IMG-LOGO
Nasional

Kelas Entrepreneur Gudirian Ngaji Etika Bisnis

Selasa 21 April 2015 3:3 WIB
Bagikan:
Kelas Entrepreneur Gudirian Ngaji Etika Bisnis

Yogyakarta, NU Online
Jaringan Gusdurian menyelenggarakan Kelas Entrepreneur Gusdurian (KEG) angkatan kedua di Griya Gusdurian Timoho Yogyakarta. Pada pertemuan perdana dari sepuluh kali pertemuan ke depan ini, peserta membahas etika bisnis bersama Koordinator jaringan GUSDURian Hj Alissa Qotrunnada (Alissa Wahid).
<>
Menurut Alissa, pelaku bisnis tidak cukup bermodal hanya keberanian mencoba dan tidak takut gagal. Baginya, bisnis harus dijalankan dengan baik agar usaha berkembang.

“Caranya adalah dengan meningkatkan pelayanan kepada pelanggan. Jika pelanggan puas, maka laba dipastikan akan bertambah,” kata Alissa.

Sementara panitia KEG Khoirul Atqiya menyebutkan tujuan kegiatan ini untuk mendorong komunitas GUSDURian masuk dalam dunia bisnis. Mereka diharapkan turut ambil bagian dalam persaingan di dunia bisnis.

Pria yang biasa disapa Qiya’ itu mengatakan bahwa peluang bisnis saat ini terbuka lebar. Tinggal bagaimana seorang entrepreneur memanfaatkan peluang yang ada.

“Apalagi tren media sosial begitu luar biasa. Hal ini bisa kita manfaatkan sebagai media berbisnis juga. Sambil online, bisa sambil bisnis,” tuturnya saat ditemui setelah acara.

Kegiatan yang dimulai pada 18 April hingga 20 Juni 2015 ini, diikuti sebanyak 35 orang yang berasal dari berbagai wilayah di Yogyakarta dan sekitarnya. Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, mulai dari pengusaha rental mobil, penjual pakaian, hingga mahasiswa yang belum memiliki usaha.

Para peserta akan mendapatkan materi tentang bisnis seperti etika bisnis, perencanaan bisnis, manajemen keuangan, marketing online hingga permodalan. Panitia telah mempersiapkan tutor-tutor berpengalaman dalam menggeluti dunia bisnis untuk mendampingi peserta.

Seorang peserta asal Jetis Bantul bernama Ngatijo menyatakan motivasi keikutsertaannya pada kegiatan ini untuk menambah wawasan. Pria yang pernah menggeluti berbagai usaha mulai dari mebel, roti bakar hingga bakso tusuk itu tertarik untuk mengikuti dinamika di dalam kelas.

Ia mengungkapkan bahwa bisnis yang dilakukannya tergantung mood. “Kalau moodnya baik, ya langsung tak garap, mas. Apapun peluang bisnisnya, termasuk jualan bakso tusuk di even pasar malam,” ujarnya. Dengan mengikuti KEG ini, besar harapannya bisa menjalankan bisnis secara baik. Saat ditanya dari mana ia mendapatkan informasi KEG, pria yang kini bekerja sebagai tukang kayu itu mengaku mendapat informasi dari media cetak.

Hal senada diutarakan Nur Syamsiyah. Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga semester enam ini mengikuti KEG untuk belajar bersama para pelaku bisnis yang sudah berpengalaman. “Jadi kalau besok terjun ke dunia bisnis bisa menerapkan trik-trik sukses dari mereka,” pungkasnya. (Sarjoko/Alhafiz K)

Bagikan:
Selasa 21 April 2015 23:1 WIB
JELANG MUKTAMAR KE-33 NU
ISNU Jatim Khawatir Muktamar Ditunggangi Kepentingan Politik
ISNU Jatim Khawatir Muktamar Ditunggangi Kepentingan Politik

Surabaya, NU Online
Banyak pihak mengkhawatirkan pelaksanaan Muktamar ke-33 NU di Jombang Jawa Timur awal Agustus mendatang akan ditunggangi sejumlah kepentingan. Karenanya semua pihak harus waspada, khususnya warga dan pengurus NU.<>

Ini antara lain yang disampaikan Sekretaris Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama Jawa Timur, Muhammad Dawud usai kegiatan seminar dengan tema: "Mengawal Suksesi Kepemimpinan NU" di Meeting Room Jatim Expo Surabaya, Ahad (19/4) petang.

"Kekhawatiran dari banyak kalangan adalah sebagai wujud dari kecintaan kader NU terhadap organisasi sosial keagamaan yang didirikan hadratus syaikh dan para ulama besar dengan penuh keluhuran niat dan keagungan perjuangan," kata Dosen di IAIN Jember ini mengemukakan.

Jika dirasa ada tangan-tangan, siapapun mereka yang ingin mengkhianati hadratus syekh dan menghancurkan warisannya, maka adalah tugas para kader NU untuk menghadapi, lanjutnya.

Bagi ISNU, sebagaimana disampaikan Dawud, NU sepenuhnya adalah organisasi kemasyarakatan dan keagamaan, seharusnya memberi pelayanan sosial keagamaan kepada umat. "NU bukanlah partai politik dan tidak boleh dikendalikan oleh kepentingan politik," terangnya. Karena penyeretan NU ke dalam politik hampir selalu disertai proses pembodohan umat.

Pada kesempatan tersebut, Dawud yang didampingi oleh Zainul Hamdi sebagai representasi kepengurusan PW ISNU Jatim menyerukan lima hal.

Pertama, selamatkan NU dengan tetap berpegangan sepenuhnya kepada Khittah 1926.

Kedua, mengawal Muktamar ke-33 NU dari pihak tertentu yang ingin mengendalikan muktamar dan menguasai NU dalam rangka menyelamatkan kepentingan ekonomi politik sendiri.

Ketiga, hendaknya kader NU yang mendapat amanah duduk dalam kepanitiaan muktamar, menjaga kesucian NU, tidak bersekutu dengan phak luar yang tidak memeiliki kepentingan lain kecuali menunggangi NU untuk kepentingannya.

Keempat, siapapun boleh memberi bantuan dana kepada NU dan berbagai kegiatannya, termasuk penyelenggaraan muktamar, tapi tidak boleh ada kepentingan luar yang masuk ke dalam NU.

Kelima, para politisi yang mengaku dirinya sebagai NU, nilai ke-NU-annya hanya diukur dari seberapa kuat menjaga NU, bukan malah menghancurkan sendinya. Tidak peduli seberapapun banyaknya bantuan finansial  yang diberikan kepada NU.

"NU itu penting, karena itu ISNU berkepentingan untuk menyelamatkan dari pihak yang ingin mengendalikan muktamar," ujar Wakil Ketua ISNU Jatim Zainul Hamdi. (Syaifullah/Anam)

Selasa 21 April 2015 20:30 WIB
JELANG MUKTAMAR KE-33 NU
Di Makassar, NU Kaji Islam Nusantara dan Strategi Internasionalisasi
Di Makassar, NU Kaji Islam Nusantara dan Strategi Internasionalisasi

Makassar, NU Online
Acara Pra-Muktamar Ke-33 NU terus berlanjut setelah dua pekan lalu diselenggarakan di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Rabu (22/4), giliran Makassar menjadi tuan rumah dengan materi pembahasan seputar Islam Nusantara.
<>
Tema Islam Nusantara pernah didiskusikan di Jakarta 10 April lalu bersama Komunitas Gusdurian sebagai bagian dari rangkaian acara menyambut Muktamar Ke-33 NU pada Agustus mendatang di Jombang, Jawa Timur, yang mengusung tema “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia”.

Berdasarkan undangan yang disebar panitia, diskusi pra-muktamar di Makassar yang bakal digelar sehari penuh ini dibagi dalam dua sesi dengan dua pokok kajian, yakni “NU dan Kekayaan Khazanah Islam Nusantara” dan “Strategi Internasionalisasi NU sebagai Khazanah Islam Nusantara”.

Beberapa narasumber yang bakal hadir antara lain pakar ushul fiqh yang juga Katib Syuriah PBNU KH Afifuddin Muhajir, guru besar filologi Islam UIN Jakarta Oman Fathurrahman, sejarawan Agus Sunyoto, pakar tasawuf KH Mustafa Mas’ud, Prof DR Azhar Ibrahim Alwee dari National University of Singapore, dan Rais Syuriah PWNU Sulsel Anregurutta Sanusi Baco.

Pejabat Rais Aam PBNU KH A Mustofa Bisri, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, dan  Gubernur Sulsel H Syahrul Yasin Limpo juga dijadwalkan mengisi acara para acara pembukaan.

Sejumlah tamu dari berbagai cabang NU di wilayah Indonesia bagian timur, juga rombongan dari PBNU, telah melakukan registrasi di lokasi acara, di Wisma Haji Sudiang Makassar, Sulawesi Selatan, sejak Selasa (21/3) ini. Mereka akan bermalam hingga acara selesai, Kamis nanti. (Mahbib)






Selasa 21 April 2015 17:3 WIB
Tgk H Faisal Kembali Pimpin PWNU Aceh
Tgk H Faisal Kembali Pimpin PWNU Aceh

Banda Aceh, NU Online
Peserta Konferensi Wilayah Nahdlatul Ulama XIII NU Aceh akhirnya bermusyawarah mufakat untuk meminta kembali Tgk H Faisal Ali sebagai Ketua PWNU Aceh periode 2015-2015. Untuk Rais Syuriyahnya, mereka meminta Tgk H Nuruzzahri Yahya.
<>
Keinginan itu mencuat dalam pandangan dari pengurus cabang-cabang NU seanterao Aceh pasca penyampaian Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) PWNU Aceh periode 2009-2014.

Konferwil NU Aceh itu berlangsung secara akrab penuh kebersamaan, walaupun sebelumnya muncul beberapa nama kandidat ketua PWNU Aceh.

Konferwil XIII NU Aceh itu diikuti oleh 23 kabupaten dan kota di Provinsi Aceh. Forum ini berlangsung di Asrama Haji Banda Aceh sejak Jum’at-Ahad (17-19/4).

Forum ini dibuka oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siraj. Hadir pada malam pembukaan konferwil itu Gubernur Aceh Zaini Abdullah, Wali Nanggroe Malik Mahmud Al-Haytar, sejumlah kepala dinas, unsur OKP dan ormas di Aceh, pimpinan dayah, dan undangan lainnya.

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal Marwan Jakfar pada saat sambutan menutup Konferwil XIII NU Aceh berharap agar warga nadhlyin di Aceh menjadikan Aswaja sebagai pedoman dasar dan menjadi khittah perjuangan organisasi tersebut.

“Warga NU harus ikut serta dalam mengawasi program-program pemerintah terutama program di Kementerian Desa PDTT,” kata Marwan.

Marwan di hadapan 5.000 waga NU Aceh mengatakan bahwa kiprah NU sebagai organisasi sosial masyarakat dalam segala aspek kehidupan dari keagamaaan, ekonomi, politik, pendidikan, sosial-budaya, menunjukkan kemajuan yang sangat bagus. 

Penutupan Konferwil itu dihadiri oleh Wakil Gubernur Aceh Muzakkir Manaf, Walikota Banda Aceh Hj Illiza Sa’aduddin Djamal, pimpinan dayah, kepala dinas, dan pejabat-pejabat di Aceh lainnya. (Muhadzier/Alhafiz K)

Foto: Tgk. Faisal Ali saat berada di ruang redaksi NU Online

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG