IMG-LOGO
Opini

Quraish Shihab dan Islam Nusantara

Jumat 24 Juli 2015 14:1 WIB
Bagikan:
Quraish Shihab dan Islam Nusantara

Oleh Fathurrahman Karyadi
Kita patut bangga memiliki ulama pakar tafsir Al-Qur’an terkemuka alumnus Al-Azhar Mesir. Ia tak lain adalah Prof. Dr. M. Quraish Shihab. Selama bulan Ramadan kemarin, setiap hari menjelang imsak dan berbuka puasa ia tampil di saluran televisi swasta untuk menerangkan isi kandungan Al-Qur’an. Buku biografinya berjudul Cahaya, Cinta dan Canda M Quraish Shihab baru di-launching di Jakarta pada Rabu 8 Juli 2015.  
<>
Selain itu, Pak Quraish juga kerap mengisi ceramah agama di berbagai masjid. Penulis pernah mengikuti ceramahnya beberapa hari yang lalu. Awalnya, penulis mengira bahwa penyusun Tafsir Al-Mishbah itu akan menerangkan tafsir Al-Qur’an sebagaimana di layar kaca, ternyata tidak. Dengan sangat memukau, mantan menteri agama RI itu mengemukakan pandangannya terkait tema yang sedang hit belakangan ini, yaitu “Islam Nusantara”.

Menurut Pak Quraish, istilah “Islam Nusantara” bisa saja diperselisihkan. Terlepas setuju atau tidaknya dengan istilah tersebut, ia lebih terfokus pada substansi. Islam sebagai substansi ajaran. Islam pertama turun di Makkah lalu tersebar ke Madinah dan ke daerah-daerah lain, Negara Yaman, Mesir, Irak, India, Pakistan, Indonesia dan seluruh dunia. Islam yang menyebar itu bertemu dengan budaya setempat. Pada mulanya, Islam di Makkah bertemu dengan budaya Makkah dan sekitarnya. Akulturasi antara budaya dan agama ini—sebagaimana di tempat lain kemudian—oleh Islam dibagi menjadi tiga. 

Pertama, adakalanya Islam menolak budaya setempat. Pak Quraish mencontohkan budaya perkawinan di Makkah. Kala itu ada banyak cara seseorang menikah. Salah satunya, terlebih dahulu perempuan berhubungan seks dengan 10 laki-laki lalu kalau hamil, si perempuan bebas memilih satu dari mereka sebagai suaminya. Ada kalanya juga dengan cara perzinaan yang diterima masyarakat kala itu. Dan, ada lagi pernikahan melalui lamaran, pembayaran mahar, persetujuan dua keluarga. Nah, yang terakhir inilah yang disetujui Islam, sedangkan budaya perkawinan lainnya ditolak. Ini pula yang dipraktikkan Rasulullah SAW ketika menikahi Khadijah RA. 

Kedua, Islam merevisi budaya yang telah ada. Lebih lanjut, Pak Quraish memberi contoh, sejak dahulu sebelum Islam orang Makkah sudah melakukan thawaf (ritual mengelilingi Kakbah). Namun, kaum perempuan ketika thawaf tanpa busana. Alasan mereka karena harus suci, kalau mengenakan pakaian bisa jadi tidak suci, maka mereka menghadap Tuhannya dengan apa adanya alias “telanjang”. Kemudian Islam datang tetap mentradisikan thawaf akan tetapi merevisinya dengan harus berpakaian suci dan bersih, serta ada pakaian ihram bagi yang menjalankan haji dan umrah. 

Ketiga, Islam hadir menyetujui budaya yang telah ada tanpa menolak dan tanpa merevisinya. Seperti budaya pakaian orang-orang Arab, yang lelaki mengenakan jubah dan perempuan berjilbab. Oleh Islam budaya ini diterima. 

Alhasil, kesimpulannya ialah jika ada budaya yang bertentangan dengan Islam maka ditolak atau direvisi, dan jika sejalan maka diterima. Inilah prinsip Islam dalam beradaptasi dengan budaya. “Jadi Islam itu bisa bermacam-macam akibat keragaman budaya setempat. Bahkan adat, kebiasaan dan budaya bisa menjadi salah satu sumber penetapan hukum Islam,” tutur Pak Qurasih.

Melihat pemaparan Pak Quraish ini kita bisa menilai, jika memang ada budaya di bumi Nusantara yang bertentangan dengan Islam maka dengan tegas kita harus menolaknya seperti memuja pohon dan benda keramat, atau meluruskannya seperti tradisi sedekah bumi yang semula bertujuan menyajikan sesajen untuk para danyang diubah menjadi ritual tasyakuran dan sedekah fakir miskin. Dan, jika ada budaya yang sesuai dengan syariat Islam maka kita terima dengan lapang dada, seperti ziarah kubur dalam rangka mendoakan si mayit, meneladaninya serta dzikrul maut (mengingat mati).  Inilah wajah Islam Nusantara.  

Jilbab dan Langgam Jawa

Ada hal yang menarik dalam ceramah Pak Quraish itu. Beberapa jamaah mengkritisi pemikiran Pak Quraish terkait jilbab dan membaca Al-Qur’an dengan langgam Jawa, seperti yang terjadi di Istana Negara tak lama ini. 

Menanggapi hal itu, Pak Quraish balik bertanya, “Anda pernah lihat foto istri Ahmad Dahlan, istri Hasyim Asy’ari, istri Buya Hamka, atau organisasi Aisyiyah? Mereka pakai kebaya dengan baju kurung, tidak memakai kerudung yang menutup semua rambut, atau pakai tapi sebagian. Begitulah istri-istri para kiai besar kita. Apa kira-kira mereka tidak tahu hukumnya wanita berjilbab? Pasti tahu. Tapi mengapa mereka tidak menyuruh istri-istrinya pakai jilbab?”

Kritikan mengenai jilbab bagi ayah Najwa Shihab itu bukan hal yang baru. Pada tahun 2009, dalam sebuah talkshow bertajuk Lebaran bersama Keluarga Shihab di sebuah saluran televisi, Pak Quraish mengemukakan pendapatnya yang dinilai cukup kontroversial. Ia juga menulis buku tentang pendapatnya itu dengan judul Jilbab, Pakaian Wanita Muslimah: Pandangan Ulama Masa Lalu & Cendikiawan Kontemporer.  

Sebagaimana diketahui, soal pakaian wanita muslimah, para ulama berbeda pendapat setidaknya ada tiga pandangan. Pertama, seluruh anggota badan adalah aurat yang mesti ditutupi. Kedua, kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Ketiga, cukup dengan pakaian terhormat. Dalam hal ini, Pak Quraish lebih condong pada pendapat yang terakhir. 

Seorang pakar tafsir Al-Qur’an di Jawa Timur, KH A Musta’in Syafi’i pernah menulis artikel menarik tentang hal ini. Ia menuturkan, memang jilbab itu berasal dari budaya, tapi sudah ditetapkan menjadi syari’at. Ia lebih melihat sisi aksiologis, di balik pesan nash yang tidak sekedar bertafsir seputar teks, melainkan memperhatikan pula efek hikmah dan tujuan pensyari’atan jilbab atau tutup aurat itu. “Apakah pendapat Pak Quraish itu jawaban nurani keagamaanya atau sekedar membela diri?” ungkapnya. 

Pak Quraish tak pernah merasa bosan menanggapi pertanyaan seputar jilbab, bahkan sesudah melampaui tiga dekade, ketika ia dicap sebagai cendekiawan yang membolehkan wanita muslimah tak berjilbab. Jika ada waktu luang, ia dengan senang hati memenuhi undangan diskusi atau seminar seputar jilbab. “Dan, pendapat saya seputar itu tak berubah, atau belum berubah,” tegasnya dalam buku Cahaya, Cinta dan Canda M Quraish Shihab (hal.255).

Mengenai membaca Al-Qur’an dengan langgam Jawa, Pak Quraish berpandangan boleh. Menurutnya, membaca Al-Qur’an boleh pakai lagu mana saja asal huruf dan tajwidnya benar.  “Anda boleh pakai langgam Jawa, Sunda, sedangkan saya pakai langgam Bugis misalnya, silakan saja karena itu yang Anda anggap enak dan sedap didengar orang,” paparnya. 

Rahmat Bukan Laknat

Sebagian hasil ceramah Pak Quraish di atas penulis share di media sosial Facebook. Banyak tanggapan pro dan kontra terkait hal itu. Seorang teman yang kini sedang study di Al-Azhar berkomentar, “Quraish Shihab habis dibantai ketika di Mesir. Tak usah dibanggakan, ngatur anak sendiri aja nggak becus. Kecerdasan seseorang diukur bukan dari cara dia lolos dari perdebatan. Dia pandai di depan orang awam belum tentu lolos debat dengan sesama ulama apalagi di depan Allah. Beragamalah yang benar sesuai tuntunan Rosul. Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy'ari keduanya bukanlah Rosul”. 

Maka dengan berusaha santun meredam emosi penulis menanggapi; (1) Saya dan kami semua tetap membanggakan Pak Quraish, ahli tafsir negeri ini. Masalah dibantai karena pendapat itu wajar. Ia sudah berijtihad, bukankah orang yang berijtihad kala benar dapat dua pahala dan kala salah dapat satu pahala. Beliau banyak jasanya, bayangkan ayat-ayat Al-Qur’an seluruhnya diterjemah-ditafsiri. Mengapa hanya karena segelintir pendapatnya yang berbeda dengan kita lantas dimusuhi, dibenci? Kalau pun Anda membenci ya bencilah pendapatnya yang itu saja, bukan semua pendapatnya, apalagi orangnya. Tuhan melarang kita saling benci. (2) Nggak becus membina anak? Ingat Pak Quraish manusia biasa. Jangankan dia, anak Nabi Nuh AS saja tidak beriman, itu sederajat nabi. Justru kalau Pak Quraish selalu benar itu tidak wajar, bisa jadi beliau malaikat bukan manusia? intermezoo (3) Kita tidak mungkin bisa kenal Rasul SAW tanpa bantuan ulama-ulama kita. Toh, Nabi bersabda ulama adalah pewarisnya. Contoh mudahnya, kita tidak mungkin bisa berhaji-umrah tanpa bimbingan ketua rombongan, kalau berangkat sendiri bisa-bisa nyasar dan salah ritual. 

Salah seorang famili Pak Quraish, Amna Alatas, menuturkan kepada penulis “Ami (demikian dia menyebut Pak Quraish) memang sepertinya sudah kebal dengan komentar-komentar miring tentang dirinya. Taushiyah Ami bukan untuk semua kalangan, banyak orang yang belum bisa terima karena tidak tahu persis esensinya. Kalau diambil sepotong-potong tanpa penjelasan selanjutnya memang artinya bisa jadi kontroversi”.  

Di negeri kita tampaknya memang sering terjadi perbedaan pendapat dalam keislaman, mulai hal kecil sampai besar, termasuk istilah “Islam Nusantara” yang digaungkan oleh Nahdlatul Ulama dan istilah “Islam Berkemajuan” oleh Muhammadiyah. Belum lagi, ormas-ormas lain di luar keduanya. 

Maka, sebagaimana Pak Quraish, kita sepakat tidak perlu berkutat pada istilah, namun lebih pada substansi. Dengan demikian, umat Islam di negeri ini akan lebih saling menerima, dan menjadikan perbedaan sebagai rahmat bukan laknat. Wallahu A’lam. 
* Editor dan Alumnus Pesantren Tebuireng, Jombang.

Bagikan:
Selasa 21 Juli 2015 13:33 WIB
Lebaran, Bareskrim, dan Islam Nusantara
Lebaran, Bareskrim, dan Islam Nusantara

Oleh: Ahmad Faiz MN Abdalla 
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Lebaran merupakan momentum untuk meningkatkan spirit membangun kehidupan berbangsa dan bernegara. Kepala Kepolisian RI Jenderal Badrodin Haiti, misalnya, menyatakan akan menjadikan perayaan Idul Fitri tahun ini momen untuk melakukan revolusi mental terhadap jajaran kepolisian (Tempo, 17 Juli 2015). Selain itu, Ketua DPR RI Setya Novanto berharap Idul Fitri bisa dijadikan momentum untuk mengembalikan perekonomian Indonesia (Antara, 17 Juli 2015).
<>
Adapun Ketua MPR Zulkifli Hasan mengatakan bahwa silaturahmi dan kebersamaan pada Hari Raya Idul Fitri menjadi energi sosial bagi bangsa Indonesia. Energi tersebut yang membuat Indonesia berhasil melewati berbagai krisis. "Kita pernah selamat tahun 1945, kita pernah selamat tahun 1965, kita pernah selamat tahun 1998, adalah karena kita memiliki energi sosial yang besar. Lewat Idul Fitri inilah antara lain kita mendapatkan energi sosial itu," katanya melalui siaran pers MPR.

Dalam meningkatkan spirit membangun tersebut, bangsa ini tentu perlu menggali kembali nilai luhur dan jiwa bangsa yang diwariskan oleh leluhur bangsa. Hal tersebut dilakukan untuk mewujudkan pembangunan Indonesia berwatakkan Nusantara. Oleh karena itu, sangat tepat bila spirit Islam Nusantara gencar dihembuskan akhir-akhir ini agar menjadi spirit umat Islam dan bangsa Indonesia dalam merayakan Lebaran tahun ini untuk membangun Indonesia ke arah lebih baik.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun menunjukkan dukungannya terhadap spirit Islam Nusantara. Ia mengatakan Islam Nusantara yang sudah mengakar dalam jiwa Muslim di Indonesia sangat berpengaruh besar dalam menjaga keutuhan NKRI. Hal tersebut disampaikannya dalam membuka Istighotsah Akbar menyambut Ramadhan 1436 H sekaligus pembukaan Munas Alim Ulama NU dan Hari Lahir Pancasila di Masjid Istiqlal lalu.

Jokowi pun meminta seluruh ormas Islam termasuk PBNU agar ikut menjadi tonggak penyangga Islam Nusantara. Tidak hanya itu, Jokowi juga mengingatkan agar PBNU juga ikut bersumbangsih memecahkan berbagai persoalan bangsa seperti persoalan sosial, ekonomi, hukum dan lain-lain (Republika, 14 Juni 2015).

Yang harus dipahami, Islam Nusantara diteguhkan bukan hanya untuk memelihara Islam yang ramah dan toleran di negara ini. Seperti yang telah dijelaskan Ahmad Ali MD (2015), bahwa al-Kulliyat al-Khams sebagai paradigma Islam Nusantara telah tercermin dalam Pancasila yang merupakan produk budaya bangsa. Oleh sebab itu, spirit Islam Nusantara hendaknya turut menguatkan posisi Pancasila sebagai paradigma dalam bidang hukum, politik, ekonomi, dan bidang kehidupan berbangsa dan bernegara lainnya.

Dalam hal penegakan hukum, misalnya, spirit Islam Nusantara dan Pancasila diwujudkan melalui pemahaman hukum yang holistik, yakni pemahaman hukum yang tidak berhenti semata pada perspektif formal-legalistik, namun juga menampung perspektif sosiologis dan memperhatikan kemaslahatan dalam masyarakat. Pemahaman tersebut akan membawa hukum selain pada pemenuhan aspek kepastian hukum, juga pada pemenuhan keadilan dan kemanfaatan.

Namun disayangkan, spirit Islam Nusantara tersebut justru kurang ditunjukkan oleh pemerintah dalam hal penegakan hukum. Penetapan tersangka terhadap dua komisioner Komisi Yudisial (KY) Suparman Marzuki dan Taufiqurrahman Syahuri oleh Bareskrim Polri atas kasus pencemaran nama baik Hakim Sarpin Rizaldi dirasakan kurang bijaksana dan kurang sejalan dengan penegakan hukum yang bersemangatkan Islam Nusantara.

Dalam penetapan tersangka tersebut, harus diperhatikan bahwa delik yang dijadikan dasar penetapan merupakan delik pencemaran nama baik. Dalam teori hukum pidana, delik tersebut diklasifikasikan sebagai delik aduan. Berbeda dengan delik biasa, delik aduan merupakan delik yang perkaranya dapat dicabut sehingga dapat dicarikan jalan keluar lain tanpa dipidana. 

Selain itu, delik pencemaran nama baik yang diatur dalam UU ITE  dan Pasal 310-321 KUHP sering disebut sebagai delik karet karena sangat lentur dan dijadikan alat untuk memidana siapapun yang dianggap berseberangan. Sebagian pendapat mengemukakan sebaiknya rumusan pasal-pasal tersebut diubah menjadi rumusan delik materiil atau menghapuskan delik tersebut, sehingga murni menjadi delik perdata agar kebebasan berekspresi dan berpendapat benar-benar terlindungi tanpa ada perasaan khawatir akan dipidana.

Melihat riwayat delik tesebut, akan lebih baik bila Bareskrim mendahulukan mendamaikan atau memediasi Hakim Sarpin dan kedua komisoner KY daripada memproses hukum perkara tersebut. Banyak alasan dan pertimbangan yang dapat digunakan oleh Bareskrim sebagai dasar untuk mendahulukan mediasi dalam perkara tersebut.

Pertama, Bareskrim tentunya menyadari bahwa penetapan tersangka tersebut akan menghambat kinerja KY serta membuat hubungan antarlembaga negara menjadi serba sulit. Kenyataannya, putusan Hakim Sarpin memang banyak mendapat kritikan, terlebih oleh KY yang memang berwenang mengawasi hakim. Bila kemudian Hakim Sarpin menganggapnya sebagai pencemaran nama baik, alangkah baiknya Bareskrim tidak langsung memproses secara formal dan mempertimbangkan kualitas delik dengan ekses bagi penegakan hukum.

Jimly Asshidiqie (2015), misalnya, menyatakan bahwa keputusan Bareskrim meningkatkan laporan Sarpin ke tingkat penyidikan justru akan berekses buruk bagi penegakan hukum di Indonesia. Di satu sisi keputusan tersebut, menurut Jimly, malah menunjukkan tidak adanya jiwa kenegarawanan di jajaran petinggi lembaga penegak hukum. Ia berkata, penegak hukum seharusnya tidak melihat undang-undang sebatas prosedur formal.
 Selain itu, ada pendapat yang mengatakan bahwa penetapan tersangka tersebut mengabaikan Undang-Undang tentang Komisi Yudisial (UU KY). Pasalnya, undang-undang tersebut mengatur bahwa segala dugaan pelanggaran yang dilakukan pimpinan KY akan diselesaikan melalui Dewan Kehormatan KY. Menurut Miko Ginting (2015), pidana adalah pilihan terakhir apabila mekanisme lain sudah diterapkan sebelumnya. 

Tidak berlebihan bila kemudian banyak yang menengarai apa yang dilakukan Bareskrim tersebut merupakan upaya pelumpuhan KY. Terlebih, KY baru saja menjatuhkan sanksi kepada Hakim Sarpin. KH Said Aqil Siroj pun memahami bila masyarakat pada ahirnya berpendapat seolah-olah ada sesuatu di balik penetapan tersangka komisioner KY.

Kedua, seharusnya Bareskrim pun mempertimbangkan psikologi masyarakat yang hendak menyambut Lebaran. Masyarakat seharusnya berada dalam suasana kebahagiaan dan kebersamaan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas bulan Ramadhan yang dikaruniakan dan kemenangan besar yang diperoleh setelah menjalankan ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan penuh. Tidak berlebihan bila Lebaran disebut sebagai energi sosial bangsa Indonesia.

Dengan demikian, seharusnya Bareskrim dan Pemerintah sedapat mungkin menciptakan suasana yang mendukung untuk membangun persatuan dan kebersamaan di hari Lebaran sebagai momentum penting meningkatkan spirit membangun bangsa. Bukan sebaliknya, perkara yang seharusnya dapat diselesaikan dengan baik justru menjadi kegaduhan di tengah masyarakat. Wallahua’lam bisshowab....
* Penulis adalah Pelajar NU Gresik

Senin 20 Juli 2015 16:1 WIB
Islam Nusantara dan Islam Sehari-hari: Potret Respon dan Tantangan Gagasan Islam Nusantara di Desa
Islam Nusantara dan Islam Sehari-hari: Potret Respon dan Tantangan Gagasan Islam Nusantara di Desa

Oleh : Faisol Ramdhoni *
Berawal dari Deklarasi “Islam Nusantara” sebagai tema Muktamar ke-33 NU saat Munas Alim Ulama Nahdlatul Ulama (NU) di Masjid Istiqlal (14/6/2015) sampai saat ini gagasan ini ramai dalam perbincangan. Tudingan, pembelaan, ledekan berikut aneka bentuk tanggapan bermunculan mewarnai jagad pemikiran keIslaman di Indonesia. Tidak hanya di media massa, lalu lintas perdebatan malah lebih gaduh di medan sosial media. 
<>
Menariknya, walaupun gagasan Islam Nusantara ini dikumandangkan oleh NU namun di sebagian internal komunitas Nahdliyin masih menuai kritikan dan penolakan.  Sejumlah kiai/ulama NU, pesantren NU serta warga NU lainnya  terkesan masih kurang menerima dengan pengistilahan Islam Nusantara tersebut. Akibatnya, sikap pro kontra tidak hanya terjadi di komunitas di luar NU namun juga terjadi di internal NU sendiri. 

Di tengah hingar bingar sikap pro kontra di internal NU terkait gagasan Islam Nusantara tersebut, tak ada salahnya untuk sejenak menengok respon dan sikap warga nahdliyin. Bagi penulis upaya ini cukup reflektif  untuk mengukur sejauh manakah jamaah NU di pedesaan merespon dan memahami gagasan Islam Nusantara tersebut?. Sebab, di desa lah kekuatan transformasi gerakan NU bertempat dan memiliki basis kekuatan.  Legitimasi kebesaran NU berangkat dari amaliyah NU yang dipraktekkan warga Nahdliyin di desa seperti: tahlilan, yasinan, manaqiban, dibaan, sholawatan dan sebagainya.

Tulisan ini mencoba mengungkapkan catatan-catatan reflektif hasil perjumpaan dengan  jamaah NU di desa. Rangkuman sederhana dari hasil berinteraksi dengan komunitas Nahdliyin di Desa Karanggayam dan Desa Bluuran Kabupaten Sampang.  Sebagaimana diketahui bersama, dua desa ini merupakan basis NU yang fanatik dan dikenal sebagai bekas terjadinya konflik Sunni-Syiah. Selain itu, faktor kedekatan penulis dengan tokoh dan  warga setempat sangat membantu dalam proses berkomunikasi lebih dalam. Walaupun dilakukan dengan cara yang bisa dibilang “tidak ilmiah” namun proses yang bergulir secara alamiah dengan  silaturrahmi, berdialog, berdiskusi dan terlibat langsung dengan kegiatan-kegiatan keagamaan warga kiranya dapat dinilai cukup representatif untuk menggambarkan realitas yang sebenarnya dalam konteks respon terhadap Islam Nusantara.

Islam Sehari-hari

Sebagaimana masyarakat Madura pada umumnya, Agama bagi warga dua desa ini  adalah Islam. Agama ini sudah meresap dan mewarnai kehidupan sosial, mulai dari cara berprilaku, berpakaian, cara makan, bahkan cara tidur pun mengikuti ajaran agama. Posisi tidur warga seperti posisi mayat membujur ke utara dan menghadap arah kiblat. Islam telah benar-benar menjadi ruh, sehingga belum diketemukan di kedua desa tersebut ada warga yang menyatakan diri bukan Muslim, atau menyatakan diri pindah dari agama Islam ke agama lain, sekalipun keislaman mereka  hanya bertaraf Islam KTP bukan Islam ongghu (Islam sejati, Islam maksimalis).  

Kepatuhan, ketaatan, atau kefanatikan warga pada agama Islam yang dianut sudah lama terbentuk. Mereka sangat patuh menjalankan syariat agama Islam seperti: melakukan shalat lima waktu, berpuasa, zakat, bersedekah dan bersungguh-sungguh dalam hal agama. Hasrat mereka untuk naik haji sedemikian besar, sama dengan hasrat mereka memasukkan putranya ke pesantren. Itulah sebabnya mengapa seorang kiai dan haji sebagai guru panutan mendapat tempat terhormat di mata warga.

Pun begitu dengan tradisi kegamaan yang mereka jalankan, praktek-praktek amaliyah NU menjadi pemandangan yang memenuhi kegiatan keagamaan warga sehari-hari. Kelompok-kelompok yasinan, dibaan maupun sholawatan begitu banyak jumlahnya. Acara ritual-ritual kegamaan seperti selametan, mauludan dan sebagainya yang dikatakan banyak pihak sebagai praktek-praktek tradisi “Islam Nusantara” tersebut amat lazim ditemukan di rumah-rumah warga.  

Tidak hanya itu, praktek-praktek tradisi lokal seperti tradisi mukka’ bumih (selametan saat mau bangun rumah), tradisi nampaneh pasah (selamatan awal Ramadhan), tradisi ter- ater saat Idul Fitri dan  lainnya kerap dilakukan warga. Meskipun tidak sesemarak dulu -sebagaimana diungkapkan salah satu tokoh agama di desa tersebut— namun mayoritas warga masih meyakini bahwa praktek-praktek adet (adat/tradisi lokal) itu berkaitan erat dengan doktrin agama tentang pahala dan surga. Dalam artian, ketika mereka mampu menyelenggarakannya maka keyakinan akan medapatkan tambahan pahala dan perlindungan dari Allah SWT sehingga bisa selamat dunia akhirat dan akhirnya masuk surga.

Praktek ibadah dan tradisi kegamaan sebagaimana diungkapkan di atas itulah, oleh warga kemudian disebut  dengan istilah “Islam Sehari-hari”.  Bagi mereka, istilah “Islam sehari-hari” ini memberikan pengertian pelaksanaan ajaran Islam baik terkait  tata cara peribadatan, ritual maupun tradisi keagamaan lainnya yang telah dilakukan dan diturunkan serta ditanamkan oleh para leluhur maupun pendahulu mereka dalam praktek-praktek kegamaan keseharian masyarakat .

“Islam sehari-hari” merupakan ajaran Islam yang didapatkan dari ulama/kiai  saat leluhur mereka, orang tua mereka bahkan mereka sendiri yang saat ini masih hidup menimba ilmu agama Islam di pesantren.  Segenap doktrin dan  ajaran yang telah didapatkan kemudian diterapkan secara turun-temurun tanpa banyak mengalami modifikasi. Bahkan telah menjadi “syariat” dalam beragama dan menjalani kehidupan keagamaan yang amat lazim dan kuat dalam konstruksi pengetahuan dan pengamalan ajaran Islam di desa. Sehingga wajar jika di kemudian hari didapati perilaku dan ekspresi keagamaan dari individual maupun kelompok berbeda dengan “Syariat Islam Sehari-hari” ini bisa memunculkan reaksi dari warga. Sebab, warga secara ramai akan menilainya sebagai ajaran yang menyimpang.

Nah, berangkat dari titik inilah penulis akan  mengungkapkan respon dan pemahaman warga  NU di tingkat terbawah terhadap gagasan Islam Nusantara yang dikumandangkan oleh NU di tingkatan atas.  Sebagaimana ditulis dan diungkapkan oleh banyak pihak, gagasan Islam Nusantara ini bukanlah hal yang baru di Indonesia. Konsepsi Islam Nusantara dikatakan sebagai  sebuah model penyebaran Islam yang telah dilakukan oleh Walisongo, para kiai/ulama terdahulu tidak dengan jalan peperangan, tapi bil himah wal mau’idhatil hasanah. Islam Nusantara merupakan  proses islamisasi di Indonesia dengan jalan merangkul, melestarikan dan menghormati serta tidak  memberangus budaya dan tradisi yang sudah ada sebelumnya. Proses islamisasi seperti inilah yang sekarang kita nikmati, dimana sekitar 87 persen penduduk Indonesia beragama Islam.

Respon Terhadap Islam Nusantara

Dengan konsepsi yang demikian, maka bisa dikatakan bahwa sebenarnya proses penyebutan “Islam Sehari-hari” yang terungkap dari pikiran  warga desa tersebut merupakan isi dari konsepsi Islam Nusantara. Praktek-praktek keagamaan yang dijalankan adalah pengenjawantahan dari nilai-nilai Islam Nusantara. Semestinya tatkala gagasan Islam Nusantara ini disebarluaskan semestinya warga-warga NU di dusun, di desa, di daerah amat mudah untuk mencerna dan memahaminya. 

Namun, hasil penghampiran pada beberapa tokoh agama dan warga NU di desa justru melahirkan respon yang beragam. Hasilnya, secara sederhana bisa disimpulkan bahwa respon warga NU desa berada dalam kisaran tiga sikap yakni tidak mau tahu, tidak tahu dan tidak mau. Bila lebih disederhanakan lagi, maka respon tersebut membentuk dua kelompok besar yang  banyak dipengaruhi oleh  faktor pendidikan, tingkat akses informasi dan mobilitas warga NU desa. 

Adapun penjelasan terkait dua kelompok respon warga NU desa tersebut, sebagai berikut: Pertama, Warga NU desa yang mengaku tidak mau tahu dan tidak tahu. Respon ini banyak didapatkan dari warga yang tidak melek internet, jarang beraktivitas di luar, jarang berinteraksi dengan komunitas luar desa, tidak pernah baca koran/majalah, dan tidak pernah mengikuti perkembangan informasi apapun. 

Rupanya kelompok ini lebih mengenal dan memahami konstruksi konsepsi “Islam Sehari-hari” daripada Islam Nusantara. Mereka seakan tidak mau tahu atau malah memang tidak tahu tatkala dikatakan bahwa praktek-praktek keagamaan yang mereka persepsikan sebagai “Islam sehari-hari“ sama dengan konsepsi Islam Nusantara. Bagi kelompok ini, ajaran “Islam sehari-hari” rupanya telah menjadi alat ukur yang sederhana, jelas dan tegas untuk memberikan dukungan atau penolakan pada sebuah ajaran yang berkembang di masyarakat. Secara tersirat, seakan mereka berkata walaupun tanpa istilah yang aneh-aneh selama tidak berbeda dengan ajaran dan praktek “Islam sehari-hari” maka warga akan mendukungnya namun jika berbeda maka hampir bisa dipastikan akan ada gerakan penolakan. 

Beda halnya, saat mereka diajak dialog dengan dengan menggunakan istilah lain seperti Islam NU atau Islam Ahlussunnah wal Jamaah ternyata mereka lebih mudah mencerna dan memahami bahkan secara spontan mereka mengatakan sebagai pengikut ajaran Islam NU atau Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Selain itu, mereka pun menyatakan bahwa “Islam sehari-hari” yang mereka persepsikan selama ini merupakan ajaran Islam NU atau Islam Ahlussunah wal Jamaah yang turun temurun.

Kedua, Warga NU desa yang menyatakan kurang menerima dengan kata lain menolak pengistilahan Islam Nusantara. Kebalikan dari sebelumnya, respon penolakan ini bersumber dari tokoh/warga NU di desa yang sudah melek internet, sering berinteraksi dengan komunitas luar desa, memiliki akses informasi serta mengikuti perkembangan keadaan. Bahkan dari kelompok ini, penolakan atas pengistilah Islam Nusantara sangat kencang dirasakan. Pemikiran yang berasal  baik dari induvidu maupun kelompok yang selama ini sangat getol  menentang konsepsi Islam Nusantara dan terpublikasikan melalui situs-situs internet, sosial media maupun majalah-majalah Islam dengan mengatakan “Islam itu satu”, “Tidak ada dalilnya di Al Quran” “ Liberal” dan lainnya cenderung lebih diterima dalam alam pikiran kelompok ini.  

Apalagi di kelompok-kelompok penentang itu terdapat nama-nama pesantren besar maupun  kiai/ulama NU yang selama ini menjadi patron bagi kelompok ini. Bahkan sebagian besar dari warga NU desa yang menjadi kiai lokal, guru ngaji dan ustad merupakan alumni dari pesantren tersebut. Walhasil, interaksi sesama jaringan alumni pesantren yang sama menjadi media komunikasi sekaligus akses informasi untuk membangun solidaritas sikap.  Beragam analisis mulai politis sampai ideologis menjadi argumentasi penolakan yang kemudian menyebar dan mendominasi. 

Tantangan Islam Nusantara

Berpijak dari potret respon di dua desa di atas, penulis melihat sebuah medan tantangan yang tidak mudah untuk dilalui namun mesti direspon dan teratasi oleh NU. Jika kemudian konsepsi Islam Nusantara menjadi kesepakatan besar dan bersama sebagai platform gerakan keislaman NU ke depan maka sudah selayaknyalah bisa dijalankan secara massif hingga ke pelosok-pelosok desa. Isi dan ekspresi Islam Nusantara tidak bisa hanya dimiliki kalangan NU di Jakarta namun harus dengan mudah untuk dicerna, dipahami dan diterima oleh warga NU di desa. 

Jembatan penyambung dan saluran komunikasi yang efektif haruslah dibangun agar gerakan Islam Nusantara tidak bersifat elitis dan kurang mendapat dukungan penuh dari basis massa NU di bawah yang notabene merupakan penyokong utama NU. Transformasi gagasan Islam Nusantara hendaknya dilakukan secara terus-menerus agar tidak terjadi ketimpangan dalam gerakannya. Penciptaan ruang-ruang sosialisasi dan konsolidasi mutlak dibutuhkan baik secara struktural maupun kultural.
 Langkah ini menjadi penting, mengingat term “Islam Nusantara” ini sangatlah strategis  untuk didudukkan sebagai momentum penyatuan visi dan arah serta langkah-langkah NU ke depan dalam menghadapi medan pertarungan ideologis. Lontaran gagasan Islam Nusantra ini cukuplah taktis untuk dijadikan sebagai petarung dalam merebut kepemimpinan gerakan keagamaan di Indonesia. Wacana Islam Nusantara sangatlah efektif untuk mengcounter ekspansi wacana “Khilafah Islamiyah” yang diusung oleh Hizbut Tahrir Indonesia, melawan upaya hegemoni wacana “Islam Murni” yang dibawa kelompok wahabi serta untuk menghentikan gerakan salah kaprah wacana “Jihad Islam” yang didoktrinkan oleh kelompok-kelompok Islam radikal.

Apalagi saat ini, telah terjadi pembiasaan makna terhadap tema-tema Ahlussunah wal Jamaah dan Islam Rahmatan lil Alamin  yang pernah diusung dan digerakkan pertama kali oleh NU. Sebab, tema-tema tersebut sekarang sudah banyak diklaim dan dijadikan sebagai identitas oleh kelompok-kelompok gerakan Islam yang nyata-nyata dalam prakteknya justru tidak rahmatan lil alamin, tidak sesuai dengan nilai-nilai ke NU an bahkan menyerang NU. 

Oleh karenanya,  hadirnya tema Islam Nusantara membawa harapan baru untuk merekonstruksi gerakan baru di NU dalam kancah pertarungan ideologis yang belakangan ini nampak semakin sengit. Namun, harapan pada Islam Nusantara ini harus disertai kesepahaman dan kesadaran kolektif dari semua warga NU di segala lapisan. Dan semuanya bisa dicapai apabila gagasan Islam Nusantara mampu dijelaskan dan dibuktikan kepada jamaah dan jamiyah NU terutama di tingkat bawah bahwa Islam Nusantara bukan Liberal, Islam Nusantara sama dengan Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW, Islam Nusantra bukan agama baru serta Islam Nusantara itu ajaran para ulama-ulama NU.  

*Penulis adalah Ketua Lakpesdam NU Sampang

Ahad 19 Juli 2015 9:0 WIB
Islam Nusantara, Jaran Kepang, dan Logika Soto
Islam Nusantara, Jaran Kepang, dan Logika Soto

Oleh: Fariz Alniezar*--Akhir-akhir ini media massa riuh dihiasi perdebatan sengit seputar Islam Nusantara. Ada banyak pihak yang pro, tak sedikit pula yang kontra dan bahkan menuding secara sepihak agenda tersembunyi di balik Islam Nusantara. 
<>
Pada tataran ini, saya sungguh teringat perkataan Cak Nur (2002). Dengan sangat jelih dan analitik, ia mengatakan bahwa dalam kurun waktu sepuluh sampai lima belas tahun yang akan datang—dari ucapan itu dikeluarkan tahun 2002—anak-anak muda NU akan menguasai wacana. Dan nyatanya sekarang ucapan itu benar belaka, wacana Islam nusantara hari ini didominasi dan digulirkan oleh anak-anak muda NU.

Tulisan pendek ini ingin memberikan sumbangsih gagasan kepada para pengkritik Islam Nusantara. Sebab dari serangkaian kritik yang dilayangkan untuk wacana Islam Nusantara selama ini, menurut saya kerap dan masih sering terjebak dan berkutat pada perdebatan terminologik, bukan epistemik.

Salah satu artikel yang mempertanyakan Islam Nusantara adalah milik saudara Faisal Ismail bertajuk “Problematika Islam Nusantara”. Artikel tersebut pada dasarnya tidak memiliki pijakan epistemologik yang kuat untuk kemudian dengan gegabah menyimpulkan bahwa istilah Islam Nusantara itu kurang tepat, dan bahkan tidak benar. Ibarat seorang koboi, saudara Faisal Ismail nampaknya baru belajar bagaimana memegang pistol sehingga arah bidikan mata pistolnya tak keruan sekaligus tidak jelas sasaran.

Sebelum masuk ke dalam ranah epistemologik, sebaiknya kita periksa dahulu apa maksud dan arti Islam dan juga Nusantara itu sendiri. Hal ini sangat vital sebagai pijakan dikursif bahwa Islam dan Nusantara yang kita maksudkan dalam terma Islam Nusntara memiliki definisi yang sama antara kita.

Islam adalah Agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang berpedoman kapada Al-Quran dan Hadist. Atau dalam bahasa yang lebih kontekstual, Islam berarti sebuah substansi nilai dan seperangkat metodologi yang bisa saja ia memiliki kesamaan atau juga pertemuan dengan substansi nilai yang berasal-muasal dari agama, ilmu atau bahkan tradisi lain di luarnya.

Sementara itu, Kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi IV mencatat bahwa lema Nusantara berarti sebutan (nama) bagi seluruh wilayah kepulauan Indonesia. Maka merujuk pada dua definisi tersebut, dan jika kita berdisiplin dengan kamus, maka Islam Nusantara adalah Islam Indonesia itu sendiri.

Setelah jelas duduk terminologisnya, maka persoalan selanjutnya adalah mendudukkan Islam Nusantara secara epistemik. Dan pada persoalan inilah apa yang di sampaikan oleh para pengkritik Islam Nusantara, termasuk Saudara Faisal Ismail, mempunyai masalah yang serius.

Para pengkritik mula-mula mengutip pendapat Abdul Ala Al-Maududi dalam bukunya Toward Understanding Islam (1966) yang mengatakan bahwa Islam tidak bisa dinisbatkan kepada pribadi atau kelompok manusia manapun karena Islam bukan milik pribadi, rakyat atau negeri manapun. Islam bukan produk akal seseorang, bukan pula terbatas pada masyarakat tertentu, dan tidak diperuntukkan untuk negeri tertentu.

Dengan mengutip pendapat Abul Ala Al-Maududi tersebut sesungguhnya para pengkritik Islam Nusantara terjebak pada pemaknaan bahwa Islam tidak bisa dilokalisirkan dalam bentuk apapun. Pelokalisiran Islam, baik dalam bentuk ekspresi, budaya, dan juga penerjemahan ritus ibadah menurutnya sama sekali tidak benar.

Pelokalisiran tersebut, lebih lanjut, menurut mereka akan melahirkan aneka varian Islam yang tidak terbilang jumlanya. Jika ada Islam Nusantara, maka kemudian hari akan muncul Islam Jawa Timur, Islam Lamongan, Islam Jawa Tengah, dan tentu saja Islam Betawi. 

Logika semacam ini sesungguhnya sangat mudah untuk dipatahkan. Sebab argumentasinya tidak berpijak pada pemahaman yang jernih pada sebuah persoalan dan cenderung membabi buta asal main kritik semata.

Para pengkritik Islam Nusantara mungkin sedikit lupa bahwa Islam adalah Agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW yang memiliki sumber utama berupa suci Al-Quran dan Hadis. Al-Quran dan Hadis di hadapan umat Islam, jika meminjam analogi istilah sehari-hari, ia ibarat segenggam padi.

Padi adalah bahan mentah. Al-Quran dan Hadis pun juga bahan mentah. Dibutuhkan sebuah kreativitas tingkat tinggi untuk mengolah bahan mentah tersebut supaya kemudian bisa dimakan. Kreativitas tersebut kemudian hari dikenal dengan istilah memasak. Dengan dimasak, padi yang mentah tadi menjelma menjadi beras dan nasi yang matang dan siap untuk kemudian dimakan.

Kreativitas dalam beragama adalah ekspresi keagamaan itu sendiri. Sebuah ekspresi keberagamaan tentu saja bersumber dari pemaknaan atas sebuah agama itu sendiri. Perbedaan menafsirkan diktum agama inilah yang kemudian hari menjelma menjadi “model” keberagamaan. Nah, model keberagamaan ini sangat banyak, dan salah satunya adalah yang berbasis kesamaan lokus dan juga kebudayaan. 

Maka dengan alur kronologis seperti itu sesungguhnya Islam Nusantara bukanlah barang baru. Ia ada secara alamiah sebagai model dan cara beragama sebuah masyarakat. Itu saja tidak lebih.


Jauh daripada itu, penting untuk dicatat bahwa bahan mentah seperti padi di atas bukan berarti tidak bisa dimakan. Kita tahu, padi bisa dimakan oleh para pemain jaran kepang yang identik dengan perangai “edan dan ngamukan”.

Oleh karena itu, di tangan masyarakat yang miskin kerativitas dalam beragama, Islam menjadi sedemikian garang dan “ngamukan”. Ciri-ciri masyarakat Jaran Kepang adalah sensitif dan reaktif dalam menerima perbedaan. Masalah pada masyarakat yang demikian ini sesungguhnya hanya satu, yakni sebab mereka memakan barang mentah bernama Al-Quran dan Hadis tersebut.

Para pengkritik Islam Nusantara nampaknya juga harus belajar dari kearifan kuliner bernama soto. Di seluruh wilayah, soto adalah sebuah makanan yang basis bahan bakunya sama. Dengan bahan baku yang sama tersebut, di tangan orang-orang yang memiliki krativitas dan kebetulan lokusnya juga berbeda soto bisa di-ijtihadi dan kemudian menjelma menjadi beraneka macam dan varian.

Soto Lamongan, soto Kudus, soto Betawi, dan juga soto Bogor kita tahu tentu saja berbeda satu dengan yang lainnya, namun percayalah pada soto-soto tersebut bahan bakunya sama, dan yang begitulah juga sebetulnya yang terjadi pada Islam Nusantara. 

Walhasil, sebagai penutup tulisan ini, izinkanlah saya mengutip secara serius petikan status facebook Gus Yahya Staquf ihwal mereka yang phobia terhadap Islam Nusantara: “Karena kau cuma tiang yang dipancang tergesa-gesa kemarin sore dan pangkalmu cuma dangkal-dangkal saja ditanam, maka engkau jadi takut setengah mati pada angin. Bahkan semilir yang segar pun kau caci dan kau kutuki. Kami pohon berakar tunjang mencengkeram jauh ke jantung ibu pertiwi kami dan menjalar memenuhi mukanya. Maka kami menyapa angin dengan senang hati. Menitipinya serbuk-serbuk sari untuk menyuburi putik-putik bunga yang indah. Demi buah-buah yang berguna bagi seluruh dunia.”Wallahu a’lam bisshawab.


*Fariz Alniezar, mengajar di Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta 

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG