IMG-LOGO
Nasional

Khofifah: Valentine Sering Timbulkan Korban Remaja

Ahad 15 Februari 2015 9:1 WIB
Bagikan:
Khofifah: Valentine Sering Timbulkan Korban Remaja

Jombang, NU Online
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa mengajak umat muslim dan generasi bangsa Indonesia untuk meninggalkan budaya peringatakan hari Valentine. Menurutnya, valentine tidak mengajarkan hidup yang produktif bahkan seringkali menimbulkan korban pada remaja.
<>
Perempuan yang juga Menteri Sosial ini mengatakan hal tersebut saat hadir dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad di pesantren Al Aziziah Denanyar Jombang, Sabtu (14/2) malam. "Saya menangkap bahwa valentine adalah perayaan yang tidak produktif dan tidak sehat. Karenanya saya mengajak untuk ditinggalkan, karena hal itu tidak layak ditiru, " ujarnya mengatakan.

Khofifah menekankan pentingnya bangsa membangun produktivitas warganya, maka sesuatu yang kontrapoduktif dan tidak sehat harus ditolak. Dikatakannya, ketika kita melihat bahwa Valentine, seringkali di identifikasi sebagai bagian mereka yang boleh merayakan sesuatu yang tidak produktif maka kita ajak untuk menolak.

"Karena bangsa ini darurat Narkoba, presiden sudah menyampaikan itu dan juga darurat pornografi. Oleh karena itu, kedaruratan keduanyanya ini semestinya bisa kita jaga dengan sesuatu yang sehat dan produktif," tandasnya.

Kepada santri Khofifah berpesan, bangsa ini masih tertinggal jauh dengan negara tetangga Malaysia dalam bidang kepakaran. Di Malaysia setiap 150-an jumlah penduduk ada seorang doktor sains, teknologi, ekonomi, dan matematika. Sementara di Indonesia perbandingannya adalah 500 penduduk baru ada seorang doktor. "Jadi kita masih kalah 1 banding 5 dengan Malaysia," ujarnya.

Karenanya, santri diharapkan setelah menamatkan pendidikan di pesantren tidak berhenti untuk bersekolah. Harus melanjutkan jejang pendidikan hingga perguruan tinggi bahkan hingga mencapai gelar doktor. "Terutama di bidang sains, bidang teknologi, ekonomi dan matematika seperti tokoh Aljabar (ulama matematikawan abad pertengahan)," pungkasnya. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

Bagikan:
Ahad 15 Februari 2015 12:1 WIB
Umat Islam Belum Beres soal Kewargaan
Umat Islam Belum Beres soal Kewargaan

Bandung, NU Online
Pengasuh Pesantren Al-Ittifaq Bandung, Jawa Barat, KH Fuad Affandi mengatakan, salah satu kekurangan bangsa ini adalah lemahnya pemikiran terhadap urusan kewargaan.
<>
"Pejabat, politisi, guru, dosen-dosen termasuk juga kiai kebanyakan belum beres dalam memahami hubungan kewargaan sehingga ketika negara berurusan dengan warga seringkali mengalami persoalan. Dan fatalnya lagi orang Indonesia itu kebanyakan umat Islam," tutur kiai yang bergerak di bidang social-entrepreneurship agribisnis karena mampu menyejahterakan kaum tani dengan koperasi dan pesantrennya ini kepada NU Online, Sabtu (14/2).

Fuad meletakkan pandangan kewargaan atau keumatan sebagai titik sentral karena apapun sistemnya, jika tidak beres pola-pikir dan laku kewargaannya, maka sulit berharap kehidupan bernegara menjadi baik.  Menurutnya, konsep imamah (pemimpin) itu lahir dari ummah (rakyat/warga), karena itu ilmu pengetahuan tentang ke-ummah-an harus dipahami secara baik sebelum lari urusan daulah (negara).

"Jangan mentang-mentang melihat kebobrokan ini semata karena sistem kemudian berpikir sistem khilafah atau daulah Islamiyah bisa menyelesaikan persoalan. Itu tidak menjawab persoalan. Jawab dulu, apakah kita sudah benar dalam berwarga, sudah bener bermasyarakat?" tanyanya mengajak berpikir.

Ketidakberesan tersebut bisa dilihat dari banyaknya politisi yang tidak memiliki prestasi di masyarakat. Kebanyakan mereka berhasil menduduki jabatan bukan karena keberhasilan mempimpin warga, tapi karena membeli suara atau untung-untungan saat pemilu atau pilkada.

"Akibatnya setelah jadi pejabat mereka tidak merasa bertanggungjawab kepada warga. Ngaku NU, ngaku Muhammadiyah, ngakunya pejabat rakyat tapi maslahat politiknya balik ke keluarga, bukan ke warga," jelasnya.

Tragisnya, karena politisi itu sudah membayar saat pemilu, mereka merasa tidak perlu bertanggungjawab urusan warga. Ketidakjelasan ini menurut Fuad sampai tahap yang paling parah karena "Kalau keluarganya sudah makmur, juga tidak berusaha memakmurkan warga, membuat keluarga baru, alias kawin lagi," ujarnya tertawa.

"Kalau sekadar dukungan keluarga mah, itu pasti ujung-ujungnya wakil keluarga yang berjuang, maksudnya berjuang itu, tujuan beras, baju dan uang melalui lembaga negara," ujarnya berseloroh.

Sebenarnya menurut Fuad Affandi, untuk menjadi politisi tidak sulit selagi seseorang itu punya prestasi kepemimpinan di tengah-tengah warga sudah teruji. "Otomatis dirinya tidak mencalonkan diri pun akan didorong bahkan dibiayai oleh rakyat. Tapi sekarang makin sulit ya, karena sudah muncul tradisi beli suara," keluhnya. (Ferlita Hs/Mahbib)

Ahad 15 Februari 2015 8:5 WIB
Pihak Keluarga Luruskan Perihal Foto Penulis Simtutdurar
Pihak Keluarga Luruskan Perihal Foto Penulis Simtutdurar

Solo, NU Online
Beberapa gambar dan foto ulama terpajang di salah satu stan yang didirikan di sekitar kompleks Masjid Riyadh lokasi acara peringatan haul Habib Ali Al-Habsyi, belum lama ini (11/2). Tak ketinggalan, foto yang dianggap sebagai gambar wajah Habib Ali.
<>
Namun, ternyata banyak orang, termasuk pedagang poster, yang belum mengetahui bahwa foto yang dipajang tersebut ternyata bukan foto asli Habib Ali. Pihak keluarga Habib Ali Al-Habsyi di Solo, memberikan klarifikasi atas hal ini.

“Foto Habib Ali yang sudah banyak beredar, bukanlah foto Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi, penulis Simtuddurar,” terang salah satu cicit Habib Ali, Habib Muhammad bin Husein Al-Habsyi kepada NU Online, Jumat (13/2).

Lebih lanjut dijelaskan Habib Muhammad, pihak keluarga menyatakan belum pernah menemukan foto Habib Ali. “Kalau tidak salah, foto tersebut, beliau seorang ulama yang bernama Syech Ali Al Khubaisyi. Kalau ditulis dengan bahasa Arab hampir sama dengan Ali Al Habsyi,” ujar pengasuh Majelis ‘Bismillah’ MWCNU Pasarkliwon itu

Di Indonesia, Habib Ali Al-Habsyi yang berasal dari Hadramaut (Yaman) ini lebih dikenal masyarakat sebagai muallif kitab Maulid Simtuddurar. Kitab maulid beliau banyak dibaca di berbagai penjuru Nusantara ini.

Habib Ali, wafat pada tanggal 20 Rabi’ul Akhir 1333 H/1915 M. Jenazahnya dikebumikan di sebelah Barat Masjid Riyadh Hadramaut. Salah satu puteranya, yakni Habib Alwi, hijrah ke Indonesia untuk berdakwah dan mendirikan Masjid Riyadh, yang terletak di pinggir Jl Kapten Mulyadi Pasar Kliwon Solo. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Foto: Foto yang dianggap gambar wajah Habib Ali Al-Habsyi padahal bukan

Ahad 15 Februari 2015 7:1 WIB
Dalam Islam, Hari Kasih Sayang itu Setiap Hari
Dalam Islam, Hari Kasih Sayang itu Setiap Hari

Jakarta, NU Online
Islam tidak mengenal budaya Valentine atau umum disebut "hari kasih sayang" yang dirayakan setiap 14 Februari. Dalam Islam hari kasih sayang tidak mengenal hari, tanggal, bulan, dan tahun.
<>
Katib Syuriah PBNU KH Mujib Qulyubi menerangkan hal tersebut di sela acara "Gema Dzikir Akbar dan Khotmil Quran" di Kapuk, Jakarta, Sabtu (14/2/2015).

"Dalam Islam, hari kasih sayang itu ada setiap hari, kasih sayang itu tidak dibatasi, karena terlalu sempit jika dalan Islam kasih sayang dibatasi, karena Islam Rahmatan Lilalamin," kata KH Mujib.

Menurutnya, Valentine yang biasanya dirayakan anak-anak muda dengan perbuatan maksiat termasuk melanggar syariat. Valentine, lanjutnya, bukan budaya Indonesia. Indonesia punya keunggulan budaya sendiri yang bisa diekspor ke luar negeri.

"Tidak seharusnya masyarakat Indonesia ikut-ikutan budaya asing yang jelas melanggar syariat agama, seharusnya kita mengekspor budaya kita keluar negeri," tegasnya

"Kata Rasulullah SAW, saling mencintailah kalian dan saling memberi kasih sayang," imbuhnya. (Red: Mahbib)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG