IMG-LOGO
Nasional

Siswa Madrasah Raih Juara Lomba Karya Ilmiah Remaja

Jumat 28 Agustus 2015 23:0 WIB
Bagikan:
Siswa Madrasah Raih Juara Lomba Karya Ilmiah Remaja

Jakarta, NU Online
Dua Siswa MAN Insan Cendekia Jambi Nur Kholifatul Maula dan Putri Rahayu Budiman berhasil menyabet juara Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan  Indonesia (LIPI).  LKIR ke-47 ini digelar LIPI sejak tanggal 24 – 27 Agustus 2015 di Kantor LIPI, Jakarta.<>

Dengan karya ilmiah berjudul “Pengaruh Eksistensi Perkebunan Sawit terhadap Integrasi Sosial Masyarakat Transmigrasi Desa Sumber Harapan Kecamatan Pelepat Ilir Kabupaten Muara Bungo Provinsi Jambi”, Nur Kholifatul Maula dan Putri Rahayu Budiman berhasil meraih Juara I.  Sementara Muhammad Iqbal Fauzi (MAN 2 Tulungagung) berhasil meraih juara II dengan karya ilmiah berjudul “CETHE” Tradisi Warung Kopi dan Kreativitas Pemuda Tulungagung.”  Adapun Septi Widyanti (MAN 2 Jakarta) berhasil meraih juara Harapan dengan karya ilmiah berjudul “LegendNesia sebagai Media Pembelajaran Cerita Rakyat Indonesia dan Matematika Dasar”. 

Prestasi ini sekaligus membuktikan bahwa kompetensi siswa-siswi madrasah dalam bidang riset tidak diragukan lagi.  Siswa madrasah kini  bisa bersaing dengan sekolah-sekolah umum lainnya, dan itu  terbukti dengan perolehan sejumlah juara dari beberapa kategori dalam LKIR ini.  Menanggapi perolehan beberapa juara dalam LKIR tahun ini, Direktur Pendidikan Madrasah, Prof. Dr. Phil. H. M. Nur Kholis Setiawan, MA menyampaikan bahwa sejak dicanangkan program madrasah riset nasional 2013, kini sudah terlihat dampak positifnya yang signifikan di madrasah.

“Budaya riset tumbuh subur di madrasah dan semakin memperkokoh era kebangkitan madrasah. Dirketorat Pendidikan Madrasah semakin yakin dengan diterapkannya diversifikasi madrasah, peta keunggulan madrasah semakin jelas untuk memberikan pilihan peminatan terhadap peserta didik,” ujarnya ketika ditemui di sela-sela kegiatan workshop di Jakarta, Kamis (27/08) lalu seperti dilansir oleh kemenag.go.id.

Selain ketiga prestasi di atas, berikut nama siswa-siswi madrasah yang memperoleh juara pada LKIR 2015.  Pertama, Pupoes Biworo dan Achmad Nurul Yaqin (MTsN II Kediri Jawa Timur) dengan judul karya “Daya Astrigensia pada Getah Tanaman Sono Kembang (Pterocarpus indicus) sebagai Anti septik Alami dan Ekonomis,” mendapatkan Special Award untuk kategori Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) bidang Ilmu Pengetahuan Hayat.

“Special Award ini merupakan penghargaan khusus yang diberikan pada finalis dari Perhimpunan Biologi Indonesia. Selain mendapatkan Piagam, anak-anak juga mendapatkan beasiswa 1 juta. Hebatnya mereka ini masih usia SMP (MTs) namun sudah meneliti dengan melalui proses uji laboratorium sebagaimana para mahasiswa di strata 1,” ungkap Enik Kurniawati, pembimbing dari MTsN 2 Kediri.

Kedua, Lailatul Fatkhiyah dan Noor Laila Safitri (MAN 2 Kudus Jawa Tengah) dengan judul karya “Pengaruh Gelombang Suara Musik Klasik untuk Meningkatkan Pertumbuhan Brokoli,” mendapatkan Juara III dan juga Special Award dari Perhimpunan Biologi Indonesia untuk kategori Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) bidang Ilmu Pengetahuan Teknik.

“Ternyata dalam kompetisi ilmiah seprestisius LKIR LIPI ini, madrasah mampu bersaing bahkan lebih baik dibandingkan dengan sekolah. Kami berterima kasih terutama kepada Kementerian Agama, Direktorat Pendidikan Madrasah yang terus mensuport kami dalam berprestasi,” tutur Muhammad Miftahul Falah, pendamping dari MAN 2 Kudus.   

Ketiga,  siswi MA Riyadlotut Thalabah Sedan Rembang, Jawa Tengah, yakni Nur Hidayah, Nur Laili Fuzna Kamilah yang meneliti tentang “Manak Mutu: Fenomena ibu rumah tangga yang sudah memiliki cucu tetapi masih melahirkan anak dan pengaruhnya terhadap tingkat pendidikan anak dan pertambahan jumlah penduduk: Kasus di  Desa Sedan Sidorejo, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang,” yang berhasil meraih juara III untuk kategori Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) bidang Kependudukan.

Keempat, di bidang Kebumian dan Kemaritiman, Hafidh Nur Haq dan Akbar Rizky Hasim dari MAN 3 Kediri Jawa Timur dengan karyanya “Pemanfaatan Serbuk Lempung Aktif sebagai Absorban bau, Warna, Tingkat Keasaman (pH) dan Kadar Logam Tembaga (Cu) dan Merkuri (Hg) serta Jumlah Bakteri Pada Limbah Cair Industri Kertas di Daerah Nganjuk,” berhasil mendapatkan Juara II. 

Setidaknya ada tujuh Juara yang berhasil diraih  siswa-siswa madrasah pada ajang LKIR 2015 ini. Hal Ini merupakan jumlah yang cukup signifikan meningkat dibandingkan tahun lalu. Meskipun di tahun ini, madrasah belum mendapatkan penghargaan untuk National Young Inventor Award. Atas prestasi tersebut, Direktur Pendidikan Madrasah memberikan tahniah dan ucapan selamat dan semoga menjadi contoh positif untuk siswa-siswi madrasah lainnya di tanah air. Red: Mukafi Niam

Bagikan:
Jumat 28 Agustus 2015 19:2 WIB
Isu Agama di Pilkada Serentak Rawan Pecah Belah Umat
Isu Agama di Pilkada Serentak Rawan Pecah Belah Umat

Jakarta, NU Online
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj (Kang Said) mengajak segenap aktivis politik dan para pemuka agama untuk mengantisipasi terjadinya perpecahan umat dalam pilkada serentak pada 9 Desember mendatang. Kang Said mengimbau agar calon kepala daerah maupun pemuka agama di mana pun untuk tidak menggunakan isu agama dalam merebut dukungan politik.
<>
Demikian disampaikan Kang Said di hadapan sedikitnya 70 peserta diskusi publik yang bertajuk “Pancasila Rumah Kita: Perbedaan Adalah Rahmat”di Jakarta, Rabu (26/8) siang.

“Jangan jualan agama baik agama Islam atau agama lainnya di pilkada serentak. Bahaya sekali kalau agama diperjualbelikan,” kata Kang Said yang menjadi salah satu narasumber di forum ini.

Narasumber lain dalam diskusi ini Executive Scretary Konferensi Waligereja Indonesia Romo Edy Purwanto, perwakilan dari Persekutuan Gereja-gereja Indonesia Pdt Albertus Patty, serta utusan Perwakilan Umat Buddha Indonesia Bhiksu YM Dutavira Mahastavira.

Mereka yang berkepentingan merebut dukungan publik, kata Kang Said, harus menjunjung tinggi UU Pilkada sebagai konstitusi yang berlaku. Semua aturan itu dibuat sedemikian rupa memang dimaksudkan untuk menghindari kecurangan, cara-cara kotor yang berdampak pada perpecahan di tengah masyarakat.

“Terlebih lagi kalau negara negara berdasarkan atas agama. Ini sangat berbahaya sekali. Kalau berbeda kepentingan, bisa saling mengafirkan,” tegas Kang Said.

Menurut Kang Said, agama yang dipeluk calon kepala daerah tertentu tidak bisa menjamin yang bersangkutan bersih dari segala cela ke depannya. “Belum lagi kalau korupsi, mau disalahkan agamanya? Kan tidak mungkin agamanya,” tandas Kang Said. (Alhafiz K)

Jumat 28 Agustus 2015 17:59 WIB
Slamet Effendy: NU Otomatis Tenangkan Warga Hadapi Potensi Krisis
Slamet Effendy: NU Otomatis Tenangkan Warga Hadapi Potensi Krisis

Jakarta, NU Online
Wakil Ketua Umum PBNU H Slamet Effendy Yusuf menyatakan keinginan Presiden Joko Widodo agar NU turun menenangkan masyarakat menghadapi perlambatan ekonomi dan potensi krisis secara otomatis dilaksanakan dengan pesan-pesan yang disampaikan oleh rais aam dan ketua umum PBNU.
<>
“Itu otomatis saja, dengan program NU, muballigh NU, dengan pernyataan PBNU, karena apa yang diucapkan rais aam dan ketua umum itu dipublikasikan dengan sangat luas. Itu pasti akan mempengaruhi masyarakatnya, warga NU. Mereka mungkin akan ada aksi, siapa tahu ada istighotsah supaya berdoa kepada Allah agar bangsa ini dikeluarkan dari musibah yang lebih buruk daripada sekarang pelambanan ekonomi,” katanya di gedung PBNU, Jum’at (28/8).

Ia berpendapat, presiden dari akun twitternya, sangat memberi makna terhadap NU sebagai penjaga persatuan dan kesatuan. Tetapi presiden menyadari masyarakat NU perkembangannya belum sebagaimana diharapkan seperti kelompok lain, baik di bidang sosial, ekonomi, pendidikan. Karena itu, presiden membantu dengan memerintahkan para menterinya untuk menjalin kerjasama dengan NU untuk ikut memecahkan persoalan bangsa.

Slamet menjelaskan, ada beberapa kementerian yang sudah disebut namanya untuk dimintai menjalin kerjasama seperti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Koperasi dan UKM.

“Kalau NU sudah siap, tinggal melaksanakan dengan penyesuaian pada program di APBN atau APBD karena mau tidak mau harus dari situ perencanaannya,” tandasnya. (Mukafi Niam) 

Jumat 28 Agustus 2015 16:59 WIB
Gus Mus: Banyak Orang Tak Mengenal Kemanusiaan
Gus Mus: Banyak Orang Tak Mengenal Kemanusiaan

Semarang, NU Online
Budayawan KH A. Mustofa Bisri yang akrab disapa Gus Mus mengatakan sekarang ini banyak orang yang tidak mengenali kemanusiaannya, terutama yang berada di tataran elite.<>

"Pimpinan, anggota DPR, semua yang di atas harus jadi manusia dulu," katanya usai dialog kebangsaan bertajuk "Menjadi Orang Indonesia Yang Beragama dan Berbudaya" di Semarang, Kamis (27/8) malam.

Menjadi manusia yang dimaksudkannya adalah mengenali dirinya dengan segala sisi-sisi kemanusiaannya sehingga mampu memanusiakan orang lain dan tidak menganggap dirinya sendiri yang paling benar.

Pengasuh Pondok Pesantren Roudlotut Thalibien Rembang itu mengatakan ada orang yang menganggap manusia adalah yang seperti dirinya sendiri sehingga sama saja menganggap yang lain bukan manusia.

"Banyak yang mengatakan revolusi mental. Lalu apa yang sudah kita lakukan? Mestinya kita harus merevolusi mental seperti apa? Kalau mau berubah harus tahu dulu aslinya seperti apa," katanya.

Mantan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu mengatakan manusia perlu memahami konsep kehidupan, seperti bagaimana melihat dunia, termasuk di dalamnya kemanusiaan dan ketuhanan.

Menurut Gus Mus, banyak orang yang sekarang ini berebut kekuasaan tetapi justru tidak tahu setelah berkuasa mau berbuat apa, sebab orang-orang seperti itu sebenarnya tidak memahami konsep kehidupan.

"Sekarang, orang berebut kekuasaan untuk apa? Setelah berkuasa juga mau apa? Banyak yang mementingkan ngrebut kursinya dulu, baru mikir. Setelah dapat kursinya apa yang mau dilakukan," katanya.

Demikian pula dengan persoalan ketuhanan, Gus Mus mengatakan banyak orang yang merasa mengenal dan ingin menyenangkan Tuhan, tetapi sebenarnya apa yang dilakukan justru tidak mencerminkan sifat-sifat Tuhan.

"Ada semangat mencintai, tetapi tidak disertai semangat pengenalan. Ingin menyenangkan Tuhan, tetapi justru tidak mengenal Tuhan. Merasa selalu benar dan menyalahkan orang lain," katanya.

Manusia, kata Gus Mus, ditunjuk sebagai wakil Tuhan di muka bumi semestinya harus mempunyai sifat-sifat ketuhanan, seperti pengasih dan penyayang, bukan malah saling memusuhi dan bertikai.

"Waktu pertama kali, istri saya membuatkan opor itu ayamnya satu ekor, kelapanya dua buah. Ya, kentel banget. Tidak tahu saya sukanya apa. Semangat mencintai harus disertai semangat pengenalan," katanya, disambut tawa hadirin.

Hadir pada kesempatan itu, Pendeta Petrus Agung, Romo Aloysius Budi P dari Keuskupan Semarang, dan Direktur Utama PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Irwan Hidayat sebagai pembicara. (Antara/Mukafi Niam)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG