IMG-LOGO
Pendidikan Islam

Kemampuan Penyerapan Materi PAI Sudah Merata

Jumat 14 Agustus 2015 20:9 WIB
Bagikan:
Kemampuan Penyerapan Materi PAI Sudah Merata

Bekasi, NU Online
Direktur Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama Amin Haedari mengungkapkan, kemampuan para siswa SD, SMP, dan SMA/SMK dalam menyerap materi Pendidikan Agama Islam (PAI) sudah merata antar provinsi seluruh Indonesia. Hal ini ditunjukkan dari ketatnya persaingan dalam Pekan Keterampilan dan Seni Pendidikan Agama Islam (Pentas PAI) VII Tahun 2015, 11-14 Agustus 2015.<>

“Pentas PAI VII kali ini megalami peningkatan luar biasa. Kelihatan kemampuan antar provinsi sudah merata,” katanya saat menutup even nasional itu di Asrama Haji Embarkasi Bekasi, Kamis (13/08) malam.

Pentas PAI VII kali ini dibuka oleh Menag Lukman Hakim Saifuddim pada Selasa (11/08) pagi dan diikuti oleh semua provinsi d Indonesia, kecuali Papua Barat. Pihak panitia melaporkan, Provinsi Papua Barat tidak bisa mengikuti ajang kali ini karena kendala teknis, namun mereka tetap mengirimkan perwakilan untuk hadir dan memantau jalanya even nasional itu.

Kegiatan Pentas PAI Nasional VII Tahun 2015 diikuti oleh siswa SD, SMP, SMA, dan SMK dengan jenis mata lomba yang dikompetisikan adalah Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ), Lomba Pidato PAI (LPP), Musabaqoh Hifdzil Qur’an (MHQ), Lomba Cerdas Cermat PAI (LCP), Lomba Kaligrafi Islam (LKI), Lomba Seni Nasyid (LSN), Lomba Debat PAI (LDP), dan Lomba Kreasi Busana (LKB). Dari 8 jenis perlombaan itu terbagi lagi menjadi 22 kategori.

Tampil sebagai juara umum dalam Pentas PAI VII adalah Provinsi Jawa Timur. Namun kemenangan kontingen Jawa Timur tidak diperoleh dengan mudah. “Persaingan berlangsung ketat antar masing-masing provinsi. Kita harapkan Pentas PAI yang akan datang akan lebih baik lagi,” kata Amin Haedari

Sebelum para pemenang lomba diumumkan, para peserta disuguhi penampilan tim nasyid putra dari Bengkulu, lalu tim nasyid putri dari Gorontalo. Dua-duanya adalah nominator juara untuk Lomba Seni Nasyid (LSN).

Setelah penampilan nasyid, acara penutupan diselingi dengan penampilan para nominator juara Lomba Kreasi Busana (LKB) dari Sumatera Utara, Bali, Kalimantan Barat, dan Jawa Tengah. Kontingen Papua juga tak ketinggalan menempatkan perwakilannya sebagai nominator juara LKB. Seluruh ruangan penutupan yang riuh juga mendadak diam terhenyak oleh alunan ayat suci Al-Qur’an dari salah seorang juara MTQ Muhammad Qoyum, siswa salah satu SD di Serang Banten.

Para pemenang lomba menerima penghargaan berupa tropi, piagam dan dana bantuan pendidikan jutaan rupiah sesuai masing-masing kategori. 

“Saya ucapkan selamat kepada yang menang. Kembangkan terus prestasi kalian. Bagi yang blm menang sebenarnya tampil di Pentas PAI nasional ini saja sudah merupakan prestasi. Namun dalam setiap kompetisi harus ada yang kalah menang. Ini semua menjadi cambuk bagi kita untuk meningkatkan prestasi di masing-masing provinsi,” kata Amin Haedari.

Pentas PAI tahun ini berlangsung meriah. Para delegasi disemangati dengan kehadiran para Kepala Kanwil Kemenag. Bahkan Provinsi Aceh mengirimkan duta khusus dari bidang pariwisata untuk mengikuti dan memantau kegiatan sampai akhir.

Pentas PAI ini merupakan satu-satunya ajang yang memperlombakan kemampuan menyerap dan mempraktikkan mata pelajaran sekolah. Beberapa siswa yang ditemui berharap kegiatan diselenggarakan setiap tahun, bukan dua tahun sekali. 

“Saya ingin Pentas PAI ada setiap tahun,” kata Isna Triwahyuni siswa kelas 9 dari SMPN 9 Bulukumba Sulawesi Selatan, yang gagal masuk semi fina lomba Lomba Cerdas Cermat PAI (LCP).

Pentas PAI VII tahun ini juga diselingi dengan Sarasehan Nasional Pendidikan Agama Islam yang menghadirkan Mantan Menteri Agama sekaligus Menteri Pendidikan Malik Fadjar dan mantan Menristek dan Mendiknas M. Nuh. Kedua tokoh pendidikan itu memberikan pencerahan kepada para kepala bidang pendidikan agama Islam dari Kanwil Kemenag seluruh Indonesia, para kepala sekolah dan para guru agama Islam. 

Jawa Timur Juara Umum 

Kontingen Jawa Timur mempertahankan gelar juara umum pada Pentas PAI yang digelar di Asrama Haji Bekasi, 10-14 Agustus 2015. Dari 22 kategori perlombaan, Jawa Timur menaruh perwakilannya sebagai pemenang di 15 cabang perlombaan.

Untuk juara I, Jawa Timur mendulang dari cabang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Sekolah Dasar (SD) Putri atas nama Naswa Aulia Sabila. Lalu, dari Lomba Pidato PAI SMP Putra atas nama Mohammad Ilham Haikal Jogo Fauzi Baqy.

Dari lomba pidato PAI SMA/SMK Putri, perwakilan Jawa Timur juga mendapat juara I atas nama Mirza Fissabila. Kemudian, dari cabang Musabaqah Hifdzil Quran SD Putra juga menyabet piala juara I atas nama M Habibul Mujib.

Jawa Timur lagi-lagi mendapat juara I pada lomba cerdas cermat PAI SMP menyisihkan Sumatera Barat dan DKI Jakarta yang masing-masing menempati juara kedua dan ketiga. Jatim menurunkan timnya atas nama Hendy Aulia Rahman, Qotrunnada Munfida, dan Nur Hanifah.

Sementara untuk juara II, Jawa Timur mendapatkannya dari Adzraatul Luthfiyah pada cabang MTQ SMP Putri. Masih di cabang yang sama, Muhammad Tsabit Albanani dari Jawa Timur juga menyumbangkan juara II untuk MTQ tingkat SMA/SMK Putra. Untuk lomba pidato PAI SMA/SMK, Aliffiyan Akbaruddin dari Jawa Timur unggul atas delegasi Jawa Tengah kendati masih di bawah perwakilan Jawa Barat yang menempati urutan pertama.

Dari lomba pidato PAI SD Putra, Muhammad Ichwanuddin dari Jawa Timur cukup puas mendapat juara harapan II. Begitu juga yang diraih Sindy Nuril Maghfiroh pada cabang MHQ SMP Putri. Jatim pun akhirnya harus lapang dada kala tim lomba cerdas cermat PAI SD di posisi juara harapan II. Demikian pula, Mega Suci Mawaddah meraih posisi ini pada lomba kaligrafi Islam. Kemudian, dari Musabaqah Hifdzil Quran SD Putri lagi-lagi Jawa Timur melalui Wirdatul Hasanah cukup puas mendapat juara harapan I.

Meski cukup mendapat nilai tinggi pada lomba debat PAI SMA/SMK, tim Jawa Timur hanya mendapat juara III setelah kontingen Sumatera Utara dan Kepulauan Riau. Tim yang berkekuatan tiga personel ini atas nama Nabila Chairunnisa, Nur Halimah, dan Bramasta Singgih Prianggara. Debbye Violga Nurdiatna juga meraih juara III pada LPP SMP Putri. Red: Mukafi Niam

Bagikan:
Kamis 13 Agustus 2015 20:2 WIB
Kemenag Kucurkan 24 Trilyun untuk Tingkatkan Kualitas Madrasah
Kemenag Kucurkan 24 Trilyun untuk Tingkatkan Kualitas Madrasah

Jakarta, NU Online
Kementerian Agama terus berupaya agar madrasah menjadi lembaga pendidikan Islam yang lebih baik dan kompetitif. Harapannya, madrasah berkembang menjadi lembaga pendidikan yang dipilih masyarakat karena memang lebih baik dan bermutu.<>

Terkait ini, Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin menegaskan bahwa perencanaan arah kebijakan peningkatan mutu madrasah menjadi penting. Untuk itu, pihaknya telah menyusun desain besar peningkatan mutu madrasah untuk lima tahun ke depan. 

“Berbagai program telah dirumuskan dalam upaya peningkatan mutu madrasah dan semua itu sudah tertuang secara sistematis dalam sebuah Grand Design yang akan menjadi rujukan dan guidance bersama,” tegasnya, Rabu (12/08) sebagaimana dilansir oleh situs kemenag.go.id.

Hadir dalam kesempatan ini Direktur Pendidikan Madrasah M. Nur Kholis Setiawan, Perwakilan dari Australia’s Education Partnership with Indonesia, Abdul Munir.

Grand Desain Peningkatan Mutu Madrasah untuk lima tahun ke depan sudah selesai disusun oleh Tim Direktorat Pendidikan Madrasah, Ditjen Pendidikan Islam, Kemenag. Agar dipahami bersama oleh jajaran Kemenag, pusat di daerah, Grand Desain ini dilaunching, Rabu (12/08) malam, di hadapan para Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Kemenag dan stakeholders pendidikan Islam. Harapannya, Grand Design ini dapat segera dipahami untuk kemudian dijadikan sebagai rujukan bersama dalam menetapkan kebijakan, perencanaan, dan penganggaran program peningkatan mutu madrasah.

“Untuk lima tahun ke depan, setidaknya diperlukan biaya hingga 24 T,” kata Kamaruddin Amin. Menurutnya, sedikitnya ada tiga komponen besar program penguatan mutu pendidikan madrasah dalam lima tahun ke depan, yaitu: pertama, peningkatan kompetensi untuk lebih dari 1.200.000 guru madrasah, staf pendukung, manajer, dan personil penjaminan mutu. 

Kedua, bantuan untuk lebih dari 45.000 madrasah dalam memenuhi Standar Nasional Pendidikan sebagai dasar akreditasi (termasuk air bersih dan fasilitas sanitasi) dan Standar Pelayanan Minimal. 

“Bantuan ini bersifat stimulant untuk melengkapi sumber pendanaan lain,” jelasnya.

Ketiga, rehabilitasi lebih dari 110.000 ruang kelas yang rusak, fasilitas khusus untuk pendidikan inklusif dan kebutuhan fasilitas serta bantuan teknis yang berkualitas tinggi.

Kamaruddin Amin menambahkan bahwa Grand Design ini disusun untuk menyediakan peta arah bagi peningkatan kualitas pendidikan madrasah selama lima tahun ke depan dalam rangka mewujudkan visi Kementerian Agama. 

“Kami ingin mengembangkan pendidikan Islam yang toleran, moderat, inklusif di Indonesia serta menjadi model bagi dunia internasional,” terangnya.

Terkait kebutuhan anggaran yang mencapai Rp24T, Guru Besar Ilmu Hadits UIN Alauddin Makassar ini menegaskan bahwa akan memaksimalkan anggaran dari APBN untuk melakukan peningkatan mutu secara sistematis dan komprehensif. 

“Perencaan yang baik menjadi kunci yang ditindaklanjuti dengan tahapan pelaksanaan program Ditjen Pendidikan Islam yang jelas dan terukur dalam lima tahun ke depan,” tuturnya.

“Penjaminan mutu untuk setiap kegiatan akan diperkuat sehingga dampak dari setiap program bisa terukur,” tambahnya.

Selain itu, lanjut Kamaruddin Amin, Grand Design ini juga dirancang untuk memaksimalkan dukungan keuangan dari sumber lain, antara lain: meningkatkan kontribusi Pemerintah Daerah. 

“Menjadi kewajiban Pemda juga untuk membiayai fasilitas madrasah negeri dan swasta untuk memenuhi Standar Pelayanan Minimal,” katanya.

“Kemenag juga mengundang partisipasi berbagai pihak, baik dalam maupun luar negeri untuk berkontribusi dalam peningkatan mutu madrasah yang menyumbang sekitar 20% dari total jumlah lembaga pendidikan secara nasional,” tambahnya.

Ditjen Pendidikan Islam juga akan proaktif dalam membangun kerjasama strategis dengan semua pihak untuk bersama-sama meningkatkan mutu pendidikan madrasah. Beberapa aspek yang bisa dikerjasamakan, menurut Kamaruddin Amin antara lain: penguatan kompetensi guru, penguatan kerjasama dan advokasi ke Pemda untuk pendanaan madrasah, pengembangan madrasah vokasional, pengembangan perilaku toleransi dan pluralisme di madrasah, dan lainnya. Red: Mukafi Niam

Rabu 12 Agustus 2015 20:21 WIB
STAIMAFA PATI
Perguruan Tinggi Riset Berbasis Pesantren
Perguruan Tinggi Riset Berbasis Pesantren

Di kota Pati tepatnya di desa Purworejo berdirilah Sekolah Tinggi Agama Islam Mathali'ul Falah (STAIMAFA). Lembaga tersebut diresmikan tahun 2008 di bawah kepemimpinan ketua H Abdul Ghaffar Rozien, M. Ed. Nama Mathaliul Falah tak lepas dari madrasah atau Perguruan Islam Mathaliul Falah (PIM).
<>
STAIMAFA merupakan Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta yang dibangun di atas landasan tradisi dan diselenggarakan secara integral dengan pesantren. Pendirian STAIMAFA merupakan masa kemajuan bagi PIM. Hal ini tak lepas dari Yayasan Nurussalam Kajen sebagai kelanjutan dari unit pendidikan dasar dan menengah yang hampir satu abad dikelola oleh PIM. Dalam kurun hampir dua dasawarsa STAIMAFA melewati proses panjang dan pergulatan pemikiran sebelum resmi didirikan.

Hal ini dilatarbelakangi dari gagasan program "takhassus" pasca Aliyah sebagaimana diungkapkan KH Asnawi Rohmat salah seorang asatidz PIM. Gagasan ini semakin menguat setelah studi banding guru-guru Mathaliul Falah di Darun Najah Jakarta, Darur Rahmah Jakarta, dan Dar el-Qalam Tangerang. Atas masukan dan desakan dari alumni PIM, maka dibentuklah tim yang menggodok pendirian Sekolah Tinggi. Maka, rapat-rapat intensif di Jakarta, Yogyakarta, dan Kajen terus berlangsung. (Mempersiapkan Insan Sholih Akrom Potret Sejarah dan Biografi Pendiri PIM Kajen Margoyoso Pati 1912-2012 (1 Abad): 2012)

Berawal dari "kegelisahan" para pendiri PIM yang merasa bahwa untuk melahirkan sumber daya manusia yang memiliki kedalaman keilmuan agama dan moral sekaligus kompetitif dalam menjawab perkembangan zaman, tidak cukup hanya dengan memberikan keilmuan bekal kepada peserta didik sampai pada tingkat aliyah (SMA). Oleh karena itu, para pendiri berinisiatif menggagas sistem pendidikan lanjutan bagi para lulusan PIM dengan membuka program pasca aliyah. Akan tetapi, program tersebut ternyata dirasakan masih belum memberikan jawaban atas kegelisahan tersebut.  

Berdasarkan kajian yang mendalam dan masukan dari berbagai pihak, akhirnya disepakati pilihan bulat untuk mendirikan STAIMAFA yang diawali dengan menyelenggarakan pendidikan pada tiga jurusan dengan tiga program studi, yaitu Tarbiyah/Pendidikan Bahasa Arab (PBA), Syari'ah/Perbankan Syari'ah (PS) dan Dakwah/Pengembangan Masyarakat Islam (PMI). Ketiga jurusan dan program studi tersebut merupakan pendidikan jenjang strata satu (S1) program reguler.

Sejak berdirinya STAIMAFA mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan, khususnya para alumni dan siswa-siswi PIM. Dalam waktu yang singkat, STAIMAFA mengalami perkembangan dengan jumlah mahasiswa kurang lebih 600 sampai tahun 2012.

Dan alhamdulillah, bekat rahmat dan pertolongan Allah pada tahun ajaran 2012-2013 ini, STAIMAFA membuka lagi program studi baru yang cukup familier, yaitu Pendidikan Guru Raudlatul Athfal (PGRA) yang dirasakan urgensinya di era sekarang, mengingat Jawa Tengah menempati provinsi tertinggi dalam tingkat partisipasi anak-anak playgrup di seluruh Indonesia. Antusiasme para guru dan para pelajar yang belajar di program studi PGRA ini sangat besar. Hingga pembukaan pendaftaran mahasiswa baru tahun ajaran 2015-2016 STAIMAFA membuka jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Komunikasi & Penyiaran Islam dan Zakat & Wakaf. Harapannya dimasa yang akan datang STAIMAFA mampu menjadi Institut dari informasi yang dihimpun NU Online sekarang sedang proses mengajukan pemberkasan syarat menuju institut.

Secara akademik setelah menjadi alumni dan melihat alumni dari perguruan tinggi lain dengan program studi yang sama secara materi tidak terlalu tertinggal jauh. Hal ini dungkapkan Nur Khoiriyah (24) sebagai alumni angkatan kedua. "Melihat perkembangan lembaga, saya bangga melihat progres yang sedang ada, Insya Allah dalam proses menuju institut, ini menunjukkan bahwa kampus ini digarap dengan sungguh", ungkap Nur yang sekarang melanjutkan studi pascasarjana di Universitas Gajah Mada.

Sebagai alumni prodi PMI Nur Khoiriyah menyatakan secara pribadi lebih enak dalam memahami kontekstualisasi ajaran Islam, mengontekstualisasikan ilmu-ilmu untuk memahami teks, seperti Tafsir, Hadis dan Fikih. Hal ini baru dirasakan betul ketika menempuh studi lanjut di Jogjakarta. Nur menjelaskan pentingnya pemahaman Islam yang lebih "luwes" untuk bisa berteman lintas organisasi masyarakat bahkan lintas agama, bukan dalam rangka mencampuradukkan tetapi memahami perbedaan.

Irza Syaddad (25) menceritakan ketika masih menjadi mahasiswa bahwa dulu pihak kampus sering kali mengadakan hibah penelitian kepada civitas akademi. Selain itu, nilai-nilai pesantren di lingkungan kampus masih terjaga dengan baik. Irza yang sekarang menempuh studi lanjut di Universitas Al-Imam Muhammad bin Saud, Arab Saudi mencontohkan menghormati guru (baca: dosen) masih berlaku dengan melanggengkan budaya cium tangan.

Hal ini tak lepas dari visi STAIMAFA "Menjadi Perguruan Tinggi Riset Berbasis Nilai-Nilai Pesantren". STAIMAFA ingin menjadi perguruan tinggi yang menggabungkan kemampuan metodologi ilmu modern yang berbasis penelitian dengan kekayaan khazanah klasik yang ada di pesantren sesuai dengan kaidah "Almuhafadzatu ala al-qadim al-shalih wal akhdzu bil jadid al-ashlah", konsistensi menjaga tradisi yang relevan dan aktif mengadopsi khazanah baru yang lebih progresif.

Ditambah visi STAIMAFA ini untuk meneruskan spirit "Tafaqquh Fiddin" dan "Sholih-Akrom" yang menjadi tujuan berdirinya PIM. Tafaqquh Fiddin ada dalam pelestarian nilai-nilai pesantren yang mengedepankan ketakwaan, ketuhanan, ketawadhuan, dan konsisten memegang khazanah Islam klasik yang biasa dipelajari di pesantren dan Sholih-Akrom ada dalam kemampuan risetnya, dan orientasi ketuhannya yang mengedepankan nilai-nilai kebenaran, keikhlashan dan kepedulian sosial. (M. Zulfa)

Selasa 11 Agustus 2015 16:0 WIB
Optimalisasi Pendidikan Islam Atasi Penyimpangan Perilaku Siswa
Optimalisasi Pendidikan Islam Atasi Penyimpangan Perilaku Siswa

Bekasi, NU Online
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berharap optimalisasi Pendidikan Agama Islam (PAI) melalui kegiatan ektrakurikuler yang sesuai kebutuhan dan potensi siswa dapat mengatasi berbagai penyimpangan perilaku siswa yang selama ini dikeluhkan oleh masyarakat.<>

“Secara bertahap, optimalisasi PAI dapat mengatasi kelemahan sebagian siswa yang selama ini sering dikeluhkan masyarakat antara lain rendahnya kejujuran, rendahnya toleransi dan kasih sayang, rendahnya kemampuan baca tulis Al-Qur'an, serta adanya penyimpangan perilaku seperti narkoba, minuman keras, tawuran dan seks bebas,” katanya.

Menteri Agama menyampaikan hal itu saat membuka Pekan Keterampilan dan Seni Pendidikan Agama Islam (Pentas PAI) tingkat Nasional VII Tahun 2015 untuk siswa SD, SMP, SMA dan SMK. Kegiatan dipusatkan di Asrama Haji Bekasi Jawa Barat, Selasa (11/8).

UU Sisdiknas dan Peraturan Pemerintah tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan secara eksplisit menghendaki agar penyelenggaraan pendidikan nasional menekankan pengembangan potensi dan karakter peserta didik yang diselaraskan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Menurut Menteri Agama, Pentas PAI merupakan salah satu kegiatan ekstrakurikuler atau eskul yang bermanfaat dalam meningkatkan pengetahuan, memperbaiki sikap dan menambah pengalaman dalam pengamalan ajaran Islam mengingat jam pelajaran PAI di sekolah relatif terbatas. Ekskul PAI  harus menjadi alternatif pengembangan pendidikan agama Islam di sekokah

Peserta didik yang beragama Islam di seluruh Indonesia jumlahnya sekitar 47 juta siswa yg merupakan potenai strategis bg kelangsungan hidup bagsa. Kemenag bertekad memberikan pembinaan maksimal kepada siswa sekolah untuk meningkatkan keimanan, ketakwaan, budi pekerti, dan akhlak mulia agar kelak mjd orang bermanfaat

“Pentas PAI dapat menjadi media dakwah dan wahana kompetisi  yang dapat menanamkan sikap sportifitas dan saling menghargai hak antar sesama pelajar. Pentas PAI juga dirancang dalam rangka memberikan kesempatan para siswa untuk mengekpresikan diri dan menumbuhkan bakat dan keberanian, rasa cinta dan bangga kepada Islam dan mempererat ukhuwah Islamiyah,” katanya.

Dalam kesempatan itu ia mengimbau seluruh peserta mampu bersikap sportif dalam mengikuti lomba. Pentas PAI menjadi wahana aktualisasi dan ekspresi kemampuan dan bakat dengan tetap menjunjung tinggi nilai persahabatan.

"Utamakan ukhuwah islamiyah dan wathaniyah. Memang tentu menjadi harapan sebagai wujud sebuah prestasi. Tapi prestasi sesungguhnya yang sudah kalian raih adalah manakala sportifitas mampu kalian wujudkan. Dengannya, akhlak kalian akan semakin baik dan memberi faidah besar dalam kehidupan masyarakat,” pungkasnya. (A. Khoirul Anam)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG