IMG-LOGO
Tokoh
AHLUL HALLI WAL AQDI

KH Abuya Muhtadi Dimyathi, Mufti Syafi’iyyah Nasionalis dari Banten

Selasa 21 Juli 2015 15:1 WIB
Bagikan:
KH Abuya Muhtadi Dimyathi, Mufti Syafi’iyyah Nasionalis dari Banten

KH Abuya Muhtadi Dimyathi Al-Bantany yang bernama kecil Ahmad Muhtadi dilahirkan di Kampung Cidahu Desa Tanagara Kecamatan Cadasari Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten dari pasangan KH Abuya Dimyathi Bin KH M. Amin Al-Bantany dan Nyai Hj. Asma' Binti KH ‘Abdul Halim Al-Makky pada 26 Desember 1953 M / 28 Jumadal Ula 1374 H. <>

Pendidikan agama awal diperolehnya waktu masih sekolah di SR Tanagara dari ibundanya, karena ayahandanya Abuya Dimyathi Amin pada waktu itu masih Siyahah (berkelana) di Pondok Pondok Pesantren di Nusantara sekaligus bersilaturrahim, bertabarruk dan tholab pada para ulama sepuh kala itu.

Setelah tamat SR pada tahun 1965 M ia diajak oleh ayahandanya untuk ikut Siyahah sambil terus menerus digembleng pendidikan agama dalam pengembaraan selama 10 tahun, dan pada tahun 1975 M. Ia mengikuti Ayahandanya Iqomah di Kampung Cidahu Desa Tanagara Kec. Cadasari Kab. Pandeglang Banten sambil merintis Pondok Pesantren.

Meski telah memimpin pesantren, bukan berarti ia berhenti digembleng oleh ayahandanya, karena ia masih terus menerus dihujani lautan ilmu oleh ayahandanya sampai akhir hayat ayahandanya pada 3 Oktober 2003 M / 7 Sya’ban 1424 H. Walhasil ia badzlul wus’i, mengerahkan seluruh kemampuannya didalam mendalami ilmu agama selama 38 tahun, dan ia berhasil mengkhatamkan banyak Kitab ulama salaf dari berbagai fan (cabang) sampai berulang ulang dan dikaji dengan sistem pendidikan pesantren salaf huruf demi huruf.

Dari fan ilmu tafsir, ia mengkhatamkan Tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabary (Tafsir terbesar) dan Tafsir Ibnu Katsir. Dari fan Qiro'ah ia tidak cuma ahli dalam Qiro'ah Sab’ah tapi juga ahli dalam Qiro'ah ‘Asyaroh disamping juga Hafidz Al-Qur'an. Dari fan Ilmu Al-Qur'an Beliau mengkhatamkan Al-Burhan, Al-Itqon dan lain-lain. Dari fan hadits ia mengkhatamkan Kutub As-Sittah, dari fan fiqih ia sampai mengkhatamkan Tuhfatul Muhtaj, Mughnil Muhtaj, Asnal Matholib, dan dari fan-fan lainnya yang ada 14 Fan.

Tidaklah berlebihan kalau ia disebut dengan Mufti Asy-Syafi’iyyah karena sudah mengkhatamkan dan menguasai 4 Kitab pedoman Muta'akhkhirin As-Syafi’iyyah (Tuhfatul Muhtaj, Mughnil Muhtaj, Nihayatul Muhtaj, Asnal Matholib) dan Kitab Raudlatut Tholibin (Pegangan Para Mufti), dan disebut dengan Al-Mutafannin (Orang yang menguasai berbagai Fan Ilmu Agama), dan disebut dengan Al-Musnid karena sudah disahkan untuk mengijazahkan Kitab Sanad Kifayatul Mustafid karangan Syaikh Mahfudz At-Tarmasy, dan disebut dengan Al-Mursyid karena ia juga menguasai 14 fan Thariqah dan menjadi Mursyid Thariqah Asy-Syadziliyyah, dan disebut dengan Syaikhul Masyasikh (Kyainya Para Kyai) karena di setiap hari terutama hari Sabtu, Ahad dan Senin di Majlis Ta’lim ia berkumpul para kiai alim ulama seantero Banten untuk menyerap ilmu agama tingkat tinggi yang ia ajarkan meneruskan Majlis Ta’lim yang diasuh oleh ayahandanya, dan pada saat ini ia membaca dan mengajarkan Kitab Raudlatut Tholibin, Mughnil Muhtaj, Tuhfatul Muhtaj, Nihayatul Muhtaj, Al-Ihkam Fi Ushulil Ahkam, Al-Ghunyah Li Tholibi Thariqil Haq, Ihya Ulumiddin, Shohih Muslim, An-Nasyr Fi Qiro'atil ‘Asyr dll. Dan yang sangat jarang dimiliki oleh orang lain adalah ketajaman Bashirah/Mata Bathin Beliau, karena Beliau adalah seorang Ulama yang ahli tirakat, bahkan semenjak umur 18 tahun sampai sekarang Beliau masih menjalani Shaumuddahri/puasa setiap hari bertahun tahun.

Salah satu fatwanya yang menunjukkan bahwa ia adalah seorang ulama nasionalis adalah fatwanya tentang Pancasila, HTI dan Ormas sejenisnya berikut ini:

Dengan ini saya Abuya Muhtadi Dimyathi (Ketua/Imam M3CB) berfatwa bahwa Pancasila adalah :

قاعدة كلية أقامها من قبلنا لإصلاح من بين سابنج وميروكى

Artinya : Dasar Negara yang bersifat global mencakup keseluruhan komponen bangsa yang dirumuskan dan disahkan oleh tokoh-tokoh sebelum kita untuk kemashlahatan seluruh rakyat NKRI dari Sabang sampai Merauke yang terdiri dari beragam Agama, ras dan suku.

dan juga saya berfatwa bahwa :

ألحاتيئي ومن نحا نحوهم ليس إلا أنهم قوم مسلمون أقاموا في بلدتنا التي قاعدتها فنجاسيلا ويريدون إزالتها محقرين ومهينين بانيها ومدعين بأنهم طاغوت, وذلك نوع من البغي, والبغي كبيرة. فلما كان كذلك فحرام في الجملة                                                               

Artinya : HTI Hizbut Tahrir Indonesia dan ormas-ormas Islam lainnya yang sejalan dengan HTI tiada lain kecuali kaum muslimin yang menetap di negara kita Indonesia yang punya dasar Pancasila dan misi kaum muslimin tersebut adalah menghilangkan Pancasila, mereka juga menghina dan meremehkan tokoh-tokoh perumus dan pengesah Pancasila dan menganggap bahwa tokoh-tokoh perumus Pancasila adalah taghut. Perbuatan seperti itu adalah salah-satu macam  pemberontakan terhadap Negara, padahal memberontak negara itu dosa besar, maka HTI dan ormas-ormas Islam yang sejalan dengan HTI itu hukumnya harom dalam beberapa masalah/situasi dan kondisi.

Demikianlah sekilas biografi KH Abuya Muhtadi Dimyathi Al-Bantany yang penulis ketahui langsung dari beliau aqwaalan wa ahwaalan, semoga kita dapat mengambil hikmahnya. Amiin ya Rabbal ‘Alamiin.

M. Hubab Nafi’ Nu’man, Santri Abuya Muhtadi, Instruktur Nasional Pendidikan Kader Penggerak NU

Bagikan:
Senin 20 Juli 2015 14:1 WIB
AHLUL HALLI WAL AQDI
Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Sosok Pelayan Umat
Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Sosok Pelayan Umat

Suasana langit pada pagi di hari kedua Lebaran, Sabtu (18/7) lalu, cukup cerah bahkan menjelang siang tergolong terik. Namun, keadaan tersebut tak membuat luntur semangat orang-orang untuk hadir ke Majelis Kanzus Sholawat yang terletak di Jalan Dr. Wahidin No. 70 Pekalongan.<> Mereka hadir untuk mengikuti pengajian dan acara halal bi halal yang diselenggarakan rutin setiap tahunnya.

Usai membaca dzikir bersama dan mendengarkan mauidhoh hasanah, satu-persatu jamaah berbaris dengan tertib, menunggu giliran mereka untuk bersalaman dengan seorang tokoh yang mereka anggap sebagai seorang mursyid, guru dunia dan akhirat. Dialah Habib Luthfi, salah satu tokoh ulama yang kini menjadi Rais ‘Aam Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah (JATMAN).

Ulama yang bernama lengkap Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya tersebut, dengan penuh kesabaran menerima tangan-tangan yang seakan tiada kunjung berhenti untuk bersalaman dengannya. Sesekali, seorang dari jamaah atau disebut para murid tersebut mengutarakan sesuatu kepada abah, panggilan akrab para murid kepada Habib Luthfi, entah mengemukakan sebuah pertanyaan atau meminta untuk didoakan.

Ketokohan Habib Luthfi di kalangan jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) ini tergolong begitu lengkap baik dari sanad keilmuan maupun nasab keturunan. Selain karena keilmuannya, ia mewarisi berbagai sanad thariqah mu’tabarah dari berbagai gurunya, secara nasab Habib Luthfi juga merupakan seorang keturunan tokoh pendiri NU, yang konon namanya tak mau disebut dalam sejarah pendirian NU.

Disampaikan Habib Luthfi beberapa tahun lalu dalam sebuah pengajian Harlah NU di Pekalongan, kakeknya yang bernama Habib Hasyim bin Yahya merupakan ulama, selain Mbah Kiai Kholil Bangkalan, yang dimintai restunya oleh KH Hasyim Asy’ari ketika hendak mendirikan NU.

Pelayan Umat

Habib Luthfi adalah sosok pelayan umat sejati. Dalam kesibukannya sebagai Ketua MUI Jawa Tengah dan pendakwah, setiap hari, rumahnya di kawasan Noyontaan Gang 7, Pekalongan, Jawa Tengah, selalu marak oleh tamu yang datang dari berbagai daerah di tanah air. Hampir 24 jam, pintu rumah ayah lima anak itu selalu terbuka untuk ratusan orang yang datang dengan berbagai keperluan. Mulai dari minta restu, mohon doa dan ijazah, sampai konsultasi berbagai problematika kehidupan. Biasanya mereka akan merasa tenang setelah mendapat nasihat.

“Mereka kan tamu saya, sudah menjadi kewajiban saya untuk menghormati tamu. Karena itu, saya selalu terbuka,” demikian jawab Habib Luthfi ketika ditanya tentang para tamunya.

Habib Luthfi juga menularkan ilmunya melalui majelis taklim yang digelar seminggu dua kali. Selain kajian mingguan, setiap ba’da Subuh hari Jumat Kliwon, Habib Luthfi juga membacakan kitab Jami’ul Ushul fil Auliya’.

Di antara tiga majelisnya, pengajian malam Rabu dan Jum’at pagi itulah yang selalu dihadiri ribuan umat hingga menutup Jalan Dr. Wahidin. Meski banyak mengkaji tasawuf, majelis taklim tersebut terbuka untuk siapa saja.

Satu hal yang khas, biasa disampaikan Habib Luthfi dalam setiap kesempatan ia mengisi ceramah pengajian di berbagai daerah, ia mendorong masyarakat untuk mencintai bangsa ini dengan setulus hati, serta menumbuhkan kebangaan akan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ditegaskan olehnya dalam sebuah acara pengajian, bagaimanapun keadaan bangsa ini, sejelek apapun kita mesti bangga dan mengakuinya sebagai tanah air. “Indonesia tanah airku tanah tumpah darahku, ini lagu atau seremonial? Ini semestinya menjadi iqror, sejauh mana pengakuan kita terhadap Indonesia sebagai tanah airku. Tunjukkan Indonesia tanah airku, tidak hanya dalam lagu, tapi juga dalam perilaku,” tegasnya. (Ajie Najmuddin)

Sabtu 18 Juli 2015 9:0 WIB
AHLUL HALLI WAL AQDI
Buya Leter, Sosok Pemegang Teguh Agama dengan Adat
Buya Leter, Sosok Pemegang Teguh Agama dengan Adat

Tidak banyak ulama yang mampu memahami pertautan agama dengan adat Minangkabau di Sumatera Barat. Di tengah mencuatnya Islam Nusantara yang mengakar dan tumbuh di tengah masyarakat Indonesia, di Sumatera Barat dikenal ungkapan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS SBK). 
<>
Ungkapan ini menempatkan bagaimana adat Minangkabau yang sudah ada di tengah masyarakat Minangkabau dapat diselaraskan dengan nilai-nilai agama Islam. Adat yang sudah duluan ada di tengah masyarakat, tidak dipertentangkan dengan Islam. Namun bagaimana  adat tersebut dapat dijiwai dengan nilai-nilai agama. Buya Leter adalah sosok pemegang teguh perpaduan tersebut. 

Sosok A'wan PBNU Buya Drs. H. Tuanku Bagindo Mohammad Leter, yang masuk dalam daftar 39 ulama yang diusulkan sebagai calon anggota Ahlul Halli wal Aqdi merupakan ulama Minang yang mampu memadukan adat Minang dengan nilai-nilai Islam yang ada di Sumatera Barat.  Buya Leter kelahiran Pakandangan 16 April 1934, diangkat menjadi tuanku di Surau (Pesantren) Mato Aia, Pakandangan, Kabupaten Padangpariaman, Sumatera Barat tahun 1971. Itu artinya  Leter sudah diakui sebagai tamatan pesantren dan memiliki pengetahuan agama.

Sebelumnya, Buya Leter sudah belajar di Madrasah MIT Pakandangan tahun 1948. Melanjutkan pendidikan ke SMP Persatuan Guru Indonesia Bukittinggi (1948) dan menamatkannya di SMP IPP Bukittinggi tahun 1953. Masuk Sekolah Guru dan Hakim Agama (SGHA) Negeri tahun 1956 di Yogyakarta. Dari sana, Leter menamatkan sarjana muda IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 1964 Fakultas Tarbiyah. Sedangkan sarjana lengkap diselesaikan tahun 1970 di tempat yang sama.

Pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari kolonial Belanda, tahun 1947-1948 Leter bekerja di bengkel senjata Mobil Brigade (sekarang Brimob) di Bukittinggi. Dari sana, menjadi Tentara Pelajar (1948-1949) di Bukittinggi. Tamat SGHA, Leter diangkat menjadi PNS di Kabupaten Bengkalis, ditempatkan di Bagansiapi-api menjabat Kepala Sekolah Pendidikan Guru Agama Pertama (PGAP) Alwashliyah (1957-1961).

Ketika di Yogyakarta tahun 1954, Leter turut aktif dalam pendirian Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama bersama Prof.Dr. KH Chatibul Umam (sekarang salah seorang pengurus PBNU). Di tengah sibuk menyelesaikan kuliah tahun 1966, dipanggil mengikuti wajib militer untuk SEPACAD-AD di Bandung. Setelah mengikuit latihan 6 bulan, muncul kebimbingan antara ingin meneruskan karir militer, menyelesaikan sarjana lengkap IAIN dengan kembali ke PNS. Akhirnya, melalui SK Menteri Agama, 31 Agustus 1967 ditugaskan menjadi Penilik Pendidikan Agama di Kabupaten Padangpariaman. Hanya dua bulan kemudian, Bupati Padangpariaman Mohammad Noer memintanya jadi anggota DPRDGR Padangpariaman dari Partai Nahdlatul Ulama, terpilih menjadi Wakil Ketua I DPRDGR Padangpariaman hingga 1971.

Dari Padangpariaman, Leter pindah bertugas ke Departemen Agama Sumatera Barat. Sebagai ulama, dipercaya sebagai Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumbar (1975-1991). Tahun 1979 Leter diminta menjadi pengurus Golkar. Leter menolak karena semua orang tahu ia dari Partai NU dulunya.

"Kalau Buya tidak masuk, tidak ada ulama di Golkar. Siapa yang akan memberikan nasehat jika dibutuhkan. Jangan-jangan orang lain yang tidak jelas keulamaannya. Setelah berkonsultasi dan restu dari tokoh NU di Sumatera Barat, saya pun bersedia. Karena tujuannya juga untuk berdakwah, menegakkan Islam Ahlussunnah Waljamaah. Ternyata langsung ditempatkan di jajaran Wakil Ketua DPD Golkar Sumatera Barat," kenang Buya Leter, yang dua periode menjadi anggota DPRD Sumatera Barat, kepadaNU Online Selasa (14/7/2015) di kediamannya, kawasan Ulakkarang Padang.

Setelah tidak di politik, aktifitas Leter tidak pernah sepi. Berdakwah ke berbagai masjid, surau,  majelis taklim. Belum lagi berbagai pertemuan ilmiah, seminar, pelatihan, workshop dan diskusi. Sebagai Wakil Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) periode 2005-2010, Leter semakin memiliki ruang memadukan adat Minangkabau dengan agama Islam. Leter paham betul bagaimana perpaduan adat Minang  dan Islam sebagaimana  ungkapan  Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS SBK). Dengan jejak rekam itu, nyaris tidak ada masyarakat di Sumatera Barat yang tak kenal dengan Buya Leter ini. Banyak tokoh nasional yang datang ke Sumatera Barat, Buya Leter turut mendampinginya.

Penulis buku, Tuntutan Rumah Tangga Muslim dan Keluarga Berencana ini, belakangan sering mengisi dakwah di Stasiun TVRI. "Materi yang disampaikan Buya Leter menarik, simpel dan mudah dipahami. Saya senang dan sering nonton," tutur Pengurus PP Lesbumi M. Dinal kepada NU Online  beberapa waktu lalu di Jakarta.

Aktivitas organisasi yang dilalui  Leter diantaranya, Sekretaris  Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia Bukittinggi (1950-1952), Ketua Umum Persatuan Pelajar Sekolah Guru (PPSG) Daerah Istimewa Yogyakarta (1955-1957), Pengurus Cabang PII (Pelajar Islam Indonesia) Cabang Yogyakarta  (1954-1956), Sekretaris Dewan Mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (1964-1966), Wakil Ketua Presiden MMI (Majelis Mahasiswa Indonesia) Yogyakarta (1965-1967), Ketua Koordinator Dema/Sema Universitas dan Perguruan Tinggi Islam  DI. Yogykarta ( 1965 - 1967), Pengurus Ex. Tentara Pelajar/ Pelajar Pejuang Sumatera Tengah Komisaris Daerah Sumatera Barat (1980), Anggota LAKSUSDA Penanggulangan Bahaya Komunis Kodam III/ 17 Agustus (1981-1983), Wakil Ketua PKBI Prop. Sumatera Barat (1981-1989), Wakil Sekretaris Panitia MTQ tingkat Nasional ke XIII  di Sumatera Barat (Padang) (1982-1983), Wakil Ketua PDK Kosgoro Prop. Sumatera Barat (1986-1991), Ketua Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Propinsi Sumatera Barat (1988-1993), Ketua Satkar Ulama Prop. Sumatera Barat  (1994-1999), Wakil Ketua I PMI  (Palang Merah Indonesia) Prop. Sumatera Barat  (1994-sek.), Wakil Ketua LPTQ (Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran) Prop. Sumatera Barat ( 1999-sek.), Ketua Umum Ikatan Mubaligh Sumatera Barat (2002-sek.), Musytasar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Sumatera Barat (2003 – 2004), Wakil Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Sumatera Barat (2005 – 2010) dan sekarang A'wan PBNU (2010-2015). (armaidi tanjung)

Rabu 15 Juli 2015 3:1 WIB
AHLUL HALLI WAL AQDI
Nuh Ad-Dawami, Ajengan bil-Kalam wal-Qolam dari Garut
Nuh Ad-Dawami, Ajengan bil-Kalam wal-Qolam dari Garut

Santri-santri Pondok Pesantren Nurulhuda Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut, Jawa barat, kerap menulis nama gurunya dengan NUh Ad-Dawami. N dan U yang kapital sebagai takaran kekentalan gurunya kepada NU. Guru yang selalu membicarakan Aswaja dan NU kepada santri-santrinya. Bahkan di pengajian umum.   
<>
Nama lengkapnya Nuh Ad-Dawami. Ia lahir Garut, Jawa Barat tahun 1946. Sejak usia 12 tahun, ia nyantri ke berbagai pesantren; mulai Pesantren Kubang, Munjul, Al-Huda (Garut), Cikalama (Sumedang), Sadang (Garut), Cibeureum (Tasikmalaya). Di antara pesantren-pesantren itu, ia nyantri paling lama di Al-Huda, dibawah bimbingan Ajengan KH Syirojuddin. Sebelum mukim (1968), ia kembali nyantri di pesantren tersebut.

Ajengan Nuh tinggal di Cisurupan, sekitar 35 km dari pusat kota Garut. Ia aktif di NU mulai dari bawah, dari tingkat Ranting. Kemudian MWCNU sampai di tingkat kabupaten. Dan kini, ia menjadi salah seorang Musytasar PWNU Jabar.  Dalam ber-NU, menurut dia, kekompakan antara syuriyah dan tanfidziyah ibarat suami dan istri. Syuriyah bagaikan suami dan tanfidziyah seperti isteri. Keduanya adalah orang tua bagi warga NU. Tentunya harus akur dan memberikan contoh dengan perilaku yang akhlakul karimah bagi anak-anaknya agar mereka bertindak baik dan saleh.

Sementara hubungan NU dan pesantren, menurut dia, harus saling menjaga laksana hutan dan macan. Hutan akan jadi sasaran empuk pembalakan liar bila ditinggalkan macan. Sebaliknya, bila macan meninggalkan hutan, paling banter nasibnya hanya menjadi penghuni kebun binatang. 

Untuk pesantren, Ajengan Nuh menekankan soal kaderisasi pelanjut. Para pelanjutnya sedari awal harus dipelihara pikiran dan hatinya. Harus seimbang. Jangan sampai pesantren hanya mengedepankan tasawuf, karena itu akan tertipu. Jangan pula melulu fiqih, karena itu akan menipu. 

Sementara NU, sebagai organisasi yang mepertahankan dan memperjuangakan Alussunah wal Jamaah, yang paling esensi dipegang adalah sikap “at-tawasuth”, yakni tengah-tengah. Orangnya disebut “mutawasith”, penengah. Seorang mutawasith, wajib kiranya menyimpan enam prinsip ini, ar-ri’ayah (kepemimpinan), dzulhimmatil’aliyah (idealistis), al-mujahadah (patriotis), riyadlotunnafsi (melatih jiwa dengan latihan), al-akhlakul karimah (akhlah luhur), hubbul’isyatil akhiroh (lebih mencintai kehidupan akhirat).

Ajengan Bilkalam 
Sejak aktif di PCNU Garut awal tahun 1990an, ia kerap ceramah ke MWC-MWCNU. Tapi kemudian mulai tahun 1998, hal itu menjadi kegiatan rutin bulanan. Kini berarti 17 tahun sudah sang Ajengan Nuh melakukannya. 

“Harita mah ka Garut Selatan teh di 3 titik. Bungbulang, Cisompet, Singajaya (waktu itu, ke Garut Selatan berceramah di tiga tempat. Bungbulang, Cisompet, dan Singajaya),” katanya kepada NU Online beberapa waktu lalu. Pengajian di tiga titik tersebut dihadiri para ajengan NU dari kecamatan sekitar. Tempatnya biasanya di masjid atau di pesantren. 

Pengjian ke Cisompet kemudian berhenti setelah salah seorang tokoh penggerak pengajian, Ajengan Anwar, meninggal dunia tahun 2005. Sementara di Singajaya berhenti di tahun 2010 karena jalanan hancur berat. Sampai sekarang belum ada perbaikan. Sementara ke Bungbulang masih berlanjut karena panitia masih aktif dan jalanan masih bisa ditempuh. 

Menurut penilaian Ajengan Nuh, orang Garut selatan tetap memintanya berceramah bukan karena ia dianggap ajengan kharismatik. Tapi lebih karena dia tidak menyalahkan dan mencaci pihak lain. Di Masjid Besar Bungbulang, misalnya, ia dijadikan penceramah penyeimbang. Sebab di situ berkembang pesat pemahaman agama berhaluan keras. Orang Bungbulang menyebutnya Islam Baiat. Islam jenis itu, menganggap orang yang belum masuk golongannya sebagai kafir, harus diislamkan kembali. Islam tersebut sudah merambah setiap desa di Garut Selatan. Selain itu, masih kuat juga Islam bergaya DI/TII. 

Tapi menurut salah seorang jamaah dari Ranca Buaya, Veri Ardiansyah, yang hadir pada pengajian di Liung Gunung, dalam pengajiannya, Ajengan Nuh mampu menyederhanakan hal-hal yang rumit. Di sisi lain sang ajengan ahli bahasa Sunda dengan gaya yang murwakanti. Soal ini, diakui Ajengan Nuh sendiri, ia sering dikirimi majalah Mangle beragam edisi (sebuah majalah berbahasa Sunda sejak tahun 1950an) oleh salah seorang tokoh NU Garut, Enas Mabarti. 

Selain ke Bungbulang, ia juga rutin berceramah ke Selawi, Garut utara, juga tiap bulan. Di samping mengajar santri di pesantren yang dipimpinnya, Nurulhuda, ia juga sering diundang ceramah ke hampir seluruh kecamatan Garut. Kemudian jangkauannya kini ke daerah-daerah lain di Jawa Barat dalam berbagai acara, mulai peringatan Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj, pernikahan, dan lain-lain.

Salah satu kebiasaannya adalah tepat waktu. Ada cerita khusus Ajengan Nuh tentang waktu. Ketika ia masih nyantri di pesantren Cilendek, Tasikmalaya, sekitar tahun 1966-an, kampungnya menyelenggarakan peringatan Hari Besar Islam. Ratusan orang sudah berkumpul di depan panggung. Panitia gelisah menanti penceramah undangan datang. Tapi sampai usai yang ditunggu, tidak hadir tanpa kabar berita. 

Waktu itu, Nuh sampai menitikkan air mata mendapati kekecewaan lautan hadirin. Dalam hati ia bicara, jika Allah memberinya kemampuan berceramah, ia akan mendatangi tiap undangan. Walaupun tidak diberi apa-apa, pasti datang. Kedua, ia tidak akan membuat panitia gelisah menunggu dengan hadir, paling lambat, sejam sebelum waktunya. 

Kemudian seperti diakuinya sendiri, sampai kini, ia tak pernah abai mengahadiri undangan yang sudah disepakati. Dan selalu datang lebih awal. Soal tepat waktu, diakui salah seorang menantunya, Irham Ali. Menurut Irham, Ajengan Nuh tak ingin membuat orang lain menunggu. Ia juga tak akan menunggu orang lain, jika akan mengganggu ketepatannya waktunya. 

Ajengan Nuh mengakui sebagai penceramah untuk kalangan masyarakat bawah. “Levelna bapak mah keur level bawah (level bapak untuk masyarakat biasa). Saya dicetak untuk orang kampung,” ungkapnya. 

Penceramah harus tahu kapan, dimana, dan siapa yang dihadapi. Juga jangan datang ke undangan dengan sombong untuk memberi tahu mereka. Niatkan saja dengan mengingatkan mereka dan diri sendiri. 

Karena semua orang senang dengan ketawa, menurut Ajengan Nuh, penceramah harus pandai berhumor. Tapi ia membatasi humor ceramahnya dengan ketat. Bukan humor jika membuat satu pihak senang, tersakiti pihak lain. “Contohnya melecehkan orang pincang, buta mata sebelah. Itu bukan humor. Itu penghinaan,” tegasnya. 

Soal tarif, ia mengkritik sebagian penceramah, meski dengan gaya humor, menyebut amplopnya harus besar. Ia mencontohkan perkataan yang mengatakan, karena perjalanannya jauh, amplopnya harus tebal. “Nyontoan teu baleg ka mustami’ (itu mencontohkan tidak baik kepada pendengar, red.). Itu geus hubbud dunya (sikap seperti tandanya orang cinta duniawi, red). Ulah samisil kitu (jangan seperti itu, red.),” tegasnya. 

Menurut dia, penceramah seperti itu merendahkan harga dirinya sendiri. Perkataan penceramah seperti itu akan diterima oleh telinga manusia, tapi ditolak hati manusia. “Saya sering malu, jika ada orang mengundang bertanya berapa tarifnya. Pokoknya saya sehat, saya sampai.”

Urusan uang, tak ingin membuat susah orang mengundang. Sebab menurut dia, wama min dabbatin fil-ardhi ila allahi rizquha. Ia pernah punya pengalaman untuk menghadiri undangan ke Kuningan, Jawa Barat. Padahal waktu itu hanya cukup untuk bensin. Ia tidak risau. “Belum sampai pengajian, saya sudah menerima uang,” kenangnya. Di sana, ada orang-orang yang mengaku kenal dan sudah lama menunggunya datang. Padahal ia merasa belum pernah bertemu dengan mereka. “Jadi, saya tidak risau dengan rezeki,” katanya.

Lagi-lagi ia mengkritik gaya penceramah yang terkenal di televisi yang pernah datang di kampungnya. Penceramah itu menyebutkan bahwa tarif biasanya 10 juta. Untuk orang kampung sini boleh kurang. Menurut dia, jangan seperti itu. Orang akan mendengar dengan telinganya. Sementara hatinya menolak.

Berceramah harus ikhlas, jangan dijadikan lapangan untuk menumpuk kekayaan, melainkan pangabdian. Ketika masih menggunakan motor, ia pernah mendorongnya karena ban kempes hingga belasan km, melewati tanjakan Halimun yang panjang dan curam. “Bukan menjadi kekecewaan, tapi inilah berjuang di jalan Allah. Zaman Rasulullah bercucuran darah. Kita cuma bercucuran keringat,” katanya.  

Ketika awal-awal menjadi penceramah tahun 1968, ia selalu berjalan kaki. Sekali waktu ia diundang kke daerah Cukang Batu. Ia jalan kaki menempuh jarak 40 km melewati hutan dan sungai. Waktu itu tak pernah diberi uang. Paling juga gula atau ayam. “Teu naon-naon (tidak apa-apa, red.),” katanya. 

Ajengan bil-qolam 
Selain dengan lisan (kalam), Ajengan Nuh juga berceramah dengan tulisan (qolam). Dari tangannya, mengalir puluhan karya tulis. Tapi sayang, belum terdokumentasi dengan rapi.  Menurut puteri ketiganya, Ai Sadidah, karya ayahnya dalam bentuk tukilan dari kitab lain dan terjemahan. “Setiap bulan puasa, pasti melahirkan karya tulis. Dan kitab itulah yang akan dikaji selama sebulan bersama santri,” katanya. 

Karya-karya masih ditulis tangan karena Ajengan Nuh tidak bisa mengetik. Ia pernah membeli mesin tik, tapi tidak nyaman, disamping tidak ada fasilitas menulis huruf Arabnya. Menurut putera keempatnya, Cecep Jaya Krama, karya-karya ayahnya pernah diketik orang lain menggunakan komputer. Ketika diperiksa Ajengan Nuh ditemukan salah tulis, ia tak percaya orang lain menuliskannya kembali. 

Ajengan Nuh menulis menggunakan bahasa Sunda, Indonesia, dan Arab. Penggunaan abjadnya ada yang berhuruf Latin, umumnya Arab Pegon. Sementara bentuk penulisannya, ada yang naratif dan syair. Secara umum, karya-karya itu bernuansa tasawuf, tauhid, balaghah, di samping nahwu dan fiqih. 

Cecep menjelaskan alasan sebagain besar karya ayahnya menggunakan bahasa Sunda. Hal itu untuk mempermudah pemahaman santri yang rata-rata orang Sunda. Juga melestarikan bahasa Sunda itu sendiri.

Ajengan Nuh menulis sejak dipercaya menjadi Rais Syuriyah PCNU Garut tahun 1993. Ia kemudian sering berceramah di hadapan kiai-kiai. Sastrawan Sunda yang waktu itu jadi Ketua PCNU Garut, Enas Mabarti, tertarik akan ceramah-ceramahnya yang bernas. Enas mengusulkan cermah-cermahnya untuk ditulis. 

Sekitar tahun 1995, ia mulai menuliskan ceramahnya untuk keperluan khutbah Jumat, Idul Fitri dan Idul Adha. Mulai tahun 2000an ia mulai menulis di luar keperluan khutbah. Lahirlah karya dalam bidang Ilmu Bayan, Ilmu Ushul Fiqh, Bab Tarawih, Bab Syahadat. “Secara serius dalam satu buku seperti Bentang Salapan, sejak tahun 2000,” kata Cecep.

Di antara karya lain adalah Mustika Akidah: Widuri Pamanggih, Tauhid Praktis ala Thariqah Ahli Sunah wal-Jamaah, Peperenian Lantera Cacaang Jalan Ambahan Kabagjaan Jalma Awam, Taraweh Qiyam Ramadhan, Tutungkusan Permata, Tauhid Amaly Ahlu Sunah wal-Jamaah, Hizb Tafrij Kurab Qodhai Hajati (Sanjata Panyinglar Kasusah Nutupan Pangabutuh), Al-Mukhtashar fi Tauhidy wa-Ta’biruhu bil-Adzkari, Karakteristik Ahl Sunah wal-Jamaah, al-Muhtaj Ilaih. 

Salah satu karya dalam bentuk syair bidang ilmu tauhid, menurut Ajengan Nuh, muncul saat mengajar santri-santrinya sebait demi sebait. Kemudian ia meminta santri-santri untuk menghafalnya. Setelah semua hafal, baru dituliskan. (Abdullah Alawi)
 


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG