IMG-LOGO
Trending Now:
Internasional
JELANG MUKTAMAR KE-33 NU

Pernyataan Sikap PCINU Eropa-Mediterania terhadap Muktamar

Ahad 26 Juli 2015 8:1 WIB
Bagikan:
Pernyataan Sikap PCINU Eropa-Mediterania terhadap Muktamar

Menyongsong pelaksanaan Muktamar ke-33 NU di Jombang, Jawa Timur, yang dimulai awal Agustus mendatang, sejumlah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) di kawasan Eropa-Mediterania mengungkapkan harapannya.<>

Selain menjadi ajang proses reorganisasi yang sehat, mereka juga ingin forum musyawarah tertinggi di NU tersebut mampu mengangkat tema Islam Nusantara ke level internasional. Sebagaimana dilaporkan Kusnadi, Ketua Tanfidziyah PCINU Maroko, berikut pernyataan lengkap beberapa PCINU itu:


Pernyataan Sikap PCI NU Eropa-Mediterania terkait Muktamar NU yang Ke-33 di Jombang


Kami atas nama Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Eropa -Mediterania menyampaikan selamat melaksanakan muktamar NU yang ke-33 di Jombang.

Kami berharap agar muktamar bisa berjalan dengan baik dan berkah. Oleh karenanya kami menyerukan kepada seluruh muktamirin agar dalam pelaksanaan muktamar tersebut:

  1. Tidak menjadikan arena muktamar sebagai bentuk politisasi di tubuh NU.
  2. Menggunakan cara-cara yang baik dan akhlakul karimah serta tidak menghalalkan segala cara dalam seluruh aktivitas muktamar, utamanya dalam pemilihan Pimpinan Syuriah dan Tanfidziyah PBNU.
  3. Kami mendorong agar Islam Nusantara yang menjadi tema utama muktamar dapat benar-benar diangkat secara global dan dijadikan sebagai gambaran Islam yang layak diterima oleh dunia secara keseluruhan sebagai cerminan dari Islam yang rahmatan lil 'alamin.


Kami juga berdoa agar NU sebagai organisasi Islam terbesar di dunia dapat menjadi uswatun hasanah dalam hal pelaksanaan musyawarah organisasi yang baik demi kemashlahatan Ummat Islam yang dirahmati Allah SWT.

Eropa, 26 Juli 2015.

PCI NU Belanda
PCI NU Maroko
PCI NU Belgia
PCI NU UK
PCI NU Jerman
PCI NU Perancis
PCI NU Swedia


Bagikan:
Kamis 23 Juli 2015 23:7 WIB
Palestina Akan Terus Selidiki Misteri Kematian Yasser Arafat
Palestina Akan Terus Selidiki Misteri Kematian Yasser Arafat

Ramallah, NU Online
Komisi penyelidikan Palestina tetap meneruskan misi penyelidikan atas kematian presiden Palestina Yasser Arafat, kata komisi itu pada Rabu (22/7).
<>
Keputusan komisi tersebut disampaikan dalam pernyataan pers resmi yang dikirim melalui surel setelah Jaksa Agung Prancis pada Rabu pagi memutuskan untuk menutup fail mengenai penyelidikan penyebab kematian Arafat.

"Komisi tersebut pada waktu lalu dan saat ini masih melaksanakan pekerjaan profesional murninya dalam proses penyelidikan, baik tindakan hukum atau penyelidikan lain yang diadakan atau dilakukan di negara lain," kata pernyataan itu, seperti laporan Xinhua.

Komisi penyelidikan tersebut juga mengatakan misinya dilaksanakan sejalan dengan hukum berdasarkan jurisdiksi Palestina, serta hanya akan berjalan pada arah itu dan "takkan pernah berhenti sampai kebenaran dapat dicapai".

Pada Rabu pagi, Jaksa Agung Prancis memutuskan untuk menutup fail mengenai penyelidikan kematian Arafat dan tidak akan menindaklanjuti penyelidikan apa pun. 

Komisi Palestina tersebut menyatakan komisi menuntut bantuan para ahli dari beberapa negara untuk mengetahui faksi atau petunjuk yang berkaitan dengan penyebab kematian Arafat.

Pada Desember 2013, komisi Rusia dan Swiss yang menyelidikii kematian Arafat mengatakan dalam laporan terpisah bahwa Arafat tampaknya diracuni dengan radioaktif polonium-210. Namun, temuan itu tidak secara meyakinkan menyatakan bahwa keracuan adalah penyebab akhir hidup Arafat pada usia 75 tahun.

Pada saat itu, Tawfiq At-Tirrawi, pemimpin komisi tersebut, menuduh Israel sebagai tersangka utama dan satu-satunya. Pernyataan itu dikeluarkan setelah laporan media Prancis bahwa para ahli Prancis mengesampingkan pendapat bahwa Arafat diracuni hingga meninggal.

Arafat meninggal di satu rumah sakit Prancis di dekat Paris, tempat ia menerima perawatan selama dua pekan setelah jatuh sakit di markasnya yang dikepung Israel di Tepi Barat Sungai Jordan pada November 2014.

Pada 2012, para ahli Swis, Rusia dan Prancis menggali kuburan dan mengeluarkan jenazah Arafat dan mengambil sampel dari jenazahnya untuk penyelidikan lebih lanjut. (Antara/Mukafi Niam)

Rabu 22 Juli 2015 19:2 WIB
KAJIAN SEJARAH
Kolonialis Belanda Awasi Ketat Jamaah Haji Indonesia
Kolonialis Belanda Awasi Ketat Jamaah Haji Indonesia

Perth, NU Online
Berbagai arsip yang mendokumentasikan pola komunikasi pada era kolonialisme Belanda di Nusantara menunjukkan pemerintahan penjajah memantau secara melekat aktifitas ibadah haji muslim Indonesia.
<>
Profesor Charles Jeurgen dari Universitas Leiden, Belanda, dalam satu pernyataan, membahas temuan itu di Universtas Australia Barat (UWA), Perth, Rabu, dengan menjelaskan, pemerintahan kolonialis Belanda khawatir mereka yang pergi haji akan membawa semangat perlawanan terhadap kolonialisme.

"Belanda mencoba mengendalikannya," ujar pria yang fokus penelitiannya melihat pola transfer informasi era kolonial Belanda. 

Pada 1825 (bertepatan dengan awal Perang Diponegoro), Kerajaan Belanda menerapkan biaya sebanyak 125 gulden untuk surat izin bepergian ke Tanah Suci. Tapi kebijakan ini direvisi karena Pengadilan Tinggi di Batavia pada 1852 menilai biaya izin bepergian itu ilegal.

Kerajaan Belanda kemudian mengganti kebijakannya pada 1859 dengan penerapan kewajiban surat pernyataan kemampuan finansial dan berbagai tes sepulangnya jamaah berhaji.

"Belanda membuka konsulat di Jeddah pada 1872, khusus untuk mengamati peluang kemunculan pandangan Pan-Islamic subversion. Konsulat itu juga dibuat dengan tujuan untuk melindungi orang-orang Jawa dari pemerasan serta pengawasan penggunaan ijin bepergian," kata Jeurgen.

Banyak pula orang Jawa yang bertahun-tahun memilih tidak langsung pulang ke Indonesia setelah beribadah haji. Muncullah inisiatif politik dari Kerajaan Ottoman, yang membiayai komite muslim di Jawa. Ottoman juga membuka konsulat di Jawa, mendirikan berbagai sekolah Islam. Tidak dijelaskan, di kota mana konsulat Ottoman itu didirikan. 

Untuk mendapatkan informasi, Belanda memanfaatkan apa yang disebut dengan dragomans alias informan yang merupakan orang Indonesia atau orang Jawa.

Salah satu dragomans adalah Aboe Bakar Djajadiningrat (1854-1914), yang menjadi informan buat Belanda sejak 1885. Ia bertugas melaporkan ibadah haji orang Indonesia kepada Konsulat Belanda di Jeddah. (Antara/Mukafi Niam)

Selasa 21 Juli 2015 10:0 WIB
Mursyid Agung Tarekat di Sudan: Kami Siap Hadiri Tiap Undangan NU
Mursyid Agung Tarekat di Sudan: Kami Siap Hadiri Tiap Undangan NU

Khartoum, NU Online
Mursyid Agung Tarekat Rukainiyah Syekh Abdurrahim ar-Rukaini menyambut hangat rombongan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Sudan dalam kunjungan lebaran tahun ini.
<>
Di sela perbincangan, Syekh Abdurrahim menunjukkan apresiasinya terhadap organisasi para kiai ini dan menyatakan siap memenuhi undangan yang disampaikan kepada pihaknya.

“Kami siap menghadiri setiap undangan dari Nahdlatul Ulama seperti muktamar baik di Indonesia maupun di Sudan,” ungkap Mustasyar PCINU Sudan ini di kediamannya, akhir pekan lalu (19/7).

Syaikh Abdurrahim ar-Rukaini juga pernah hadir dalam International Sufi Conference atau Multaqa Sufi yang diadakan khusus oleh PBNU. Forum yang menghadirkan tokoh sufi dunia pada tahun 2011 di Jakarta itu menegaskan  tentang perdamaian dunia melalui semangat tasawuf.

Tarekat Rukainiyah merupakan salah satu tarekat yang berkembang dari Sudan dan masyhur di kalangan kaum Darwishy. Tarekat tersebut tersebar pertama kalinya pada 15 Ramadhan 1336 H dengan muassis dan mursyid pertamanya, Imam Muhammad Ahmad ar-Rukainy. Saat ini tarekat tersebut telah tersebar ke berbagai negara, seperti Mesir, Jordan, Saudi, Nigeria, Sahil ‘Aj, Somalia, Thailand, Filipina, Malaysia, India, Inggris, dan Indonesia.

Selain bersilaturahim ke mursyid agung Tarekat Rukainiyah, dalam musim idul fitri tahun ini PCINU Sudan juga sowan ke beberapa masyayikh setempat lainnya. (YR. Syaff/Mahbib)


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG