IMG-LOGO
Opini

Selamat Jalan, Kiai Nyentrik yang Inklusif

Rabu 9 September 2015 10:0 WIB
Bagikan:
Selamat Jalan, Kiai Nyentrik yang Inklusif

Oleh M.N. Harisudin
Kabar duka menyelimuti warga Nahdlatul Ulama khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya. KH. Abd. Muchit Muzadi, seorang “kamus berjalan”, “laboratorium” atau bahkan “begawan” Nahdlatul Ulama meninggal dunia, pagi Ahad, 6 September 2015 di Malang. <>Meski meninggal di Malang, seperti wasiatnya ke keluarga, beliau ingin dimakamkan di Jember, bersebelahan dengan istri beliau, almarhumah Hj. Faridah, di pemakaman umum Jember. Kiai yang meninggal di usia hampir 90 tahun ini telah banyak memberikan andil baik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di tanah air tercinta. Kiai Muchit sendiri termasuk santri terakhir Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, seorang ulama yang sangat dihormati di kalangan Nahdlatul Ulama.

Dalam tulisannya di Majalah Tempo, pada 5 April 1980, dulu Gus Dur pernah menggambarkan sosok unik kiai Muchit ini dengan sangat menarik. “Orangnya peramah, tapi lucu. Raut wajahnya sepenuhnya membayangkan ke-kiai-an yang sudah mengalami akulturasi dengan “dunia luar”. Pandangan matanya penuh selidik, tetapi kewaspadaan itu dilembutkan oleh senyum yang khas. Gaya hidupnya juga begitu. Walaupun sudah tinggal di kompleks universitas negeri, masih bernafaskan moralitas keagamaan...”. Gus Dur menyebut Kiai Muchit dengan Kiai Nyentrik karena beliau berani menyuarakan kebenaran, meskipun harus dicaci maki oleh kaumnya sendiri. Gus Dur juga menyebutnya ulama-intelektual karena selain alim agama, juga karena Kiai Muchit mengajar di beberapa perguruan tinggi umum.      

Kiai Muchit memang tidak pernah tampil di muka. Kiai Muchit selalu menjadi tokoh di balik layar berbagai peristiwa penting. Misalnya ketika Nahdaltul Ulama memutuskan untuk kembali ke Khittah 1984, beliau adalah aktor yang sangat berperan menyusun rumusan naskah Khittah NU. Tanpa urun-rembug naskah tersebut, dapat dibayangkan betapa sulitnya memberikan pemahaman pada muktamirin di Situbondo tersebut. Demikian juga dengan rumusan penerimaan Pancasila, beliau juga ikut terlibat aktif di Muktamar NU 1984 yang berujung pada terpilihnya KH. Abdurrahman Wahid dan KH. Ahmad Shidiq sebagai Ketua Tanfidziyah dan Rois ‘Am Syuriyah PBNU masa bakti 1984-1989.

“Kiai”-nya Anak Muda           

Kiai Muchit termasuk tokoh idola anak muda NU. Ketika arus pembaruan terjadi besar-besaran di tahun 80-an, bersama Gus Dur Kiai Muchit adalah kiai yang ada di garda terdepan membela pikiran anak-anak muda NU. Pikiran liar dan nakal anak-anak muda NU seperti tercermin dalam berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat seperti LKiS Yogyakarta, eLSAD Surabaya dan PP Lakpesdam NU di Jakarta ‘tetap diakomodasi’ oleh Kiai Muchit, meski kerapkali pikiran liberal anak-anak muda ini telah “memerahkan” telinga banyak para kiai NU. Kiai Muchit harus vis a vis menjelaskan pada para kiai bahwa anak-anak muda ini kelak juga akan “kembali baik” lagi.

Kiai Muchit juga menunjukkan perhatian yang lebih terhadap anak muda di atas rata-rata umumnya kiai. Tak heran jika di usia yang sudah 70-an lebih, beliau masih bersemangat memberi “arahan” dengan berbagai pelatihan, halaqah, workshop, sekolah atau apalah namanya terhadap anak-anak muda NU. Seperti tidak kenal lelah, kalau yang mengundang anak-anak muda NU, Kiai Muchit siap hadir kapan saja dan dimana saja. Di level paling rendah pun tingkat desa, Kiai Muchit selalu menyatakan siap hadir menemani anak-anak muda itu. Sekalipun hanya duduk sebentar, Kiai Muchit selalu menyempatkan untuk hadir sebagai bentuk support terhadap berbagai aktivitas anak muda ini.

Menjadi sebuah kewajaran jika kemudian, diantara tokoh yang sering disebut-sebut namanya oleh anak muda NU, adalah Kiai Muchit. Di berbagai pertemuan, nama Kiai Muchit masih sering menjadi main of reference anak muda. Anak-anak muda NU yang kadang hanya ingin bersilaturrahim juga sangat mudah bertemu beliau di kediamannya di Jember ataupun Malang menerima wejangan-wejangannya yang teduh dan menyejukkan. Tidak salah, jika darah anak muda terkena energi positif Kiai Muchit. Kendati sering diidolakan anak muda, Kiai Muchit juga dikenal mudah diterima oleh semua kalangan: bapak-bapak, ibu-ibu muslimat, dan sebagainya karena komunikasi Kiai Muchit yang mengalir dan mengucur deras sesuai dengan alam pikir mereka.  

“Melampaui” NU-Muhammadiyah

Lebih dari itu, Kiai Muchit adalah tokoh NU yang bisa diterima oleh kalangan apapun, termasuk Muhammadiyah. Demikian ini karena beliau memiliki pemahaman yang utuh dan komprehensif tentang Muhammadiyah yang menyebabkan pemikiran beliau cenderung bersikap inklusif dan juga toleran. Dalam sebuah acara seminar dengan Prof. Amin Rais, MA di Surabaya, Kiai Muchit sembari gurau pernah berkelakar sedikit menantang Mantan Ketua MPR RI tersebut: “Pak Amien. Ayo, lebih banyak mana buku tentang Muhammadiyah yang saya miliki dengan buku tentang Nahdlatul Ulama yang bapak miliki”.  

Memang, sepengetahuan penulis, kiai NU yang memiliki banyak buku Muhammadiyah adalah Kiai Muchit. Hampir semua buku tentang Muhammadiyah, beliau punya dan beliau baca. Buku-buku yang lain seperti Persis, al-Irsyad, Perti dan sebagainya juga beliau baca. Bahkan, ketika ada seorang kiai memprotes beliau karena buku Syiah yang dibacanya, dengan mudahnya beliau menjawab: “Bahkan komik Jepang pun saya baca. Anda tahu kan, kalau orang Jepang beragama Shinto yang menyembah matahari”. Walhasil, hampir semua buku, beliau baca karena bagi beliau, dengan membaca, kita akan terbuka cakrawala berpikir, serta menjadi luas, luwes dan juga memiliki kepribadian yang inklusif.      

Jauh sebelum KH. Ahmad Shidiq (Rais ‘Am PBNU 1984-1991) mengusulkan Trilogi Ukhuwah: Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Wathaniyah dan Ukhuwah Basyariyah, Kiai Muchit sudah melaksanakan ‘ukhuwah Islamiyah’ itu sendiri. Tak pernah sedikit pun, Kiai Muchit secara ofensif  menyerang paham keagamaan yang kebetulan berbeda aliran dengan Kiai Muchit. Bahkan, khusus tentang Muhammadiyah, Kiai Muchit lebih sangat hati-hati karena beliau juga tidak mau “menyakiti” perasaan istri beliau yang berasal dari keluarga Muhammadiyah. Meskipun pada akhirnya, Ibu Hj. Faridah Muchit sendiri memilih menjadi bagian keluarga besar Nahdlatul Ulama dan bahkan pernah menjadi Pengurus Cabang Muslimat NU Jember.               

***

Kepergian Kiai Muchit adalah duka bagi bangsa ini. Bangsa ini kehilangan tokoh besar dan panutan yang kaya dengan keteladanan. Seorang kiai yang sangat berjasa dengan mempromosikan secara tidak langsung slogan “Menjadi NU, Menjadi Indonesia” ini. Di tengah-tengah koyakan NKRI dan Pancasila, NU hadir menjadi penguat dan juga pengokoh bagi Indonesia. Merobohkan Indonesia sama dengan menghancurkan NU. Nahdlatul Ulama, telah built in dalam diri dan kepribadian Kiai Muchit setara dengan Indonesia yang mendarah daging dalam tubuh beliau. NU dan Indonesia, tidak bisa dipisahkan dari dan dalam kepribadian beliau yang hidup penuh sederhana.   

Selamat jalan orang tua, guru, kiai dan bapak bangsa kami. Kami hanya bisa berdoa. Semoga arwah kiai, diterima di sisi Allah Swt. Ya ayyatuhan nafsul muthmainnah. Irji’i ila raadliyatan mardliyatan. Fadkhuli fi ibaadi. Wadkhulii jannati. Semoga pula kami bisa meneruskan keteladanan-mu. Amien ya rabbal alamien**   

 

 

*) Penulis adalah Dosen Pascasarjana IAIN Jember, Katib Syuriyah PCNU Jember, dan Penulis Buku “Kiai Nyentrik Menggugat Feminisme”.

 

 

Bagikan:
Selasa 8 September 2015 18:1 WIB
Ketika Dengar NU, Sakit Mbah Muchit Sembuh
Ketika Dengar NU, Sakit Mbah Muchit Sembuh

Bagi banyak kalangan Nahdliyyin nama Kiai Muchit terkenal sebagai ensiklopedi hidup Nahdlatul Ulama. Namun, bagi saya secara pribadi namanya jauh lebih besar. Ia merupakan sosok yang sangat setia dengan kesetiaan sejati kepada Nahdlatul Ulama.

<>Wajarlah jika ketika pada sekitar tahun 2008 ia mendapatkan gelar Bintang Kesetiaan Nahdlatul Ulama dari PBNU yang ketika itu ketua umumnya adalah adiknya sendiri yakni Kiai Hasyim Muzadi.

Saya secara pribadi mempunyai kenangan cukup mendalam tentang kiai yang satu ini. Ketika itu, kami mengikuti sebuah kegiatan workshop kaderisasi Ahlussunnah wal Jamaah di Pondok Pesantren Al-Hikam Malang. Waktu itu seingat saya pada awal Februari tahun 2014 lalu. Di tengah-tengah tiba-tiba beliau datang ke arena acara yang dilaksanakan di Aula Pesantren Al-Hikam dengan menggunakan kursi roda dengan dibantu seorang santri. Memang sudah beberapa minggu lamanya ia tinggal di Al-Hikam.

Sontak saja para peserta banyak berhamburan berebut untuk mencium tangan beliau. Dan, yang membuat saya tidak bisa melupakan hal itu adalah karena ia berbisik pada semua hadirin yang mengikuti acara tersebut dengan bilang: “Sepurane rek yo, aku terlambat....” (Maaf nak ya, saya terlambat).

Saya jadi ingin menangis mengingatnya. Bayangkan, orang seuzur beliau yang telah kepala sembilan masih memperhatikan hal-hal seremeh itu. Ia kemudian duduk bersama para pemateri yang ketika itu hadir disana antara lain: Gus Ishraqun Najah (Ketua PCNU Kota Malang), Kiai Marzuqi Mustamar (Syuriah PWNU Jatim), dan Ustadz Idrus Ramli sebagai pemateri dalam acara tersebut.

Sebelum memulai pembicaraan, ia mengatakan bahwa sebelumnya ia sakit perut dan diare. Namun karena mendengar ada acara NU ia kemudian menjadi sehat kembali.

“Ini tadi saya lagi murus (diare) jadi tidak bisa kemana-mana. Tapi ketika mendengar bahwa ada acara NU, saya langsung sembuh. Memang saya biasanya demikian, kalau sakit dengar acara NU langsung sehat. Jadi NU adalah obat,” katanya, disambut tawa peserta yang hadir.

Saya sendiri Insya Allah tidak termasuk yang tertawa, karena justru merasa heran, kok ada kiai sampai seperti itu.

Ia kemudian diminta untuk memberikan sambutan. Dan jika saya perhatikan, saya melihat bahwa uraian-uraiannya adalah semua pokok-pokok bahasan dalam buku Khittah Nahdliyah yang ditulis Kiai Ahmad Shiddiq.

Setelah sekitar lima belas menit beliau sambutan, ia mengakhiri bahasannya dengan mengucapkan beberapa kalimat dengan nada hampir menangis. Kata-kata beliau kurang lebih seperti ini:

“Saudara-saudara, saya mohon maaf sebesar-besarnya kepa kalian semuanya. Karena tidak banyak mengambil peran dalam perjuangan kalian di masa ini. Apa yang bisa saya bantu untuk diberikan hanyalah hal-hal yang sifatnya sangat mendasar sekali,” katanya.

Selesai memberikan sambutan, ia tidak langsung turun meninggalkan arena. Bahkan salah seorang santri dan beberapa kiai mengajaknya untuk beristirahat, tapi tidak mau. Alih-alih ia justru minta makalah pemateri dan membaca serta menyimak sampai pemateri selesai. Wah, sampai segitunya.

Begitulah Kiai Muchit, betapa cintanya ia pada NU. Bukan cinta biasa tapi cinta yang penuh makna dan berlandaskan agama. Benar-benar setia, benar-benar istiqamah. Al-Fatihah.... (R Ahmad Nur Kholis)

Senin 7 September 2015 11:0 WIB
Qohwah (Kopi) Minuman para Sufi
Qohwah (Kopi) Minuman para Sufi

Oleh Moh Nasirul Haq
Kopi merupakan minuman yang sangat nikmat disajikan di segala kondisi. Kopi juga memiliki cita rasa yang khas yang sangat melekat di lidah penikmatnya. Kopi juga terbukti mengandung unsur kimia yang bisa menolak rasa kantuk dan ini sangat berfaedah sekali bagi orang yang ingin bergadang atau memiliki aktifitas malam hari.<>

Namun taukah Anda bahwa kopi adalah minuman para sufi? Dan taukah Anda bahwa para Ulama yang berkomentar tentang kopi?

Di antara ulama yang saya temukan komentarnya dalam kajian saya seperti yang dikutip oleh Al Allamah Abdul Qodir Bin Muhammad Al Jaziry Dalam kitabnya Umdatus Shofwah fi Hukmil Qohwah, banyak ulama yang berfatwa mengenai hukum kebolehan meminum kopi seperti Syidi Syeh Zakariya Al anshori, Syidi Syeh Abdurrohman Bin Ziyad , Syidi Syeh Zarruq Al Maliki Al Maghribi,  Syidi Syeh Abu Bakr bin Salim Attarimi, dan Syidi Syeh Abdulloh Al Haddad.

Nama-nama yang telah disebut di atas merupakan tokoh tokoh besar sufi. Tidak hanya berfatwa bahkan banyak juga ulama yang telah mengarang kitab yang isinya membahas Khusus mengenai hukum kopi dan faidah Meminum kopi, diantaranya Sayyid Al Allamah Abdurrohman bin Muhammad Al Aidrus dalam Risalah Inusi as-Shofwah bi Anfusi al-Qohwah, juga Al Imam Al Faqih Syeh Bamakhromah mengarang syair tentang kopi yang Syairnya di komentari oleh banyak ulama.

Lalu dari Indonesia juga ada Al-Allamah Syeh Ikhsan Jampes Kediri dalam kitabnya Irsyadul Ikhwan fi Syurbil Qohwah wa Addukhon, juga Syeh abdul Qodir Bin Syekh dalam kitab Shofwatu As Shofwah fi Bayan hukmil Qohwah. Juga dijelaskan dalam kitab Tarikh Ibnu Toyyib mengenai keutamaan Kopi. dan banyak lagi ulama yang menjelaskan tentang kopi.

Pasti kita penasaran kenapa para ulama bahkan para sufi mengistimewakan kopi? Coba kita lihat komentar Al Imam Ibnu Hajar Al Haitami ;

ثم اعلم ايها القلب المكروب أن هذه القهوه قد جعلها اهل الصفاء مجلبة للأسرار مذهبة للأكدار وقد اختلف في حلها اولا وحاصل ما رجحه ابن حجر في شرح العباب بعد ان ذكر أنها حدثت في اول قرن العاشر . ان للوسائل حكم المقاصد ،فمهما طبخت للخير كانت منه وبالعكس فافهم الأصل

"Lalu ketahuilah duhai hati yang gelisah bahwa kopi ini telah dijadikan oleh Ahli shofwah (orang orang yang bersih hatinya) sebagai pengundang akan datangnya cahaya dan rahasia Tuhan, penghapus kesusahan. Para ulama berbeda pendapat akan kehalalannya, namun alhasil yang diunggulkan oleh Ibnu Hajar dalam kitab Syarhul Ubab setelah penjelasan bahwa asal usul kopi di awal abad kesepuluh hijriyah memandang dari Qoidah 'bagi perantara menjadi hukum tujuannya' maka selama kopi ini dimasak untuk kebaikan maka mendapat kebaikannya begitu juga sebaliknya, maka fahami asalnya."

Begitu juga hasil penelitian saya juga selama di Yaman Khususnya yang saya lihat sendiri di daerah Mukalla, Tarim, Sihr dan Seiyun ketika saya menghadiri Majlis-Majlis Ilmu, ba'da tarawih ataupun Majlis Sholawat dan Hadroh saya mendapati semuanya menghidangkan kopi sambil membaca Qosidah. Memang jelas sekali bahwa Ulama Sufi ketika menikmati kopi tiada lain adalah agar supaya bisa menolak rasa ngantuk jika akan beribadah dan menjadikan tubuh bersemangat untuk berdzikir kepada Allah SWT.

Dalam Diwan Syekh Bamakhromah beliau berkata ; "Dalam gelas kerinduan itu membuat orang yang meminumnya berada dalam tingkatan para perindu dan memakaikannya pakaian ahli pecinta dalam kedekatan kepada Allah. Bahkan jika seandainya diminum oleh seorang Yahudi maka niscaya hatinya akan mendapatkan tarikan hidayah dan inayah Tuhan."

Dan Al Habib Abdurrohman Shofi Assegaf mengatakan; "...bahwa kopi yang disiapkan oleh para Sufi ini Esensinya untuk menarik Hati kepada Allah SWT maka pahamilah isyarah dan bedakan antara setiap argumentasi" . Imam Ahmad Assubki juga berkata ;

قال احمد بن علي السبكى  ; واما منافعها يعني القهوه تقريبا ... فالنشاط للعبادة  والأشغال المهمة وهضم الطعام وتحليل الرياح والقولنج والبلغم كثيرا

"Kopi manfaatnya yaitu kira-kira untuk membuat semangat ibadah dan pekerjaan penting juga menghancurkan makanan, agar tidak masuk angin dan menghilangkan dahak yang banyak."

Ada juga yang menganggap kopi (qohwah) mirip dengan nama khomer, maka ulama memberikan jawaban dalam kitab inasus Shofwah sebagai berikut ; "Penamaan qohwah bagi sebagian orang dianggap menyerupai nama khomer, tentu tuduhan ini tidak mendasar karena tidak harus kesamaan nama juga menunjukkan sama maknanya,  bahkan para sholihin dan shadat membuktikan bahwa kopi digunakan untuk beribadah kepada Allah SWT."

Dalam Tarikh Ibnu Toyyib dikatakan:

يا قهوة تذهب هم الفتى # انت لحاوى العلم نعم المراد
شراب اهل الله فيه  الشفا # لطالب الحكمة بين العباد
حرمها الله على جاهل # يقول بحرمتها بالعناد

"Kopi adalah penghilang kesusahan pemuda, senikmat-nikmatnya keinginan bagi engkau yang sedang mencari ilmu. Kopi adalah minuman orang yang dekat pada Allah didalamnya ada kesembuhan bagi pencari hikmah diantara manusia. Kopi diharamkan bagi orang bodoh dan mengatakan keharamannyadengan keras kepala."

Kesimpulannya, kopi merupakan minuman para sufi yang digunakan untuk taqarrub, mendektkan diri kepada Allah SWTyang mana memiliki banyak faidah baik secara rohani ataupun medis.

Tarim, 21 Dzulqo'dah 1436 H

 

Moh Nasirul Haq, Mahasiswa Imam Shafie College Mukalla Yaman

Sabtu 5 September 2015 11:1 WIB
Membangun Pendidikan Tinggi Islam Nusantara
Membangun Pendidikan Tinggi Islam Nusantara

Oleh: Maswan
Muktamar ke-33 NU di Jombang, yang dilaksanakan tanggal 1-5 Agustus 2015 lalu, dengan tema, ‘Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia’, tentu mempunyai nilai filosofis. Islam Nusantara menjadi tema sentral, karena konsep pemunculan Islam Nusantara sebagai upaya membentengi gejolak modernisasi kemajuan peradaban yang kian tidak jelas arahnya. <>Nahdlatul Ulama (NU), di tengah-tengah komunitas bangsa di Nusantara yang mayoritas Islam, diharapkan dapat menjadi rahmatal lil ‘alamin. 

Diskusi tentang Islam Nusantara menjadi tema Muktamar NU, tentu ada alasan yang sangat mendasar. Alasan tersebut,  seperti yang ditulis oleh Abdullah Alawi di Media NU Online, Senin, 09/03/2015, sebagaimana yang dikutip dari pernyataan tokoh-tokoh penting NU, Imam Azis, bahwa menjelang seratus tahun NU, tema tersebut dipilih untuk menunjukkan posisi strategis NU di Indonesia dan dunia sebagai pengusung Islam rahmatan lil ‘alamin. 

Pernyataan Imam Azis tersebut diperkuat oleh KH Said Aqil Siroj, bahwa Islam bukan hanya aqidah dan syariah semata, tapi ilmu pengetahuan dan peradaban. “NU sejak didirikan, sekarang, dan seterusnya akan mendukung peradaban.

Selanjutnya, menurut KH Masdar F Mas’udi mengatakan, bahwa tema tersebut sangat relevan untuk saat ini. Dunia Islam saat ini sedang “dibakar” kebencian dan permusuhan. “Tentu saja hal itu merobek jati diri Islam yang mempromosikan “salam”, kedamaian.

Kiai Masdar menambahkan, meskipun posisi Indonesia jauh dari tempat turunnya wahyu (Al-Qur’an, red), namun pada aspek pemahaman, pengamalan, dan tradisi, Indonesia sangat menjanjikan untuk dijadikan pegangan dunia Islam. Indonesia, mempunyai bukti bagaimana peran umat Islam menjaga perdamaian dalam sejarah kebangsaan. “Tema tersebut, bukan hanya relevan, tapi dibutuhkan.

Saat ini, dunia Islam sedang mengalami ironi. Di satu sisi dengan menyebut agama kedamaian, tapi di sisi lain sebagian umatnya menunjukkan kekerasaan. Justru itulah tantangannya. Semakin berat tantangan itu, maka akan semakin besar martabat kita jika mampu mengatasinya. “Kalau berhasil, ini akan menjadi amal jariyah untuk dunia Islam.”

Wadah Pendidikan Islam Nusantara

Untuk mengusung, membahas dan mengaplikasikan hasil Muktamar NU tentang Islam Nusantara, maka tentu membutuhkan keterlibatan pemikir-pemikir dari kalangan para kiai, sesepuh NU, kader-kader cendekiawan NU, praktisi pendidikan NU dan seluruh neven dan badan otonom NU. Agar konsep ideal tentang bangunan Islam Nusantara yang nanti akan digagas, benar-benar menjadi rahmatal lil ‘alamin, harus terealisasi dan mampu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.. 

Islam yang berwawasan nusantara, akan menjadi amaliah berbasis peradaban kebangsaan Indonesia, yang pemunculannya sudah diawali oleh nenek moyang yaitu para Walisongo yang mengajarkan Islam yang berperadaban sesuai pada zamannya. Pola yang dipakai dalam penyebaran ilmu syariat Islam dilakukan melalui pondok-pondok pesantren. Dan ternyata sangat efektif dan dapat diterima oleh masyarakat Islam zaman itu. 

Pondok pesantren, menjadi pilar pengembangan Islam di Indonesia yang sampai hari ini menjadi rahmat bagi masyarakat di Nusantara. Kini, NU lewat muktamarnya ingin meneguhkan agar Islam yang berbasis Ahlussunnah wal jamaah, yang dibingkai dengan nama Islam Nusantara, dapat dipahami dan diamalkan oleh seluruh komponen bangsa di Indonesia, maka sangat dibutuhkan wadah pengembangan, pendidikan dan pembinaannya. 

Agar rumusan Islam Nusantara hasil muktamar ini, sampai pada kader-kader NU khususnya, dan seluruh masyarakat Islam di Indonesia, maka Lembaga Pendidikan Ma’arif NU, Lajnah Lembaga Pendidikan Tinggi NU (LPTNU), Persatuan Guru NU (Pergunu), dan Ikatan Sarjana NU (ISNU), untuk memikirkan sebuah rumusan pendidikan Islam Nusantara tersebut. Hal ini sangat penting, wadah pengembangan ajaran pendidikan Islam bernuansa peradaban bangsa, tidak lain adalah lewat pendidikan. 

Pondok-pondok pesantren sebagai basis pendidikan Islam sudah jelas karakternya, tinggal bagaimana lembaga pendidikan formal NU mampu merekonstruksi pendidikan yang berkualitas bebasis Islam Nusantara yang berperadaban sesuai dengan zaman global ini. 

Salah satu wadah pengembangan pendidikan NU, agar mampu menjadi pilar peradaban Islam Nusantara dan sekaligus pencetak kader-kader Islam Nusantara yang berperadaban global, adalah merekonstruksi dan sekaligus merevitalisasi Lembaga Pendidikan Tinggi NU. LPTNU pusat dan cabang mendapat tantangan dan harus berpikir serius untuk membangun dan mengelola perguruan tinggi di masing-masing kabupaten, dengan pengelolaan yang profesional. Ini harus ada mobilisasi pengelolaan pendidikan tinggi, jika NU berkeinginan menciptakan kader Islam yang berperadaban Nusantara. NU punya power dan kekuatan, kalau mau berkata dan berbahasa sama membangun perguruan tinggi, berlabel Perguruan Tinggi Islam Nusantara. 

Semoga NU Secara kelembagaan mampu merekonstruksi dan merivitalisasi pendidikan tinggi NU dengan berbagai konsepnya, dan Pasca muktamar akan ada kebijakan semua daerah Kabupaten di Indonesia, ada berdiri perguruan tinggi milik NU dengan satu nama Perguruan Tinggi Islam Nusantara. Wallahu ‘alam bishowab.

Penulsi adalah pengurus Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) Cabang Jepara, dan Dosen UNISNU Jepara.(maswan.drs7@gmail.com)


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG