IMG-LOGO
Trending Now:
Pesantren

Lakpesdam NTB Kuatkan Kader Penggerak Ranting

Sabtu 22 Agustus 2015 9:0 WIB
Bagikan:
Lakpesdam NTB Kuatkan Kader Penggerak Ranting

Lombok Tengah, NU Online
Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Munusia (Lakpesdam) NU Nusa Tenggara Barat menggelar acara "Penguatan Kapasitas Kader Ranting NU" selama lima hari, 20-24 Agustus 2015, di Pondok Pesantren Al-Manshuriah NU Bonder, Kecamataran Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah, NTB.
<>
"Kami akan tata bersama organisasi ini agar semua tingkatan kepengurusan NU dapat berjalan dengan maksimal," kata Habibul Umam, Ketua Panitia Pelatihan, Jumat (21/08).

Pelatihan kader penggerak ranting ini menurut Habib penting dilakukan karena ranting merupakan ujung tombak kekuatan Nahdliyin agar bisa berjalan dengan baik secara terus-menurus.

Dalam kegiatan ini di hadiri oleh 40 Peserta perwakilan dari pengurus ranting NU se-NTB melalui rekomendasi 10 cabang Lakpesdam yang ada di NTB. (Hadi/Mahbib)

Bagikan:
Sabtu 22 Agustus 2015 8:0 WIB
Tiap Tahun Pesantren Tremas Doa Bersama untuk Calon Jamaah Haji
Tiap Tahun Pesantren Tremas Doa Bersama untuk Calon Jamaah Haji

Pacitan, NU Online
Santri Pondok Tremas Pacitan dan masyarakat setempat menghadiri acara doa bersama dan pelepasan calon jamaah haji Kabupaten Pacitan tahun 1436 H, Jumat (21/8) sore. Acara yang berlangsung di halaman masjid Pondok Tremas ini berlangsung dengan suasana khidmat. Tradisi doa bersama dan pelepasan calon jamaah haji ini biasa digelar Pondok Tremas tiap tahunya dalam rangka memberikan penghormatan kepada para tamu Allah.
<>
KH Fuad Habib, Pengasuh Pondok Tremas Pacitan, dalam sambutanya meminta kepada calon jamaah haji untuk turut mendoakan seluruh santri tremas agar selalu istiqomah dan diberikan kemudahan dalam belajar. "Sampaikan salam kami kepada kanjeng Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam," pintanya.

Menurut Kiai Fuad, ibadah haji adalah perjalanan fiisabilillah, tidak ada seorangpun yang tidak mempunyai cita-cita ingin menunaikan ibadah haji. Karena munaikan haji merupakan nikmat yang sangat besar yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

"Ingkang sampun (haji) mawon taksih pingin mindo. Nopo malih ingkang dereng (Yang sudah haji saja ingin mengulangi kembali, apalagi yang belum berhaji),” tuturnya.

Sementara itu, KH Achid Turmudzi mewakili rombongan calon haji Kabupaten Pacitan juga meminta kepada para santri untuk turut mendoakan jamaah agar dalam menunaikan rukun islam yang kelima ini selalu diberikan kemudahan, kesehatan, dan keselamatan sampai kembali ke Tanah Air.

Acara ditutup dengan pembacaan doa oleh KH Luqman Harits, KH Hammad Al Alim dan perwakilan santri kelas III Aliyah. Kemudian diakhiri dengan mushofafah oleh para santri dengan jamaah calon haji. (Zaenal Faizin/Mahbib)

Kamis 20 Agustus 2015 21:7 WIB
Nasionalisme Wujud Hubbul Wathan minal Iman
Nasionalisme Wujud Hubbul Wathan minal Iman

Brebes, NU Online
Santri di Pondok Pesantren Salafiyah Qudrotillah Bulakamba Kabupaten Brebes tak kalah dengan lembaga pendidikan pada umumnya. Pada Senin (17/8) lalu, mereka menggelar upacara bendera peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-70.
<>
Peserta upacara tidak memakai celana panjang dan sepatu layaknya pelajar sekolah umum, melainkan bersarung dan kopiahnya. Mereka khidmat mengikuti prosesi upcara detik-detik proklamasi di bawah sengatan sinar matahari.

Pesantren yang diasuh oleh Kiai Ibnu Aif ini memang kental dengan aroma tradisionalisme lokalitas dan keindonesiaan. "Santri dan pengurus pondok ini ikut upacara kemerdekaan karena kami bagian dari NKRI, athiullaha wa athiu ulil amri. Patuh kepada Allah berarti patuh pada pemerintah atau negara," kata pria yang kerap dipanggil Gus Alif itu.

Menurutnya, meski dilakukan dengan cara yang sangat sederhana, upacara bendera sebagai perlambang dari wujud nasionalisme. Pihaknya ingin menanamkan semangat NKRI kepada para santri.

Bagi pesantren tersebut, nasionalisme sebagai perwujudan hubbul wathan minal iman dalam semangat ukhuwah wathoniyah. Itu juga yang melatarbelakangi perjuangan para ulama dan kaum santri dalam pertempuran melawan penjajah demi kemerdekaan dan kedaulatan bangsa.

"Di sini pesantren salaf ahlussunah wal jamaah, tidak bisa melepas begitu saja kultur dan budaya bangsa. Santri juga perlu mendapat wawasan sejarah kebangsaan akan pentingnya NKRI. Harus ditanamkan kuat-kuat NKRI, tidak boleh ada negara dalam negara," jelas dia.

Pesantren yang berdiri hampir lima tahun itu, cukup berkembang pesat. Jumlah santri mukim mencapai 70 anak dari berbagai daerah, termasuk dari luar Jawa. Suasananya masih sangat tradisional. Seluruh bangunan dan bilik santri masih terbuat dari kayu dan bambu.

Setiap harinya, kegiatan belajar mengajar kitab kuning dan pendidikan Al-Quran ditanamkan kepada santri. Bahkan hingga pelajaran bahasa Inggris. Santri juga diperbolehkan mengambil sekolah umum.

"Kapasitas pondok sekarang baru menampung maksimal 70 santri, karena terbatas. Sehingga tahun ini kami tidak bisa menerima 200-an santri karena tidak muat," pungkasnya. (wasdiun/abdullah alawi)

Selasa 18 Agustus 2015 8:1 WIB
Pesantren Al-Muayyad Windan Bedah Materi Muktamar NU
Pesantren Al-Muayyad Windan Bedah Materi Muktamar NU

Sukoharjo, NU Online
Puluhan santri Pondok Pesantren Al-Muayyad Windan Makamhaji Sukoharjo mengikuti kegiatan kelas “Bedah Materi Muktamar NU ke-33”. Acara yang dipusatkan di aula pondok setempat ini dilaksanakan selama dua hari (16-17/8).
<>
Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayyad Windan, KH M Dian Nafi’, selama dua hari tersebut para peserta yang juga ada dari luar Windan, akan mengkaji berbagai hasil materi yang telah dibahas pada Muktamar NU di Jombang, belum lama ini.

“Secara umum, materi muktamar yang didiskusikan meliputi kajian dari empat komisi pada Muktamar NU,” terang Wakil Syuriyah PWNU Jateng itu.

Empat komisi tersebut antara lain Komisi Bahtsul Masail Waqi'iyah (kajian masalah kontemporer), Komisi Bahtsul Masail Maudlu'iyah (masalah tematik), Komisi Bahtsul Masail Qanuniyah (masalah perundang-undangan), dan Komisi Program.

“Pengkajian ini diharapkan menjadi bekal penting bagi para santri untuk terjun di masyarakat dan saat mereka menjadi pemimpin kelak,” imbuh Gus Dian.

Koordinator pelaksana acara ini, Ahmad Asrof Fitri menambahkan pihaknya mendatangkan beberapa narasumber yang kompeten.

“Selain Kiai Dian, juga ada narasumber lain untuk membahas pelbagai persoalan seperti Hukum BPJS, Ketenagakerjaan, hukum mati, pasar bebas dan lain sebagainya,” ujar dia. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG