oleh Kiai Umar.

Menurut Pengasuh Pesantren Al-Muayyad Windan, KH M Dian Nafi’, syair tersebut diciptakan semasa Kiai Umar masih hidup. “Kemudian dititipkan ke Nyai Siti Fathonah Rofingi. Pesan Mbah Umar, setelah wafat agar diserahkan ke pengganti beliau, KH Rofingi Al-Hafidh,” ujar Kiai Dian, Rabu (4/2).

Adapun isi shalawatnya sebagai berikut:

Allahumma sholli wa salim ‘alaa # Sayyidina wa maulanaa muhammadin
‘adada maa fi ‘ilmillahi sholatan # Da’imatan bida wa min mulkillahi

Wasiate Kyai Umar maring kita.
Mumpung sela ana dunya dha mempenga.
Mempeng ngaji ilmu nafi’ sangu mati.
Aja isin aja rikuh kudu ngaji

(wasiat Kiai Umar kepada kita
mumpuung hidup di dunia, bersungguh-sungguhlah
sungguh-sungguh cari ilmu bermanfaat sebagai bekal mati
jangan pernah malu, wajib mengaji!)

Dha ngajiha marang sedulur kang ngerti
Aja isin najan gurune mung bayi
Yen wus hasil entuk ilmu lakonono
Najan sithik nggonmu amal dilanggengno

(mengajilah kepada yang alim
jangan malu, meski gurumu masih sangat muda
bila sudah belajar, amalkanlah
walau sedikit, tapi konsisten)

Aja ngasi gegojegan dedolanan
Rina wengi kabeh iku manut syetan
Ora kena kanda kasep sebab tuwa
Selagine durung pecat sangka nyawa

(jangan banyak bergurau dan bermain
siang malam, semua itu mengikuti syetan
jangan pernah berkata terlambat belajar karena tua
selagi nyawa masih di kandung badan)

Ayo konco padha guyub lan rukunan
Aja ngasi pisah congkrah lan neng-nengan
Guyub rukun iku marakake ruso
Pisah congkrah lan neng-nengan iku dosa

(ayo saling guyub dan rukun
jangan saling berseteru
guyub rukun itu menjadikan kuat
berseteru itu dosa)

Ing sahrene dawuh rukun iku nyata
Ayo enggal dha nglakoni aja gela
Aja rikuh aja isin aja wedi
Kudu enggal dilakoni selak mati

(pesan untuk rukun itu nyata
ayo segera dilakukan, agar tidak kecewa
jangan malu, jagan takut
harus segera dilaksanakan, sebelum mati)

Mula ayo bebarengan sekolaho
Mesti pinter dadi bocah kang utama
Budhi pekertine becik sarta tata
Woh-wohane bakal bekti marang wong tuwa

(ayo bersekolah
jadilah anak yang pintar
berbudi pekerti baik dan tata krama
akhirnya berbakti kepada orang tua)

Ing sahrene dawuh rukun iku cetha
Ayo enggal dha nglakoni aja gela
Ayo sekolah nyang madrasah Al-Qur’an
Padha ngaji Qur’an ana Mangkuyudan

(pesan untuk rukun itu nyata
ayo segera dilakukan, agar tidak kecewa
ayo sekolah ke madrasah Al-Quran
mengaji Al-Quran di Pesantren Mangkuyudan

(Ajie Najmuddin/Mahbib)

Bagikan:
Kamis 5 Februari 2015 22:3 WIB
Ulama Beirut Kutip Kitab Mbah Hasyim dan Karya Ulama Nusantara
Ulama Beirut Kutip Kitab Mbah Hasyim dan Karya Ulama Nusantara

Subang, NU Online
Syekh Kholil bin Abdul Qodir Dabbagh Al-Hasani hadir dalam kegiatan “Daurah Ilmiah” di Auditorium PCNU Subang, Rabu (4/2). Dalam menerangkan akidah Aswaja, ulama asal Beirut ini tampak ringan mengutip di sana-sini karya Mbah Hasyim, Syekh Ihsan Jampes, dan Syekh Nawawi Banten.
<>
PCNU Subang sengaja mengundang Syekh Kholil berbicara untuk memperkuat aqidah Aswaja nahdliyin Subang. Mengenai perbedaan Allah SWT dan makhluq-Nya berikut rincian di dalam ilmu Kalam, Syekh Kholil menunjukkan karya-karya ulama Nusantara.

"Ini adalah kitab At-Tanbihatul Wajibat. Siapa penulisnya?" tanya Syaikh Kholil kepada jamaah sambil menunjukkan sebuah kitab.

Setelah ada jamaah yang menjawab, Syaikh Kholil kembali menyatakan bahwa kitab itu ditulis oleh Pendiri NU Hadhratus Syekh KH Hasyim Asy'ari. Syekh Kholil lalu membacakan muqaddimah kitab Mbah Hasyim yang menyatakan bahwa Allah suci dari segala kekurangan dan tidak membutuhkan segala sesuatu.

Setelah mengutip kitab Mbah Hasyim, Syekh Kholil menunjukan kitab Qathrul Ghaits dan Tijanud Darori karya Syekh Nawawi Banten, serta menunjukkan kitab Sirajut Thalibin karya Syekh Ihsan Jampes.

"Saya sangat senang bisa hadir di kantor NU Subang. Sebab ketika masuk ke kantor NU, saya  itu seperti berada di kantor sendiri di Libanon. Ada kesamaan antara kantor NU dan kantor saya di Liibanon," kata Syekh Kholil melalui penerjemahnya.

Selain itu, aqidah Syekh Kholil pun mempunyai kesamaan dengan Aqidah NU. Hal ini ia buktikan dengan menempatkan kitab Mbah Hasyim dan kitab-kitab ulama Nusantara sebagai rujukan. (Aiz Luthfi/Alhafiz K)

Kamis 5 Februari 2015 19:30 WIB
Ini 7 Seruan Moral Tokoh Lintas Agama untuk Presiden, KPK, dan Polri
Ini 7 Seruan Moral Tokoh Lintas Agama untuk Presiden, KPK, dan Polri

Jakarta, NU Online
Puluhan tokoh lintas agama dan kepercayaan berkumpul di Kantor PBNU Kramat Raya Jakarta Pusat, Kamis, (5/2) sore. Pertemuan ini untuk menanggapi masalah yang mengemuka akhir-akhir ini terkait kemelut antara KPK dan Polri, dan mengenai ketegasan Presiden Jokowi dalam menyelsaikan kemelut tersebut.<>

“Pertemuan ini tidak terkait dengan politik, murni untuk menyelesaikan persoalan kebangsaan kita saat ini,” tegas Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj saat memimpin penyampaian sikap di lantai 5 kantor PBNU.

Hasil dari pertemuan ini, mereka menyampaikan hal-hal sebagai berikut, 

1. Penegakan kebenaran dan keadilan adalah syarat mutlak keselamatan bangsa Indonesia. 

2. Tugas Negara dan pemerintahan adalah menjaga nilai-nilai luhur agama dan memajukan kemashlahatan rakyatnya.  

3. Pemimpin yang jujur, amanah dan adil akan membawa bangsa ini mencapai kemajuan dan kesejahteraan. 

Dari tiga persamaan persepsi kebangsaan itu, mereka menyampaikan 7 butir seruan moral kepada presiden, KPK, dan Polri sebagai berikut,  

1. Menyerukan kepada bangsa Indonesia untuk tidak khawatir, was-was atau resah, serta tetap tenang dan menjalankan aktifitas sebagaimana biasa. 

2. Menyerukan kepada Presiden Republik Indonesia untuk terus secara sungguh-sungguh memimpin pemberantasan korupsi.  

3. Mengetuk nurani Presiden Republik Indonesia untuk tidak ragu-ragu mengambil langkah yang tegas, cepat dan tepat untuk mengakhiri dan menyelesaikan perselisihan dan kemelut antara KPK dan Polri sesuai konstitusi.

4. Menyerukan Presiden Republik Indonesia untuk mengangkat kepemimpinan Polri dengan mengutamakan moralitas, kredibilitas, berintegritas  dan kapabel.

5. Mendukung KPK dan Polri untuk melakukan tugasnya menegakkan hukum dalam kerangka memberantas korupsi dan meningkatkan akuntabilitasnya. 

6. Mendorong semua pihak agar menghentikan kriminalisasi dan tidak menjadikan KPK dan Polri sebagai alat bagi kepentingan politik individu dan kelompok. 

7. Mengingatkan KPK untuk kembali ke fitrahnya dan betul-betul menjaga dan meningkatkan kredibilitasnya sebagai lembaga pemberantasan korupsi.

Hadir dalam pertemuan tersebut diantarnya Dr. H. Marsudi Syuhud (Sekjend PBNU), Dr. H. Bina Suhendra (Bendahara Umum PBNU), Dr. Abdul Moqsith Ghazali (The Wahid Institute), Romo Ignatius Harianto SJ. (Sekjend ICRP/KWI), HS. Dillon (Intelektual dan Tokoh Agama Shikh), Pendeta Albertus Patti (PGI), Uung Sendana (Ketum Majlis Tinggi Agama Konghucu Indonesia), Piandi  (Ketum Majlis Budayana Indonesia), Yanto Jaya (Ketua Parisada Hindu Darma Indonesia), Suprih Suhartanto (Majlis Luhur Agama Nusantara), Ulil Ashar-Abdalla (ICRP), M. Imdadun Rahmat (Komisioner Komnas HAM), Zafrullah Pontoh (JAI), dan Syamsiah (ICRP). Hadir juga perwakilan dari Ahmadiyah, Agama Tao, dan Komunitas Ahlul Bait Indonesia. (Fathoni)


Kamis 5 Februari 2015 17:0 WIB
Muslimat Gelar Rakernas di Samarinda
Muslimat Gelar Rakernas di Samarinda

Jakarta, NU Online
Pucuk Pimpinan Muslimat Nahdlatul Ulama menggelar Rapat Kerja ‎Nasional (Rakernas) Samarinda, 5-7 Februari 2015.‎ Rakernas dibuka langsung oleh Ketua Umum Muslimat Khofifah Indarparawansa yang juga Menteri Sosial.<>

Sekjen Muslimat, Aniroh Slamet Efendi Yusuf mengatakan, Muslimat NU mengamanatkan Rakernas dilaksanakan sekurang-kurangnya satu kali diantara dua kongres atas undangan Pimpinan Pusat.

"Maka dalam rangka melaksanakan amanat Kongres XVI tahun 2011 di Lampung, Pimpinan Pusat Muslimat NU telah menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta pada tanggal 27 Mei - 1 Juni 2014," kata Aniroh Slamet Efendi Yusuf, di Jakarta, Kamis (5/2).

Mengingat kebutuhan penguatan yang lebih besar pada tiga layanan dasar Muslimat NU tersebut, maka sebelum Kongres tahun 2016, PP Muslimat NU menyelenggarakan  Rapat Kerja Nasional Bidang Pendidikan dan mengagendakan Rapat Kerja Nasional Bidang Kesehatan dan Bidang Ekonomi .

Rakernas  Pendidikan kali ini diselenggarakan   tanggal 5 -7 Februari 2015 di Samarinda, Kalimantan Timur, dengan mengambil tema "Menguatkan Jaringan Pendidikan yang makin Berkualitas, Dan Terjangkau Untuk Menyiapkan SDM Yang Unggul, Kompetitif Dan Ber-Akhlak Mulia".

Muslimat NU kini membidangi beberapa layanan. Antara lain bidang kesehatan yang membidangi Yayasan Kesejahteraan Muslimat (YKM) NU. Kini Muslimat memilik 108  RB/RS/Klinik, 10 asrama Putri /Pesantren Putri, 104  Panti Asuhan, 10   Panti Jompo.

Selain itu, bidang pendidikan yang mempunyai layanan  Yayasan Pendidikan Muslimat (YPM) NU. Kini bidang ini memiliki  9.986   TK/RA, 1571 PKBM, 14.350  TPQ, 10  Balai Latihan Ketrampilan (BLK), serta 4.622   PAUD.

Sedangkan Yayasan Haji Muslimat (YHM) NU, memiliki  146   Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH). Dan, Yayasan Himpunan Daiyah dan Majelis Taklim Muslimat  (HIDMAT) NU, sebanyak  59.650 MT.

Di bidang Koperasi, Muslimat memiliki 1 Induk Koperasi (INKOPAN),  9 Koperasi Sekunder, 144  Koperasi Primer, dan 355 Tempat Pelayanan Koperasi  (TPK). (Red: Anam)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG