IMG-LOGO
Nasional

KH Ishaq Latief, Kiai Nyentrik yang Gemar Membaca

Rabu 11 Maret 2015 9:0 WIB
Bagikan:
KH Ishaq Latief, Kiai Nyentrik yang Gemar Membaca

“Dalam kebaikan, seyogyanya kita Berpartisisapi.”

“Berpartisipasi, Kiai!”

“Eh, yo ngono maksudku, Rek…”

“Haaa…” semua tertawa membahana.

<>Demikian sedikit gambaran pengajian yang diampu almarhum Kiai Haji Ishaq Latief. Penuh joke-joke segar dan pelesetan bahasa-logika yang membuat suasana semakin cair. Hubungan santri dan kiai begitu akrab tanpa sekat. Kiai Ishaq berkata blak-blakan, sedangkan santri ikut menyahuti. Lebih dahsyat daripada stand up comedy dan terkadang lebih khidmat daripada forum seminar bertaraf nasional.

Pada tahun 2002 pengajian kitab kuning yang beliau asuh ba’da isya sudah berjalan rutin, entah sejak tahun berapa pengajian yang diikuti banyak santri itu dideklarasikan. Para santri tidak hanya bertempat di pusat lokasi pengajian yakni di gedung UKP lantai II, melainkan berhamburan sampai lapangan basket, depan kompleks (kini wisma) dan sebagian memilih di serambi masjid. Tempat terakhir ini menjadi favorit sebagian santri, karena di samping sejuk, mereka bisa sambil ngemil jajan dari kantin, bahkan dengan posisi tubuh selonjoran bebas. Tak sedikit pula mereka yang ketiduran bahkan sampai bedug ditabuh tanda adzan subuh segera berkumandang.

Suara speacker pengajian Kiai Ishaq menggema tidak hanya memenuhi areal Pesantren Tebuireng, melainkan sampai desa-desa tetangga. Tak sedikit pula, orang-orang yang sedang menempuh perjalanan berhenti mendengarkan pengajian beliau yang penuh hikmah dan canda. Bagi beliau, canda adalah obat jitu untuk mengusir rasa kantuk para santri. Maka tak ayal, beliau tidak segan-segan berpantun Sami ugi sami mawon, bokong gede dientup tawon.”

Jika dihimpun banyak sekali aporisma atau kalam mutiara yang beliau slipkan di sela-sela pengajian. Quote anekdotik ini contohnya, “Ngono yo ngono Rek, ning yo ojo ngono…” (Begitu ya begitu, tapi ya jangan begitu). Kiai Ishaq salah satu sosok tokoh yang hampir serupa dengan Gus Dur dalam hal menghadapi permasalahan. Keduanya tidak pernah menganggap sebuah problem sebagai beban apalagi halangan, justru semua dianggap ringan dan sarana belajar. Hasilnya, masalah itu hilang dengan sendirinya dengan menemukan solusi terbaiknya. “Kita hanya bisa berusaha dan berdoa, sedangkan ketentuan hanya milik Allah,” tutur beliau.

Terbuka Namun Tertutup

Suatu ketika, saat menjadi tim redaksi cilik Majalah Tebuireng saya diamanahi oleh Redaktur Pelaksana, Ust. A. Mubarok Yasin, untuk menghimpun kisah-kisah tentang Kiai Idris Kamali. Pembina alumnus Lirboyo itu membekali saya secarik kertas sebagai panduan wawancara. Salah satu narasumber yang diutamakan adalah Kiai Ishaq. Saya yang ketika itu masih duduk di bangku Aliyah, kebingungan bagaimana mungkin bisa mengajak ngobrol kiai besar sekaliber Kiai Ishaq.

Akhirnya saya beranikan diri, meskipun penuh kekhawatiran, bahkan sampai di depan pintu kamar Kamah Condro Dimuko tubuh saya masih ndredek gemeteran. Saya sowan ke kamar beliau dan berterus terang menyampaikan maksud kedatangan. Alangkah bahagianya saya saat itu, seperti kejatuhan duren matang, proses wawancara berjalan dengan lancar. Beliau sangat welcome ditanya banyak tentang sosok guru tauladannya itu.

Namun belakangan, teman saya sesama redaktur bernasib nahas, ia ditolak wawancara oleh Kiai Ishaq karena hendak memuat profil beliau. Ya, Kiai Ishaq adalah sosok low profile, tidak mau diekspos. Hal ini sebagaimana adagium kitab Al-Hikam yang menjadi salah satu pegangan beliau, “Idfan wujudaka fil ardhil-khumul, fama nabata mimma lam yudfan la yatimmu natajuhu”  (Tanamlah wujudmu dalam bumi kesunyian, karena sesuatu yang tumbuh dari apa yang tidak ditanam, hasilnya tidaklah sempurna).

Seiring berjalannya waktu, atas inisiatif tim Pustaka Tebuireng yang dipimpin KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah), transkip lengkap hasil wawancara dengan Kiai Ishaq dikembangkan. Akhirnya, jadilah sebuah buku biografi KH Idris Kamali. Buku itu  berjudul “Tokoh Besar di Balik Layar” ditebitkan oleh Pustaka Tebuireng tahun 2010.

Membaca Tanpa Lelah

Setiap Majalah Tebuireng terbit, Kiai Ishaq selalu ingin membacanya. Tak jarang, seorang santri beliau mendatangi kantor redaksi bertanya tentang edisi terbaru. Kami sadar bahwa Kiai Ishaq adalah kiai yang sangat haus akan ilmu dan informasi. Tidak hanya kitab-kitab kuning, media cetak seperti koran, tabloid, dan majalah menjadi konsumsi beliau setiap hari.

Saat berada di warung makan, beliau kerap menyempatkan diri membaca kitab atau majalah yang dibawanya. Waktunya tidak ingin terbuang sia-sia. Menunggu hidangan tersaji pun beliau gunakan untuk membaca. “Baca-baca kitab atau buku di warung nggak masalah, yang penting kan tidak mengganggu pelanggan yang lain,” ucap beliau suatu ketika.

Menurut informasi santri dekat beliau, Kiai Ishaq tidak pernah tidur setiap malamnya. Tak lain beliau gunakan untuk mutho’ah, membandingkan keterangan satu kitab dengan kitab lain yang saling berkaitan. Beliau memiliki koleksi kitab yang sangat variatif dari berbagai disiplin ilmu. Maka tak heran, ketika mengaji, beliau sering kali mengutip kitab-kitab besar, lengkap dengan halamannya. Inilah yang harus ditiru oleh santri-santri sekarang.

Terkadang beliau mengoreksi jika ditemukan typo atau kesalahan dalam penulisan teks kitab. Uniknya beliau tidak menyalahkan mushannif (penyusun kitab), atau percetakan yang mencetak kitab itu, akan tetapi beliau menduga koreksian beliau yang justru bisa jadi salah. Terbukti beliau selalu mengoreksi dengan imbuhan frase “la’alla shawab” (kemungkinan benar). 

Beliau memang perokok berat, namun saat mengaji berjam-jam lamanya, Kiai Ishaq enggan menyulut rokoknya satu batang pun. Menurut penuturan para alumni generasi tua, beliau merupakan sosok kiai yang modis dan necis. Di saat orang-orang jarang memiliki kendaraan, beliau telah memiliki sepeda motor bahkan sampai di usia sepuh beliau biasa ke mana-mana dengan mengemudikan motor besarnya, sedangkan santrinya justru dibonceng. Beliau juga pencinta berat sepakbola, wayang, lagu-lagu lokal dan hobi berwisata kuliner kelas menengah. Kebiasan unik seperti ini yang jarang dimiliki para kiai pada umumnya.

***

Kini kiai nyentrik asal Sidoarjo ini telah tiada. Kewafatannya pada hari Jumat 27 Februari 2015 membawa duka mendalam bagi kaum Nahdhiyin Jawa Timur, terlebih para alumnus Pesantren Tebuireng. Sampai akhir hayatnya (75), Kiai Ishaq Latief tetap setia membimbing para santri, mengabdikan diri untuk ilmu dan beribadah bahkan merelakan dirinya tidak berkeluarga.

Semoga Allah SWT mengampuni segala kesalahannya dan memberikannya tempat terbaik di surga, serta ilmu dan segala yang beliau dedikasikan bermanfaat fid din wad dunya wal akhirat. Amin.

 

*) Fathurrahman Karyadi, Penulis adalah lulusan Ma’had Aly Tebuireng dan editor bahasa di salah satu media online nasional di Jakarta.

 

Bagikan:
Rabu 11 Maret 2015 21:2 WIB
JELANG MUKTAMAR NU
Gus Ipul: Pemerintah Perlu Batasi Kepemilikan Tanah
Gus Ipul: Pemerintah Perlu Batasi Kepemilikan Tanah

Jakarta, NU Online
Ketua PBNU H Saifullah Yusuf (Gus Ipul) mengungkapkan keprihatinannya atas kondisi alih fungsi lahan yang semakin mengkhawatirkan. Ia mendorong pemerintah untuk membuat regulasi perihal batasan dan ketentuan kepemilikan lahan.
<>
“Baiknya isu ini diangkat di Muktamar nanti. NU mesti mengambil sikap tertentu terhadap pemerintah,” kata Gus Ipul mengusulkan isu ini pada sidang rekomendasi di hadapan peserta rapat pengurus harian Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU di Jakarta, Senin (9/3) sore.

Pemerintah harus membatasi kepemilikan maksimal tanah di Indonesia bagi siapapun. Pemerintah tidak boleh membiarkan setiap pihak baik secara personal maupun secara kolektif menguasai lahan sebebasnya.

Selain itu, pemerintah juga perlu menuangkan ketentuan khusus dalam regulasi atas transaksi jual-beli tanah. Menurutnya, selama ini penjual tanah hanya menikmati sekali keuntungan saat penjualan tanah. Sementara pembeli tanah dengan kekuatan modal yang luar biasa membangun pabrik, perusahaan, jalan, perumahan, dan lain-lain keperluan, dapat menikmati untung seumur hidup.

“Pemilik lahan yang lalu menjual tanahnya, mestinya ikut memegang saham pada bisnis yang akan digarap pembeli tanah,” tandas Gus Ipul.

Menurut Gus Ipul, dengan memperjuangkan isu ini, peran dan kontribusi NU akan lebih konkret di tengah masyarakat. (Alhafiz K)

Rabu 11 Maret 2015 16:59 WIB
PBNU Dorong Pengembangan Kewirausahaan Pesantren
PBNU Dorong Pengembangan Kewirausahaan Pesantren

Jakarta, NU Online
NU didirikan berdasarkan tiga pilar yang meliputi kebangsaan (Nahdlatul Wathon), pemikiran (Taswirul Afkar), dan pemberdayaan ekonomi (Nahdlatut Tujjar). Dari ketiga aspek tersebut, saat ini yang memerlukan perhatian lebih adalah masalah pemberdayaan ekonomi.
<>
Salah satu cara untuk meningkatkan taraf ekonomi warga NU adalah melalui pengembangan kewirausahaan di lingkungan pesantren. Kemajuan sebuah negara, menurut Sekjen PBNU H Marsudi Syuhud, sangat ditentukan seberapa banyak entrepreneur yang dimiliki oleh negara tersebut. 

“Negara maju seperti Amerika Serikat entrepreneurnya 12 persen, Inggris 10 persen, Singapura 7 persen, Malaysia 6 persen, Thailand 3 persen, Indonesia baru 1.6 persen,” katanya di gedung PBNU baru-baru ini.  

Menurut Marsudi yang juga salah satu komisaris PT  Kawasan Berikat Nusantara (KBN) ini, potensi pasar Indonesia sangat besar karena penduduknya berjumlah 240 juta. “Siapa saja yang jadi entrepreneur, pasarnya jelas. Malaysia pasarnya cuma 30 juta. Dengan menjadi entrepreneur maka akan menguasai kekuatan ekonomi,” tandasnya.

Ia mencontohkan, Rasulullah merupakan entrepreneur yang sukses. Pada usia 12 tahun ia sudah diajak berdagang dan ketika dewasa sudah melakukan join dengan Siti Khatijah sehingga pada usia 25 tahun sudah menjadi orang kaya raya sampai akhirnya mereka menjadi pasangan suami istri. 

“Kiai NU harus membumikan sepertiga kitabnya, tidak hanya membaca atau menghukumi saja, tetapi dipraktekkan,” imbuhnya. 

Karena itu, ia sendiri membangun pesantren entrepreneur di kawasan Kedoya, Jakarta barat untuk mendorong lingkungan santri berwirausaha.

Seperti juga negara, organisasi yang kuat adalah organisasi yang punya banyak entrepreneur karena Qur’an menyeru untuk membayar pajak atau zakat. Kalau bisa jadi pembayar zakat, bukan pencari zakat. “Disini kiai NU ditantang untuk membumikan agar masyarakat NU bisa menjadi pembayar zakat, bukan penerima zakat.” 

Ia menjelaskan, untuk belajar entrepreneurship banyak cara yang bisa dilakukan, tak harus di bangku kuliah. “Bisa diajak langsung berbisnis atau ditraining seperti zaman Rasulullah,” ujarnya.

Sejauh ini, PBNU telah menyelenggarakan sejumlah upaya pengembangan ekonomi seperti pelatihan Baitul Mal wat Tamwil (BMT), pendirian koperasi, pendirian Himpunan Pengusaha NU (HPN) dan lainnya. Ia berharap agar keputusan tentang pengembangan sektor ekonomi ini diperkuat dalam muktamar ke-33 NU mendatang. 

Dosen ekonomi syariah universitas Trisakti ini menjelaskan, dari sejak PBNU dipimpin oleh Gus Dur, ia sudah terlibat dalam pendirian Induk Koperasi Pesantren (Inkopontren) yang sekarang sudah mulai kelihatan hasilnya karena sudah terdapat sekitar 3 ribu koperasi di lingkungan pesantren.

“Dulu ketika para kiai ditanya, jawabnya, ‘saya kan ngak ngurusi bisnis’ karena anggapannya dunia bisnis itu gelap sekali. Tipu menipu, sekarang sudah mulai jadi,” ucapnya dengan nada optimis.  (mukafi niam)

Rabu 11 Maret 2015 15:34 WIB
Soal ‘Pembegalan’ Madrasah di OSN, Ini Sikap PP LP Ma’arif NU
Soal ‘Pembegalan’ Madrasah di OSN, Ini Sikap PP LP Ma’arif NU

Jakarta, NU Online
Pasal 17 ayat (2) UU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) No 20/2003 menyatakan, Pendidikan dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta sekolah menengah pertama (SMP) atau Madrasah Tsanawiyah (MTs) atau bentuk lain yang sederajat.<>

“Atas dasar itu, kami yang menaungi seluruh pendidikan tingkat dasar dan menengah di lingkungan NU menyampaikan protes keras terhadap perlakuan diskriminatif yang dilakukan oleh Disdik Kabupaten Semarang terhadap tiga MI yang telah menjuarai Olimpiade Sains Nasional (OSN),” tegas Ketua PP LP Ma’arif NU, KH Z Arifin Junaidi melalui rilis yang diterima NU Online, Rabu (11/3) yang juga mengutip Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 5 (1) UU yang sama.

Sebagai pengelola pendidikan tingkat dasar dan menengah di lingkungan NU dengan jumlah satuan pendidikan sebanyak 13 ribu unit yang terdiri dari MI, SD, MTs, SMP, MA, SMA, dan SMK, pihaknya meminta kepada: 

(1) Direktur Jenderal Pendidikan Dasar untuk menyertakan 3 (tiga) madrasah, yaitu MI Al-Bidayah di Desa Candi (Juara Pertama Mata Pelajaran Matematika), MI Wonokasihan Jambu (Juara Pertama Mapel IPA), dan MI Kalirejo (Juara Ketiga Mapel IPA) mengikuti seleksi OSN berikutnya di tingkat Provinsi Jawa Tengah sebagaimana mestinya.

(2) Direktur Pendidikan Dasar kedepannya harus menyertakan madrasah sebagai bagian dari pseserta kegiatan OSN, sebagaimana nomenklatur kegiatan tersebut yang tidak membedakan antara madrasah dan sekolah.

Sementara itu, Sekretaris PP LP Ma’arif NU, Zamzami, S.Ag.,M.Si., menjelaskan, menurut angka partisipasi kasar (APK), madrasah juga dijadikan tolak ukur untuk mengevalusi mutu pendidikan nasional.

“Jika keberadaan dan prestasi mereka terdiskriminasi seperti ini, jangan jadikan ajang OSN sebagai tolak ukur mutu sains di tingkat pendidikan dasar,” ujarnya melalui sambungan telepon.

Dia juga menerangkan, madrasah itu satuan pendidikan formal menurut UU, kata ‘nasional’ dalam singkatan OSN secara otomatis kegiatan tersebut merupakan wadah kompetisi untuk seluruh anak bangsa di setiap satuan pendidikan.

“Jadi jelas, pernyataan Disdik Kabupaten Semarang yang menjelaskan bahwa keikutsertaan madrasah di OSN hanya sampai tingkat kabupaten sangat diskriminatif dan tidak mendidik sama sekali,” tandasnya.

Seperti yang telah diinformasikan sebelumnya, OSN dilaksanakan pada 24 Februari lalu di UPTD Tuntang. Peserta juara tersebut bersaing dengan seluruh SD/MI se-Kabupaten Semarang. Setelah pengumuman juara, semua peserta dikumpulkan. Saat itu disampaikan bahwa, dari MI hanya sampai di tingkat kabupaten. (Fathoni)

IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG