IMG-LOGO
Daerah

Aksioma 2015, Pesantren An-Nahdlah Raih Juara Umum

Rabu 20 Mei 2015 9:3 WIB
Bagikan:
Aksioma 2015, Pesantren An-Nahdlah Raih Juara Umum

Makassar, NU Online
Prestasi membanggakan diraih Santri Pondok Pesantren An-Nahdlah Makassar karena mendapat juara umum pada Lomba Aksi Seni dan Olahraga Madrasah (Aksioma) yang dilaksananakan antar pesantren dan madrasah se- Kota Makassar, 17-18 Mei 2015. Agenda kejuaraan yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama itu bertempat di Aula Pesantren Immim.
<>
Pimpinan Umum Pesantren An-Nahdlah KH.Afifuddin Harisah mengungkapkan rasa bangga terhadap santri yang telah mengharumkan nama pesantren.

"Saya merasa bersyukur dan bangga atas capaian santri-santriwati yang telah meraih juara umum pada perlombaan antar pesantren. Semoga hasil yang diperoleh ini dapat ditingkatkan pada event-event berikutnya," ujarnya.

Para santri An-Nahdlah dalam ajang Aksioma 2015 berhasil menjuarai lomba dalam berbagai kategori mulai Lomba Kaligrafi, Hadroh (qasidah), MTQ, Pidato Bahasa Arab dan Tenis Meja. Dengan menjadi juara dalam berbagai ketegori lomba akhirnya Pesantren An-Nahdlah dinobatkan sebagai juara umum.

Menurut Ketua Ikatan Alumni Pesantren An-Nahdlah (IAPAN) Firdaus Dahlan yang turut serta mengawal persiapan lomba, torehan prestasi yang diraih para peserta Aksioma  tidak lepas dari latihan santri setiap hari.

"Sehingga dapat memperoleh hasil yang maksimal dengan mendapat delapan belas gelar juara dari berbagai kategori lomba seni dan olahraga," pungkas Firdaus. (Muhammad Nur/Mahbib)

Bagikan:
Rabu 20 Mei 2015 22:15 WIB
HARKITNAS
Gusdurian Lampung: Energi Anak Bangsa Habis untuk Membenci
Gusdurian Lampung: Energi Anak Bangsa Habis untuk Membenci

Waykanan, NU Online
Kebangkitan Nasional hanya akan menjadi retorika ketika anak-anak bangsa sibuk mendidik dirinya untuk anti atau bahkan membenci sesama anak-anak bangsa lainnya dalam berbagai hal. Salah satu yang sering mengemuka ialah kebencian karena perbedaan keyakinan.
<>
Pegiat Gusdurian Lampung, Gatot Arifianto di Blambangan Umpu, Waykanan, Lampung, Rabu (20/5) mengatakan, banyak energi anak bangsa yang habis hanya untuk mengusik hal-hal yang telah disepakati dalam konstitusi bernegara, misalnya perbedaan keyakinan yang semestinya tidak perlu diperdebatkan, dipermasalahkan.

“Padahal perbedaan adalah rahmat dari sang maha pencipta," kata pemilik gelar adat Lampung Ratu Ulangan itu lagi.

Masa penjajahan yang berlangsung sejak zaman Belanda (350 tahun) dan zaman Jepang (3,5 tahun) telah membuka mata seluruh masyarakat dan pemimpin bangsa Indonesia agar mampu menata kehidupan bangsa yang merdeka dan berdaulat serta sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang beradab.

Kebangkitan Nasional yang biasa diperingati setiap 20 Mei adalah masa dimana bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan Belanda dan Jepang. Masa ini ditandai dengan dua peristiwa penting yaitu berdirinya Boedi Oetomo (20 Mei 1908) dan ikrar Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928).

"Yang ditegaskan satu dalam Sumpah Pemuda ialah tanah air, bangsa dan bahasa, yakni Indonesia, bukan agama. Para pendiri bangsa menyakini Indonesia kelak akan menjadi negara yang berdiri di atas kontruksi keberagaman suku, agama, ras, dan golongan. Tidak boleh ada penghapusan pelaksanaan dan penerimaan Bhineka Tunggal Ika dalam hidup berbangsa dan bernegara," ujar dia lagi.

Jaminan persamaan hidup warga negara di dalam konstitusi negara, menurutnya pula, dapat disebutkan antara lain di pembukaan UUD 45. Termasuk Pancasila, yang jika diucapkan di depan warga Nahdlatul Ulama (NU) akan disambut dengan pekik: "Jaya!"

Di dalam agama Islam, hadits riwayat Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi,Nasa'i dan Ahmad jelas menegaskan: "Apabila seorang manusia meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal: sedekah jariyah atau ilmu yang bermanfaat sesudahnya atau anak yang shalih yang mendo'akannya".

"Tidak perlu ditambah dengan melarang pendirian atau bahkan membakar rumah ibadah agama lain atau non muslim, bukan? Sekiranya saya Islam yang tinggal di daerah dengan mayoritas penduduk memeluk agama non Islam dan rumah ibadah saya dilarang dibangun atau bahkan dibakar, saya akan tetap tersenyum sebab rumah ibadah (masjid) di dalam hati saya senantiasa berdiri dan ada, serta tidak akan mengabu dibakar. Sekiranya saya bukan Islam di daerah dengan mayoritas penduduk memeluk Islam dan rumah ibadah saya dilarang dibangun atau bahkan dibakar, saya tidak akan pernah mencari Islam rahmatan lil 'alamin di kantor aparat penegak hukum," katanya lagi.

Terkait masih adanya penolakan pembangunan rumah ibadah non Islam di beberapa daerah di Lampung, ia mengingatkan Peraturan Bersama Menteri Agama Dan Menteri Dalam Negeri Nomor: 9 Tahun 2006 dan Nomor: 8 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah Dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama, Dan Pendirian Rumah Ibadat sudah jelas. Dan seyogyanya bisa dipatuhi, tidak perlu dipersoalkan jika ketentuan berlaku sudah dipenuhi.

Kebangkitan Nasional, katanya pula, akan terwujud ketika anak-anak bangsa sibuk mendidik dirinya untuk berani memiliki keyakinan jika Indonesia ialah bangsa yang memiliki diversitas keberagaman. Kebangkitan Nasional akan terwujud jika setiap anak bangsa Indonesia mendidik dirinya untuk membangkitkan bangsa.

"Potensi keberagaman budaya, karakter, jati diri bangsa, keyakinan, pulau hingga sumber daya  alam di Indonesia semestinya yang harus sibuk diolah, dirangkum oleh anak-anak bangsa untuk Indonesia Digdaya. Bangkit menjadi bangsa bermartabat adalah pilihan daripada cakar-cakaran dan membuat gejolak negatif. Keragaman, kata Gus Dur, adalah keniscayaan akan hukum Tuhan atas ciptaan-Nya," kata Gatot mengingatkan lagi. (red: Abdullah Alawi)


Rabu 20 Mei 2015 21:30 WIB
Pameran Fotografi di Pesantren Nurul Jadid
Pameran Fotografi di Pesantren Nurul Jadid

Probolinggo, NU Online
Santri yang tergabung sebagai redaksi di sejumlah lembaga pers pesantren Nurul Jadid menyelenggarakan pameran fotografi sejak kemarin, Selasa (19/5) pagi. Dalam rangka memperingati Haul Pendiri dan Hari Lahir Ke-66 Nurul Jadid, mereka mempersilakan umum untuk berkunjung ke ruang pameran di lantai satu gedung rusunawa (timur asrama mahasiswa).
<>
Para santri ini terdiri atas anggota redaksi di majalah Al-Fikr (IAI Nurul Jadid), Kharisma (MA Nurul Jadid), Misi (SMA Nurul Jadid), dan Masa (SMK Nurul Jadid). Dengan tema “Yang Jauh, Yang Dekat”, sebanyak 28 fotografer turut berpartisipasi pada pameran ini.

Menurut penanggung jawab umum Muhammad Al-Fayyadl, kegiatan ini adalah pameran foto yang menampilkan karya-karya foto para santri dengan tema kemanusiaan, pemandangan alam, dan perihal kegiatan santri di pesantren.

“Pameran fotografi ini merupakan pameran foto pertama yang dilaksanakan di sini,” katanya saat membuka pameran.

Fayyadl berharap kegiatan serupa dapat dengan intens terlaksana. Tujuannya tidak lain untuk mewadahi bakat dan kreativitas para santri dalam bidang fotografi.

Pameran fotografi ini berlangsung selama tiga hari, sejak Sabtu-Selasa (16-19/5). (Senda Hardika Prasasti/Alhafiz K)

Rabu 20 Mei 2015 19:6 WIB
Peserta BPUN Karanganyar Ngaji Jurnalistik
Peserta BPUN Karanganyar Ngaji Jurnalistik

Karanganyar, NU Online
Sebanyak 51 peserta program Bimbingan Pasca Ujian Nasional (BPUN) GP Ansor Karanganyar 2015 mengikuti pelatihan jurnalistik di pesantren “Darul Aitam wal Masakin Ilyas” kabupaten Karanganyar. Mereka mempelajari teori jusrnalistik dasar yang mencakup pengertian jurnalistik, unsur, peran, dan foto jurnalistik.
<>
Hadir sebagai pemateri pada Ahad (17/5) Ketua PMII Kota Solo Ahmad Rodif Hafidz yang juga mantan wartawan lokal. Ia mendorong peserta mencintai dunia kepenulisan sejak dini. Sebagai calon mahasiswa, peserta yang merupakan alumni SMA, SMK, dan MA di wilayah Karanganyar dan sekitarnya perlu mengerti teknik penulisan.

"Budaya menulis harus terus dikenalkan dan dikembangkan khususnya bagi para calon mahasiswa karena ini merupakan bekal penting jika sudah menjadi mahasiswa," kata Rodif.

Dengan mengetahui jurnalistik, seseorang tidak mudah tergiring opini ketika membaca, melihat, atau mendengarkan informasi atau berita dari berbagai media.

"Jadi, para calon mahasiswa ini harus dapat berpikir kritis kalau sudah berada di kampus. Salah satu cara mengasah kekritisan yaitu dengan belajar jurnalistik," kata mahasiswa UNS ini.

Peserta yang mengikuti pelatihan ini terbilang antusias. Pasalnya, metode pelatihan yang diberikan cukup menarik dan interaktif. Apalagi ketika dua orang peserta diminta maju ke depan untuk menarasikan cerita yang di dalamnya mengandung unsur-unsur jurnalistik seperti 5W+1H dan investigasi.

Salah seorang peserta Erwin mengaku senang bisa mengikuti pelatihan jurnalistik dan langsung mempraktikannya. "Meskipun masih sulit karena baru belajar tapi senang karena dengan menulis kita bisa menuangkan ide-ide kita," tuturnya.

Setelah dikenalkan teori dasar jurnalistik, para peserta diminta untuk langsung mempraktikannya dengan membuat sebuah berita pendek seputar kegiatan pelatihan ini. Dari 51 tulisan, kemudian dipilih 3 tulisan terbaik karya Paramita KD, Nurul RI, dan Rani Alinda Sari. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG