IMG-LOGO
Pustaka

Menjadi Ibu dan Istri dalam Keluarga


Senin 13 April 2015 21:01 WIB
Bagikan:
Menjadi Ibu dan Istri dalam Keluarga

“Saya mohon kepada anda untuk memberikan kesempatan bagi kaum perempuan pribumi untuk mendapatkan pendidikan dan pengetahuan, bukan dalam rangka untuk menyaingi kaum laki-laki, melainkan untuk lebih menyempurnakan perannya pada peradaban.” Isi penggalan surat RA. Kartini dalam surat tersebut sudah sangat jelas mengenai kesetaraan hak, persamaan derajat, ataupun karir. Hal ini untuk apa?<> Sebagai modal perempuan untuk membangun peradaban melalui keluarganya. Karena sesuai sabda Nabi Muhammad bahwa pendidikan pertama anak adalah di keluarga, khususnya Ibu.

Menjadi istri atau ibu, tidak semudah mengatakan bahwa tugas perempuan hanya memasak, melayani, dan mencuci. Lebih dari pada itu tugas perempuan adalah mendidik, menanamkan karakter, memberi contoh yang baik kepada keluarga. Dan untuk mencapai hal itu tidak bisa dengan hanya berbekal pendidikan yang rendah. Untuk melahirkan sosok Soekarno dan Hatta tidak mungkin hanya dengan memberikan makanan, mencucikan pakaiannya, dan melayaninya. Artinya, tidak mungkin tokoh-tokoh hebat seperti itu lahir dari keluarga broken home. Pastinya, ibu mereka adalah sosok ibu yang hebat, berpendidikan, dan mengerti harus seperti apa dan bagaimana mengambil sikap.

Hal inilah yang sering dilupakan oleh perempuan masa kini. Feminisme yang mereka jadikan dalil untuk menjadi seorang berpendidikan yang menurut mereka harus menjadi aktifis, dalam tanda kutip bisa go public, adalah feminisme barat. Bukan feminisme yang ditanamkan oleh RA. Kartini. Perempuan menjadi lalai dengan tugas-tugasnya karena menganggap bahwa pekerjaan domestik itu tidak penting.

Ditengah-tengah kekacauan pola pikir inilah buku karya Syauqi Abdillah Zein hadir untuk meluruskan cara berpikir itu tadi. Bahwa perempuan tidak boleh mengenyampingkan dan melalaikan tugas-tugas domestiknya. Bagaimana bersikap pada suami, bagaimana bersikap kepada anak, seperti apa semestinya. 

Perempuan karir sekalipun harus tetap menghormati suami dalam keluarga sebagai nahkoda kapal keluarga. Mayoritas, wanita masa kini telah menghadapi degradasi citra diri karena salah tafsir dalam memahami emansipasi dan persamaan hak antara laki-laki dan wanita. Seyogianya, setiap wanita menyadari bahwa figur wanita terbaik dan termulia adalah yang menjunjung tinggi syariat Islam dan menghormati suami (hlm63). Karena merasa sudah berpenghasilan lebih dari suami kemudian tidak lagi mau menghormati suami, disinilah kesalahannya.

Begitu pula dalam bersikap kepada anak. Dalam buku setebal 204 halaman itu dijelaskan bahwa semestinya seorang Ibu memberikan teladan yang baik kepada anaknya. Sejak anak lahir dari rahim seorang ibu, maka ibulah yang banyak mewarnai dan memengaruhi perkembangan pribadi, perilaku, dan akhlak dari sang anak. Nah, untuk membentuk perilaku anak yang baik seorang ibu tidak cukup hanya melalui lisan, tetapi juga harus ditunjukkan dengan tingkah laku dan sikap (hlm 177).

Mendidik anak juga perlu pengetahuan dan kecerdasan. Seperti misalnya bagaimana cara menegur anak saat ia berbuat salah, bagaimana mengapresiasi anak saat ia berprestasi dan bagaimana menanamkan sikap yang baik kepada anak. Kebanyakan, para kaum ibu yang jarang mengerti akan hal itu akan berbuat sesukanya, tanpa memikirkan dampak. Terkadang orang tua, utamanya ibu seringkali membanding-bandingkan si anak dengan anak tetangga atau saudaranya sendiri yang misalnya lebih berprestai secara akademik. Padahal anak yang selalu dibanding-bandingkan, terutama dengan saudaranya akan membuat ia hidup dalam perasaan tidak diterima oleh orang tuanya sendiri di rumah (hlm 147). Rasulullah dalam hadisnya telah menjelaskan bahwa orang tua harus bersikap adil kepada anak “Takutlah kalian kepada Allah dan berbuatlah adil pada anak-anak kalian”. Semoga bermanfaat. Selamat membaca!

Judul: Andakah Perempuan Malang Itu?
Penerbit: Sabil (DIVA Press)
Penulis: Syauqi Abdillah Zein
Cetakan: pertama, 2015
Tebal: 204 Halaman
ISBN: 978-602-279145-4
Peresensi: Lailatul Q, siswi kelas XII SMK Nurul Huda sekaligus aktifis LPS.

Bagikan:
IMG
IMG