IMG-LOGO
Nasional

Presidium Nasional KMNU Sahkan Sistem Akuntansi

Kamis 10 September 2015 8:0 WIB
Bagikan:
Presidium Nasional KMNU Sahkan Sistem Akuntansi

Terhitung tanggal 3 September 2015 lalu Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) secara resmi telah mengesahkan Sistem Akuntansi KMNU Nasional.  Sistem Akuntansi yang dikerjakan mulai awal April 2015 ini merupakan salah satu realisasi dari Program Kerja Presidium Nasional 3 dengan Diana Susilowati dari IMAN STAN sebagai koordinator.<>

Proses pembuatannya dimulai dari pengidentifikasian kegiatan masing-masing depnas, pengelompokan jenis-jenis kegiatan ke dalam suatu kelompok akun, penentuan nama akun standar, pemberian definisi pada masing masing akun, pengelompokan ke dalam siklus akuntansi, penentuan kebijakan akuntansi yang dibutuhkan, pembuatan jurnal standar, sampai pembuatan SOP, dan format Laporan Keuangan. 

Setelah semua proses tersebut dilalui, tim penyusun, yang berasal dari Departemen Nasional Keuangan,  mulai melakukan review serta perbaikan. Saat perbaikan selesai, tahap akhir berupa kompilasi dari perbaikan semua tahapan serta finalisasi penyusunan sistem akuntansi KMNU pun dilaksanakan.

Dalam Standar Akuntansi KMNU ini dimuat poin-poin utama sebagai berikut:

1)    Tujuh hal penting perihal Kebijakan Akuntansi secara umum;

Ketujuh hal penting tersebut antara lain memuat basis akuntansi, sistem pencatatan, periode akuntansi, serta sistem evaluasi.

2)    Siklus serta tahapan dari siklus akuntansi;

Siklus utama KMNU meliputi 2 siklus yakni siklus penerimaan dana dan siklus pengeluaran dana. Adapun tahapan dari siklus tersebut tersusun atas 3 tahap penting yakni, tahap pencatatan, tahap pengikhtisaran, dan tahap pembuatan Laporan Keuangan.

3)    Daftar kode dan nama akun standar, yang dikelompokkan berdasarkan penggunanya;

Daftar kode dan nama akun dikelompokkan berdasarkan pengguna dari akun-akun tersebut, yaitu untuk bendahara pencatatan dan bendahara pengelola kegiatan. 

4)    Definisi dari masing – masing nama akun standar;

Setelah mengetahui kode serta nama akun akun standar, maka masing-masing akan dideskripsikan di dalam poin ini.

5)    Jurnal standar pencatatan transaksi;

Jurnal yang dibutuhkan dalam rangka mencatat transaksi telah ditentukan dan dijelaskan di dalam poin ini.

6)    Penjelasan dari 6 Standard Operational Procedure;

Keenam SOP yang dimaksud di atas adalah 1. SOP Penganggaran, 2. SOP Penerimaan Iuran Anggota, 3. SOP Penerimaan Umum, 4. SOP Penyaluran Dana Internal, 5. SOP Pengeluaran Dana Kegiatan, dan 5. SOP Pelaporan Keuangan.

7)    Format dari 4 jenis Laporan Keuangan standar.

Keempat Laporan Keuangan yang dimaksud di atas adalah 1. Laporan Aktivitas, 2. Laporan Posisi Keuangan, 3. Laporan Realisasi Anggaran, dan 4. Catatan Atas Laporan Keuangan.

Selaku pembuat kebijakan, Departemen Nasional Keuangan  KMNU senantiasa berharap, Sistem Akuntansi KMNU ini dapat diaplikasikan dengan baik. "Pembuatan Sistem Akuntansi ini merupakan starting point yang baik untuk organisasi selevel KMNU yang baru mendeklarasikan diri. Semoga sistem yang telah disusun ini dapat dijalankan dengan baik dan dapat dievaluasi ke depannya," tutur Diana Susilowati. Departemen Nasional Keuangan KMNU juga akan terus melakukan peninjauan terkait efektivitas dari pengaplikasian sistem akuntansi ini. (Arum Ritma Ristanti/Mahbib)

 

Bagikan:
Kamis 10 September 2015 22:6 WIB
Pemerintah Tak Akan “Negerikan” Pesantren
Pemerintah Tak Akan “Negerikan” Pesantren

Jakarta, NU Online
Kementerian Agama RI tidak akan "menegerikan" pondok-pondok pesantren di Tanah Air, tapi berkomitmen membantu pengembangan lembaga-lembaga pendidikan tradisional keislaman tersebut sesuai kekhasannya masing-masing. 
<>
"Kemenag tak akan mengubah status pondok pesantren menjadi lembaga pendidikan Islam negeri," kata Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag Dr H Mohsen ketika memberikan pengarahan pada Pendidikan Keterampilan Pondok Pesantren di Jakarta, Rabu.

Mohsen mengakui, Kemenag belum menunjukkan kewajiban dan memberikan perhatian secara optimal bagi pengembangan pondok-pondok pesantren dengan kekhasannya masing-masing.

Oleh karena itu, menurut dia ke depan pihaknya akan membuat program-program beserta penganggarannya yang berpihak pada pengembangan kemandirian lembaga pendidikan tradisional yang berfokus pada studi keislaman tersebut.

Dalam kaitan itu pula Kemenag belum lama ini menandatangani nota kesepahaman dan kerjasama dengan enam kementerian terkait bahkan dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)

"Saya melihat keadaan pondok pesantren di Jawa kondisinya bisa dikatakan lumayan, tetapi yang di luar Jawa umumnya masih memprihatinkan. Meski demikian lembaga pendidikan tradisional tersebut telah banyak melahirkan ulama yang kehadirannya sangat dibutuhkan umat," kata Mohsen. 

Ia juga mengemukakan, pihaknya sedang melakukan pemetaan potensi pondok pesantren, sehingga ke depan Kemenag akan bisa memberikan bantuan bagi pengembangan kemandirian pondok pesantren secara lebih terarah.

Menurut catatan Kemenag, di seluruh Nusantara kini setidaknya terdapat 29.000 pondok pesantren besar dan kecil dengan potensi ekonomi yang berbeda seperti potensi kemaritiman, agribisnis, pertanian, dan perikanan. 

"Mereka juga punya kekhasan dan keunggulan keilmuan masing-masing seperti ilmu hadis, tafsir, dan ilmu-ilmu lainnya," kata Mohsen. (Antara/Mukafi Niam)

Kamis 10 September 2015 19:0 WIB
Sekjen PBNU Upayakan Modernisasi Pengelolaan NU
Sekjen PBNU Upayakan Modernisasi Pengelolaan NU

Jakarta, NU Online
Sekjen PBNU H Helmy Faishal Zaini menyatakan bahwa dirinya sedang berupaya melakukan perbaikan tata kelola organisasi di lingkungan NU. Salah satunya dengan integrasi dan pengembangan database berbagai arsip NU. 
<>
Ia menjelaskan pola yang sudah berjalan baik di perusahaan swasta bisa dicontoh di lingkungan ormas. Jika ada yang membutuhkan qonun asasi NU, digitalisasi file memungkinkan pencarian dalam dalam hitungan menit atau bahkan detik. Saat ini, dengan manajemen pengarsipan yang masih tradisional, diperlukan waktu yang lebih panjang. 

“Nanti dengan model sistem informasi, kita akan kembangkan pelayanan publik. Di lantai dasar gedung PBNU, insyaallah akan kita kasih LCD yang touch screen. Ada peta Indonesia, disitu akan menunjukkan Wilayah, Cabang, sampai dengan Ranting dengan seluruh potensi NU-nya,” katanya.

Jika ada orang yang membutuhkan data NU, mereka secara langsung bisa mengakses komputer tersebut dan mencari apa yang dibutuhkan. “Misalnya ada tamu di sini ingin melihat, di Aceh itu sudah ada RS NU-nya atau belum. Kita bisa juga melacak data yang lain, Sekolah Ma’arifnya berapa,” paparnya.

Sistem ini akan menjadi informasi yang hidup yang terus diperbaharui dan terbuka kepada publik. Ini menjadi penting karena NU merupakan organisasi keumatan yang harus transparan dan terbuka kepada publik. Masyarakat juga bisa melakukan kontrol untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan nama NU. 

“Siapa tahu langkah ini bisa menjadi sesuatu yang berarti di masa depan. Kalau kita bertemu dengan banyak mitra, kita akan sampaikan. Pak kita potensi NU terkait dengan perikanan ini, saya bisa kasih data, mana yang sudah berhasil,” jelasnya.

Helmy menambahkan, pengelolaan gedung PBNU juga akan dilakukan perbaikan. Untuk meningkatkan kebersihan, kamar mandi dibersihkan beberapa kali dalam sehati. 

“Sistemnya seperti di mall, di setiap kamar mandi di kantor NU, ada check list, sudah dibersihkan berapa kali dalam sehari. Kita mulai yang kecil. Small is beautiful. Jadi orang datang ke sini bisa bilang, oh, kamar mandinya bersih, wangi. Ini kan islami,” ujarnya. (Mukafi Niam)

Kamis 10 September 2015 11:0 WIB
KH Fuad Affandi: NU Jangan Terjebak Permainan Politik Jangka Pendek
KH Fuad Affandi: NU Jangan Terjebak Permainan Politik Jangka Pendek

Bandung, NU Online
Pengasuh Pondok-Pesantren Al-Ittifaq Ranbacabli Kabupaten Bandung, Jawa Barat, KH. Fuad Affandi punya pandangan visioner terkait masa depan Nahdlatul Ulama.
<>
Mang Haji, demikian panggilan akrab sang kiai yang sedang mempersiapkan aksi lingkungan hidup masyarakat sungai Citarum bersama Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama dan Yayasan Bank Sampah Citarum yang akan 26 September 2015 ini berbicara panjang lebar tentang masa depan NU.

Ditemui NU Online Rabu (9/9) di kediamannya, Kampung Ciburial, Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, ia menyatakan bahwa saat ini NU perlu berbenah secara serius. Pembenahan pertama yang harus dilakukan oleh para pengurus NU adalah tetap mengambil jalur khittah.

"Jaga NU dari politik praktis, dan jangan terjebak permainan politik jangka pendek. Saya tidak anti politik. Kita butuh politik, tetapi bukan lantas semua dipolitisasi, termasuk NU. Masing-masing ada tempatnya. Dan kecenderungan politisasi NU itu sebenarnya tidak terlalu menguntungkan. Itu akibat kecenderungan sempitnya tujuan para politisi saja," demikian pesannya.

Dalam pandangan KH Fuad Affandi, politisisasi itu berdampak buruk pada organisasi. Organisasi bisa mandek kalau dipakai kepentingan politik pragmatis karena para pengurusnya pasti akan lebih berpikir mendapat pelayanan dari NU, umat NU, atau memanfaatkan NU ketimbang memberikan manfaat kepada umat melalui NU. Kepentingan yang dimaksud Mang Haji bukan politik saja, tetapi bisa kepentingan lain seperti ekonomi, atau kepentingan personal lainnya.

Kasus Jawa Barat

"Tidak usah jauh-jauh kasusnya, di Jawa Barat ini, banyak politisi bermain di NU. Akibatnya organisasi kurang bertaji kiprahnya. Sekalipun ketuanya yang dari Cirebon (Eman Suryaman –Red) itu bagus dalam komunikasi dan khidmadnya kuat, tetapi organisasi PWNU tidak punya prestasi yang dirasakan masyarakat secara luas. Makanya kalau hari ini PWNU mengajak bersih-bersih Citarum, tidak ada satu pasal pun buat saya untuk menolak. Ayo gerak. Jangan banyak mikir!," ujarnya bersemangat.

Menurut Mang Haji, PWNU Jawa Barat harus mulai menggali sosok-sosok baru yang lebih bisa optimal mengurus organisasi. Sebab banyak pengurus di NU yang tidak optimal bekerja kecuali kerja serampangan bertemu dan tidak sungguh-sungguh menciptakan kerja nyata untuk sebuah karya kemasyarakatan.

"Saya heran. Seringkali menemukan orang banyak jabatan di organisasi. Apakah ia bisa optimal berkontribusi? Setelah saya teliti, yang namanya aktif itu ternyata cuma aktif mencantumkan namanya, tapi kerjanya nol. Ini penyakit. Tidak tahu malu menyatakan sanggup mengurus NU tapi hanya untuk nambah merek," terangnya.

Peraih penghargaan Kalpataru 2003 itu memberikan tips, untuk mengubah keadaan, jangan berpikir mengada-ngada tetapi harus olah yang ada menjadi sesuatu yang ada. Artinya, jangan sering terjebak berkhayal mengawang-ngawang, tetapi harus membumi dengan kenyataan. Jika keadaan yang ada itu buruk, ubah, jangan banyak pertimbangan. Lakukan yang bisa daripada hanya berpikir terus tapi tak bisa melakukan apa-apa.

Kemudian ia menyarankan, Pengurus NU harus banyak silaturahim yang benar-benar silaturahim, bukan silaturahim saat kepentingan tertentu. Perilaku politisi yang hobi silaturahim tapi modus sebatas nyari suara atau pragmatis mencari kepentingan itu model yang salah.

Saat ini menurutnya, banyak politisi NU yang makin tidak tahu arah, bahkan tega-teganya memanfaatkan umat untuk dirinya sendiri. "Saya terlalu cinta dengan NU, karena itulah saya harus ngomong yang sebenar-benarnya. Saya tidak mengada-ngada dengan fakta karena saya menghadapi sekian generasi, sekian banyak politisi yang beperilaku keliru," terangnya.

Selain itu, Murid Mbah Maksum Lasem ini berpesan, agar generasi NU memegang memegang teguh ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. Ia menyarankan setiap orang bergaul harus lintas mazhab, lintas agama, lintas golongan, lintas sektoral, dan lintas generasi.

"Jauh sebelum Mas Jokowi ngomong lintas sektoral, tahun 1970-an pesantren Al-Ittifaq sudah mulai menjalin hubungan kerjasama dengan kaum nasrani, dan golongan manapun. Toh tidak ada yang jadi Kristen di sini. Jangan seperti kodok yang berpikir seluas batok kepalanya. Kita hidup tidak bisa sendiri, kita sukses harus melibatkan banyak orang. Saya saja sudah setua ini, gaul lintas generasi dengan cucu-cucu saya. Akbatnya saya ngerti online, haha..." jelasnya.

Ditanya, apakah Mang Haji berkenan seandainya menjadi Rois Syuriah PWNU Jawa Barat agar PWNU maju dalam urusan organisasinya, ia punya pandangan khusus.

"Berorganisasi itu untuk menciptakan manfaat, bukan memanfaatkan. Kita bisa mengambil manfaat dengan banyak berteman, tetapi yang utama harus menciptakan banyak manfaat untuk orang lain. Kalau saya yang penting bisa memberi manfaat. Itulah kenapa saya urus tahi sapi ketimbang mengurus orang yang rebutan sapi. Lebih baik saya membuat kursi ketimbang ngurusin orang rebutan kursi," ujarnya tertawa.

Ia melanjutkan, karena itu kalau sampeyan punya waktu, berkhidmadlah di NU, berikan waktu untuk NU.

"Seperti Kiagus Mubarok (Wakil Ketua PWNU Jabar-Red) ini, harus terus berkhidmat di NU. Saya bukan orang yang kurang kerjaan sehingga harus sempat-sempat berpikir jabatan rois syuriah. Tapi saya insya Allah bisa bantu penuh Kiagus karena mau bersusah payah mengurus warga Citarum melalui NU. Silahkan NU dan Al-Ittifaq mengambil kesepahaman bersama untuk memberi manfaat bagi masyarakat. Tinggalkan berpikir picik kegemaran memanfaatkan NU untuk kepentingan pribadi," pungkasnya.

Tanggal 26 September 2015 mendatang, PWNU Jawa Barat bersama Yayasan Bank Sampah Citarum, bersama warga masyarakat sekitar sungai Citarum di Baleendah Kabupaten Bandung akan mengadakan gerakan lingkungan hidup yang melibatkan 20.000 massa. Al-Ittifaq sendiri akan berkontribusi dalam kegiatan Bazar, Lingkungan Hidup dan Bakti sosial. Dalam gerakan Peduli Citarum itu, akan banyak kelompok masyarakat yang terlibat, yang terdiri dari lintas sektoral, lintas etnik, dan lintas agama. (Yus Makmun/Mahbib)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG