IMG-LOGO
Daerah

38 Pelajar NU Lasem Latih Kemampuan Otomotif dan Tatarias

Jumat 8 Mei 2015 18:3 WIB
Bagikan:
38 Pelajar NU Lasem Latih Kemampuan Otomotif dan Tatarias

Rembang, NU Online
Pengurus harian PCNU Lasem menggelar pelatihan keterampilan di bidang otomotif, teknik pendingin, dan tatarias. Kegiatan yang melibatkan 38 pelajar SMNU dan MANU Lasem ini dihadirkan untuk meningkatkan kapasitas peserta pelatihan pada tiga bidang tersebut.
<>
Pelatihan yang dibuka di gedung LP Ma’arif NU Lasem, Rabu (6/5), terselenggara atas kerja sama PCNU Lasem dan Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Tampak hadir pada pembukaan pelatihan ini Ketua PCNU Lasem KH Shalahuddin Fattawi, pengurus MWCNU setempat, Kepala SMKNU Lasem, Kepala MANU Lasem, Kepala Dinsosnakertrans, sejumlah instruktur dari dinas serta tamu undangan lainya.

Sebanyak 38 peserta pelatihan yang diadakan pada Kamis (7/5) ini terdiri atas 16 peserta pelatihan servis motor, 16 peserta pelatihan teknik pendingin, dan 6 peserta di bidang tatarias. Pelatihan ini akan dilangsungkan di tempat berbeda.

Kiai Shalahuddin mengatakan “Peserta kali ini tidak hanya remaja NU, tapi ada beberapa siswa dan siswi yang ditunjuk oleh sekolah dari LP Ma’arif NU Lasem. Saya mengharapkan adanya tindak lanjut yang baik dari kerja sama ini, baik itu dengan menambah berbagai macam pelatihan ataupun pendalaman materinya.”

Ia juga berharap pelatihan ini membawa hasil bagi peserta dengan perubahan pola pikir peserta untuk berwirausaha atau sebagai tenaga kerja berkualitas.

Sementara Kepala Dinsosnakertrans Waluyo mengatakan, “Sebenarnya banyak dari berbagai kalangan ingin mendaftar untuk mengikuti pelatihan ini, tapi hanya ini yang berhasil.”

Peserta yang lulus pelatihan akan mendapatkan sertifikat resmi dari dinas agar dapat digunakan sebagaimana mestinya. Waluyo berharap peserta dapat mendayagunakan SDM mereka agar lebih produktif. (Akhmad Sayuti/Alhafiz K)

Bagikan:
Jumat 8 Mei 2015 23:59 WIB
Kemenag Gelar Dialog Lintas Budaya bagi Guru Agama
Kemenag Gelar Dialog Lintas Budaya bagi Guru Agama

Semarang, NU Online
Helat Dialog Lintas Guru Agama di Sekolah digelar oleh Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama ( Balitbang Diklat Kemenag) diikuti oleh ratusan guru di Semarang jawa Tengah pada Kamis (07/05). 
<>
Sebagai lembaga pendidikan, sekolah mempunyai posisi strategis sebagai lembaga yang memberikan pemahaman tentang perdamaian, penghargaan atas perbedaan, dan toleransi. Untuk itu, potensi besar sekolah dalam menjaga perdamaian perlu dioptimalkan. Hal ini disampaikan Kepala Badan Litbang dan Diklat Kemenag  Abd. Rahman Mas'ud saat memberikan sambutannya.

"Sekolah harusnya menjadi agen perdamaian. Oleh sebab itu, potensi besar sekolah dalam menjaga perdamaian perlu dikedepankan," tegas Abd. Rahman. 

Menurut dia, salah satu yang perlu diperkuat dalam konteks ini adalah peran guru agama di Sekolah. Sadar akan posisi strategis guru agama, Abd. Rahman menggarisbawahi pentingnya memberikan pembekalan terhadap guru agama dengan cross culture understanding, multiculture of education dan metode-metode pembelajaran agama yang modern. Dengan pola itu, maka agama jauh dari konflik. 

Dikatakan, Dialog Lintas Guru Agama ini merupakan bagian dari upaya Kemenag untuk memberikan bekal guru agama tentang cross culture understanding. Senada dengan itu, Kapuslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Hamdar Arraiyyah mengatakan, dalam mengakomodasi terwujudnya budaya damai melalui pendidikan agama, Kemenag mengupayakan terwujudnya budaya dialog lintas guru agama. 

"Kemenag punya tanggungjawab besar dalam mendorong guru agama untuk memberikan ilmu positif tentang agama berwawasan damai," kata Abd. Rahman.

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo melalui sambutan yang dibacakan oleh  Asisten Kesra  Budi Wibowo menegaskan mengenai pentingnya guru agama diberi amunisi agama yang cinta damai. 

Menurutnya, guru agama mempunyai tanggung jawab yang sangat berat, terutama dalam menanamkan moralitas, kesantunan, budi luhur, dan kecerdasan. Selain itu, guru agama juga mempunyai kewajiban dalam menjaga keutuhan negara Indonesia dengan kedamaian dan kerukunan.

Budi menilai, selama ini muatan pendidikan agama masih bersifat normatif-kognitif dengan menanamkan satu keyakinan bahwa agamanya yang paling benar. Menurutnya, soal ritual memang benar bahwa agamaku adalah agamaku dan agamamu juga agamamu. Namun dalam makna luas, agama merupakan ajaran yang menanamkan nilai multikultural, kebersamaan dengan mengedepankan dialog.

Kepala Bidang Litbang Pendidikan Formal yang juga menjadi panitia pelaksana kegiatan, Nurudin, menjelaskan bahwa kegiatan dialog lintas guru agama bertujuan menumbuhkembangkan wawasan budaya damai, meningkatkan kesadaran dan kelancaran komunikasi lintas guru agama, dan sebagai alat bantu guru pendidikan agama untuk mengembangkan pendidikan agama berwawasan budaya damai.

Selain penyampaian materi terkait hasil riset puslitbang pendidikan agama dan keagamaan, kegiatan ini juga diisi dengan kunjungan ke rumah ibadah, bakti sosial bersama, kampanye anti kekerasan,serta kemah bersama. 

"Diharapkan dengan kegiatan ini terwujud budaya damai dalam konteks Indonesia yang majemuk dimulai dari sekolah," harapnya. Red: mukafi niam 

Jumat 8 Mei 2015 23:0 WIB
KMNU IPB Adakan Penerimaan Anggota Baru Tahap Dua
KMNU IPB Adakan Penerimaan Anggota Baru Tahap Dua

Bogor, NU Online
Isti’laul Qudrah (IQ) merupakan istilah bagi kegiatan pengkaderan dan penerimaan anggota bagi Keluarga Mahasiswa NU (KMNU) Istitute Pertanian Bogor (IPB). Kegiatan tahunan ini diselenggarakan oleh divisi PSDM untuk merekatkan silaturahim dan rasa kekeluargaan diantara mahasiswa baru yang bergabung dengan KMNU IPB. 
<>
IQ ini sebelumnya sudah dilakukan pada bulan November 2014 dan diikuti sekitar 40 orang lebih, namun karena dari para calon anggota menginginkan adanya IQ susulan dalam Musyawarah Besar KMNU IPB pada bulan Januari 2015 lalu, maka pengurus KMNU IPB berkewajiban menyelenggarakan kembali IQ tahap 2 untuk mewadahi para calon peserta yang belum mengikuti pada IQ yang sebelumnya. 

Acara IQ tahap 2 ini diselenggarkan pada tanggal 2-3 Mei di pondok pesantren Mina 90. Tema dari kegiatan IQ tahap 2 adalah “Sinergi dalam tradisi dan kebersamaan.” Acara ini diikuti oleh 30 peserta yang terdiri dari tingkat 1 dan tingkat 2 di kampus. Seluruh mahasiswa IPB yang ingin menjadi anggota tetap KMNU IPB harus mengikuti serangkaian kegiatan IQ. 

IQ Part 2 diisi oleh materi-materi seperti pemahaman Islam Ahlussunnah wal Jama’ah, Sejarah Lahirnya NU di Indonesia serta lahirnya KMNU di IPB, lalu pemberian motivasi serta acara puncak yaitu pelantikan IQ dengan diakhiri ucapan janji.

Beberapa peserta memberikan testimoni bahwa setelah mereka mengikuti IQ tahap 2 ini. mereka merasa semakin tersadar untuk terus melanjutkan tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah di kampus. Selain itu, mereka semakin bertekad untuk berkontribusi lebih banyak dalam program kerja KMNU IPB. 

Harapan dengan adanya IQ tahap 2 ini para peserta IQ menjadi lebih memiliki rasa kekeluargaan antar anggota KMNU IPB dan melestarikan tradisi keislaman dari kampung halamannya di kampus melalui KMNU IPB. Red: mukafi niam

Jumat 8 Mei 2015 21:3 WIB
M Jazil, Penyandang Disabilitas Juara Hafidz Al-Qur’an se-Tapal Kuda
M Jazil, Penyandang Disabilitas Juara Hafidz Al-Qur’an se-Tapal Kuda

Probolinggo, NU Online
Allah SWT memberi kemampuan besar di balik kekurangan fisik Muhammad Jazil, seorang pemuda asal desa Pohsangit Tengah, Wonometro, Probolinggo. Kekurangan itu tidak menghalangi dirinya menghafal 30 juz Al Qur’an. Ia bahkan mampu menjadi juara MTQ se-Tapal Kuda yang digelar di Probolinggo beberapa waktu lalu untuk kategori hafidz 30 juz.
<>
Dalam MTQ se-Tapal Kuda, pemuda kelahiran 12 Januari 1992 dinobatkan sebagai juara MTQ (Musabaqoh Tilawatil Qur’an) se-Tapal Kuda yang digelar Jam’iayul Qurra’ wal Huffadz (JQH) Proboliggo di Hasan Center Kecamatan Dringu, Ahad (3/5) lalu.

M Jazil menjadi juara di MTQ itu untuk kategori Tahfidzil Qur’an 30 juz. Jazil berhasil menyisihkan 60 peserta. Atas prestasi itu, Jazil menerima kalungan medali emas. Prestasi yang ditorehkan M Jazil ini tentu pencapaian luar biasa. Sebab, ia seorang panyandang tuna netra. “Sejak lahir saya sudah tidak melihat,” ungkapnya, Jum’at (8/5).

Jazil mengaku tertarik untuk menghafal Al-Qur’an sejak usia menginjak usia 9 tahun. Di usianya saat itu, tidak banyak aktivitas yang ia jalani di rumahnya. Waktunya paling banyak dihabiskan dengan mendengarkan radio.

Dengan indra penglihatan yang gelap gulita, maka pendengaran menjadi teman setianya. Tapi, yang didengar Jazil bukan sembarang program radio. Sebab jelang Maghrib, Jazil memilih mendengar program tilawatil Qur’an. Dari kebiasaannya itu, ia mulai tertarik untuk menghafal Al-Qur’an. “Dari pada tidak ada kegiatan lain,” jelas pemuda 23 tahun ini.

Ketertarikan itu berlanjut dengan usaha nyata. Setiap hari Jazil mendengar tilawatil Qur’an. Hasilnya, dalam satu tahun, Jazil sudah mampu menghafal 15 juz Al-Qur’an. “Saya belajar sendiri. Mendengar lalu mengulang sampai akhirnya hafal,” kata putra bungsu pasangan M Imam dan Siti Fatimah ini.

Kemampuan Jazil menghafal Al-Qur’an disadari betul oleh orang tuanya. Imam dan Siti Fatimah pun mendukung. Pada tahun 2008, Jazil dikirim menuntut ilmu di pesantren Nurul Huda Al-Basori di desa Muneng Kidul, Sumberasih.
Di pesantren itu, Jazil semakin termudahkan meneruskan usahanya menghafal Al-Qur’an. Jika sebelumnya hanya bisa berlatih dengan mendengar radio di jam-jam tertentu, di pesantrennya, Jazil bisa berlatih kapanpun. Terlebih, di pesantren, Jazil diberi fasilitas berupa tape recorder, lengkap dengan kaset Tilawatil Qur’an 30 juz.

Allah SWT memang memberi kekuatan memori luar biasa pada M Jazil. Walau tidak bisa melihat, ia mampu mengingat detil melalui pendengarannya. Dalam waktu 5 tahun saja, Jazil sudah mampu menghafal 30 juz Al-Qur’an.

Ia menghafal setiap ayat demi ayat. Satu ayat didengarkan, lalu terus diulang-ulang hingga hafal. “Kalau yang mudah bisa langsung lima ayat saya hafalkan sekaligus,” terangnya.

Namun, proses menghafal yang dilakukan Jazil tidak berjalan liar begitu saja. Tetap ada yang mengawasinya dari pesantren. Setiap hari Jazil wajib menyetor ayat demi ayat yang dihafalnya sampai lengkap 30 juz.

Keseriusan Jazil membawa hasil besar. Pada 5 Januari 2013, ia dinyatakan lulus menghafal 30 juz Al-Qur’an. “Kalau tidak serius, mungkin tidak akan hafal,” katanya.

Proses ia menghafal Al-Qur’an setara dengan orang yang memiliki penglihatan sempurna. “Teman-teman juga 5 tahun menghafal Al Qur’an. Sama dengan saya,” katanya.

Ia menitipkan pesan kepada orang-orang di sekitarnya. Jika dirinya yang memiliki keterbatasan fisik mampu menghafal 30 juz Al-Qur’an, maka orang yang normal penglihatanya juga pasti bisa. “Semoga semakin banyak penghafal Al Qur’an di Kabupaten Probolingo,” jelasnya.

Prestasi sekaligus kemampuan besar yang dimiliki M Jazil ini pun mendapat perhatian besar JQH Probolinggo. Ketua JQH Probolinggo Ustadz Kholili menyatakan bahwa pihaknya akan membina M Jazil.

“Tujuannya agar pola hafalan yang bisa dilakukan Jazil dengan cepat itu bisa dibagikan kepada yang lain. Terutama mereka yang sama-sama memiliki keterbatasan fisik,” tegasnya.

Selama ini, kata Kholili, belum ada peserta MTQ Tingkat Jawa Timur dan Tapal Kuda yang menyandang tuna netra. “Ini kan menjadi support bagi masyarakat yang memunyai keterbatasan fisik untuk terus berprestasi,” tandasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG