Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Indonesia Butuh Forum Terbuka Diskusi

Indonesia Butuh Forum Terbuka Diskusi

Bandung, NU Online
Di tengah maraknya gerakan fundamentalisme, sikap anti sosial-politik, konsumerisme berwajah Islam, dan juga kegagalan partai politik Islam, Indonesia perlu terobosan baru dalam pemikiran dan pergerakan. Forum terbuka dan gerakan para intelektual organik menjadi penting untuk antara lain meredam fenomena gerakan Islam radikali.
<>
Pendiri Forum Bestari Faiz Manshur yang juga salah satu inisiator lahirnya civic-Islam mengatakan, “Langkah terobosan ini perlu dilakukan terutama oleh kalangan pemikir Islam yang inklusif, kritis dan punya kemauan untuk membumi di masyarakat. Gerakan intelektual organik mesti didorong terus.”

Pernyataan ini disampaikan Faiz dalam diskusi ke-2 Civic-Islam di Penerbit Nuansa Cendekia, Bandung, Jumat (6/2).

Menurut Faiz Manshur, kalangan mahasiswa Islam yang tergabung dalam PMII, HMI, KAMMI, dan lembaga-lembaga kampus lainnya, kekurangan saluran aktivitas intelektual. Mereka juga membutuhkan dukungan para senior dari kalangan cendekiawan muslim untuk kembali bergairah dalam  diskursus pemikiran dan juga kegiatan ke-Islaman yang inklusif, transformatif dan rasional.

"Ada kebutuhan membangun jaringan agar gairah berpikir ini lebih maju dengan paradigma gerakan intelektual organik. Karena alasan itulah langkah pertama pergerakan Civic-Islam mesti membuat jejaring. Kita dirikan Forum Bestari untuk membangun karakter muslim yang sadar akan kewargaan, taat hukum, dan masyarakat maya.

Sementara salah seorang pengurus Lakpesdam NU Jabar Asep Salahudin mengatakan, "Civic-Islam dalam konteks lokal di Jawa Barat merupakan basis awal pergerakan, tetapi civic-Islam selalu berpikir luas dalam ranah nasional dan global."

Salahudin menyatakan bahwa maraknya sikap-sikap intoleran karena disebabkan ketertutupan pemikiran. "Di kampus-kampus indoktrinasi gerakan politik Islam tidak dilakukan dengan cara yang kritis dan mencerahkan, melainkan dengan model indoktrinasi dan di sana juga dikembangkan sikap eksklusif karena dengan merasa dirinya paling benar.”

Mereka, kata Asep, cenderung enggan berkomunikasi, membuka pikiran dan berdebat. Ini kemunduran. Menurutnya, civic-Islam mesti mampu menjadi insiator dan pendorong mesin gerak keislaman yang maju. (Makmun Yusuf/Alhafiz K)

BNI Mobile