IMG-LOGO
Internasional

Taliban Ubah Pandangannya Tentang Peran Perempuan dalam Islam


Sabtu 9 Mei 2015 06:01 WIB
Bagikan:
Taliban Ubah Pandangannya Tentang Peran Perempuan dalam Islam

Al Khor, NU Online
Ketika Taliban memerintah Afghanistan, kaum perempuan tidak dapat bergerak bebas: Sekolah khusus perempuan ditutup, lapangan kerja terlarang bagi perempuan, dan pakaian yang pantas bagi mereka hanya burqa.
<>
Kini, pesan mereka berbeda: Jika kami kembali berkuasa, perempuan Afghanistan takkan lagi mengalami represi. Demikian dilaporkan oleh The Wall Street Journal. 

Para delegasi yang menghadiri pertemuan dengan perwakilan Taliban di Qatar pekan lalu melukiskan tentang pelunakan sikap Taliban atas peran perempuan. Menurut perwakilan itu, Taliban berjanji mendukung perempuan masuk sekolah dan kampus, serta dapat bekerja di luar rumah.

Mereka pun menjanjikan terbukanya akses bagi perempuan untuk tergabung dalam politik. Dalam urusan rumah tangga, perempuan pun berhak menentukan suaminya sendiri.

Sejak Taliban kehilangan kuasa pada 2001, kondisi perempuan Afghanistan berangsur membaik.

Setelah pembicaraan di Qatar, para peserta menyatakan keterkejutan atas kompromi delegasi Taliban terhadap sejumlah masalah. Tiga perempuan Afghanistan yang terlibat diskusi mengaku senang dengan keterbukaan Taliban terhadap hak-hak perempuan.

Namun, banyak yang masih ragu dengan ketulusan Taliban untuk berubah. Pasalnya, kekerasan Taliban masih segar dalam ingatan mereka.

Dalam pernyataan resmi yang dirilis setelah konferensi, Taliban mengatakan bahwa mereka “berkomitmen terhadap semua hak perempuan.” Namun, Taliban pun takkan membahayakan “harga diri [mereka] sebagai manusia serta nilai-nilai Islamnya.”

Para peserta pertemuan Qatar menganggap ajang itu sebagai langkah maju pertama ke arah yang tepat.

Pemerintahan Afghanistan tidak mengirimkan delegasi resmi ke Qatar, tetapi dua anggota lembaga negosiasi Afghanistan serta sejumlah pihak yang dekat dengan kepemimpinan politik negeri itu menghadiri konferensi.

Di antara delegasi perempuan terdapat Lina Shinwari, 24 tahun. Ia masih berusia enam tahun saat Taliban berkuasa dan menutup sekolah tempatnya belajar. Kini, Shinwari menjadi pengacara pidana dan mengambil kasus yang buangan: membela tersangka pemberontak Taliban.

“Senang mendengar mereka membicarakan hak-hak perempuan dalam kerangka Islami,” ujarnya. “Saya gembira.” (mukafi niam) foto the guardian

Bagikan:
IMG
IMG