Modernisasi Rugikan Ekosistem Laut

Modernisasi Rugikan Ekosistem Laut

Jakarta, NU.Online
Modernisasi alat tangkap yang selama ini menjadi tuntutan dan kebutuhan nelayan ternyata bisa menjadi bumerang yang merusak ekosistem laut. Modernisasi akan bersemangat mengekspolitasi sumber daya laut secara besar-besaran sehingga produksi laut semakin lama semakin menurun dan semakin terancam, demikian menurut peneliti independen LBH Surabaya Rodian Salman kepada NU.Online

Dampak yang ditimbulkan aksi ini bukan hanya pada berkurangnya hasil tangkapan nelayan, tetapi juga meluas kepada oceanografi, perubahan arus dan gelombang laut, kerusakan ekologi, perubahan suhu laut dan abrasi. Dari segi kesehatan, ikan hasil tangkapan dengan bom tadi akan di konsumsi manusia dan berakibat tidak baik bagi kesehatan.

<>

Bukan hanya itu, berdasakan pengamatannya hal lain yang merugikan adalah kosep tata ruang pesisir oleh pemerintah yang selama ini tidak mengindahkan suara nelayan. Seperti pembangunan pabrik di pinggir pantai, pelabuhan, dll banyak merusak ekosistem pesisir dan laut. Kerusakan alam yang ditimbulkan ini sangat merugikan nelayan  dan ekosistem laut, ungkapnya.
 
Menurutnya sejak bulan Januari 2003 dimana pemerintah telah mengeluarkan kebijakan untuk menaikkan harga BBM, --meskipun untuk kasus solar harga telah direvisi oleh pemerintah setelah menuai banyak kritik dari berbagai elemen masyarakat--. Dampak dari kebijakan ini sangat memberatkan masyarakat nelayan, sebab harganya masih tetap tinggi. Sedangkan bahan bakar solar merupakan kebutuhan pokok mereka untuk melaut, dan menangkap ikan.

Sebagai satu contoh misalnya, kondisi nelayan di Kecamatan Muncar, sejak awal Januari lalu, para nelayan membatasi diri untuk melaut karena pendapatan yang diperoleh tidak dapat menutupi pengeluaran mereka.  Setiap sekali melaut, pemilik kapal harus mengeluarkan uang setidaknya Rp.1 juta. Uang itu digunakan untuk membeli 200 liter solar, oli dan perlengkapan pandega. Padahal ikan yang diperoleh sebanyak satu ton yang laku seharga Rp. 600.000. Akibat kerugian ini, pemilik kapal memilih untuk tidak mengoperasikan kapal mereka. Walhasil, kehidupan para buruh nelayan semakin terjepit, tidak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari karena satu-satunya mata pencaharian mereka terpaksa dihentikan. "kondisi ini pun tidak jauh berbeda dengan sekarang," paparnya.

Hal ini juga diperparah oleh kondisi laut yang sudah sangat memperhatikan. Keprihatinan itu tidak lain disebabkan oleh perbuatan manusia sendiri, dengan mengeksploitasi kekayaan laut secara arogan sehingga merusak ekosistem laut itu sendiri. Baru-baru ini para nelayan Banyuwangi mengeluhkan adanya pengeboman ikan yang beroperasi secara seporadis di Selat Bali. Daerah-daerah itu misalnya, Bangsring, Pantai Bomo (Wongsorejo), Mandar dan Blimbing Sari (Rogojampi). Ada pula daerah-daerah yang merupakan wilayah laut Kabupaten Jembrana seperti Candikusuma ke arah utara sampai telukterima sekitar radius 30 Km.

Para pengebom biasanya menggunakan bom jenis potasium. Di sinyalemen aksi ini dilakukan oleh orang-orang dari luar daerah (Banyuwangi-red). Mereka melakukannya dengan rapi dan profesional sehingga sangat sulit dilacak atau dideteksi oleh nelayan biasa. Para pengebom biasanya menggunakan bom jenis potasium.

Di samping pengeboman, masalah lain adalah pencurian ikan dalam jumlah besar oleh nelayan asing. Tak kurang dari U$4 milyar pertahun sumber daya kelautan kita hilang dicuri para nelayan asing. Padahal ekspor hasil laut kita hanya U$2 milyar, atau separuh dari nilai pencurian nelayan asing. Dari situ bisa dilihat bahwa kekayaan laut kita justru banyak diminati secara gratis oleh negara lain. Menurut data yang dikeluarkan oleh Dirjen Pengendalian Sumber Daya Kelautan dan Perikanan menyebutkan bahwa jumlah kapal-kapal asing yang beroperasi di Zona Ekonomi Eksekutif Indonesia (ZEEI) sekitar 7.000 buah.

Kondisi ini harus menjadi perhatian serius pemerintah untuk mencarikan jalan keluar, agar kekayaan alam kita tidak terus menerus dikeruk dan dijarah pihak asing,  "bagaimananapun kondisi nelayan kita semakin terjepit, dan perlu usaha-usaha sistematis untuk keluar dari dilema yang menghimpit," imbuhnya. (Cih)

BNI Mobile