IMG-LOGO
Opini

Islam Nusantara, Jaran Kepang, dan Logika Soto

Ahad 19 Juli 2015 9:0 WIB
Bagikan:
Islam Nusantara, Jaran Kepang, dan Logika Soto

Oleh: Fariz Alniezar*--Akhir-akhir ini media massa riuh dihiasi perdebatan sengit seputar Islam Nusantara. Ada banyak pihak yang pro, tak sedikit pula yang kontra dan bahkan menuding secara sepihak agenda tersembunyi di balik Islam Nusantara. 
<>
Pada tataran ini, saya sungguh teringat perkataan Cak Nur (2002). Dengan sangat jelih dan analitik, ia mengatakan bahwa dalam kurun waktu sepuluh sampai lima belas tahun yang akan datang—dari ucapan itu dikeluarkan tahun 2002—anak-anak muda NU akan menguasai wacana. Dan nyatanya sekarang ucapan itu benar belaka, wacana Islam nusantara hari ini didominasi dan digulirkan oleh anak-anak muda NU.

Tulisan pendek ini ingin memberikan sumbangsih gagasan kepada para pengkritik Islam Nusantara. Sebab dari serangkaian kritik yang dilayangkan untuk wacana Islam Nusantara selama ini, menurut saya kerap dan masih sering terjebak dan berkutat pada perdebatan terminologik, bukan epistemik.

Salah satu artikel yang mempertanyakan Islam Nusantara adalah milik saudara Faisal Ismail bertajuk “Problematika Islam Nusantara”. Artikel tersebut pada dasarnya tidak memiliki pijakan epistemologik yang kuat untuk kemudian dengan gegabah menyimpulkan bahwa istilah Islam Nusantara itu kurang tepat, dan bahkan tidak benar. Ibarat seorang koboi, saudara Faisal Ismail nampaknya baru belajar bagaimana memegang pistol sehingga arah bidikan mata pistolnya tak keruan sekaligus tidak jelas sasaran.

Sebelum masuk ke dalam ranah epistemologik, sebaiknya kita periksa dahulu apa maksud dan arti Islam dan juga Nusantara itu sendiri. Hal ini sangat vital sebagai pijakan dikursif bahwa Islam dan Nusantara yang kita maksudkan dalam terma Islam Nusntara memiliki definisi yang sama antara kita.

Islam adalah Agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang berpedoman kapada Al-Quran dan Hadist. Atau dalam bahasa yang lebih kontekstual, Islam berarti sebuah substansi nilai dan seperangkat metodologi yang bisa saja ia memiliki kesamaan atau juga pertemuan dengan substansi nilai yang berasal-muasal dari agama, ilmu atau bahkan tradisi lain di luarnya.

Sementara itu, Kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi IV mencatat bahwa lema Nusantara berarti sebutan (nama) bagi seluruh wilayah kepulauan Indonesia. Maka merujuk pada dua definisi tersebut, dan jika kita berdisiplin dengan kamus, maka Islam Nusantara adalah Islam Indonesia itu sendiri.

Setelah jelas duduk terminologisnya, maka persoalan selanjutnya adalah mendudukkan Islam Nusantara secara epistemik. Dan pada persoalan inilah apa yang di sampaikan oleh para pengkritik Islam Nusantara, termasuk Saudara Faisal Ismail, mempunyai masalah yang serius.

Para pengkritik mula-mula mengutip pendapat Abdul Ala Al-Maududi dalam bukunya Toward Understanding Islam (1966) yang mengatakan bahwa Islam tidak bisa dinisbatkan kepada pribadi atau kelompok manusia manapun karena Islam bukan milik pribadi, rakyat atau negeri manapun. Islam bukan produk akal seseorang, bukan pula terbatas pada masyarakat tertentu, dan tidak diperuntukkan untuk negeri tertentu.

Dengan mengutip pendapat Abul Ala Al-Maududi tersebut sesungguhnya para pengkritik Islam Nusantara terjebak pada pemaknaan bahwa Islam tidak bisa dilokalisirkan dalam bentuk apapun. Pelokalisiran Islam, baik dalam bentuk ekspresi, budaya, dan juga penerjemahan ritus ibadah menurutnya sama sekali tidak benar.

Pelokalisiran tersebut, lebih lanjut, menurut mereka akan melahirkan aneka varian Islam yang tidak terbilang jumlanya. Jika ada Islam Nusantara, maka kemudian hari akan muncul Islam Jawa Timur, Islam Lamongan, Islam Jawa Tengah, dan tentu saja Islam Betawi. 

Logika semacam ini sesungguhnya sangat mudah untuk dipatahkan. Sebab argumentasinya tidak berpijak pada pemahaman yang jernih pada sebuah persoalan dan cenderung membabi buta asal main kritik semata.

Para pengkritik Islam Nusantara mungkin sedikit lupa bahwa Islam adalah Agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW yang memiliki sumber utama berupa suci Al-Quran dan Hadis. Al-Quran dan Hadis di hadapan umat Islam, jika meminjam analogi istilah sehari-hari, ia ibarat segenggam padi.

Padi adalah bahan mentah. Al-Quran dan Hadis pun juga bahan mentah. Dibutuhkan sebuah kreativitas tingkat tinggi untuk mengolah bahan mentah tersebut supaya kemudian bisa dimakan. Kreativitas tersebut kemudian hari dikenal dengan istilah memasak. Dengan dimasak, padi yang mentah tadi menjelma menjadi beras dan nasi yang matang dan siap untuk kemudian dimakan.

Kreativitas dalam beragama adalah ekspresi keagamaan itu sendiri. Sebuah ekspresi keberagamaan tentu saja bersumber dari pemaknaan atas sebuah agama itu sendiri. Perbedaan menafsirkan diktum agama inilah yang kemudian hari menjelma menjadi “model” keberagamaan. Nah, model keberagamaan ini sangat banyak, dan salah satunya adalah yang berbasis kesamaan lokus dan juga kebudayaan. 

Maka dengan alur kronologis seperti itu sesungguhnya Islam Nusantara bukanlah barang baru. Ia ada secara alamiah sebagai model dan cara beragama sebuah masyarakat. Itu saja tidak lebih.


Jauh daripada itu, penting untuk dicatat bahwa bahan mentah seperti padi di atas bukan berarti tidak bisa dimakan. Kita tahu, padi bisa dimakan oleh para pemain jaran kepang yang identik dengan perangai “edan dan ngamukan”.

Oleh karena itu, di tangan masyarakat yang miskin kerativitas dalam beragama, Islam menjadi sedemikian garang dan “ngamukan”. Ciri-ciri masyarakat Jaran Kepang adalah sensitif dan reaktif dalam menerima perbedaan. Masalah pada masyarakat yang demikian ini sesungguhnya hanya satu, yakni sebab mereka memakan barang mentah bernama Al-Quran dan Hadis tersebut.

Para pengkritik Islam Nusantara nampaknya juga harus belajar dari kearifan kuliner bernama soto. Di seluruh wilayah, soto adalah sebuah makanan yang basis bahan bakunya sama. Dengan bahan baku yang sama tersebut, di tangan orang-orang yang memiliki krativitas dan kebetulan lokusnya juga berbeda soto bisa di-ijtihadi dan kemudian menjelma menjadi beraneka macam dan varian.

Soto Lamongan, soto Kudus, soto Betawi, dan juga soto Bogor kita tahu tentu saja berbeda satu dengan yang lainnya, namun percayalah pada soto-soto tersebut bahan bakunya sama, dan yang begitulah juga sebetulnya yang terjadi pada Islam Nusantara. 

Walhasil, sebagai penutup tulisan ini, izinkanlah saya mengutip secara serius petikan status facebook Gus Yahya Staquf ihwal mereka yang phobia terhadap Islam Nusantara: “Karena kau cuma tiang yang dipancang tergesa-gesa kemarin sore dan pangkalmu cuma dangkal-dangkal saja ditanam, maka engkau jadi takut setengah mati pada angin. Bahkan semilir yang segar pun kau caci dan kau kutuki. Kami pohon berakar tunjang mencengkeram jauh ke jantung ibu pertiwi kami dan menjalar memenuhi mukanya. Maka kami menyapa angin dengan senang hati. Menitipinya serbuk-serbuk sari untuk menyuburi putik-putik bunga yang indah. Demi buah-buah yang berguna bagi seluruh dunia.”Wallahu a’lam bisshawab.


*Fariz Alniezar, mengajar di Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta 

Bagikan:
Jumat 17 Juli 2015 13:2 WIB
Jalan Lurus Mudik Menuju Fitrah
Jalan Lurus Mudik Menuju Fitrah

Oleh Dr Eman Suryaman MM
Hidup harus kita maknai sebagai perjalanan. Dalam perjalanan itu dibutuhkan ritme untuk mencapai tujuan. Sekalipun jalanan lurus tanpa halangan, kita tidak boleh "aji mumpung" ngebut tanpa kontrol. Berita-berita tentang kecelakaan di jalan tol Cipali-Cirebon belakangan ini adalah contoh di mana jalan lurus tanpa hambatan justru sering membawa celaka. Kita pun turut prihatin dan berduka karenanya.
<>
Jalanan lapang tak menjamin keselamatan kalau kecepatan tidak dikendalikan. Apalagi bagi yang belum berpengalaman karena minimnya pengetahuan medan. Banyak kendaraan celaka bukan disebabkan problem eksternal, melainkan karena sebab internal. Demikian juga; banyak dari kisah kehidupan ini yang gagal atau celaka bukan karena faktor eksternal, melainkan akibat ketidakmampuan individu mengontrol dan memanfaatkan potensi dan peluang yang dimiliki diri sendiri.  

Persinggahan Ramadhan

Seperti kita membutuhkan rest-area untuk istirahat di jalan tol, dalam perjalanan hidup kita juga butuh rest-area; sebuah persinggahan untuk kendali. Sebab, hasrat serba cepat apalagi instan tak bisa sepenuhnya menjamin kebaikan.

Ramadhan adalah tempat baik, tetapi belum tentu bisa secara otomatis berguna bagi perbaikan diri karena pada ujungnya kebaikan atau keburukan manusia juga ditentukan subjek (fail). Bahkan bisa jadi puasa tidak berdampak apa-apa selain lapar dan dahaga. Sebab puasa memang bukan tujuan, melainkan alat; kendaraan untuk mencapai tujuan, yakni ketakwaan.

Dari sini kita bisa menyimpulkan, puasa memang kewajiban yang tak bisa ditawar oleh umat Islam. Tetapi pada esensi peraihan tujuannya, kita dihadapkan pilihan: apakah memilih sekadar lapar dan dahaga, atau sungguh-sungguh untuk mencapai takwa. Al-Quran memberikan kebebasan kepada manusia. Dengan modal akal itulah kita bisa menentukan pilihan-pilihan bebas untuk mengambil jalan lurus dan kita memilih menghindar jalan sesat. (Qs: Al-fatihah 6-7).

"Jalan yang lurus" adalah jalan yang hendak ditempuh oleh setiap muslim sebagai jalan yang akan membawa kita agar pada keberhasilan hidup di dunia serta-merta usaha untuk meraih keselamatan di akhirat. Makna jalan lurus tentu saja tidak sekonkret yang kita pikirkan sebagai jalan yang tidak berkelok, tidak terjal, dan mudah dilewati. "Jalan lurus" ini adalah semacam isyarat tentang kebenaran. Apa yang benar dalam Islam?

Kebenaran dalam "jalan lurus" itu mutlak hanya pada Allah Swt. Adapun dalam diri manusia harus digali dan tidak mutlak. Sebab, siapa sih yang bisa mutlak menjalankan perintah Tuhan secara kaffah (sempurna)?

Patokan mutlak terdapat pada dimensi keimanan (rukun Islam dan rukun iman). Pada dimensi praktik muamalah (interaksi antar manusia) yang diarahkan pada tujuan untuk Allah Swt, jalan lurus ibarat sebuah syari'ah yang makna esensialnya "sebagai jalan menuju sumber air". Usaha untuk tetap berada di jalan syari'ah adalah dengan upaya perumusan-perumusan berpikir dengan mengusahakan produk hukum bernama fikih (atau dalam pengertian lebih luasnya, ijtihad muamalah) di berbagai bidang secara kreatif dan benar-benar aplikatif untuk memberi rahmat bagi kehidupan sekarang.

Dengan kata lain, dalam menempuh "jalan yang lurus" kita bisa memanfaatkan banyak cara dan beragam model tindakan (amal) saleh. Terutama dalam bidang muamalah, realitas sosial kita sangat banyak memberikan kesempatan kepada umat Islam untuk berbakti pada kemanusiaan dan lingkungan hidup.

Ada banyak saudara-saudara kita yang menderita karena kekurangan. Di sanalah terbentang jalan lurus untuk berderma. Ada banyak hal-hal yang tak Islami dalam lingkungan sekitar kita seperti sampah berserakan, selokan dan got mampet hingga menyusahkan pengguna jalan. Kerja bakti bergotong-royong mengatasi lingkungan kecil seperti itu memiliki nilai yang besar karena memberi manfaat bagi ribuan orang. 

Di Jalan Fitri

Di sinilah pentingnya Ramadhan harus dikelola secara baik sebagai tempat kendali yang benar. Idul fitri adalah perayaan, karena secara harafiah berarti "hari raya kemenangan". Tetapi aplikasi pestanya bukan berlebih-lebihan dan dimensinya bukan sebatas urusan kebahagiaan individual apalagi semata bersifat duniawi, melainkan untuk aplikasi rahmat kemanusiaan.

Karena itu sebaik-baiknya Idul Fitri mestinya dimanfaatkan penuh untuk pengabdian kepada sesama. Kenikmatan bisa didapat secara personal. Tetapi kebahagiaan hanya bisa didapat dengan jalan solidaritas. Itulah mengapa kita bisa berbahagia jika kita mampu berbagi. Berbagi materi, ilmu, berbagi kebaikan tegur-sapa melalui silaturahim dan seterusnya adalah anjuran Islam.

Melalui penyelesaian puasa sebulan penuh, memang kita telah menang melawan hawa nafsu. Minimal menang melawan nafsu konsumsi berlebihan. Karena itu pada Idul Fitri nanti kita usahakan teraplikasikan dalam "perayaan" kemanusiaan dengan kegiatan antara lain; 1) bermaaf-maafan dengan kerabat, teman, saudara. Saling memaafkan artinya bersolidaritas di antara sesama manusia (hablum min al-nas). Ini merupakan bentuk lanjutan tujuan dari puasa di mana Ramadhan merupakan upaya "pembakaran dosa", dengan titik sentral persembahan kepada Allah Swt, kemudian Idul Fitri melanjutkan upaya penghapusan dosa pada sesama manusia.

Prinsip dalam Islam, jika kita sadar akan kesalahan seketika itu pula harus meminta maaf dan yang diminta juga harus berusaha memaafkan. Tetapi khusus untuk maaf-maafan Idul Fitri maksudnya adalah jika ada kesalahan yang tidak sengaja atau ada kekurangan selama berhubungan. Kemudian diperlukan saling memaafkan supaya tidak ada hutang dosa di antara sesama.  

Kedua, silaturahim sangat bermakna untuk merajut hubungan yang putus, atau menjauh. Dengan bersilaturahim kita bisa menyapa sanak-saudara dalam situasi yang akrab, menumbuhkan perhatian, mengembangkan solidaritas kemanusiaan pada kaum musta'afin, dan saling memberi makna atas kehidupan yang beragam.

Sebulan penuh berpuasa kita telah bersinggah; menyehatkan badan dengan kontrol makanan, memberi perhatian pada kaum lemah, menajamkan intuisi melalui kesabaran, memperbanyak ibadah, dan lebih penting lagi adalah mengenal kesejatian diri.

Melalui puasa dan Idul-Fitri, kita bisa menemukan diri. Sebab itulah yang penting karena filosofi kita adalah "man arafa nafsahu faqad arrafa rabbahu": barang siapa mampu memahami dirinya, maka ia akan mampu memahami Tuhannya. Selamat Mudik. Selamat Ber-Idul-Fitri. Mohon maaf lahir batin

* Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat.

Kamis 16 Juli 2015 7:1 WIB
Memahami Islam Nusantara dalam Bingkai Ilmu Nahwu
Memahami Islam Nusantara dalam Bingkai Ilmu Nahwu

Oleh Umar A.H.
Akhir-akhir ini banyak perdebatan muncul tentang “islam nusantara” yang jadi tema besar Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama di Jombang, Jawa Timur, pada 1 - 5 Agustus mendatang. Sebagian pakar setuju dengan konsep tersebut, namun tidak sedikit yang meragukan (baca : sinis) dengan gagasan tersebut karena dianggap bagian dari rangkaian proses sekularisasi, liberisasi pemikiran Islam yang telah digelorakan sejak tahun 80-an oleh Nurcholis Madjid dan Abdurrahman Wahid.<>

Sebagian lagi menilai bahwa gagasan Islam Nusantara juga berpotensi besar untuk memecah-belah kesatuan kaum Muslim, sehingga akan muncul istilah Islam Nusantara, Islam Amerika, Islam Australia, dan sebagainya. Gagasan Islam nusantara disinyalir akan memicu sikap saling menonjolkan kedaerahannya didalam eksistensinya ber-Islam. Seperti cara membaca Qur’an dengan langgam Jawa yang akan memunculkan berbagai egoisme Islam yang bersifat kedaerahan seperti gaya baca Sunda, Batak, Makassar, Aceh, Palembang.

Bagi pengusung ide “islam nusantara”, - sebagaimana dikatakan oleh Moqsith Ghazali- Ide Islam Nusantara datang bukan untuk mengubah doktrin Islam. Ia hanya ingin mencari cara bagaimana melabuhkan Islam dalam konteks budaya masyarakat yang beragam. Islam nusantara bukan sebuah upaya sinkretisme yang memadukan Islam dengan "agama Jawa", melainkan kesadaran budaya dalam berdakwah sebagaimana yang telah dilakukan oleh pendahulu kita walisongo. Islam nusantara tidak anti arab, karena bagaimanapun juga dasar-dasar islam dan semua referensi pokok dalam ber-islam berbahasa Arab.

Terlepas dari perbedaan prespektif di atas, untuk memahami istilah islam nusantara  -bagi kami orang awam-, tidak diperlukan pembahasan yang jlimet, ruwet bin ndakik-ndakik sebagaimana yang dipaparkan oleh para cendekiawan, kiai, professor, tetapi dengan memahami kata dari term islam nusantara yang mana terdiri dari dua kata yang digabung menjadi satu, atau dalam kamus santri dinamakan idhafah yaitu penyandaran suatu isim kepada isim lain sehingga menimbulkan makna yang spesifik, kata yang pertama disebut Mudhaf (yang disandarkan) sedang yang kedua Mudhaf ilaih (yang disandari).

Imam ibnu malik, pakar nahwu dari Andalusia spanyol menyatakan :

نُوناً تَلِي الإعْرَابَ أو تَنْوِينَا # ممّا تُضِيفُ احْذِفْ كَطُورِ سِينَا

وَالثَّانِيَ اجْرُرْ وانو من أَوْ فِي إذا # لَمْ يَصْلُحِ الّا ذَاكَ وَالّلامَ خُذَا

لِمَا سِوَى ذَيْنِكَ واخصص أولا # أو أعطه التعريف بالذي تلا

Terhadap Nun yang mengiringi tanda i’rob atau Tanwin dari pada kalimah yg dijadikan Mudhaf, maka buanglah! demikian seperti contoh: thuuri siinaa’

Jar-kanlah! lafazh yg kedua (Mudhof Ilaih). Dan mengiralah! makna MIN atau FI bilamana tidak pantas kecuali dengan mengira demikian. Dan mengiralah! makna LAM

pada selain keduanya (selain mengira makna Min atau Fi). Hukumi Takhshish bagi lafazh yg pertama (Mudhaf) atau berilah ia hukum Ta’rif sebab lafazh yg mengiringinya (Mudhaf Ilaih

Dari teori di atas dapat dipahami bahwa istilah islam nusantara merupakan gabungan kata islam yang berarti agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad serta kata nusantara yang dalam KBBI merupakan nama bagi seluruh wilayah kepulauan Indonesia, penggabungan ini bertujuan untuk mencapai makna yang spesifik. Namun penggabungan kata ini masih menyisakan berbagai pemahaman, karena sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Malik diatas, bahwa penggabungan (idhafah) harus menyimpan Huruf Jar (harf al-hafd) yg ditempatkan antara Mudhaf dan Mudhaf Ilaih untuk memperjelas hubungan pertalian makna antara Mudhaf dan Mudhaf Ilaih-nya. Huruf-huruf simpanan tersebut berupa MIN, FI dan LAM.

Peng-Idhafah-an dengan menyimpan makna huruf MIN memberi faidah Lil-Bayan (penjelasan) apabila Mudhaf Ilaih-nya berupa jenis dari Mudhaf. Teori ini tidak bisa di aplikasikan pada susunan Islam nusantara karena nusantara bukan jenis dari kata islam, jika dipaksakan akan memunculkan pemahaman bahwa islam nusantara merupakan islam min (dari) Nusantara, toh pada kenyataannya Islam hanya satu yaitu agama yang dibawa oleh Rasul akhir zaman.

Peng-Idhafah-an dengan menyimpan makna huruf LAM berfaidah Kepemilikan atau Kekhususan (Li-Milki, Li-Ikhtishash). Memahami dengan teori ini akan memunculkan takhsis dalam terhadap islam, islam untuk orang nusantara, realitanya islam agama yang universal, bukan agama yang khusus golongan atau bangsa tertentu.

Sedangkan Idhafah dengan menyimpan makna huruf  FI berfaidah Li-Dzarfi apabila Mudhaf Ilaih-nya berupa Dzaraf  bagi lafazh Mudhaf. Teori ini merupakan yang paling tepat digunakan dalam memahami term islam nusantara, karena sebagaimana disebut di atas kata nusantara merupakan nama bagi seluruh wilayah kepulauan Indonesia, artinya Islam Fi Nusantara, agama islam yang berada dinusantara, yaitu agama islam yang dibawa oleh Nabi yang diimani oleh orang-orang nusantara. Makna kata islam disini tidak tereduksi karena di-idhafah-kan dengan kata nusantara, karena hubungan antara Mudhaf-Mudhaf ilaih disini sebatas menunjukan spesifikasi tempat atas Mudhaf ilaih.

Dari uraian singkat diatas, dapat dipahami bahwa term Islam Nusantara bukan merupakan upaya me-lokal-kan islam, atau bahkan membuat “agama” Islam Nusantara akan tetapi usaha dalam memahami dan menerapkan islam tanpa mengesampingkan tempat islam di imani dan dipeluk.

Wa Allahu ‘Alam bi al-Shawab

Umar A.H, santri ndeso

Rabu 15 Juli 2015 7:3 WIB
Hikmah I’tikaf Bagi Kesehatan
Hikmah I’tikaf Bagi Kesehatan

Oleh Hadi Mulyanto
I’tikaf itulah kata yang sudah akrab di telinga kita. Bagi kaum laki-laki, i'tikaf sudah menjadi rutinitas biasa saat melakukan shalat Jumat di masjid. Bagi kita semua, asyrul awaakhir atau 10 hari terakhir di bulan Ramadhan adalah saat yang paling pas untuk beri'tikaf.<>

Di 10 hari akhir di bulan ramadhan i’tikaf merupakan pekerjaan yang sangat dianjurkan oleh Baginda Nabi Besar kita Nabi Muhammad SAW. Sebagaiman yang di sebutkan Ibnu Hajar Al Asqolani dalam kitab beliau Bulughul Marom, yaitu hadits no. 699 tentang permasalahan i’tikaf.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ:- أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ اَلْعَشْرَ اَلْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ, حَتَّى تَوَفَّاهُ اَللَّهُ, ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Artinya: Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau diwafatkan oleh Allah. Lalu istri-istri beliau beri’tikaf setelah beliau wafat. Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172).

الْاِعْتِكَاف هُوَ لُغَةً الْإِقَامَةُ عَلَى الشَّيْئِ مِنْ خَيْرٍ أَوْ شَرٍّ وَشَرْعًا إِقَامَةٌ بِمَسْجِدٍ بِصِفَةٍ مَخْصُوْصَة

Artinya : I’tikaf secara etimologi adalah menetapi sesuatu yang baik atau jelek. Dan secara terminologi adalah berdiam diri di masjid dengan sifat tertentu.

Dengan demikian dapat ditarik sebuah kesimpulkan bahwa i’tikaf pada dasarnya adalah sebuah proses perjalanan spiritual seseorang untuk lebih mendekatkan diri dan mengharapkan ridha Allah SWT dengan cara berdiam diri dan merenung di dalam masjid.

Tujuan I’tikaf

Tujuan i’tikaf adalah sebagai berikut:

  1. Mendekatkan diri kepada Allah.
  2. Melaksanakan Sunah Rasul.
  3. Agar hati bersimpuh di hadapan Allah.
  4. Berkhalwat (menyendiri) dengan Allah.
  5. Memutuskan hubungan sementara dengan sesama makhluk dan berkonsentrasi sepenuhnya kepada Allah.

Syarat I’tikaf

  1. Harus niat di dalam hati. (Saya niat i’tikaf karena Allah Ta’ala). Kalau i’tikaf nadzar, maka dia harus niat nya juga i’tikaf nadzar.
  2. Harus bertempat di dalam masjid. Menurut Kitab Taqrib i’tikaf akan di katakan syah kalau di dalamnya serambi masjid. Sehingga kalau di luar serambi masjid maka tidak syah.

Syarat Orang yang I’tikaf

  1. Syarat orang yang i’tikaf adalah harus Islam, berakal, suci dari haid, nifas dan jinabah.
  2. Maka tidak syah i’tikaf yang dilakukan oleh orang kafir, gila, haid, nifas, dan orang junub.
  3. Jika orang yang melakukan i’tikaf murtad atau mabuk, maka i’tikafnya menjadi batal.

Tata Cara I’tikaf

  1. Orang yang melakukan i’tikaf nadzar tidak diperbolehkan keluar dari i’tikafnya kecuali karena ada kebutuhan manusiawi seperti kencing, berak, dan hal-hal yang semakna dengan keduanya seperti mandi jinabah.
  2. Karena udzur haidl atau nifas. Maka seorang wanita harus keluar dari masjid karena mengalami keduanya.
  3. Karena udzur sakit yang tidak mungkin berdiam diri di dalam masjid.Semisal dia butuh terhadap tikar, pelayan, dan dokter.
  4. Dia khawatir mengotori masjid seperti sedang sakit diare dan beser.
  5. Sakit yang ringan seperti demam sedikit, maka tidak diperkenankan keluar dari masjid disebabkan sakit tersebut.

Hal-Hal Yang Membatalkan I’tikaf

  1. I’tikaf menjadi batal sebab melakukan wathi atas kemauan sendiri dalam keadaan ingat bahwa sedang melakukan i’tikaf dan tahu terhadap keharamannya.
  2. Adapun bersentuhan kulit disertai birahi yang dilakukan oleh orang yang melakukan i’tikaf, maka akan membatalkan i’tikafnya jika ia sampai mengeluarkan sperma. Jika tidak, maka tidak sampai membatalkan.

Hikmah I’tikaf bagi Kesehatan

Menurut Prof. dr. H. Dadang Hawari. Guru Besar tetap Universitas Indonesia menyatakan bahwa Hikmah I’tikaf adalah sebagai berikut :

  1. Meningkatkan daya tahan tubuh.
  2. Bermanfaat bagi kesehatan jiwa dimana batin menjadi lebih tenang dan bisa membangkitkan kekuatan baru.
  3. Menghidupkan kembali hati dengan selalu melaksanakan ketaatan dan ibadah kepada Allah SWT.
  4. Untuk merenungi masa lalu dan memikirkan hal-hal yang akan dilakukan di hari esok.
  5. Mendatangkan ketenangan, ketentraman dan cahaya yang menerangi hati yang penuh dosa.
  6. Mendatangkan berbagai macam kebaikan dari Allah SWT Amalan-amalan kita akan diangkat dengan rahmat dan kasih sayang-Nya
  7. Orang yang beri’tikaf pada sepuluh hari terkahir akhir bulan Ramadhan akan terbebas dari dosa-dosa karena pada hari-hari itu salah satunya bertepatan dengan lailatul qadar.

Demikian i’tikaf begitu dahsyatnya hikmah yang di dapat bagi kaum muslimin dan muslimat yang mau melaksanakan. Begitu mudah dan murahnya ajaran Islam dalam memberikan solusi tentang kesehatan bagi umat_Nya. Beruntunglah orang yang mau mengikuti ajaran_Nya. Mari beri’tikaf guna meraih ketenangan jiwa !. Jiwa tenang keluarga senang !.

Ust Hadi Mulyanto, Alumnus Pondok Pesantren Ma’hadut Tholabah Babakan Lebaksiu Tegal.

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG