IMG-LOGO
Daerah
JELANG MUKTAMAR KE-33 NU

Ishari Jatim akan Pecahkan Rekor MURI dengan 1926 Penerbang


Senin 6 Juli 2015 23:01 WIB
Bagikan:
Ishari Jatim akan Pecahkan Rekor MURI dengan 1926 Penerbang

Pacet, NU Online
Jam sudah menunjukkan waktu pukul 23.30 WIB. Suhu udara kecamatan Pacet yang begitu dingin ternyata tidak menyurutkan langkah panitia pagelaran seribu penerbang Ishari (Ikatan Seni Hadrah Indonesia) di agenda Muktamar ke-33 NU untuk terus melanjutkan rapat koordinasi di kantor MWC NU Pacet Mojokerto baru-baru ini.
<>
Menyongsong Muktamar ke-33 NU, Pimpinan Wilayah IshariJawa Timur berinisiatif menorehkan sebuah sejarah dengan pemecahan rekor 1000 penerbang di muktamar nanti.

Perkembangan sejak awal inisiatif pagelaran 1000 penerbang ini juga direspon oleh PWNU Jawa Timur dengan diundangnya PW Ishari Jatim pada saat rapat sidang komisi dan pleno dalam rangka penyusunan kerangka sidang muktamar. 

Dalam forum tersebut, PW Ishari juga mendapat dukungan dari PCNU se-Jawa Timur untuk masuk kembali menjadi Banom. 

“Seminggu sebelum bulan Ramadhan, PW Ishari Jatim diundang untuk mengikuti Rakerwil NU Jawa Timur dalam menyambut agenda Muktamar NU. Tercatat 2000 orang lebih penerbang yang siap mengikuti muktamar,'' kata Ketua Panitia H. M. Aji Muslikh. 

Manurutnya, muktamar menjadi media untuk memperkenalkan lagi Ishari kepada khalayak luas. Ishari adalah salah satu khazanah yang pernah lahir dari rahim NU dan berkembang luas di luar bentuk banom. 

Komunikasi dengan berbagai pihak sudah dijalin, termasuk dengan tim kreatif Muktamar NU. Dari sana, tim kreatif pusat masih mencarikan waktu yang tepat untuk kemungkinan tampilnya Ishari di agenda Muktamar. 

''Kemungkinan kami akan tampil tanggal 3-4 Agustus nanti,'' ungkap Ketua PW Ishari Jatim, H Agus Yusuf Arif. 

Terakhir kali Ishari pernah tampil di arena Muktamar ke-23 NU pada tahun 1962. Ishari diminta oleh KH Wahab Hasbulloh untuk menunjukkan kepada Muktamirin bahwa Ishari adalah salah satu bagian dari keberagaman thoriqoh yang berkembang di tubuh NU. 

Saat itu memang keadaanya sangat jauh berbeda dengan sekarang. Majlis untuk tampilnya Ishari belum didukung dengan sarana yang cukup. Bahkan para peserta Ishari yang hadir disana berangkat dengan membawa bekal uang saku sendiri dan kebutuhan masing-masing. Tapi mereka tetap berangkat dengan semangat demi mensukseskan agenda muktamar waktu itu. 

Pada waktu itu juga akhirnya Ishari menjadi salah satu rintisan badan binaan di bawah naungan Jam'iyah NU. Kemudian baru secara resmi masuk menjadi salah satu badan otonom NU di tahun 1994 berdasarkan hasil Muktamar ke-29 NU di Cipasung Jawa Barat.

Ishari sendiri berawal dari sebuah komunitas kecil jama'ah yang dirintis oleh Hadratussyekh Abdurrokhim Pasuruan (1918) yang bertujuan untuk mengajarkan dan mengenalkan kecintaan kepada Sayyidina Muhammad SAW melalui sebuah thoriqoh pembacaan sholawat. 

Dalam perjalanan naik turunnya, Ishari sebagai jam'iyah pernah menjadi banom dalam NU. Pernah turun menjadi lembaga. Pernah turun menjadi sebuah lembaga kecil dibawah binaan jamiyyah Thoriqoh NU bersama thoriqoh mu'tabaroh lainnya. Bahkan Ishari pernah menjadi sebuah organisasi tersendiri karena Ishari sudah tidak termaktub lagi dalam AD/ART NU. Namun usaha untuk terus mengokohkan keberadaan jam'iyah tetap dilakukan dengan berinsiatif mendaftarkan jam’iyyah Ishari ke Kementerian Hukum dan HAM dan telah diterbitkan badan hukum akta pendirian organisasi Ishari.. 

Perkembangan Ishari dari muktamar ke muktamar yang menyebabkan perubahan posisi secara struktural memang cukup berdampak terhadap perkembangan internal jam'iyah Ishari.

Jam'iyyah yang masih mempunyai sekitar 200.000 jama'ah yang berbasis di Jawa Timur ini mempunyai perkembangan terakhir yang cukup bagus. Tercatat jam'iyyah Ishari sudah berkembang di beberapa daerah di luar Jawa Timur. Di Jawa Tengah sudah ada di daerah Blora, Banten dan Kudus. Di Jawa Barat daerah ada di daerah Depok dan Bogor. Di Jakarta ada di Jakarta Barat dan di daerah Jakarta Utara. Kemudian Wilayah Sumatra ada di Palembang dan Medan. Jam'iyyah Ishari juga ditemukan cukup pesat berkembang di Kalimantan yang dibawa oleh transmigran-transmigran dari Jawa. 

''Alhamdulillah, kini Ishari masih menjadi salah satu lembaga binaan PWNU Jawa Timur dan perkembangan jam'iyyah secara luas sudah menyebar hampir di seluruh Indonesia,'' terang Agus M. Nuruddin, sekretaris PW Ishari Jatim. Red; Mukafi Niam

Bagikan:
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG