IMG-LOGO
Opini

Tarkib Islam Nusantara

Senin 27 Juli 2015 11:4 WIB
Tarkib Islam Nusantara

Oleh M Alim Khoiri
Jelang muktamar NU yang ke-33 di Jombang, perbincangan seputar Islam Nusantara kian hari semakin ramai. Puluhan—bahkan boleh jadi sudah ratusan—artikel tentang Islam Nusantara tersebar di berbagai media baik cetak maupun elektronik. <>Beragam perspektif ditampilkan guna menjelaskan maksud istilah Islam Nusantara, dari mulai perspektif fiqh hingga perspektif ushul fiqh, dari maslahah mursalah hingga ‘urf. Semuanya ditulis supaya tema Islam Nusantara tak disalahpahami.

Tulisan ini pun bertujuan sama, ingin menjelaskan Islam Nusantara. Bedanya, jika banyak yang melihatnya dari sisi sosial dan budaya, maka dalam tulisan ini Islam Nusantara dilihat dari sudut pandang bahasa. Kenapa harus bahasa? Sebab bahasa adalah alat komunikasi. Supaya komunikasi tak disalahpahami, alatnya harus diketahui.

Penulis menemukan sebuah syair Islam Nusantara yang saat ini sedang banyak beredar di jejaring sosial. Petikan syairnya berbunyi:

Fa man bihi ja’a  islam Nusantara #  tis’atu auliyaillah fi jawa

Wa man yurafidluhu la ya’lamu fi # babi idhafatin lidzaka fa’rifi

Li annahu al-islam fi Nusantara # nawiyatan fi laysa min au laman

Arti dari syair tersebut kurang lebih:

Siapa yang membawa Islam Nusantara? # merekalah wali songo di Jawa

Barang siapa yang menolak Islam Nusantara # dia belum mengerti idhafah, maka ketahuilah

Islam Nusantara itu Islam di Nusantara # menyimpan makna fi bukan min atau li

Tiga bait syair di atas mencoba menjelaskan Islam Nusantara dari sisi bahasa. Ini terlihat jelas dalam bait kedua dan ketiga yang berisi bahwa tarkib (susunan) dari kalimat Islam Nusantara adalah tarkib idhafi yang menyimpan makna fi (di dalam), bukan makna min (dari) atau li (untuk).

Sebelum syair tersebut beredar di jagad maya, al-mukarram KH. Musthafa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus sudah terlebih dahulu menegaskan bahwa susunan kalimat Islam dan Nusantara adalah penyandaran idhafi yang menyimpan makna fi. Beliau lalu mengilustrasikan dengan istilah “air gelas” yang berarti air di dalam gelas, bukan airnya gelas. Begitu pun Islam Nusantara, ini tak berarti Islamnya Nusantara tetapi harus dipahami dengan Islam di Nusantara.   

Selain tarkib idhafi, susunan kalimat Islam dan Nusantara sebenarnya juga bisa dijadikan sebagai tarkib washfi (na’at man’ut). Artinya, Islam dianggap sebagai man’ut (yang disifati) dan kalimat Nusantara dijadikan na’at (yang menyifati). Dalam kajian bahasa, sifat itu tidak selalu berupa washf (isim fa’il atau isim maf’ul), tetapi bisa juga berupa nama tempat atau daerah. Model sifat seperti ini biasanya dengan menggunakan bantuan ya’ nisbah. Imam ibnu Malik dalam syairnya menyatakan:

“ya’an ka ya al-kursiyyi zaadu li an-nasab # wa kullu ma talihi kasruhu wajab
(Huruf ya’ yang ada pada lafadz ‘kursiyyun’ (berkenaan dengan kursi) mereka tambahkan untuk tujuan nasab, dan semua huruf yang menyertainya wajib dibaca kasrah).”

Berdasar bait di atas, maka sah-sah saja menyifati nama Nawawi misalnya, dengan kalimat Banten yang merupakan nama daerah dengan menambahkan ya’ nisbah, menjadi Nawawi al-Bantaniy. Demikian juga dengan term Islam dan Nusantara. Tak mengapa meyifati kalimat Islam dengan Nusantara dengan meniatkan ya’ nisbah di dalamnya, menjadi al-Islam an-Nusantaraiy atau al-Islam al-Indunisiy. Jadi, Islam Nusantara tetap bisa diartikan sebagai Islam “yang” bercitarasa Nusantara.

Kasus yang sama boleh jadi ada pada susunan kalimat “soto Lamongan” atau “sate Madura”. Kalimat soto Lamongan berarti soto khas daerah Lamongan atau sate Madura dipahami sebagai sate rasa Madura. Penyebutan soto Lamongan dan sate Madura dalam hal ini tidak dimaksudkan mereduksi makna soto atau sate secara umum. Soto ya soto, sate ya tetap sate. Bahan-bahan utama dalam soto Lamongan, Kudus atau Madura tetaplah satu dan sama. Yang membedakan adalah racikan dan cara penyajiannya saja. Menjadi lucu, bila ada yang melarang berjualan soto Lamongan dengan dalih soto kok dilamongankan atau dikuduskan, sama lucunya dengan mereka yang bilang Islam kok di-Nusantarakan?

 

*) Penulis adalah pengajar di STAIN Kediri Jawa Timur

Ahad 26 Juli 2015 11:9 WIB
JELANG MUKTAMAR KE-33 NU
Konsep Kuratorial “Matja”; Membaca Seni Wali-wali Nusantara
Konsep Kuratorial “Matja”; Membaca Seni Wali-wali Nusantara

Oleh A.Anzieb & Hasan Basri---- Salah satu tradisi Islam Nusantara adalah menempatkan kesenian pada posisi yang mulia. Seni yang bersifat luhur, baik, dan ada rasa keadilannya. Dalam konteks ini, NU yang didirikan para ulama dibawah pimpinan KH Hasyim Asy’ari, tidak sekadar menempatkan kesenian secara fungsional, sebagai alat dakwah.
<>
Lebih dari itu, kesenian merupakan tanda dari pencapaian keber-islam-an seseorang atau masyarakat. Kesenian adalah perlambang kematangan ruhani umat manusia. Semakin rendah selera seni (art taste) sebuah masyarakat menunjukkan rendahnya tingkat spiritualitas masyarakat tersebut. Pandangan semacam ini khas pandangan, pedoman dan keyakinan (i’tiqad) Ahlusunnah Waljama’ah  (ASWAJA) mengenai kesenian. Imam Ghazali (wafat 1111 M) misalnya dalam magnum opusnya, Ihya’ Ulumuddien, menyebut orang Islam yang tidak bisa menikmati kesenian sebagai kelompok “yang kurang akal” (naaqishul ‘aql). Tatah atau alas dari pencerahan ruhani adalah kesenian, dalam istilah lain hanya kesenian yang mampu menampung bahasa ruhani sehingga sampai pada tataran kemanusiaan.

Dalam konteks Islam di Nusantara, bagaimana para wali menata ajaran Islam dalam bentuk kesenian, dari kesenian serius sampai yang populer. Dari sastra tinggi sampai sastra populer, dari musik klasik Jawa sampai lagu dolanan anak-anak, arsitektur, bahkan sampai kepada fashion, kuliner, dan lain-lain. Eksemplar (uswah hasanah) para Wali Jawa (Wali Songo) dalam bidang kesenian menunjukkan tingginya pencapian kehidupan umat Islam di Nusantara pada abad-15 Masehi dan sebelumnya.

Jika menelisik pencapaian dalam bidang kesenian ini, maka argumen para peneliti asing tentang Islam Nusantara yang “berumur jagung”, yakni akhir abad 14 Masehi terasa janggal, tidak saja masalah kronologi sejarah tetapi juga tuduhan “ketidak autentikan” Islam Nusantara.

Tingginya pencapaian keber-islam-an pada masa Wali-wali Nusantara (seperti Wali Songo) menjadi teladan bagi masyarakat islam (pesantren) sampai hari ini. Tidak seperti yang ditulis oleh para peneliti Barat, bahwa sejarah autentik keislaman masyarakat Jawa (Nusantara) dimulai pada abad-19 di Haramain (sekarang Saudi Arabia), bahwa keberadaan para ulama Jawa di Haramain (ashabul jaawi atau Java connections) merupakan fajar pemurnian dan pelurusan Islam Indonesia yang masih hijau.

Bagi para ulama (golongannya yang nantinya mendirikan Nahdlatul Ulama) sendiri berbeda, justru mereka adalah pelanjut dari tradisi Islam Nusantara yang ditegakkan oleh para Wali Jawa dengan segala hambatan dan kekurangannya. Sikap rendah hati terhadap para pendahulu menjadi sumber kekuatan kaum tradisional Islam di Nusantara. Ulama Jawa akhir abad 19 menyadari bahwa pesantren sebagai pusat pengetahuan telah bergeser menjadi tempat menimba ilmu agama semata, ruang lingkup pesantren semakin sempit. Otoritas orang pesantren di bidang sastra Jawa (Jawa, Melayu, dll.) telah berpindah ke kelompok lain, estetika kesenian wali-wali nusantara semakin terbatas, bahkan tersingkirkan (hanya hadrah, qasidah, dan kaligrafi arab), jaringan islam (pesantren) Nusantara sudah terputus dengan jaringan politik, ekonomi, sejarah, budaya, tradisi, bahkan terhadap warisan leluhurnya sendiri.

Maka, kita harus melakukan pembacaan ulang terhadap warisan dari para wali Nusantara, baik di bidang pengetahuan maupun kesenian secara menyeluruh tanpa harus tergantung dengan, dan hasil pandangan orang lain tentang Islam Nusantara. Islam Nusantara merupakan tetas-tetesan keluhuran dari mata air kewalian (walayah dalam bahasa Arab) yang sebagian besar berwujud dalam kesenian: baik itu seni rupa, seni sastra, seni tari, drama, seni musik, arsitektur, dan sebagainya.

Keterkaitan antara dinamika dunia seni kontemporer hari ini dengan sejarah estetika seni yang dihasilkan wali-wali nusantara nyaris terputus. Dalam konteks hari ini pula, dengan menimbang segala perubahan dan dinamika dunia Islam, terutama dalam dinamika dunia kesenian itu sendiri, maka apa yang disebut dengan seni wali-wali Nusantara harus diapresiasi kembali (sekaligus sebagai media instrospeksi diri) untuk mendorong keterbukaan dan proses apropriasi menuju dialog tradisi keilmuan yang lebih konstruktif sebagai ikhtiar membangun nilai-nilai kebangsaan yang lebih jujur demi kemaslahatan bersama. Para kyai atau ulama Nahdlatul Ulama mendorong, membangun, dan menjaga kehidupan kebangsaan yang beragama di atas tiga sendi: keberagaman (taaddudiyah= pluralitas), kemoderatan (tawasuth), dan keadialan (taaddul). Kebaragaman termasuk meliputi keberagaman keyakinan, etnis, ras, dan sebagainya. NU sejak berdiri pada tahun 1926 M terlibat aktif melanjutkan gagasan kebangsaan para ulama di masa lalu yang mendorong sebuah Negara kebangsaan seperti terwujud sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Walaupun tumbuh sebagai kelompok mayoritas, NU tidak berminat mendirikan sebuah Negara agama (Negara Islam) seperti yang diinginkan (desiring) oleh kelompok lain di dalam postur kebangsaan Indonesia.

Pameran Seni Rupa “Matja” (Iqro’ atau to read) atau membaca seni wali-wali Nusantara ini merupakan kanal, adalah upaya untuk membaca pelbagai sisi dari perjalanan islam Nusantara, pembacaan tentang dinamika dunia islam sampai hari ini, pembacaan tentang keragaman Nusantara, bentuk perubahan dan dinamika kesenian hari ini terhadap nilai-nilai kelokalan. Atau, aspek terpenting yang perlu dieksplorasi gagasan-gagasan seniman dalam ruang pameran yang berlangsung ini adalah karya-karya hasil ‘dialog’ tentang pembacaan secara estetik terhadap jejak sejarah wali-wali Nusantara, dan mengapresiasi hasil karya para wali-wali Nusantara.


A.Anzieb & Hasan Basri adalah Kurator Pameran: “Matja”; Membaca Seni Wali-wali Nusantara. Pameran akan berlangsung di Jogja Nasional Museum Jl. Prof. Dr. Amri Yahya No 1, Gampingan, Wirobrajan, Yogyakarta 25 – 28 Juli 2015


Ahad 26 Juli 2015 5:1 WIB
Penjelasan atas Buku “Guru Sejati Hasyim Asy’ari”
Penjelasan atas Buku “Guru Sejati Hasyim Asy’ari”

Oleh Masyamsul Huda
Berkaitan dengan resensi “Buku Guru Sejati” yang meninggalkan pertanyaan atas beberapa hal, terutama soal tahun kejadian yang bertolak belakang dengan buku-buku yang lain; tentang penamaan Tebu Ireng pada 1906; tentang pendirian Pabrik Gula Tjukir dan penyerangan pesantren Tebu Ireng oleh tentara Hindia Belanda; telah menggerakkan saya sebagai penulisnya untuk memberikan penjelasan.<>

Penulis perlu sampaikan, bahwa penulisan tanggal kejadian tersebut ditulis berdasar rujukan atas buku Mengenang 100 tahun Pondok Pesantren Tebu Ireng karya KH Ishom Hadzik yang juga merupakan cucu dari Mbah Hasyim. Penulis berkeyakinan bahwa buku yang ditulis oleh Gus Ishom tersebut telah dilakukan  melalui penyeleksian referensi yang valid dari berbagai sumber literatur tentang Hadratus syaikh Hasyim Asy'ari. Penulis berkeyakinan bahwa buku tersebut memiliki keakuratan yang cukup baik dibanding buku-buku lain yang pernah terbit.

Koreksi dan kritik atas buku Guru Sejati tentu sangat berarti bagi penulis,  karena dengan ini penulis dapat menjelaskan lebih dalam soal sejarah Tebu Ireng, mengingat sejarah Tebu Ireng hingga saat ini masih banyak versi dan perlu penggalian secara cermat dan mendalam, maka  atas dasar itu penulis merasa dituntut untuk mengkaji dan menyempurnakan kesejarahan KH. Hasyim Asy'ari dan Pondok Pesantren Tebu Ireng. Sebab kedudukan Pesantren Tebu Ireng menurut penulis sangatlah penting  didalam perjuangan Islam di tanah Jawa.

Dengan menggali dan menyajikan  sejarah Tebu Ireng secara jelas  dan mendalam agar tidak lagi terjadi kesimpang siuran sejarah Tebu Ireng dan Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari. Sebab dua hal tersebut tidak bisa dipisahkan. Berdirinya Pabrik Gula Tjukir dan Pondok Pesantren Tebu Ireng adalah seperti minyak dan air, keduanya memiliki kepentingan yang berbeda. Pabrik Gula yang mewakili kepentingan kapitalis, tentu tidak pernah berfikir akan adanya dampak dekandensi moral pada masyarakat sekitarnya. Kerusakan moral yang begitu luar biasa inilah yang pada akhirnya mendorong KH. Hasyim Asy'ari turun gunung untuk memperbaiki keadaan masyarakat yang sudah cenderung menjadi jahiliyah.

Kisah pertarungan kepentingan antara Pabrik Gula Tjukir dan Pesantren Tebu Ireng inilah yang dicoba oleh penulis sampaikan secara detail agar masyarakat bisa belajar banyak tentang perjuangan KH. Hasyim Asy'ari dalam membangun peradaban di Kebo Ireng. Tebu Ireng adalah entitas yang sangat penting terhadap model pesantren di Indonesia, Tebu Ireng yang juga merupakan pondasi awal pondok pesantren salafiah syafi'iyah di Indonesia

Tentang koreksi yang demikian penting tersebut, ada hal yang jauh lebih penting untuk menjawab tentang kesimpang siuranya sejarah Pondok Pesantren Tebu Ireng dan kisah Kebo Ireng. Niat  awal penulisan buku Guru Sejati adalah  penulis ingin menjabarkan, menelisik  dan menggali dari berbagai sumber sola sejarah Tebu Ireng secara benar dan koferehensip.

Sosok KH Hasyim Asy'ari adalah pribadi yang sangat sederhana, tidak mau menonjolkan diri, bahkan untuk difoto sekalipun, beliau sangat berkeberatan. nyaris hanya sebuah foto yang terlihat samar ketika Mbah Hasyim sedang dalam pertemuan dengan Laksamana Maeda. Maka, tidaklah heran bila sampai hari ini belum satupun foto KH. Hasyim Asy'ari yang bisa dikatakan sesuai dan cocok dengan wajah asli Beliau, masih banyak yang berdebat soal ada jenggot atau tidak ada jenggot, termasuk baju kesukaan Beliau? Sebab menurut yang sempat menemuai Beliau pada masa itu, KH. Hasyim Asy'ari itu selalu rapi, wangi dengan baju jas model krah shanghai dan selalu memegang tonggat rotan yang multi fungsi; biasa digunakan untuk melempar pintu kamar santri agar agar bangun shalat subuh, atau memukul santri yang nakal (tentu mukulnya terukur dan tidak membahayakan).

Menurut pendapat penulis, hingga hari ini belum pernah ada penyajian sejarah Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari dan Tebu Ireng  yang bisa dikatakan akurat. Dalam hal soal foto pribadi saja, masih banyak pihak memperdebatkan, apalagi sejarah, nama  kondisi Tebu Ireng masa lalu, pastilah banyak versi yang sumbernya  bisa jadi dari utak atik ghatuk(dicocok-cocokkan.

Melihat kondisi yang demikian, maka penulis yang melihat, mendengar dan merasakan adanya kesimpang siuran ini, penulis terpanggil dan berusaha keras untuk merangkai penulisan yang rujukan penulisan buku Guru Sejati Hasyim Asy'ari diambil dari berbagai sumber baik penulisan maupun dari cerita rakyat yang berkembang hingga hari ini, dan tentunya cerita langsung dari orang tua(usia saat ini 91 tahun) yang mengalami hidup bersama Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari yang semakin memperkaya kejelasan sejarah yang dimaksud.

Bahwa Tebu Ireng berasal dari daerah hitam, semua pihak pasti setuju. Dari hasil penelusuran soal kisah Tebu Ireng yang berawal dari kawasan dunia hitam dan bernama Kebo Ireng, banyak kisah sejarah yang masih belum terungkap dimasyarakat luas. Kawasan Kebo Ireng adalah sebuah sarana yang diciptakan pemerintah kolonial Hindia Belanda adalah dalam rangka merusak mental masyarakat pribumi. Budaya Mo-limo(madat, main, mabuk, madon, dan maling) adalah sebuah kesengajaan untuk meredam gejolak masyarakat. Konsep ini diberlakuan disetiap pabrik gula yang didirikan pada masa itu. Dan khusus Kebo Ireng, kawasan ini sangatlah fenomenal sehingga melahirkan cerita rakyat tentang penguasa Kebo Ireng yang bernama Kebo Kicak. Kisah Kebo Kicak telah menjadi folklore(cerita rakyat) yang pada jaman PKI melalui Lekra, cerita ini telah dibajak untuk menjelekkan Surontanu(tokoh dari pesantren yang melawan penjajah) dan menempatkan Kebo Kicak( penjahat papan atas) sebagai pahlawan.

Dengan menulis Guru Sejati pada saat sekarang ini, penulis telah menelusur dan merangkaii jejak kisah Kebo Ireng dan Surontanu untuk menjadi lebih jelas dan terkait dengan sejarah Tebu Ireng. Berdasar literatur dan cerita orang tua serta masyarakat sekitar, bahwa cerita dimaksud terlahir dan tidak terlepas dari adanya Kebo Ireng(pusat peradaban dunia hitam) dan dikemudian hari diganti oleh KH. Hasyim Asy'ari menjadi Tebu Ireng( sebuah pengharapan agar para santri yang dididik Beliau akan menjadi/menghasilkan kwalitas gula terbaik seperti halnya Tebu Ireng, bukan Kebo Ireng lagi).

Dan yang tak kalah pentingnya, Guru Sejati ingin mengungkap pelajaran politik Islam dari Hadratussyaik Hasyim Asy'ari yang rahmatan lil alamin didalam melawan penjajah Hindia Belanda. Hadratussyaikh sadar betul bahwa perang mengangkat senjata seperti halnya Perang Diponegoro belum tentu berhasil dengan baik. Perang diplomasi model KH. Hasyim Asy'ari  dengan mengedepankan sikap dan perilaku  kesehariannya yang selalu melindungi yang lemah, mengobati yang sakit, menyedekahkan kekayaannya untuk mendidik santri dan masyarakat sekitarnya. terbukti berhasil dengan gemilang. Model perjuangan politik semacam inilah, Beliau sukses besar dan memenangkan "peperangannya" dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda tanpa pertumpahan darah.

Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari memilih model perjuangan tanpa konfrontasi melawan penjajah Hindia Belanda. Karena menurut Beliau perjuangan yang dilakukan dengan kekerasan akan berakhir sia-sia.

Jika menyimak dengan baik buku Guru Sejati, maka para pembaca akan mendapat gambaran seperti apa hebatnya Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari memainkan strategi politik dalam membangun peradaban yang warisan secara fisik maupun ajaran Ahlussunah waljama'ah di Pondok Pesantren Tebu Ireng terus hidup dan berkembang hingga hari ini.

Sangatlah disayangkan bila kisah yang luar biasa dari seorang Guru Besar Nahdatul Ulama ini tidak tersaji dengan baik dan benar.

Demikian klarifikasi dari penulis agar dapat dimengerti oleh para pembaca sekalian, semoga penjelasan ini dapat memberi pencerahan dan bermanfaat bagi kita semua untuk terus belajar dan mengamalkan ajaran Hadratussyaikh Hasyim As'ari.

Masyamsul Huda,  penulis buku Guru Sejati, putra dari H. Ahmad Riyadi, Cucu dari H. Abdul Hadi dan cicit dari Sakiban (pemilik tanah asal Tebu Ireng, sebelum dibeli oleh KH Hasyim Asy'ari)

 

Sabtu 25 Juli 2015 16:3 WIB
Guruku, KH Afifuddin Muhajir
Guruku, KH Afifuddin Muhajir

* Oleh Abdul Moqsith Ghazali
Tubuhnya kecil, berkulit kuning langsat. Tatapan matanya tajam. Berpenampilan sederhana. Suaranya lembut dan timbrenya tipis. Terkesan hemat bicara. Intonasinya datar. Pembawaan dirinya tak mengecoh orang untuk segera memerhatikannya. Namun, ketika ia tampil sebagai pembicara di forum-forum seminar, audiens tak bisa mengabaikannya. Ia tampak powerfull. Di balik tubuhnya yang ringkih, tersimpan energi intelektual luar biasa. Itulah KH Afifuddin Muhajir, wakil pengasuh pesantren Sukorejo Asembagus Situbondo.
<>
Saya berjumpa dengan banyak orang yang mengakui kedalaman ilmu dan keluasan wawasan Kiai Afif. Bahkan, jauh sebelum saya belajar kitab kuning kepada Kiai Afif (begitu ia biasa disapa sekarang), saya sudah mencium keharuman namanya dari alumni pesantren Sukorejo yang mengajar di pesantren kepunyaan orang tua saya. Mereka berkata bahwa Kiai Afif (saya dulu memanggilnya "Ustad Khofi") mendapatkan ilmu ladunni, yaitu ilmu yang dikaruniakan langsung oleh Allah Subhanahu wa ta'ala. Tak terkecuali ayah saya (KH Ghazali Ahmadi) dan paman saya (alm KH Qasdussabil Syukur) yang pernah mengajar Kiai Afif di pesantren Sukorejo mengakui kealiman Kiai Afif.

Karuan saja, ketika saya dikirim orang tua untuk belajar di pesantren Sukorejo, Kiai Afif adalah orang pertama yang saya “buru”. Saat itu ia sudah menjadi ustad dan belum menikah. Ia tinggal di sebuah kamar-asrama yang tak jauh dari kamar-asrama saya. Setiap hari saya bisa melihat sosoknya. Kiai Afif yang ketika berjalan selalu menunduk-menatap tanah itu mungkin tak menyadari bahwa ada banyak santri seperti saya yang selalu memerhatikannya. Sambil beradaptasi dengan lingkungan sosial baru di pesantren, saya coba mendengarkan presentasinya di forum bahtsul masa’il dan kemudian mengikuti pengajiannya.

Biasanya bahkan hingga sekarang Kiai Afif mengajar kitab secara bandongan di sebuah mushala depan kediaman KH As’ad Syamsul Arifin. Kitab yang dibacanya adalah kitab-kitab marhalah `ulya seperti al-Iqna`, Fathul Mu`in, Fathul Wahhab, Ghayatul Wushul, dan lain-lain. Saya yang sudah dibekali ilmu-ilmu dasar keislaman oleh orang tua tak merasa terlalu sulit untuk mengikuti pengajian Kiai Afif. Saya hanya terpukau dengan kefasihan dan kepiawaiannya dalam menerjemahkan dan mengulas kitab kuning. Kiai Afif coba mengartikan kitab kuning dengan bahasa-bahasa akademik-ilmiah. Sambil mengaji, saya kerap mendengar darinya istilah-istilah seperti “argumen”, “aksioma”, “tekstual”, “kontekstual”, dan lain-lain. Itu salah satu kelebihan Kiai Afif dibanding para ustad lain ketika itu.

Setelah Kiai Afif banyak beraktivitas di luar terutama sejak menjabat Katib Syuriyah PBNU, publik Islam mulai mengetahui kealiman Kiai Afif di bidang ushul fikih. Tak sedikit dari mereka yang bertanya, di mana Kiai Afif belajar ushul fikih? Saya tak segera menemukan jawabannya. Ini karena Sukorejo sendiri, tempat Kiai Afif belajar, tak dikenal sebagai pesantren ushul fikih. Sukorejo lebih banyak berkonsentrasi pada pengajian ilmu fikih dan nahwu-sharaf. Sekalipun ada pengajian ushul fikih, durasinya cukup kecil jika dibandingkan dengan bidang-bidang lain. Sukorejo pun saat itu tak banyak mengoleksi buku-buku ushul fikih dari lintas madzhab. Dengan kondisi ini, agak susah membayangkan lahirnya seorang pakar ushul fikih dari Sukorejo.

Kiai Afif tak pernah belajar di luar, baik di timur apalagi di barat. Seluruh jenjang studinya, mulai dari Madrasah Ibtida’iyyah hingga strata satu, diselesaikan di Sukorejo. Ketika saya tanya, “Kepada siapa Kiai Afif belajar ushul fikih?” Ia menjawab, “Saya pernah mengaji kitab Lubbul Ushul pada KH Qasdussabil Syukur. Selebihnya saya belajar sendiri”. Ini menunjukkan bahwa kealimannya di bidang ushul fikih ditempuh melalui kerja keras dan ketekunan. Peran Kiai Qasdussabil adalah mengajarkan teks utama ushul fikih, Lubbul Ushul, kepada Kiai Afif. Tapi, pendalamannya dilakukan secara otodidak. Dengan perkataan lain, ia memperluas sendiri bacaan ushul fikihnya, dengan melahap ar-Risalah karya Imam Syafi'i, al-Mustashfa min `Ilmil Ushul karya al-Ghazali, al-Muwafaqat fi ushulis Syari’ah karya as-Syathibi, al-Ihkam fi Ushulil Ahkam karya al-Amidi. Namun, dalam amatan saya, kitab ushul fikih yang paling disukai sekaligus dikuasainya tampaknya adalah Jam’ul Jawami’ karya Tajuddin as-Subki itu.

Baru pada perkembangan berikutnya Kiai Afif melengkapi diri dengan referensi ushul fikih modern. Kiai Afif membaca buku-buku ushul fikih mulai dari karya Abdul Wahhab Khallaf, Abu Zahrah, Muhammad Khudhori Bik, Wahbah az-Zuhaili hingga merambah pada buku-buku karya `Allal al-Fasi, Ahmad ar-Raysuni, dan Jasir Audah yang banyak mempercakapkan soal maqashid al-syari’ah dan fiqhul maqashid. Dengan penguasaan yang komprehensif atas literatur-literatur itu, Kiai Afif makin kukuh sebagai seorang faqih dan ushuli. Dan kedudukannya sebagai ahli fikih telah dibuktikan Kiai Afif dengan menulis buku fikih berbahasa Arab dengan judul Fathul Mujibil Qarib, syarah terhadap kitab at-Taqrib karya Abu Syuja’ al-Isfahani.

Di bidang ushul fikih, keahlian Kiai Afif memang tak terbantahkan. Puluhan makalah terkait metode istinbathul ahkam telah selesai ditulisnya. Ia menulis buku dengan judul as-Syari’ah al-Islamiyah baynats Tsabat wal Murunah. Menarik, Kiai Afif menjadikan ushul fikih sebagai sebuah perspektif untuk merespons persoalan-persoalan keislaman kontemporer. Ia berbicara tentang negara Pancasila, Islam Nusantara, dan lain-lain dari sudut pandang ushul fikih. Ia juga menjadikan ushul fikih sebagai perangkat metodologis untuk mendinamisasi fikih Islam. Untuk kepentingan dinamisasi pemikiran Islam itu Kiai Afif intens berdiskusi dengan para pemikir gaek lain di NU seperti KH Ahmad Malik Madani, KH Masdar Farid Mas’udi, KH Said Aqil Siroj, KH Husein Muhammad, dan lain-lain.

Di tangan orang-orang seperti Kiai Afif ini, ushul fikih adalah sumur yang airnya tak pernah kering untuk ditimba. Jika ada yang mengkhawatirkan bahwa sepeninggal Kiai Sahal Mahfudz NU akan dilanda kelangkaan ahli ushul fikih, maka fenomena Kiai Afif ini akan menampik kekhawatiran itu. Tentu Kiai Afif tak sendirian. Ada banyak kiai dan intelektual muda NU lain yang memiliki penguasaan memadai tentang ushul fikih. Hanya yang kita “tagih” dari orang-orang seperti Kiai Afif adalah konsistensinya untuk terus menulis dan berkarya. Mengikuti sunnah Kiai Sahal Mahfudz yang banyak menulis buku seperti membuat syarah terhadap al-Luma’ dan Ghayatul Wushul, saya berharap Kiai Afif juga mau menulis banyak buku termasuk membuat syarah terhadap kitab-kitab ushul fikih lain seperti Jam’ul Jawami yang dikenal sangat susah dipahami itu.


Abdul Moqsith Ghazali, alumnus pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo.

IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG