IMG-LOGO
Tokoh
AHLUL HALLI WAL AQDI

KH Tolchah Hasan, Sosok Kiai Organisator

Kamis 25 Juni 2015 12:45 WIB
Bagikan:
KH Tolchah Hasan, Sosok Kiai Organisator

Prof Dr KH Muhammad Tolchah Hasan dilahirkan di Tuban Jawa Timur pada 1936, atau 79 tahun silam. Ia merupakan seorang tokoh yang multi dimensi, sebagai ulama, tokoh pendidikan, pegiat organisasi yang tekun dan juga seorang tokoh yang aktif di pemerintahan.<>

Sebagai seorang ulama, ia adalah sosok dengan keilmuan yang mendalam. Penguasaannya terhadap teks-teks agama ditunjukkan dengan aktivitasnya mengajar di pondok pesantren dan di berbagai perguruan tingi. Sebagai seorang tokoh agama ia juga mampu menciptakan pemikiran-pemikiran segar dalam pemahan terhadap agama. Buku populer yang ia tulis (disamping banyak karya yang lain) adalah “Ahlussunnah wal Jamaah dalam Tradisi dan Persepsi NU.”

Perannya sebagai ulama juga ditunjukkan dengan eksistensi Masjid Sabilillah di Singosari Malang yang dibangun bersama salah seorang founding father NKRI, KH Masykur. KH Masykur menunjuk Kiai Alumni Tebuireng ini sebagai ketua panitia pembangunan masjid itu. Kiai Tolchah mampu mengembangkan Masjid Sabilillah menjadi sebuah masjid yang tidak hanya menonjol sebagai tempat ibadah, melainkan tempat pengembangan masyarakat dengan memberdayakan masjid berperan dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat. Hal ini dutunjukkan dengan adanya sekolah mulai tingkat dasar sampai lanjutan, kegiatan sosial ekonomi dengan adanya Laziz Sabilillah, Poliklinik sebagai pusat kesehatan Masyarakat. Semuanya itu dikelolah dengan baik dibawah Masjid Sabilillah. Hal demikian ini menunjukkan bahwa KH Tolchah mampu mengembangkan masjid sebagai pusat peradaban seperti masa lalu.

Sebagai tokoh pendidikan, kepiawaiannya ditunjukkan dengan berkembangnya lembaga-lembaga pendidikan yang ia rintis dan ia kembangkan. Tercatat bahwa sejumlah lembaga yang dia rintis dan ia kembangkan mampu berkembang menjadi lembaga pendidikan yang tumbuh maju dan pesat. Lembaga-lembaga pendidikan yang bernaung di bawah Yayasan Pendidikan Agama Islam (YPAI) yang membawahi lembaga-lemabaga mulai dari SD/MI, SMP/MTs, SMA, MA dan SMK, adalah lembaga-lembaga pendidikan yang ia rintis dan ia kembangkan menjadi salah satu lembaga pendidikan yang maju saat ini di kabupaten Malang. Demikian pula halnya dengan Universitas Islam Malang (Unisma), sebuah universitas dimana ketika Kiai Tolchah menjadi rektornya, menjadi Perguruan Tinggi Percontohan Nahdlatul Ulama.

Demikian pula karakternya sebagai organisator. Kiai Tolchah merupakan Kiai yang juga tekun dalam masalah organisasi. Kegiatannya dalam organisasi yang dimulai semenjak di tebuireng ia kembangkan dalam Organisasi NU. Semenjak muda ia sudah pernah menjadi Ketua Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Pimpinan Cabang Kabupaten Malang pada era tahun 1960-an. Kelihaian dan ketekunannya dalam berorganisasi juga tampak dari lembaga-lembaga pendidikan yang ia bidani terorganisir secara sistematis dan rapi. Kiai Tolchah juga terlihat kemampuan baiknya dalam melakukan kaderisasi. Semua lembaga yang dirintisnya sudah dilepasnya untuk diserahkan kepengurusannya kepada tenaga-tenaga yang lebih muda.

Perannya dalam pemerintahan ia tunjukkan dengan pengalamannya sebagai Menteri Agama di era Gus Dur, dan ia juga pernah menjabat sebagai Badan Wakaf Indonesia (BWI). Di PBNU, KH Tholhah Hasan pernah mengemban amanah sebagai Wakil Rais Aam PBNU mendampingi KH Sahal Mahfudh. (Achmad Nur Kholis/Anam)

Bagikan:
Senin 22 Juni 2015 14:31 WIB
AHLUL HALLI WAL AQDI
Pertemuan KH Sanusi Baco dengan Gus Dur dan Pengabdiannya di NU
Pertemuan KH Sanusi Baco dengan Gus Dur dan Pengabdiannya di NU

Masyarakat Sulawesi Selatan pasti mengenail istilah Anre Gurutta, biasanya istilah ini ditujukan kepada tokoh Ulama yang telah menempati status sosial yang sangat tinggi dan telah mendapat tempat dan kedudukan terhormat di mata masyarakat Bugis Makassar. Salah satunya Anre Gurutta Haji Sanusi Baco Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan. <>

Anre Gurutta Haji Sanusi Baco adalah ulama kharismatik, pemimpin spiritual masyarakat di Sulawesi Selatan, selain menjadi Rais Syuriyah, Gurutta juga dipercaya sebagai Ketua MUI Sulawesi Selatan, Ketua Umum Yayasan Masjid Raya Makassar serta mengasuh pesantren Nahdlatul Ulum, salah satu Pesantren milik Nahdlatul Ulama di Kabupaten Maros.

Masa Kecil dan Pengalamannya bersama Gus Dur

Gurutta Sanusi Baco lahir di Maros, 4 April 1937 dengan nama Sanusi. Putra kedua dari enam bersaudara dari seorang ayah bernama Baco dan beliau lebih dikenal Sanusi Baco. Pada zaman Jepang, Sanusi kecil menjadi perawat kuda tentara Jepang di Maros. Sementara ayahnya adalah seorang mandor.

Gurutta Sanusi Baco kala muda menyempatkan nyantri beberapa guru di desanya, kemudian melanjutkan nyantri di Pondok Pesantren Darud Da’wah wal Irsyad (DDI) Mangkoso, Barru, selama 8 tahun. Setelah lulus Aliyah tahun 1958, Gurutta Sanusi Baco hijrah ke Makassar dan mengajar di beberapa tempat.

Gurutta Sanusi Baco sempat menjadi Sarjana Muda (BA) di Universitas Muslim Indonesia, kemudian setelah selesai, Sanusi Baco yang juga tokoh pendiri PMII di Sulawesi Selatan  mendapat kesempatan beasiswa dari Departemen Agama Republik Indonesia untuk kuliah di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir.

Sebagaimana yang sering diungkapkan Gurutta, ketika memberikan dakwah di hadapan warga Nahdliyin, sewaktu perjalanannya dari Indonesia ke Mesir menaiki kapal, di saat itulah beliau berjumpa dengan KH Abdurrahman Wahid atau yang lebih akrab dipanggil Gus Dur.

Gurutta Sanusi dalam perjalanan ke Mesir itu mendapatkan kesempatan mendengar cerita/humor dari Gus Dur. Gurutta heran, Gus Dur selama sebulan penuh tiap harinya bercerita/humor di hadapannya dengan cerita yang berbeda. Demikian Gurutta Sanusi mengenang pertemuannya dengan Gus Dur.

Berawal dari persahabatannya dengan Gus Dur membuat Gurutta Sanusi Baco bertekad untuk berkhidmah di NU. Setelah kembali ke Makassar, aktifitasnya adalah mengajar di Universitas Muslim Indonesia, Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Al-Gazali (sekarang UIM) dan mulai berkeliling berdakwah dan mendirikan Sekolah Tinggi Al-Gazali Cabang STAI Al-Gazali di Makassar serta sebagai Dosen Tetap di Fakultas Syariah IAIN Alauddin Makassar.

Kemudian di umur 78 tahun saat ini Gurutta Sanusi Baco setia berkhidmat di Nahdlatul Ulama. Saat ini masih aktif mengabdikan dirinya untuk memajukan pendidikan Nahdaltul Ulama sebagai Ketua Umum Dewan Pembina Yayasan Perguruan Tinggi Al-Gazali Makassar, yayasan yang menaungi Universitas Islam Makassar sebagai satu-satunya Perguruan Tinggi milik Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan.

Selain mengabdikan dirinya di Universitas Islam Makassar, Gurutta Sanusi masih aktif berdakwah dan memberikan nasehat kepada masyarakat Sulawesi Selatan dan pada tahun 2012 Gurutta Sanusi Baco dianugerahkan Doktor Honoris Causa dalam bidang Hukum Islam atau fiqh di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar. (Andy Muhammad Idris/Anam)

 

 

*Diolah dari berbagai sumber

Selasa 26 Mei 2015 14:1 WIB
KH Syamsudin Sulaiman, Pelopor NU di Kabupaten Subang
KH Syamsudin Sulaiman, Pelopor NU di Kabupaten Subang

Subang, NU Subang
Salah seorang tokoh pendiri NU di Subang, Jawa Barat adalah KH Syamsudin Sulaiman, ulama asal Malangbong, Garut ini awalnya dikejar-kejar oleh DI/TII hingga akhirnya pada tahun 1950-an tinggal dan menetap sampai mendirikan Pesantren Al-Huda di Dusun Pungangan, Desa Rancabango, Patokbeusi, Subang, Jawa Barat.<>

"Saya sangat kagum sekali dengan Mama Sepuh (Mama Syamsudin), beliau sangat tawadlu, waktu datang kesini, beliau tidak menunjukkan ke-kiai-annya, tapi lama kelamaan ketahuan juga bahwa beliau adalah seorang ulama" ungkap salah seorang santri Mama Syamsudin yang bernama Khoerudin, di kediamannya, di Pungangan, Subang, Kamis (21/5) lalu.

Kakek kelahiran 1937 ini mengungkapkan, Mama Syamsudin mulanya mendirikan sekolah agama, ketika itu Khoerun sudah berusia belasan tahun dan ditempatkan di kelas 4, untuk kelas 4 waktu belajarnya siang diisi oleh Mama Syamsudin, sementara kelas 1-3 belajar di pagi hari dan salah seorang gurunya adalah Khoerudin.

"Waktu itu saya masih belajar jadi masuk IPNU, pertama sekali ada IPNU saya ikut, saya juga kan mengajar kelas 1 jadi masuk Pergunu juga, saya juga saat itu sudah pemuda jadi masuk pemuda Ansor juga," jelasnya.

Kekaguman Khoerun pada Mama Syamsudin bertambah pada masa Pemilu 1955, saat itu para ulama di sekitar Pungangan memilih Masyumi namun Mama Syamsudin tetap teguh dengan NU dan berhasil mengubah pilihan politik ulama-ulama tersebut menjadi NU.

"Waktu itu kyai dari Rancabango, Sukamandi, Pabuaran, Purwadadi bergantian 'menyerang' Mama Sepuh mungkin maksudnya agar Mama Sepuh ikut Masyumi, kehebatan Mama Sepuh terlihat karena harusnya Mama Sepuh ikut Masyumi ini justru malah ulama-ulama itu yang jadi NU, jadi pusatnya NU dulu itu ya disini dibawa oleh Mama Sepuh," paparnya sambil menyebut nama-nama ulama yang tadinya Masyumi tersebut.

Khoerudin menyebutkan, secara organisasi, saat itu NU pungangan masih menginduk ke Kecamatan Pabuaran dan pengurus cabangnya adalah Purwakarta. (Aiz Luthfi/Fathoni)

Senin 20 April 2015 10:30 WIB
KH Mustahal Ahmad, Perintis Tiga Banom NU
KH Mustahal Ahmad, Perintis Tiga Banom NU

31 Januari 1935. Tepat pada momentum Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama ke-9, lahir seorang yang kelak menjadi tokoh pendiri IPNU, PMII, dan bahkan juga ikut membidani berdirinya IPPNU.<>

Lahir dari pasangan seorang ulama terkemuka di Kota Solo, KH Masjhud dan Nyai Syuaibah, Mustahal lahir dan dibesarkan di Pesantren Al-Masjhudiyah Keprabon Solo yang diasuh ayahnya. Nama Mustahal sebenarnya merupakan nama kecil sang ayah, sebelum akhirnya berganti menjadi Masjhud kala belajar di Tanah Suci.

Mustahal ini masih saudara seayah dengan Nyai Hj. Mahmudah Mawardi, tokoh perempuan yang pernah menjadi ketua PP Muslimat NU selama delapan periode (1950-1979). Kiai Masjhud yang dikenal sebagai seorang tokoh ulama ahli nahwu, dianugerahi lima putri (termasuk Mahmudah) dari istri pertama. Kemudian setelah istrinya wafat, ia mempersunting Nyai Syuaibah yang memperoleh keturunan Mustahal.

Alhasil, meski masih satu saudara dengan Nyai Mahmudah, namun secara usia Mustahal ini terpaut cukup jauh. Salah satu putera Nyai Mahmudah, A Chalid Mawardi bahkan menjadi kawan Mustahal sewaktu kecil, juga teman mengaji di Pesantren Al-Masjhudiyah.

“Chalid Mawardi dulu pernah dibondo (diikat) dan diludahi simbah (Kiai Masjhud), kena mata kanan,” kenang Nasirul Umam, salah satu putra Mustahal, saat NU Online berkunjung ke rumah peninggalan Mustahal beberapa waktu lalu.

Tidak banyak yang dapat dikisahkan dari masa kecil Mustahal, hingga ia menginjak masa remaja, ketika ia ikut membidani berdirinya sejumlah badan otonom NU.

Pendiri IPNU

Pada tanggal 27 Desember 1953, Mustahal Ahmad dan Chalid Mawardi bersama sekelompok pelajar SMA di Surakarta, mendirikan satu wadah organisasi yang menghimpun para pelajar NU. Organisasi ini masih bersifat lokal dan bernama Ikatan Pelajar Nahdatul Oelama (IPNO) Surakarta.

Selang dua bulan kemudian, atau tepatnya tanggal 24 Februari 1954, Mustahal mengikuti Konferensi Besar I Lembaga Pendidikan Ma’arif NU untuk merealisasikan gagasan pembentukan organisasi pelajar NU yang berskala nasional. Dalam pertemuan tersebut, turut hadir perwakilan dari Semarang dan Yogyakarta.

Perlu menjadi catatan dan pelurusan sejarah, bahwa dari berbagai penelusuran penulis ke beberapa keluarga/tokoh pendiri IPNU-IPPNU di Kota Solo, nama H. Musthafa yang menjadi perwakilan dari Solo, sejatinya bernama Mustahal Ahmad. Namun, entah karena adanya kekeliruan penulisan nama ataupun faktor lain, sehingga dalam dokumen dan catatan sejarah pendiri IPNU yang disebut hanya M. Sufyan Cholil (Yogyakarta), H. Musthafa (Solo), dan Abdul Ghony Farida (Semarang). Pada kepengurusan pertama (1954-1955) PP IPNU di bawah kepemimpinan Tolchah Mansoer, Mustahal Ahmad masuk ke dalam kepengurusan, dan tercatat dengan nama Mustahal A.M.

Selang setahun setelah ikut mendirikan IPNU, Mustahal kemudian juga merintis berdirinya organisasi kemahasiswaan NU di Kota Solo. Dirinya yang kala itu sudah menjadi mahasiswa Fakultas Syariah Universitas Cokroaminoto Surakarta mendirikan Keluarga Mahasiswa Nahdatul Ulama (KMNU) Surakarta. Boleh dikatakan, KMNU ini adalah satu-satunya organisasi mahasiswa NU yang dapat bertahan sampai dengan lahirnya PMII pada tahun 1960.

Penggerak Kaum Muda

Rumah Mustahal yang berada di kompleks Pesantren Al-Masjhudiyah, sejak dahulu menjadi rujukan para santri untuk memperdalam ilmu agama, khususnya ilmu nahwu. Santri Kiai Masjhud tidak hanya berasal dari wilayah Soloraya, namun juga dari Jawa Timur dan wilayah lainnya.

Bahkan, menurut penuturan salah satu tokoh di Solo, pada zaman itu para santri yang hendak khataman kitab Alfiyah, belum lengkap apabila belum sowan dan ditashih Kiai Masjhud. “Santri yang pernah mengaji dengan beliau banyak yang kemudian menjadi tokoh, seperti KH Maimoen Zubaer, Mbah Liem, KH Mukhtar Rosjidi, dan lainnya,” ungkap Nasirul Umam.

Termasuk mantan Menteri Agama KH Saifuddin Zuhri yang juga pernah menjadi muridnya, menyebut gurunya sebagai seorang ulama terkenal ahli nahwu. “Ilmu yang ia ajarkan mendapat jaminan mutu”, tulis Kiai Saifuddin Zuhri dalam bukunya Berangkat Dari Pesantren.

Namun, semenjak Kiai Masjhud wafat pada tahun 1950-an, Al-Masjhudiyah kemudian menjadi pesantren putri dan diasuh oleh istri Kiai Masjhud, atau yang lebih dikenal sebagai Nyai Masjhud.

Pada periode ini, banyak santri putri yang ikut mengaji di tempat tersebut, antara lain, Umroh Machfudzoh, Atikah Murtadlo, Lathifah Hasyim, Romlah, dan Basyiroh Saimuri (kebetulan sekolah mereka terletak tak jauh dari Al-Masjhudiyah). Mereka inilah yang kelak menjadi para perintis berdirinya IPNU Puteri (sekarang bernama IPPNU,-Pen). Ketika itu, Kota Solo pun menjadi kantor sekretariat IPNU Puteri.

Peran Mustahal dalam pendirian IPNU Puteri tersebut sangat vital, mengingat di samping tinggal di sekitar kompleks Pesantren, Mustahal juga mengemban amanah sebagai pengurus PP IPNU di Bagian Pendidikan. Bersama Ketua Fatayat NU Surakarta, Nihayah (Kelak menjadi istri KH Ahmad Shiddiq/ Rais ‘Aam PBNU), keduanya ikut mengawal berdirinya organisasi pelajar putri NU. Beberapa kali ia juga terlibat dalam diskusi dan dimintai pendapat oleh Umroh dkk untuk soal pendirian IPNU Puteri ini.

Hal ini, diungkapkan Nyai Umroh Mahfudloh ketika diwawancarai tim penulis buku KH Moh Tolchah Mansoer Biografi Profesor NU yang Terlupakan, tahun 2008 silam. “Dulu, saya kos di rumah Pak Mustahal Ahmad Solo. Pada saat itu, Pak Mustahal-lah yang mendukung berdirinya organisasi pelajar putri. Dia selalu menyemangati kami agar mampu secara mandiri mendirikan organisasi” kata Umroh yang menjadi Ketua PP IPPNU pada periode pertama.

Mustahal juga ikut terlibat dalam proses pendirian PMII, organisasi kemahasiswaan yang pada awalnya menjadi underbouw NU, namun kemudian menyatakan idependensi dan interdependensi-nya terhadap NU.

Pada kepengurusan PP PMII (sekarang istilahnya PB PMII) di bawah kepemimpinan Mahbub Djunaidi, Mustahal masuk dalam kepengurusan sebagai salah satu anggota pengurus bersama dua pendiri PMII lainnya yang berasal dari Surakarta Nuril Huda Suaidy (pernah menjadi ketua Lembaga Dakwah PBNU) dan Laily Mansur. Sedangkan keponakannya, A. Chalid Mawardi (mewakili Jakarta) mendapat amanah sebagai Ketua Satu.

Inisial NU

Seiring bertambahnya usia, Mustahal tak mengendurkan semangat dalam berkhidmah bersama NU. pada tahun 1970-an dan 1980-an, sembari menjadi salah satu pengajar di kampus UNU Surakarta, dirinya juga aktif di kepengurusan PCNU Surakarta, bahkan berlanjut hingga tingkat PWNU Jawa Tengah. Pada Pemilu tahun 1982, Mustahal menjadi anggota DPRD Tingkat I Propinsi Jawa Tengah mewakili Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

“Ketika itu, bapak pernah ditawari untuk menjadi anggota dewan atau Bupati di Rembang,” ungkap Nasirul Umam.

Kecintaannya pada NU tidak hanya tercermin dalam kesehariannya, hal tersebut bahkan diabadikan dalam nama putera-puterinya, yang kesemuanya diberikan nama berinisial “NU”. Mereka yakni Ni’matun Ulfa, Niswatul Umah, Najmatul Usrah, Nasirul Umam, Naimul Unsi dan Nasikhul Ukhwan.

Dalam usia 59 tahun, tepatnya pada 1 Juli 1994, H. Mustahal Ahmad, BA. menghembuskan nafasnya yang terakhir. Jenazahnya dikebumikan di Kota Solo. (Ajie Najmuddin)

 

Referensi pendukung :

- Caswiyono Rusydie dkk, KH Moh Tolchah Mansoer Biografi Profesor NU yang Terlupakan (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2009).

- Saifuddin Zuhri, Berangkat Dari Pesantren, (Yogyakarta, LkiS, 2013)

- Sejarah singkat IPNU IPPNU, buku. Kenang-kenangan Makesta IPNU IPPNU Kodya Surakarta tahun 1970

- Buku Sejarah PMII Kota Surakarta

- Wawancara dengan Nasirul Umam (cucu KH. Masjhud/putra H. Mustahal Ahmad) di Solo, 2 Juni 2014.

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG