IMG-LOGO
Daerah

Ribuan Santri Cipasung Gelar Upacara Kemerdekaan

Kamis 20 Agustus 2015 15:12 WIB
Bagikan:
Ribuan Santri Cipasung Gelar Upacara Kemerdekaan

Tasikmalaya, NU Online
Peringatan Hari Lahir Ke-70 Republik Indonesia tidak luput dari perhatian ribuan santri di pesantren Cipasung, Singaparna, Tasikmalaya di akhir pekan kemarin. Mereka baik santri putra maupun santri putri menggelar apel kemerdekaan di halaman asrama pesantren.
<>
Mereka juga melantunkan tahlil dan doa bersama. Sebelum pembacaan tahlil, pemimpin tahlil ustadz Asep Nursyamsi mengatakan kepada seluruh santri, ”Kita harus merdeka, merdeka dari kebodohan, kemiskinan, kemalasan dan nafsu setan.”

Hal senada diungkapakan langsung oleh Ibu Neneng Nurlaela yang merupakan salah satu pembina asrama di pesantren Cipasung saat membuka kegiatan perlombaan Agustusan pada Ahad (16/8) sore.

Setiap asrama mengadakan perlombaan bagi para santri antara lain panjat pinang, balap karung, futsal, menggambar poster para pahlawan, dan lain-lain.

Kecuali itu mereka menggelar karnaval. Mereka turun ke jalan raya dengan kostum yang berhubungan dengan hari kemerdekaan serta membawa poster atau atribut-atribut yang lain. Mereka menyusuri jalan seraya menyanyikan lagu hari kemerdekaan. (Zulfatul Fuadiyah/Alhafiz K)

Bagikan:
Kamis 20 Agustus 2015 22:1 WIB
MA NU 03 Brebes, Suguhkan Sintren di Brebes Expo
MA NU 03 Brebes, Suguhkan Sintren di Brebes Expo

Brebes, NU Online
Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MA NU) 03 Brebes menyuguhkan kesenian Sintren pada Brebes Ekspo 2015. Penampilan sintren sebagai upaya melestarikan budaya pantura yang telah dikenal sejak beratus-ratus tahun yang silam.<>

“Entah mengapa, kesenian sintren menjadi trade mark bagi masyarakat pantura barat,” terang Kepala MA NU 03 Brebes Sulawestio, usai pementasan sintren di pembukaan Brebes Expo di Stadion Karang Birahi Brebes, Selasa sore (18/8) lalu. 

Masyarakat Brebes, lanjut Pa Tio-demikian biasa disapa-, mengenal sintren sebagai kesenian yang mengandung magis. Padahal suatu ketrampilan yang bisa dijalankan oleh siapa saja. Seperti halnya sulap, dan jenis-jenis ketrampilan ‘alam gaib’ lainnya. “Siswa kami ajarkan, kalau sintren itu bukan magis tapi suatu ketrampilan menarik dan berbudaya, apalagi diiringi dengan berbagai lagu-lagu yang bisa kita kemas untuk menyebarkan kebaikan, bukan syirik,” terangnya.

Menurut sejarah, Sintren atau juga dikenal dengan Lais adalan kesenian tari tradisional masyarakat Jawa, khususnya di Cirebon. Kesenian ini terkenal di pesisir utara Jawa Barat dan Jawa Tengah, antara lain di Indramayu, Cirebon, Majalengka, Jatibarang, Brebes, Pemalang, Tegal, Banyumas, Kuningan, dan Pekalongan. Kesenian Sintren dikenal sebagai tarian dengan aroma mistis/magis yang bersumber dari cerita cinta kasih Sulasih dengan Sulandono.

Kesenian Sintren berasal dari kisah Sulandono sebagai putra Ki Bahurekso Bupati Kendal yang pertama hasil perkawinannya dengan Dewi Rantamsari yang dijuluki Dewi Lanjar. Raden Sulandono memadu kasih dengan Sulasih seorang putri dari Desa Kalisalak, namun hubungan asmara tersebut tidak mendapat restu dari Ki Bahurekso, akhirnya R Sulandono pergi bertapa dan Sulasih memilih menjadi penari. Meskipun demikian pertemuan di antara keduanya masih terus berlangsung melalui alam gaib.

Pertemuan tersebut diatur oleh Dewi Rantamsari yang memasukkan roh bidadari ke tubuh Sulasih, pada saat itu pula R Sulandono yang sedang bertapa dipanggil oleh roh ibunya untuk menemui Sulasih dan terjadilah pertemuan di antara Sulasih dan R Sulandono. Sejak saat itulah setiap diadakan pertunjukan sintren sang penari pasti dimasuki roh bidadari oleh pawangnya, dengan catatan bahwa hal tersebut dilakukan apabila sang penari masih dalam keadaan suci (perawan). 

Sintren juga mempunyai keunikan tersendiri yaitu terlihat dari panggung alat-alat musiknya yang terbuat dari tembikar atau gembyung dan kipas dari bambu yang ketika ditabuh dengan cara tertentu menimbulkan suara yang khas.

Selain menampilkan kesenian sintren, sambung Tio, MA NU 03 juga ikut membuka stand pameran. Stand diisi dengan berbagai hasil kerajinan kreatifitas siswa, serta menampilkan berbagai prestasi siswa. Para siswa, juga menampilkan kesenian sisingaan yang berputar-putar diiringi music mengelilingi stadion karang birahi. 

“Kami ingin tampil sebaik mungkin demi menghibur masyarakat Brebes yang tengah menyaksikan Brebes expo,” tandasnya. 

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Brebes Hj Idza Priyanti, Wakil Bupati Brebes Narjo SH, Sekda Brebes H Emastoni Ezam SH MH, Forkopimda, para Kepala SKPD dan undangan lainnya melakukan sawer dan kunjungan ke stand. (Wasdiun/Mukafi Niam)

Kamis 20 Agustus 2015 14:2 WIB
Antisipasi Konflik, Lakpesdam Jatim Gelar Pelatihan Kader Damai
Antisipasi Konflik, Lakpesdam Jatim Gelar Pelatihan Kader Damai

Jember, NU Online
Selama dua hari terakhir Lakpesdam NU Jawa Timur menggelar pelatihan kader damai di kecamatan Puger kabupaten Jember. Pada pelatihan, pihak penyelenggara melibatkan segenap unsur masyarakat mulai dari tokoh agama, aparat kepolisian, komunitas pemuda-pemudi, hingga nelayan setempat.
<>
Menurut salah seorang panitia Yeni Luthfiana, pelatihan ini dimaksudkan untuk mencetak kader-kader dan relawan yang sadar konflik dan memunyai bekal mengantisipasi serta menanganinya.

“Intinya kita ingin mereka jadi kader yang jadi penggerak perdamaian, fasilitator perdamaian, dan sebagainya," ujar Yeni di Puger, Rabu (19/8).

Yeni menambahkan, dari catatan sejarah, Puger memang dikenal rawan konflik mulai dari konflik antarnelayan, konflik antarkelompok agama, konflik kepentingan ekonomi, konflik yang dipicu soal politik, dan yang terakhir adalah konflik yang berlatar perbedaan paham keagamaan hingga menelan korban jiwa (2013).

Karena itu, lanjut Yeni, hal tersebut membutuhkan fasilitator yang mampu menjadi jembatan komunikasi antarpihak yang rawan konflik. "Sekaligus juga memberikan informasi yang benar soal hal-hal yang dikonflikkan. Kita berharap mereka bisa memberikan kontribusi untuk mewujudkan perdamaian, penghargaan terhadap kelompok minoritas dan sebagainya," kata Yeni.

Pelatihan berlangsung di pendopo kantor kecamatan Puger. Tampak hadir puluhan peserta pada pelatihan ini.

Selain diisi dengan penyampaian materi, peserta juga "diajak" mengidentifikasi konflik yang ada di Puger khususnya daerah yang rawan konflik seperti desa Puger Kulon dan Puger Wetan.

"Jadi kita petakan dulu persoalannya, kelak penanganannya bisa lebih mudah," pungkas Yeni. (Aryudi/Alhafiz K)

Kamis 20 Agustus 2015 13:2 WIB
PCNU Probolinggo-Kraksaan Evaluasi Muktamar NU
PCNU Probolinggo-Kraksaan Evaluasi Muktamar NU

Probolinggo, NU Online
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Probolinggo dan Kota Kraksaan, Selasa (18/8) melakukan evaluasi pelaksanaan Muktamar NU ke-33 yang digelar di Jombang 1 hingga 5 Agustus 2015 kemarin. Pengurus teras pada pertemuan ini melontarkan sejumlah catatan terkait amatan mereka di forum muktamar NU.
<>
Tampak hadir Mustasyar PCNU Probolinggo H Hasan Aminuddin, Rais Syuriyah PCNU Probolinggo KH Jamaluddin al-Hariri, Ketua PCNU Probolinggo KH Abdul Hadi, Rais Syuriyah PCNU Kota Kraksaan KH Munir Kholili, dan Ketua PCNU Kota Kraksaan H Nasrullah A Suja’i.

Dalam sambutan H Hasan Aminuddin menceritakan pengalamannya saat menghadiri Muktamar Ke-33 NU di Jombang secara langsung. “Muktamar NU adalah sebuah pesta demokrasi struktur NU,” ungkapnya.

Menurut Hasan, dalam evaluasi dari pelaksanaan Muktamar NU ke-33 ini, para pengurus PCNU Kabupaten Probolinggo dan Kota Kraksaan yang datang langsung ke Jombang menyampaikan keluh kesahnya. Mereka menyampaikan adanya kekurangan-kekurangan terkait pelaksanaan Muktamar.

“Kekurangan-kekurangan yang tampak janggal terjadi dari awal pelaksanaan,” tegasnya.

Hasan meminta supaya Nahdliyin di Probolinggo untuk menerima hasil Muktamar, meskipun ditengarai kejanggalan. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG