IMG-LOGO
Nasional
HALAQAH ISLAM NUSANTARA

Tahun 1869 M Terusan Suez Dibuka, Mulailah Gelombang Arabisasi Pesantren

Ahad 19 April 2015 19:2 WIB
Bagikan:
Tahun 1869 M Terusan Suez Dibuka, Mulailah Gelombang Arabisasi Pesantren

Jakarta, NU Online
Pakar Islam Nusantara, Agus Sunyoto mengungkapkan, bahwa Walisongo memasukan unsur-unsur tulisan Jawa untuk memudahkan masyarakat di zaman itu. Baik di pesantren maupun di tengah-tengah masyarakat. Terutama di pesantren, karena lembaga pendidikan tertua di nusantara ini asli peninggalan Walisongo.<>

“Meski menyebarluaskan agama Islam, Walisongo tidak pernah menulis dalam aksara Arab pegon, semua manuskripnya menggunakan tulisan jawa, ho no co ro ko,” jelasnya dalam kegiatan Halaqah Islam Nusantara yang digelar Pascasarjana STAINU Jakarta, Jum’at (17/4) di Kampus STAINU Jakarta JL Taman Amir Hamzah Jakarta Pusat.

Wakil Ketua PP Lesbumi NU ini kembali menjelaskan, tahun 1869 M, Turesan Suez Mesir dibuka, sejak saat itu Belanda sering lewat laut merah dan laut tengah. Sebab itulah terjadi peningkatan jumlah jamaah haji, di situ mulai kitab-kitab timur tengah masuk ke nusantara.

“Itulah mulai awal tulisan arab masuk ke nusantara, pesantren disepanjang pesisir pantai utara (pantura) sudah menggunakan tulisan arab. Sebaliknya, pesantren di pedalaman masih menggunakan tulisan Jawa. Salah satu produk pesantren pedalaman yang konsisten dengan tulisan Jawa ialah R Ng Ronggowarsito, Pesantren Tegalsari, Ponorogo,” ungkapnya.

Bahkan pada awal abad 18, lanjutnya di hadapan para Dosen dan mahasiswa Pascasarjana STAINU Jakarta, pesantren-pesantren di sepanjang pantura sudah banyak yang tidak bisa nulis Jawa. Kemudian muncullah anggapan, bahwa tulisan Jawa adalah tradisi kuno yang dilakukan oleh orang-orang Majapahit.

“Itu anggapan yang sangat fatal. Akhirnya ilmu pengetahuan yang diturunkan Walisongo tidak terbaca. Pesantren kemudian mengerucut hanya mengajarkan ilmu fiqih. Hal ini bukannya Walisongo tidak mampu menulis dengan tulisan Arab. Karena tulisan Jawa yang dipakai Walisongo di semua manuskrip karyanya merupakan proses akulturasi,” urainya. (Fathoni)

Bagikan:
Ahad 19 April 2015 16:2 WIB
HALAQAH ISLAM NUSANTARA
Agus Sunyoto: Saya Tidak Yakin Walisongo Digambarkan Pakai Jubah
Agus Sunyoto: Saya Tidak Yakin Walisongo Digambarkan Pakai Jubah

Jakarta, NU Online
Sebagian orang kita menganggap menara Kudus itu dulunya candi, saya bilang tidak. Ya menara, Sunan Kudus itu sejak kecil hidup di situ, pertama kali melihat bangunan, modelnya seperti itu. Dia tidak ada contoh lain saat itu, mesjid yang berbentuk kubah juga tidak ada. Karena itu, saya tidak yakin Walisongo pakaiannya jubah-jubah seperti itu.<>

Demikian diungkapkan oleh Pakar Islam Nusantara, Agus Sunyoto dalam kegiatan Halaqah Islam Nusantara yang digelar Pascasarjana STAINU Jakarta, Jum’at (17/4) di Kampus STAINU Jakarta, Jl Taman Amir Hamzah Jakarta Pusat.

“Karena tembang yang dilantunkan oleh Sunan Kalijaga dalam Lir Ilir, pakaian dulu disebut dodot, yakni pakaian yang dipakai oleh para pendeta Hindu, yaitu kain putih melingkar sedada,” terangnya.

Penulis buku Atlas Walisongo ini menambahkan, para wali tahu pakaian jenis shafir (seperti jubah), sifatnya eksklusif, mereka menilai tidak boleh memakai pakaian yang sifatnya eksklusif seperti itu. Kalau berada di tengah-tengah masyarakat, ya berpakaian seperti mereka.

Jadi, lanjut Dosen FIB Universitas Brawijaya Malang ini, jika wali tiba-tiba berpakaian seperti itu, menurut hukum yang berlaku di masyarakat ketika itu, haram hukumnya. Lagipula, para wali tidak mau berpakaian yang berbeda dengan masyarakat sekitarnya. 

“Karena masyarakat sekitar tidak memakai jubah, untuk apa, para wali tahu hukum yang berlaku di tengah-tengah masyarakat yang masih lekat dengan tradisi Hindu-Buddha ketika itu,” tandasnya di depan para Dosen dan mahasiswa Pascasarjana STAINU Jakarta. (Fathoni)

Ahad 19 April 2015 8:7 WIB
Gus Mus Ijazahkan Surat Al-Fatihah ke Para Kiai
Gus Mus Ijazahkan Surat Al-Fatihah ke Para Kiai

Probolinggo, NU Online
Pejabat Rais Aam PBNU KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) memberikan ijazah atau penyampaian sanad (sambungan) keilmuan kepada para kiai saat menghadiri sebuah halaqah di Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur.
<>
Gus Mus memberikan ijazah ‘ammah surat al-Fatihah yang ia dapatkan dari pengasuh Pondok Pesantren Al-Munawir Krapyak Yogyakarta, almarhum KH Zainal Abidin, juga terusan dari KH Munawwir.

Dalam forum halaqah bertajuk “Akhlakul Karimah Sebagai Puncak Keberagamaan” itu hadir para pengurus PCNU, pengasuh pesantren, dan aktivis NU se-Tapal Kuda (Probolinggi, Pasuruan, Lumajang, Bondowoso, Situbondo, Jember, dan Banyuwangi).

Katib Syuriah PBNU KH Yahya Cholil Staquf yang turut hadir pada kesempatan itu berpandangan, sanad menjadi penting karena menjadi salah satu pertimbangan dalam ikhtiar meraih keselamatan dunia dan akhirat. Dengan demikian, menjadi pengurus NU tidak hanya mengurus organisasi dan anggota, tetapi juga menyangkut tanggung jawab atas keselamatan anggotanya saat hisab di akhirat kelak.

“Mata rantai keguruan (sanad) dalam tradisi NU menjadi penting karena melalui sanad inilah tanggung jawab keilmuan dijaga, bersambung dari para masyayikh ke generasi sebelumnya, hingga bersambung ke Kanjeng Nabi Muhammad SAW,” tuturnya.

Tampak hadir dalam majelis yang digelar Kamis (16/4) ini Katib Syuriah PWNU Jatim  KH Syafruddin Achmad, Wakil Rais Syuriah PWNU Jateng KH M Dian Nafi’, Ketua  Pimpinn Pusat Rijalul Anshar GP Anshor KH. Abdul Ghafur Maimun, dan Ketua MBN KH Ahmad Mu’adz Tohir.

Halaqah tersebut diselenggarakan oleh Majma’ al-Buhuts al-Nahdliyyah (MBN) bekerja sama Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton dan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur. Tema tentang akhlak diangkat atas dasar keprihatinan para kiai terhadap perkembangan akhlak bangsa Indonesia yang dinilai semakin menurun.

Di hadapan para peserta halaqah, Gus Mus juga mengajak warga NU untuk berbenah. “Ibda’ binafsik. Kita mulai dari diri kita masing-masing,” pintanya. Menurutnya, tanpa memulai dari diri sendiri, setiap orang hanya akan pandai pengkritik yang lain, dan tidak akan pernah menyelesaikan masalah. (Red: Mahbib)

Ahad 19 April 2015 3:1 WIB
JELANG MUKTAMAR KE-33 NU
Ansor Jatim dan Jombang Sepakat Bawa Isu Gerakan Radikal ke Muktamar
Ansor Jatim dan Jombang Sepakat Bawa Isu Gerakan Radikal ke Muktamar

Jombang, NU Online
Perkembangan gerakan radikal terus berupaya menggerogoti kehidupan berbangsa dan beragama. Untuk menjaga keadaan agar tetap kondusif, sudah seharusnya wacana gerakan tersebut menjadi salah satu pembicaraan saat Muktamar NU mendatang.<>

Penegasan ini disampaikan Ketua PC GP Ansor Jombang, Zulfikar Dawamto, Jum'at (17/4) dalam kegiatan Workshop bertemakan "Deradikalisasi Agama" hasil kerjasama Pimpinan Wilayah GP Ansor Jatim dan PC GP Ansor Jombang.

Dalam pandangan Gus Atok, sapaan akrabnya, bangsa Indonesia harus terus waspada dengan gerakan ini karena akan mengancam keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Karena seperti diketahui, Islam berkembang di Indonesia dengan cinta dan damai, sedangkan paham radikal dengan menggunakan agama sebagai bingkai gerakan tidak sesuai dengan ajaran Islam rahmatan lil'alamin,” ujarnya.

Dosen di sejumlah kampus di Jombang ini menyatakan, bahwa paham radikal atas nama agama diusung oleh kelompok Islam transnasional yang bercita-cita mengubah ideologi Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945.   

"Kelompok ini bahkan mengilusikan negara Islam dengan tidak mengindahkan kearifan dan khazanah nusantara," tandas PNS di Pemkab Jombang ini.

Karena itu, tambanhnya, yang mendesak untuk dilakukan adalah bagaimana generasi muda Islam yang terhimpun dalam NU, untuk terus melakukan revitalisasi nilai dan khazanah Islam nusantara.

"Yang sangat mendesak dilakukan adalah bagaimana kegiatan tahlilan, manakiban, istighotsah serta pendalaman kajian Islam Ahlus Sunnah wal Jama'ah terus dilakukan," jelasnya.

Secara pribadi dan kelembagaan, imbuhnya, PC GP Ansor Jombang akan mendorong agar wacara penguatan dan kewaspadaan terhadap gerakan radikal atas nama agama tersebut dapat menjadi isu strategis yang dibicarakan secara khusus saat Muktamar NU mendatang.

Karena dalam bayangan Gus Atok, bila saat muktamar isu tersebut disampaikan dan direspon secara baik oleh muktamirin, maka bukan tidak mungkin akan terjadi kesadaran kolektif bagi peserta muktamar tidak hanya dari utusan NU tanah air, juga mancanegara.

Dengan demikian, lanjut dia, keberadaan muktamar akan menjadi media untuk semakin mengukuhkan tradisi Islam nusantara yang telah diwariskan para penyebar awal, termasuk Wali Songo yang diteruskan para pendiri NU.

"Secara internal, GP Ansor juga akan mengintensifkan pendidikan dan pelatihan kaderisasi serta penguatan kelembagaan melalui berbagai bekal keterampilan, termasuk melakukan pemberdayaan pengurus maupun kader khususnya dalam bidang pendidikan dan ekonomi,” tandasnya. (Syaifullah/Fathoni)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG