IMG-LOGO
Daerah

Innalillahi, KH Imam Munchasir, Rais Syuriah PCNU Banyumas Wafat

Sabtu 30 Mei 2015 14:30 WIB
Bagikan:
Innalillahi, KH Imam Munchasir, Rais Syuriah PCNU Banyumas Wafat

Banyumas, NU Online
Rais Syuriyah PCNU Banyjmas, KH Imam Munchasir telah wafat, Kamis (28/5) sore. Kiai Imam meninggal dunia di RS Wijayakusuma (DKT) setelah menjalani perawatan. Jenazah telah dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) setempat, Jumat (29/5).<>

Cucu Almarhum, Feriyati Inayatul (Feri) mengatakan, kakeknya sempat mengalami sakit sejak lama dan bahkan koma selama kurang lebih satu tahun. Beberapa kali, mursyid yang masih memimpin jamaah pengajian Tarekat Syadziliyah di Sokaraja ini sempat dibawa ke beberapa rumah sakit.

Melihat biografi perjalanannya berdasarkan wawancara dengan KH Imam Munchasir beberapa waktu lalu, Sang Kiai merupakan tokoh cukup berpengaruh di Banyumas sejak 1980-an hingga saat ini terutama di kalangan NU. Bahkan dalam beberapa Pilkada, Kyai berusia 67 tahun ini menjadi target sejumlah calon menggaet dukungan karena pengaruhnya yang cukup besar di organisasi massa Islam paling besar di Banyumas itu.

Munchasir muda, merupakan seorang mahasiswa yang dikenal getol menimba ilmu di beberapa pesantren dan pendidikan formal di IAIN (sekarang UIN) Sunan Gunung Jati Bandung. Setelah tamat kuliah, sang Kiai pun akhirnya bekerja menjadi dosen Fakultas Syariah di kampus tersebut. Pada 1994, Kakak Kiai Imam yang saat itu Mursyid Tarekat Syadziliyah, KH Ahmad Mudatsir meninggal dunia. Ia pun harus pulang kampung demi membesarkan organisasi yang diwariskan sejak beberapa ratus tahun itu.

Sekembali dari Bandung, ia menetap di kampung halamannya, Desa Sokaraja Lor, Sokaraja, Banyumas. Di sana, ia mengelola sebuah masjid dan mulai menjajaki diri menjadi pengurus NU. Setelah itu, Sang Kiai terjun ke dunia politik semasa reformasi 1998. Pada Pemilu 1999, ia terpilih menjadi anggota DPRD dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) hingga 2014. Pada saat itu, ia juga menjadi pengurus PKB Jawa Tengah.

Setelah purna dari DPRD, Kiai Munchasir kembali ke rahim NU menjadi pengurus Tanfidziyah. Hingga akhirnya pada September 2012, ia terpilih secara aklamasi menjadi Rais Syuriyah PCNU Banyumas mendampingi KH Maulana Hasan sebagai Ketua Tanfidziyah. Hingga akhir hayatnya, jabatan ini masih dipegangnya karena masa khidmahnya habis pada 2017. (Agus Riyanto/Fathoni) 

Tags:
Bagikan:
Sabtu 30 Mei 2015 22:0 WIB
Santri BPUN Ansor Surabaya Berjejaring dengan Santri Lain Kota
Santri BPUN Ansor Surabaya Berjejaring dengan Santri Lain Kota

Surabaya, NU Online
Jumat (29/5) malam, sebanyak 69 santri peserta Pesantren Kilat (Sanlat) Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) Surabaya, tampak bahagia. Bertempat di pesantren An-Nur jalan Karah Agung 9 Surabaya, mereka saling bertegur sapa melalui Video Conference dengan para santri lain di 11 kota di Indonesia.
<>
Video Conference itu digelar di Kantor PP GP Ansor di Jakarta. Hadir dalam acara tersebut Menristek Dikti M Nasir, Mendikbud Anies Baswedan, dan Ketua Umum PP GP Ansor Nusron Wahid.

Peserta Sanlat yang aktif melakukan video conference itu berasal dari Surabaya, Jombang, Malang, Ngawi, Kudus, Semarang, Karanganyar, Yogyakarta, Cirebon, Bandung, Serang, dan Pontianak.

Para santri itu saling berkenalan setelah menyimak arahan dan motivasi dari M Nasir, Anies Baswedan, dan Nusron Wahid.

Koordinator Sanlat BPUN Surabaya Abdus Salam mengatakan, para peserta Sanlat BPUN Surabaya ini telah mengikuti bimbingan intensif dalam rangka persiapan masuk Perguruan Tinggi Negeri, sejak Senin (11/5) lalu, dan berlangsung selama satu bulan.

Program Sanlat BPUN adalah hasil kerja sama GP Ansor dan Yayasan Mata Air. Program ini, menurut Salam, bertujuan mengantarkan sebanyak mungkin kader muda NU bisa kuliah di PTN favorit di Indonesia.

Didampingi para pembina Arif, Syafril, dan Anas, Salam menegaskan, para peserta tidak hanya diberikan bimbingan selam sebulan, mereka juga akan terus dipantau hingga sukses masuk PTN.

"Setelah sukses masuk PTN, nanti kita juga kawal. Sehingga mereka diharapkan menjadi bibit-bibit kader NU di kampus," tegas Wakil Ketua GP Ansor Jawa Timur ini. 

Salam menambahkan, selama sebulan selain dibekali sejumlah materi oleh para tutor, para peserta juga mengikuti pengajian kitab, berjamaah, dan aktivitas keagamaan lainnya seperti para santri di pesantren pada umumnya.

"Ya, mereka jadi santri sementara selama sebulan. Maka itu namanya santri kilat, jadi pengasuhnya juga kiai kilat," ujarnya berkelakar.

"Jadi, saya ini juga kiai, tapi kiai kilat," selorohnya seraya tersenyum. (Abdul Hady JM/Alhafiz K)

Sabtu 30 Mei 2015 20:11 WIB
Puncaki Harlah NU dengan Khitanan Massal
Puncaki Harlah NU dengan Khitanan Massal

Bangkalan, NU Online
Tuntas sudah gelaran acara peringatan hari lahir atau Harlah NU yang diamanatkan panitia pelaksana kepada Pimpinan Anak Cabang Muslimat NU Arosbaya Bangkalan Madura. Sabtu (30/5) pagi 75 anak mengikuti acara Khitanan Massal menandai berakhirnya rangkaian kegiatan Harlah.<>

Walau tidak bisa menghabiskan quota 100 anak, Ayyama Munaawir, Ketua PAC Muslimat Arosbaya merasa bersyukur.

“Minimal kami telah ikut berbagi dengan keluarga kurang mampu yang hampir kesemuanya adalah warga NU, ada missi sosial dari kegiatan yang kita gelar bersama Puskesmas Arosbaya dan Puskesmas Tongguh ini," tuturnya.

Dalam rangkaian Harlah ke-92 NU selain menggelar khitanan massal, PAC. Muslimat juga diberi kepercayaan untuk menggelar Lomba Balita Sehat tingkat kecamatan Arosbaya.

Dua kegiatan itu juga dijadikan ajang perkenalan dengan seluruh pimpinan ranting Muslimat, instansi sektoral yang ada di kecamatan Arosbaya serta masyarakat luas. Hal ini tidak lepas dari umur kepengurusan Ayyama yang baru berusia 2 (dua) bulan dan masih menunggu prosesi pelantikan dan pengukuhan oleh PC. Muslimat Bangkalan.

Secara berkelakar aktifis perempuan yang juga keluarga pesantren Al-Ghozali Paserean ini menyebut bahwa kepengurusannya termasuk curi start dalam berkegiatan.

Sukses pelaksanaan dari kedua kegiatan ini memberikan keyakinan kepada PAC Muslimat NU untuk terus berkiprah dan berbuat kepada jama'ah, Badan otonom NU untuk perempuan ini berharap agar kedepannya terjadi sinergi program dengan Banom lain yang ada di bawah jaringan MWCNU Arosbaya.

“Hari ini kita telah memulai, dan kita berkeyakinan bahwa MWCNU Arosbaya akan mendukung keinginan besar dimaksud. Sementara kepala puskesmas Arosbaya dr. Danial mewakili mitra kegiatan mengaku cukup puas dengan kegiatan ini dan berharap kedepan kerjasama yang ada terus digalakkan, dengan siapapun dan dalam bentuk apapun,”  kata Ayyama.


“Semua yang dilakukan itu merupakan sebuah bentuk terima kasih puskesmas kepada masyarakat Arosbaya yang telah memberikan kepercayaan penagangan kesehatannya kepada puskesmas baik di Arosbaya maupun di Tongguh tutur kepala puskesmas perempuan pengganti dr Aida Rachmawati yang kini dipercaya menjabat kepala dinas kesehatan kabupaten bangkalan,” tambahnya. (Ibnu Azzauri/ Anam)

Sabtu 30 Mei 2015 17:19 WIB
Inilah Tiga Bulan yang Dimuliakan Allah
Inilah Tiga Bulan yang Dimuliakan Allah

Jepara, NU Online
Habib Ahmad Jamal Bin Toha Baagil mengemukakan, dalam setahun ada tiga bulan yang dimuliakan Allah SWT. Tiga bulan ini merupakan satu paket yakni Rajab, Syakban dan Ramadhan.
<>
Ia menyampaikan hal itu pada Maulid dan Taushiyah yang diadakan Pesantren At Taqiy desa Kalipucang Kulon kecamatan Welahan kabupaten Jepara, Kamis (28/5) malam.

Menurut pengasuh pesantren Anwarut Taufiq Malang, Jawa Timur, Rajab merupakan bulan untuk memperbanyak istighfar. Mengenai fadhilah istighfar pada zaman sahabat Umar ada seseorang yang berkonsultasi karena di kampungnya dilanda kemarau berkepankangan. Kemudian Umar memberikan amalan agar turun hujan dengan memperbanyak istighfar.

Sahabat lain bertanya karena saat mencari rezeki susah payah. Umar pun memberi resep yang sama dengan memperbanyak istighfar. Begitu pula saat seorang fulanah berkonsultasi tentang dirinya yang belum punya anak juga dianjurkan membaca istighfar.

“Kenapa resepnya sama karena sebagaimana yang diterangkan dalam Al Qur’an ketiga problem tersebut jawabannya ialah dengan membaca banyak istighfar,” jelasnya.

Ia juga menyampaikan contoh fadlihah istighfar lain. Seorang habbas, penjual roti berhasil menyelamatkan Imam Ahmad bin Hanbal saat menyamar menjadi rakyat jelata dan hendak diusir takmir masjid.

Kemudian diistirahatkanlah Imam Ahmad di kediamannnya. Saat bercakap-cakap mulutnya si habbas selalu komat-kamit. Ternyata telusur punya telusur ia tidak pernah berhenti membaca istighfar.

Sesuai yang dijanjikan Tuhan barang siapa mendawamkan membaca istighfar semua keinginannya terkabul. Tetapi saat itu ada keinginannya yang belum terkabul yakni bertemu Imam Ahmad bin Hanbal. Setelah bercerita akhirnya Imam Ahmad mengaku bahwa orang yang ditolongnya ialah orang yang hendak ditemuinya.

Bulan kedua yang dimuliakan Allah yakni bulan syakban. Syakban sebut Habib Jamal merupakan bulan shalawat. Shalawat yang diwajibkan tambahnya saat menunaikan shalat yakni saat membaca tasahud. Sedangkan shalawat yang lainnya hukumnya sunnah. “Jadi jangan sampai kebalik. Rajin shalawatan tetapi shalatnya ditinggalkan,” imbaunya.

Jika demikian Habib asal Malang ini mengibaratkan orang yang mengenakan serban tetapi hanya mengenakan celana dalam. Sedangkan Ramadan merupakan bulan turunnya Al Qur’an. Karena itu di bulan ini ia mengajak agar jamaah memperbanyak mendaras Al Qur’an.

Selain Habib Ahmad dalam kesempatan itu juga rawuh Hj. Sinta Nuriyah Wahid, istri KH Abdurrahman Wahid. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG