IMG-LOGO
Nasional

Inilah Penjelasan Mengenai Aswaja Perspektif NU

Senin 24 Agustus 2015 19:2 WIB
Bagikan:
Inilah Penjelasan Mengenai Aswaja Perspektif NU

Forum Muktamar Ke-33 NU di Jombang pada awal Agustus 2015 lalu membahas perihal "Khashaish Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyyah" atau Aswaja Perspektif NU pada sidang komisi bahtsul masail diniyah maudhu’iyyah. Materi ini dibahas di masjid utama pesantren Tambakberas Jombang yang dipimpin oleh KH Afifuddin Muhajir. Berikut ini rumusannya.<>
Khashaish Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdhiyah

Islam sebagai agama samawi terakhir memiliki banyak ciri khas (khashaish) yang membedakannya dari agama lain. Ciri khas Islam yang paling menonjol adalah tawassuth, ta’adul, dan tawazun. Ini adalah beberapa ungkapan yang memiliki arti yang sangat berdekatan atau bahkan sama. Oleh karena itu, tiga ungkapan tersebut bisa disatukan menjadi “wasathiyah”. Watak wasathiyah Islam ini dinyatakan sendiri oleh Allah SWT di dalam Al-Qur’an,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

“Dan demikian (pula) kami menjadikan kamu (umat Islam), umat penengah (adil dan pilihan), agar kamu menjadi saksi atas seluruh manusia dan agar Rasul (Muhammad SAW) menjadi saksi atas kamu.” (QS. Al-Baqarah;143)

Nabi Muhammad SAW sendiri menafsirkan kata وَسَطًا dalam firman Allah di atas dengan adil, yang berarti fair dan menempatkan sesuatu pada tempatnya. Perubahan fatwa karena perubahan situasi dan kondisi, dan perbedaan penetapan hukum karena perbedaan kondisi dan psikologi seseorang adalah adil.Selain ayat di atas, ada beberapa ayat dan hadits yang menunjukkan watak wasathiyah dalam Islam, misalnya firman Allah:

وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا

“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (QS. Al-Isra’: 29)

Dalam firman-Nya yang lain,

وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.” (QS. Al-Isra’: 110)

Sementara dalam hadits dikatakan,


خَيْرُ اْلأُمُوْرِ أَوْسَاطُهَا

“Sebaik-baik persoalan adalah sikap-sikap moderat.”

Mirip dengan hadits di atas adalah riwayat,

وَخَيْرُ اْلأَعْمَالِ أَوْسَطُهَا وَدِيْنُ اللهِ بَيْنَ الْقَاسِىْ وَالْغَالِىْ

“Dan sebaik-baik amal perbuatan adalah yang pertengahan, dan agama Allah itu berada di antara yang beku dan yang mendidih.”

Wasathiyyah yang sering diterjemahkan dengan moderasi itu memiliki beberapa pengertian sebagai berikut: Pertama, keadilan di antara dua kezhaliman (عدل بين ظلمين) atau kebenaran di antara dua kebatilan (حق بين باطلين), seperti wasathiyah antara atheisme dan poletheisme. Islam ada di antara atheisme yang mengingkari adanya Tuhan dan poletheisme yang memercayai adanya banyak Tuhan. Artinya, Islam tidak mengambil paham atheisme dan tidak pula paham poletheisme, melainkan paham monotheisme, yakni paham yang memercayai Tuhan Yang Esa. Begitu juga wasathiyyah antara boros dan kikir yang menunjuk pada pengertian tidak boros dan tidak kikir. Artinya, Islam mengajarkan agar seseorang di dalam memberi nafkah tidak kikir dan tidak pula boros, melainkan ada di antara keduanya, yaitu al-karam dan al-jud. Allah berfirman;


وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqan: 67)

Kedua, pemaduan antara dua hal yang berbeda/berlawanan. Misalnya, (a). wasathiyyah antara rohani dan jasmani yang berarti bahwa Islam bukan hanya memerhatikan aspek rohani saja atau jasmani saja, melainkan memerhatikan keduanya. Wasathiyyah antara nushûs dan maqâshid. Itu berarti Islam tak hanya fokus pada nushûs saja atau maqâshid saja, melainkan memadukan antara keduanya. (b). Islam pun merupakan agama yang menyeimbangkan antara `aql dan naql. Bagi Islam, akal dan wahyu merupakan dua hal yang sama-sama memiliki peranan penting yang sifatnya komplementer (saling mendukung antara satu sama lain). Kalau diibaratkan dengan pengadilan, akal berfungsi sebagai syahid (saksi) sementara wahyu sebagai hakim, atau sebaliknya, yakni akal sebagai hakim sementara wahyu sebagai syahid. (c).  Islam menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara individu dan masyarakat,  antara ilmu dan amal, antara ushul dan furu’, antara sarana (wasilah) dan tujuan (ghayah), antara optimis dan pesimis, dan seterusnya.

Ketiga, realistis (wâqi’iyyah). Islam adalah agama yang realistis, tidak selalu idealistis. Islam memunyai cita-cita tinggi dan semangat yang menggelora untuk mengaplikasikan ketentuan-ketentuan dan aturan-aturan hukumnya, tapi Islam tidak menutup mata dari realitas kehidupan yang–justru–lebih banyak diwarnai hal-hal yang sangat tidak ideal. Untuk itu, Islam turun ke bumi realitas daripada terus menggantung di langit idealitas yang hampa. Ini tidak berarti bahwa Islam menyerah pada pada realitas yang terjadi, melainkan justru memerhatikan realitas sambil tetap berusaha untuk tercapainya idealitas. Contoh wasathiyyah dalam arti waqi’iyyah ini adalah pemberlakuan hukum ‘azîmah dalam kondisi normal dan hukum rukhshah dalam kondisi dharurat atau hajat.

Watak wasathiyyah dalam Islam Ahlussunnah wal Jama’ah tercermin dalam semua aspek ajarannya, yaitu akidah, syariah, dan akhlaq/tasawwuf serta dalam manhaj. Dalam jam’iyyah Nahdlatul Ulama sebagai bagian dari golongan Ahlussunnah wal Jama’ah, watak wasathiyyah tersebut antara lain terjadi dalam hal-hal sebagai berikut:

1. Melandaskan ajaran Islam kepada Al-Qur’an dan As-sunnah sebagai sumber pokok dan juga kepada sumber-sumber sekunder yang mengacu pada Al-Qur’an dan As-sunnah seperti ijma’ dan qiyas.

2. Menjadikan ijtihad sebagai otoritas dan aktifitas khusus bagi orang-orang yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang tidak mudah untuk dipenuhi. Sedangkan bagi yang tidak memenuhi syarat-syarat ijtihad, tidak ada jalan lain kecuali harus bermazhab dengan mengikuti salah satu dari mazhab-mazhab yang diyakini penisbatannya kepada ashabul madzahib. Namun, Nahdlatul Ulama membuka ruang untuk bermadzhab secara manhaji dalam persoalan-persoalan yang tidak mungkin dipecahkan dengan bermadzhab secara qauli.

Pola bermadzhab dalam NU berlaku dalam semua aspek ajaran Islam; aqidah, syariah/fiqh, dan akhlaq/tasawwuf, seperti dalam rincian berikut: (a). Di bidang syariah/fiqh, Nahdlatul Ulama mengikuti salah satu dari madzhab empat, yaitu madzhab Imam Abu Hanifah, Madzhab Imam Malik ibn Anas, madzhab Imam Muhammad bin Idris as-Syafii dan madzhab Imam Ahmad bin Hanbal. (b). Di bidang aqidah mengikuti madzhab Imam Abul Hasan al-Asy’ari dan madzhab Imam Abu Manshur al-Maturidi. (c). Di bidang akhlaq/tasawuf mengikuti madzhab Imam al-Junaid al-Baghdadi dan madzhab Imam Abu Hamid al-Ghazali.

3. Berpegang teguh pada petunjuk Al-Qur’an di dalam melakukan dakwah dan amar makruf nahi mungkar, yaitu dakwah dengan hikmah/kearifan, mau’izhah hasanah, dan mujadalah bil husna.

4. Sebagai salah satu wujud dari watak wasathiyyah dengan pengertian al-waqi’iyyah (realistis), Nahdlatul Ulama menghukumi NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dengan Pancasila sebagai dasarnya sebagai sebuah negara yang sah menurut pandangan Islam dan tetap berusaha secara terus menerus melakukan perbaikan sehingga menjadi negara adil makmur berketuhanan Yang Maha Esa. 

5. Mengakui keutamaan dan keadilan para shahabat Nabi, mencintai dan menghormati mereka serta menolak dengan keras segala bentuk penghinaan dan pelecehan terhadap mereka apalagi menuduh mereka kafir.

6. Tidak menganggap siapapun setelah Nabi Muhammad saw sebagai pribadi yang ma’shum (terjaga dari kesalahan dan dosa). 

7. Perbedaan yang terjadi di kalangan kaum muslimin merupakan salah satu dari fitrah kemanusiaan. Karena itu, menghormati perbedaan pendapat dalam masa`il furu`iyyah-ijtihadiyah adalah keharusan. Nahdhatul Ulama tak perlu melakukan klaim kebenaran dalam masalah ijtihadiyyah tersebut.

8. Menghindari hal-hal yang menimbulkan permusuhan seperti tuduhan kafir kepada sesama muslim, ahlul qiblah.

9. Menjaga ukhuwwah imaniyyah-islamiyyah di kalangan kaum muslimin dan ukhuwwah wathaniyyah terhadap para pemeluk agama-agama lain. Dalam konteks NU, menjaga ukhuwwah nahdliyyah adalah niscaya terutama untuk menjaga persatuan dan kekompakan seluruh warga NU.

10. Menjaga keseimbangan antara aspek rohani dan jasmani dengan mengembangkan tasawwuf `amali, majelis-majelis dzikir, dan sholawat sebagai sarana taqarrub ilallah di samping mendorong umat Islam agar melakukan kerja keras untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka. (Red Alhafiz K)

Bagikan:
Senin 24 Agustus 2015 22:1 WIB
PP IPPNU Kukuhkan Tim Pengkaderan Regional Jawa
PP IPPNU Kukuhkan Tim Pengkaderan Regional Jawa

Semarang, NU Online
Sebagaimana pengkaderan yang sejak awal menjadi fokus gerak IPPNU, pengkaderan juga menjadi kunci dari keberlanjutan banom untuk usia anggota termuda yang sekaligus merupakan wujud gerakan perempuan NU ini. Urgensi yang demikian tak bisa ditawar, karenanya PP IPPNU membentuk Tim Pengkaderan IPPNU Regional Zona Jawa.<>

Pembentukan tersebut setelah IPPNU pusat menggelar Latihan Pelatih Nasional Zona Jawa bertajuk "Kuatkan Ideologi Menuju Soliditas Organisasi", Jum'at-Ahad (21-23/8). Agenda yang dilaksanakan di Gedung Pimpinan Wilayah NU Jawa Tengah ini diikuti oleh perwakilan dari tiap wilayah di pulau Jawa, yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat dan Banten.

"Kualitas kader, kualitas pemimpin, berasal dari bagaimana sistem kaderisasinya berjalan. Saya sangat berharap agar pelatihan yang telah berlangsung selama tiga hari ini maksimal melahirkan kader-kader segar yang dapat membentengi diri dan sekitarnya dari Islam transnasional," terang Farida Farichah, Ketua Umum IPPNU Pusat saat sambutan menutup acara (23/8).

Farida mengungkap bahwa tugas berat tim fasilitator regional ini yakni menanamkan doktrin ideologi kepada para kader muda. "Tugas berat kalian adalah bagaimana agar bisa mendoktrinasi keder-kader NU agar lebih kuat ideologinya. Tapi  tugas yang berat ini akan segera menjadi ringan ketika dilakukan secara bersama-sama," lanjut Farida.

Pengukuhan dengan penandatanganan komitmen tim regional zona jawa oleh perwakilan peserta, tim fasilitator nasional dan Ketua Umum Pimpinan Pusat IPPNU. Komitmen berisi tiga hal pernyataan yang sebelumnya telah disepakati seluruh peserta Latpelnas.

Ketiga komitmen tersebut antara lain; fasilitator regional siap menjadi fasilitator zona Jawa, siap untuk menjadi penerus tim fasilitator nasional selanjutnya, dan selalu mengembangkan ide dan kreativitas dalam teknik fasilitasi pengkaderan di IPPNU.

"Semoga Acara  pelatihan ini nantinya bisa kontinu, artinya akan dilaksanakan kembali pula oleh Pimpinan Pusat IPPNU periode berikutnya," harap Ainingsih, salah satu peserta yang mewakili Pimpinan Wilayah IPPNU Jawa Tengah. (Istahiyyah/Fathoni)

Senin 24 Agustus 2015 20:1 WIB
Generasi Muda Harus Berkontribusi Wujudkan Peradaban Islam Nusantara
Generasi Muda Harus Berkontribusi Wujudkan Peradaban Islam Nusantara

Malang, NU Online
Orientasi pengenalan akademik Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan UIN Malang menghadirkan Ketua Lesbumi PBNU Dr Zastrouw Ngatawi, Msi, Sabtu (22/8) untuk membincang dinamika keumatan dan kebangsaan kontemporer.<>

Menurut Zastrouw, peranan ormas baik NU maupun Muhammadiyah dalam melestarikan dan mengembangkan tradisi keagamaan (ukhuwah Islamiyah) serta persatuan sebagai suatu bangsa (ukhuwah wathoniyah) sangat tinggi. 

“Maka generasi-generasi muda harus siap berkontribusi dalam rangka mewujudkan peradaban besar di tubuh Islam maupun di bumi Nusantara ini," jelas Zastrouw.

Suhaimi, selaku Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa UIN Malang mengatakan, bahwa mahasiswa baru harus mempunyai basis kebudayaan yang kokoh agar tidak kehilangan akar tradisi dan budaya bangsanya.

Sementara itu, Lukman Saidy, Ketua SC kegiatan ini menjelaskan, bahwa untuk tercapainya tujuan pendidikan dibutuhkan peranan kebudayaan akademik yang bagus. 

“Untuk menciptakan budaya tersebut, dibutuhkan kesadaran kolektif para generasi muda untuk dapat menjadi pembela bangsa dan penegak agama di bumi nusantara ini," terangnya. (Rouf/Fathoni)

Senin 24 Agustus 2015 18:1 WIB
Menag Sampaikan Lima Pesan pada Penerima Beasiswa 5000 Doktor
Menag Sampaikan Lima Pesan pada Penerima Beasiswa 5000 Doktor

Jakarta, NU Online
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin melepas resmi penerima beasiswa program Doktor Kementerian Agama ke tujuan universitas masing-masing dalam dan luar negeri. Pelepasan secara simbolik dilakukan dengan melepas 150 burung merpati diikuti pejabat eselon I dan 150 peserta sebagai perwakilan 1.047 penerima beasiswa di lapangan upacara Jalan Lapangan Banteng Barat 3-4 Jakarta (24/8).  <>

Hadir dalam acara pelepasan tersebut Sekjen Nur Syam, Dirjen Bimas Islam Machasin, Dirjen Bimas Kristen Oditha Hutabarat, Dirjen Bimas Hindu I Ketut Widnya, Kabalitbangdiklat Abdurahman Masud, Pejabat Eselon II Ditjen Pendis, rektor PTKIN, Kapinmas Rudi Subiyantoro dan Karo Umum Syafrizal. Demikian dilansir oleh situs kemenag.go.id.

Menteri Agama dalam pesannya mengatakan ia merasa terharu, karena sampai saat ini dan mungkin sulit terjadi dirinya bisa sekolah di luar negeri, dan hari ini harus melepas calon doktor ke luar negeri. Ia mengaku, dirinya bukanlah profil yang patut ditiru terkait dengan pencapaian di bidang pendidikan tinggi, karena aktivitasnya di dunia sosial dan politik, hingga untuk membuat penulisan akhir studinya pun harus tersendat-sendat. 

Menag bersyukur, program 5.000 Doktor sudah mulai direalisasikan, kepada peserta penerima beasiswa Menag menyampaikan lima pesan. Ia berharap setiap kita bisa memegangi lima hal ini.  

“Bersyukurlah, karena banyak saudara kita di luar yang belum punya kesempatan sebaik saudara sekalian penerima beasiswa,” kata Menag. 

Pertama, jaga betul nawaitu kita, bahwa niat kita berstudi, lakukan lakukan studi, konsentrasi pada studi. Kedua, khususnya bagi penerima beasiswa ke luar negeri, mohon jangan mudah kagetan terlebih yang baru ke luar negeri yang dari sisi peradaban dan budayanya memiki sejarah panjang dari bangsa kita. Menjadi mudah melecehkan negara kita sendiri seakan yag diluar negeri hebat, sehingga terbangun sikap merendahkan tanah air. 

“Pesan saya, tetaplah berperilaku arif, karena ilmu pengetahuna seperti itu. Jangan terkaget-kaget dengan sesuatu yang baru,” ujar Menag. 

Ketiga, tetap jaga nama baik bangsa, dan bagi penerima beasiswa yang di dalam negeri juga luar negeri, Menag mengingatkan  bahwa kita mendapat kesempatan ini tidak cuma-cuma, tolong bawa nama baik bangsa di mana pun kita berada.

“Jaga betul sikap tindakan dan perilaku sehari-hari, karena kita sedang menjalani studi membawa nama bangsa,” ucap Menag. 

Keempat, selama di luar negeri dan dalam negeri, tidak hanya membangun jejaring dengan profesor yang sifatnya personal juga membangun jaringan yang bersifat kelembagaan, karena beasiswa yang diterima bukan atas perseorangan tapi lembaga. Karena itu akan sangat diperlukan setelah menyelesaikan studi kita. 

Kelima, Menag minta agar penerima beasiswa untuk segera pulang, khususnya di luar negeri karena sangat dibutuhkan di dalam negeri. 

“Juga yang di dalam negeri, kembali cepat ke keluarga masing-masing. Karenanya harus cepat menyelesaikan studi. Karena negara kita menunggu dan menanti kiprah saudara sekalian setelah menyelesaikan studi,” kata Menag.

Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin dalam keterangannya menyampaikan, bahwa tahun 2015 ada 1.074 orang yang tahun ini menerima Beasiswa Kementerian Agama. Mereka akan berangkat studi di universitas prestisius dalam negeri, dan sebagian lagi akan berdiaspora ke seluruh antero dunia.

Di antara mereka ini yang akan melanjutkan studi ke Australia sebanyak 19 orang. Belanda ada 14 orang. Perancis 13 orang dan Inggris 7 orang. Sudan, Malaysia, dan Saudi Arabia masing-masing ada 6 orang. Memilih Jepang sebagai tujuan studi ada 4 orang. Kanada sebanyak 3 orang, Turki 2 orang, dan Jerman 1 orang. Red: Mukafi Niam

“Kami optimis keberhasilan rekruitmen dan seleksi tahun ini akan berdampak besar pada peningkatan jumlah pendaftar pada tahun yang akan datang,” ujar Kamaruddin. Red: Mukafi Niam

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG