IMG-LOGO
Pesantren

Nabi Muhammad Bukan PNS, Berwirausahalah!

Kamis 9 Juli 2015 4:0 WIB
Bagikan:
Nabi Muhammad Bukan PNS, Berwirausahalah!

Jepara, NU Online
Direktur Eksekutif Pusat Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (Hipsi) Sulaiman menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW itu bukanlah seorang “PNS” tapi seorang saudagar. Ia telah melakukan upaya-upaya itu sejak usia muda.
<>
“Karena itu berwirausahalah,” katanya memantik peserta saat menjadi pembicara dalam Al Multaqa Al Iqtisadiyah. Ia menyampaikan hal itu pada kegiatan “Bisnis Berbasis Komunitas Jamaah Nahdliyyin” yang berlangsung di pesantren Hasyim Asyari Bangsri Jepara, Ahad (5/7).

Kepada santri-santri, Sulaiman mengajak untuk berwirausaha. Kenapa mesti wira usaha? Karena Rasul seorang wira usahawan. “Sebelum NU besar sudah digelorakan Nahdlatut Tujjar, kebangkitan saudagar,” katanya.

Ia yang juga Ketua Hipsi Jawa Timur ini prihatin angka pengusaha di Indonesia masih sangatlah minim. Padahal negara dikatakan maju apabila angka pengusaha di atas 5%. “Kita masih kalah dengan Singapura. Jumlah pengusaha di sana sudah mencapai 7%,” terangnya.

Untuk menjadi pewira usaha, menurutnya, tidak usah khawatir. Masih banyak peluang luas. Tidak perlu harus berasal dari keluarga wira usaha. Contohnya Sulaiman sendiri bapak tukang becak, sementara ibu buruh tani. Dan kini terbukti menjadi seorang wira usahawan.

Ia memanfaatkan benda yang dianggap orang lain tidak bernilai, yaitu sampah. Di tangannya, sampah hasil pertanian bisa menjadi uang. Pada Ahad, (5/7), misalnya, ia sudah menjualnya sebanyak 1 truk dengan per kg Rp1800. Sehingga ia bisa memperoleh keuntungan dari sampah yang biasanya dibakar dan digiling menjadi produk yang mempunyai nilai jual.

Karena itu dengan Hipsi pihaknya ingin mewujudkan 1 juta pengusaha yang berbasis santri. “NU itu simbolnya dunia. Kita harus bisa mengendalikan dunia. Sehingga bukan saatnya lagi kita bekerja untuk uang namun uang bekerja untuk kita,” sambung Sulaiman.

Sudah saatnya kita (santri, red) menjadi subyek bukan terus-terusan menjadi obyek. “We have a dream. Kita mempunyai mimpi. Kita yakin santri kedepan akan menjadi pemimpin,” tegasnya.

Untuk menjadi pengusaha tidak bisa ditempuh dengan jalur instan. 1 jam 2 jam langsung bisa menjadi pengusaha. Namun membutuhkan waktu. Sehingga pihaknya getol melakukan pendampingan entrepreneur secara masif.

Di usia ketiga ini Hipsi selalu melakukan aksi. Hipsi sebagai fasilitator sedangkan pelaku usahanya ialah para santri baik kelompok maupun individu. Ia berharap dari pesantren mempunyai produk sehingga mampu untuk eksitensi perekonomian pesantren.

Selain Sulaiman hadir pula sebagai pembicara KH Abdul Gaffar Rozin (RMI Jateng) dan Abdul Muiz Fansuri (Hipsi Yogyakarta). (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)


Bagikan:
Kamis 9 Juli 2015 11:1 WIB
Jalani Tradisi Nahun, Santri Tremas Memilih Tidak Mudik
Jalani Tradisi Nahun, Santri Tremas Memilih Tidak Mudik

Pacitan, NU Online
Mudik ke kampung halaman saat lebaran merupakan tradisi tahunan bagi sebagian besar umat Muslim Indonesia. Pada saat itulah terdapat momen untuk berkumpul dengan sanak saudara.  Hiruk pikuk aktivitas pemudik sudah terasa sejak pertengan bulan Ramadhan.<>

Di salah satu pesantren tertua di Pulau Jawa, Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan mudik menjelang lebaran menjadi saat yang paling ditunggu para santri. Karena Banyak kisah manis yang mengiringinya. Namun banyak pula santri yang menghabiskan hari lebaran dengan memilih menetap di pondok. Para santri tersebut bukan tidak punya bekal untuk mudik, melainkan mereka tengah menjalani tradisi nahun.

Hulki Rosyid, salah satu santri asal Pekalongan mengaku sudah dua kali lebaran tidak mudik, ia bersama ratusan santri lainya ingin menghabiskan waktu lebaranya di pondok. Walaupun kadang merasa sedih karena harus jauh dari orang tua dan tidak bisa sungkem secara langsung. Namun, karena ketulusan niatnya suka duka ia jalani untuk terus bersabar menjalani hari raya di pondok. “Mudah-mudahan semakin kerasan di pondok dan tambah semangat dalam mengaji,” ujarnya saat berbincang dengan NU Online, Rabu ( 8/7). 

Riwayat tradisi nahun yang disebut juga tirakat atau lelakon, pertama kali dilakukan oleh santri simbah guru KH. Dimyathi Abdulloh. Dimulai sekitar tahun 1900-an dimana pada saat itu perkembangan pondok sangat pesat sehingga banyak santri yang datang menuntut ilmu dari berbagai penjuru Nusantara, bahkan ada yang datang dari negara tetangga.

Mengingat letak pondok yang jauh dari kampung halaman mereka waktu itu, sementara alat transportasi juga belum ada sama sekali kecuali gerobak dan sejenisnya, maka dilakukanlah Nahun dalam arti hakiki yaitu tekun belajar dan tidak keluar dari kompleks pondok dalam jangka waktu 3 tahun ataupun 3 bulan dan 3 hari. Mengenai jangka waktu pelaksanaan Nahun sebenarnya tidak ada patokanya dan hanyalah istilah, bahkan pondok pun tidak mengatur tentang hal ini.

Ada sebuah kisah yang melatarbelakangi tradisi ini. Suatu hari simbah guru putri, Nyai Khotijah, istri KH Dimyathi Abdulloh yang sedang melakukan tirakat puasa selama 3 tahun, 3 bulan dan 3 hari, mengalami hal yang sangat aneh. Saat ia mencuci beras di sumur untuk dimasak, tiba –tiba beras tersebut berubah menjadi emas. Simbah guru putri pun kaget seraya berdoa. “Yaa..Allah, saya bertirakat bukanlah untuk mengharapkan emas atau harta benda dunia, akan tetapi saya memohon kepada-Mu, ya Allah, jadikanlah Tremas ini bagian dari masyarakat, jadikanlah keluarga termasuk Ahlul’ilmi dan jadikanlah santri-santri yang menuntut ilmu di sini menjadi santri yang barokah,” seraya membuang emas tersebut ke dalam sumur.

Setelah kejadian itu banyak santri yang melakukan tradisi nahun sebagai bentuk tirakat agar kegiatan belajarnya di Pondok Tremas senantiasa lancar dan berhasil mencapai tujuannya hingga terjun di masyarakat kelak.

Sesuai perkembangan zaman, tradisi ini tetap ditiru oleh generasi selanjutnya meskipun dengan versi yang berbeda-beda. Sekarang ini versi nahun yang berlaku di kalangan santri Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan  ada 3 yaitu, pertama tidak keluar dari kompleks Pondok Tremas, kedua tidak keluar dari wilayah Kabupaten Pacitan, dan ketiga tidak pulang ke rumahnya.

Yang berlaku umum di kalangan santri Pondok Tremas sekarang ini adalah nahun sesuai kategori kedua dan ketiga dengan waktu minimal 3 tahun, dan kebanyakan mereka yang melakukan berasal dari luar Jawa. (Zaenal Faizin/Mahbib)

 

Rabu 8 Juli 2015 23:29 WIB
Ngaji Islam Damai di Pesantren Mbareng Kudus
Ngaji Islam Damai di Pesantren Mbareng Kudus

Kudus, NU Online
Pondok pesantren Darul Falah Kauman Bareng Jekulo kabupaten Kudus menjadi tuan rumah halaqah kebangsaan bagi muballigh dan para pengasuh pesantren seprovinsi Jawa Tengah, Selasa (7/7). Halaqah yang diinisiasi Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), mencoba menggali kembali strategi dakwah Walisongo sebagai model Islam rahmatan lil alamin.
<>
Acara di pesantren peninggalan Syaikh Mujiz Dala'il Khairat KH Ahmad Basyir ini, menyuguhkan rangkaian materi terkait kajian gerakan-gerakan radikal di Indonesia yang mengatasnamakan Islam.

Hadir sebagai pemateri Rais Syuriyah PWNU Jateng KH Ubaidillah Shodaqoh yang memaparkan ihwal pribumisasi Islam di Nusantara.

Sementara pengasuh pesantren Al-Muayyad Windan kabupaten Sukoharjo KH Dian Nafi' lebih fokus menyampaikan peran pondok pesantren dalam membangun kehidupan keagamaan.

Ia menegaskan bahwa pesantren selama ini telah mempersiapkan generasi religius yang moderat dan toleran, sekaligus mampu mengimbangi perkembangan zaman.

Dosen Pascasarjana UIN Walisongo Semarang H Ahmad Muhayya berbicara seputar aktualisasi konsep dan strategi dakwah Walisongo dalam menyebarkan Islam di Jawa. Sedangkan Kepala Kantor Kementerian Agama Jateng H Ahmadi memberikan materi tentang kebijakan pemerintah dalam penanggulangan terorisme.

Acara yang dibuka oleh Kepala Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) kabupaten Kudus Jati Soelichah itu, dihadiri oleh perwakilan pelbagai ormas Islam dan pesantren di Jawa Tengah. Pembukaan halaqah ini juga dihadiri oleh segenap pejabat kepolisian dan pemerintahan kabupaten Kudus.

"Pesantren ini mengajarkan hidup bersama dengan banyak teman dari berbagai daerah berbeda. Para santri bisa toleransi, semua rukun. Banyak yang penasaran kenapa Islam di Indonesia berkembang sangat besar namun tidak terjadi penindasan. Ini karena di Indonesia kita punya pesantren, di negara lain tidak," kata pengasuh pesantren Mbareng KH Ahmad Badawi di aula pondok Mbareng itu yang diakhiri dengan buka puasa bersama dan shalat Maghrib berjamaah. (Istahiyyah/Alhafiz K)

Rabu 8 Juli 2015 7:14 WIB
Di Pondok Jadi Khadam Kiai, Pulang Kampung Bisa Ngaji, Kok Bisa?
Di Pondok Jadi Khadam Kiai, Pulang Kampung Bisa Ngaji, Kok Bisa?

Subang, NU Online
Kisah unik dalam pesantren di antaranya adalah tentang santri yang jarang ikut pengajian karena sering disuruh melakukan pekerjaan oleh kiainya. Walaupun jarang mengaji, tapi anehnya ketika pulang kampung ilmu agama santri itu malah cukup mumpuni dan juga bisa mengaji kitab gundul.
<>
Mengenai fenomena itu, K. Shalahudin, seorang pengajar di Pesantren Al-Karimiyyah, Subang, Jawa Barat, menyampaikan pandangannya kepada NU Online.

"Memang, hampir di setiap pesantren ada cerita seperti itu, di sini juga ada, santri jarang ngaji. Jarang ya, bukan tidak pernah! Dia jarang ngaji sebab sering disuruh sama Almarhum Almagfurlah (KH Abdul Karim Ali) ke sawah, kebun, nyari ini itu dan sebagainya, tapi di kampungnya malah jadi ustadz, punya pengajian, dan jamaah," katanya sambil menyebut beberapa alumni Pesantren Al-Karimiyyah.

Menurutnya, paling tidak ada beberapa hal yang mempengaruhi terhadap fenomena itu, di antaranya yaitu barokah, ridlo, dan doa kiai serta keikhlasan santri yang mengabdi.

"Pertama mungkin karena barokahnya kiai dan pesantren, kemudian misalnya kiai sering menyuruh santri A, kiai itu akhirnya ridlo sama si A ini, kan ridla Allah ada dalam ridlanya orangtua, orangtua itu bukan hanya orangtua biologis saja, tapi orangtua ideologis juga, ya kiai itu," ungkapnya.

Ia menambahkan, kiai tidak pernah ketinggalan dalam mendoakan para santrinya, terutama mendoakan agar mereka menjadi anak sholeh dan diberikan ilmu yang manfaat.

Saat berdoa, terkadang dalam hati kiai itu muncul sosok santri yang sering ia suruh, hal ini cukup wajar karena setiap hari keduanya selalu bertemu dan berdialog sehingga ada tambahan poin untuk santri yang mengabdi ini.

"Selain itu, juga faktor si santrinya ikhlas dan tawakal kepada Allah, kalau ikhlas pasti akan mendapat balasan positif dari Allah," ujarnya.

Sebab, kata dia, santri yang ikhlas dengan yang tidak akan terasa auranya, misalnya santri yang kurang ikhlash disuruh bercocok tanam, tanamannya malah mati, disuruh mengerjakan sesuatu ada saja kendalanya.

Ia pun menambahkan, santri kalau hendak pulang kampung biasanya berpamitan dan minta nasehat terakhir dari kiai, bagi santri yang diridlai kiai, selain diberi nasehat juga kadang diberi doa dan amalan tertentu.

"Itu baru yang bisa kita deteksi, belum lagi yang di luar itu pasti lebih banyak, karena banyak sekali ilmu dan rahasia Allah yang tidak bisa kita ketahui, yang jelas memang banyak yang seperti tadi, santri yang jarang ngaji karena disuruh kiai, tapi pulang dia bisa ngaji," tutupnya. (Aiz Luthfi/Mahbib)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG