JELANG MUKTAMAR KE-33 NU

Zamzami Almakki, Pemenang Lomba Logo Muktamar NU

Zamzami Almakki, Pemenang Lomba Logo Muktamar NU

Yogyakarta, NU Online
Hadiah pemenang lomba logo muktmar ke-33 NU diberikan secara simbolis pada pembukaan pameran seni rupa “Matja”; Membaca Seni Wali-wali Nusantara” di Jogjakarta Nasional Museum, Yogyakarta, Senin malam (27/7).
<>
Hadiah umroh tersebut diberikan secara simbolis dengan diberikannya peci hitam oleh Ketua PBNU H Imam Azis kepada sang pemenang atas nama Zamzami Almakki. Kemudian Zamzami mendapat selamat dari dewan juri di antaranya perupa Nasirun, Ahmad Mauladi, dan lain-lain.

Zamzami Almakki pria kelahiran Jakarta, 14 Juni 1981. Ia menamatkan pendidikan formal di Universitas Negeri Yogyakarta dengan tugas akhir  menulis karya dengan judul “Desain Komunikasi Visual – Iklan Layanan Masyarakat tentang Seruan Shalat”. Kemudian ia melanjutkan pendidikan S2 di InstitutTeknologi Bandung (selesai 2010) dengan tugas akhir “Retorika Visual Video Azan StasiunTelevisiNasional Indonesia”.

Menurut Zamzami, konsep perancangan logo ini mempertemukan yang lokal dan luar. Identitas lokal ditunjukkan dengan dua lingkaran yang merujuk pada motif batik Jombang. Sedangkan yang dari luar adalah aksara penomoran angka 3 menggunakan aksara Arab.

Permainan bentuk menggunakan retorika visual metafora, kedua angka 3 diserupakan dengan bentuk tangan yang menengadah, maksudnya berdoa. Demi menghindari bentuk tangan yang menengadah diartikan mengemis, lantaran ada bentuk lingkaran di atasnya yang bisa saja diartikan koin uang recehan, bentuk lingkaran tidak dibuat simetris untuk keduanya. Sebab pada umumnya bentuk koin adalah simetris, atau biasanya bolongan tengahnya berupa kotak. Upaya tersebut dilakukan meski mengambil resiko mengubah sedikit aturan motif Jombang pada lingkarannya.

Penempatan lingkaran berada tepat di tengah angka 3 berwarna merah. Hal tersebut menghindari persepsi visual lainnya yang cenderung menyerupai orang.

Pewarnaan merujuk pada pewarnaan khas batik Jombang yang dikategorikan sebagai batik pesisir dengan kecenderungan warna yang cerah dan panas. Pewarnaan ini selain menimbulkan kontras dengan ciri khas NU yang hijau, dimaksudkan memberikan semangat dalam pelaksanaan muktamar.

Paduan huruf Serif antara Philoshoper dan Times New Roman ditempatkan persis di bawah logogram. Keseimbangan yang digunakan adalah keseimbangan tersembunyi atau asimetris. Hal tersebut diupayakan agar memberikan kesan dinamis.

Perancangan logo ini diharapkan dapat memberikan ‘kebaruan’ dalam NU, mengingat perkembangan logo atau identitas visual pada umumnya sekarang cenderung simple, namun penuh makna. (Abdullah Alawi)

BNI Mobile