IMG-LOGO
Opini

Memperjalankan Logika dan Spiritualitas


Jumat 25 September 2015 21:01 WIB
Bagikan:
Memperjalankan Logika dan Spiritualitas

Oleh: Ahmad Saifuddin
Idul Adha merupakan salah satu hari raya umat Islam yang cukup istimewa. Istimewa dari berbagai segi. Mulai dari histori hari raya tersebut sampai pada pelaksanaan hari raya tersebut dengan berkurban. Dengan begitu, banyak hal yang dapat dipelajari dari pelaksanaan hari raya Idul Adha dengan berkurban tersebut.
<>
Peristiwa Idul Adha tidak pernah terlepas dari sosok Nabi Ibrâhîm AS yang karena ketaatan, keikhlasan, dan kegigihannya dalam menghadapi cobaan, dianugerahi oleh Allah SWT dengan gelar Khalîlullâh (kekasih Allah SWT). Nabi Ibrâhîm AS sendiri memiliki sejarah unik di setiap fase perkembangannya. Nabi Ibrâhîm AS memulai perjalanan spiritualnya sendiri dengan mengolah logikanya dalam mencari Tuhan. 

Allah SWT berfirman dalam Q.S. Al An’âm ayat 75 sampai 79, “Dan demikianlah kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin. Ketika malam Telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam." Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, Pastilah Aku termasuk orang yang sesat." Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, Ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, Sesungguhnya Aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya Aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan Aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.”

Nabi Ibrâhîm AS benar-benar memperjalankan logikanya untuk lebih mengenal Allah SWT. Sehingga, agama yang dianutnya sama sekali bukan karena keturunan, namun jauh lebih dari itu, karena faktor perjalanan logika yang unik. Perjalanan logika yang unik tersebut lantas memberikan pemahaman bahwa logika selayaknya digunakan untuk memahami Tuhan dan tanda-tandanya serta setiap sesuatu yang diciptakannya. Perjalanan logika yang unik tersebut pada akhirnya akan membuahkan hasil perjalanan spiritualitas yang penuh makna. Dengan demikian, bukan logika untuk membentuk realitas Tuhan, namun logika untuk mencari dan memahami realitas Tuhan. 

Perjalanan spiritualitasnya pun berlanjut ketika Nabi Ibrâhîm AS mulai berdakwah kepada kaumnya. Seperti yang difirmankan oleh Allah SWT dalam Q.S. Al Anbiyâ’ ayat 50 sampai 70, bahwa Nabi Ibrâhîm AS tidak hanya sangat berani dalam berdakwah, namun juga cerdas mematahkan pemikiran lawan dan mampu membuktikan bahwa Allah SWT Maha Benar. Sampai-sampai beliau harus dibakar (Q.S. Al ‘Ankabût ayat 24), namun karena pertolongan Allah SWT, api menjadi dingin dan beliau pun tidak terbakar sedikit pun.

Perjalanan spiritualnya tidak berhenti sampai di situ. Beliau masih harus diuji oleh Allah SWT dengan tidak memiliki keturunan dalam jangka waktu yang lama. Sampai akhirnya, karena kesabaran dan keikhlasannya, beliau dianugerahi seorang putra yang shâlih, Nabi Ismâ’îl AS. Setelah dianugerahi Nabi Ismâ’îl AS, Nabi Ibrâhîm AS pun masih tetap diuji dan diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyembelih Nabi Ismâ’îl AS ketika Nabi Ismâ’îl AS masih anak-anak.

Dengan keimanan yang mantap tanpa ragu, Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismâ’îl AS pun melaksanakan perintah Allah SWT sehingga Nabi Ismâ’îl AS digantikan oleh Allah SWT dengan seekor domba. Berdasarkan kejadian sakral tersebut, ritual qurban pun menjadi sebuah salah satu ibadah yang tidak hanya bersifat vertikal—transenden, tetapi juga bersifat horisontal—sosial.

Ada hal yang menarik dari pola komunikasi kedua Nabi tersebut ketika akan melaksanakan perintah Allah SWT. Dalam Q.S. Ash Shâffaât ayat 102 difirmankan Allah SWT, maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". 

Ketika melihat pola dialog yang digunakan oleh Nabi Ibrâhîm AS dan Nabi Ismâ’îl AS tersebut, maka akan dapat dipahami mengenai pola komunikasi antara bapak dan anak yang sangat berkualitas. Pola komunikasi dalam keluarga tersebut berlangsung dengan sangat demokratis dan interaktif, bukan otoriter satu arah. Kondisi itu mengajarkan pada manusia bahwa dalam mendidik anak, seharusnya menggunakan pola komunikasi yang sehat. Dengan pola komunikasi yang sehat, seorang anak akan merasa dihargai, orang tua akan memahami pendapat anak, rasa saling percaya akan tumbuh, dan keputusan akan dapat dicapai dan diimplementasikan bersama dengan rasa ikhlas.

Pelajaran lain yang dapat dipetik dari peristiwa qurban atau Idul Adha. Bahwa peristiwa Idul Adha (qurban)  tidak hanya mengajarkan untuk berkorban, tetapi juga mengajarkan untuk bersikap peka dan ikhlas. Qurban dimaknai sebagai bukan hanya sebagai ibadah dalam memenuhi penghambaan kepada Allah SWT, bukan juga dimaknai hanya sebagai penolong bagi orang yang berqurban ketika di akhirat kelak. Tetapi, qurban juga dimaknai sebagai sarana berbagi rizqi yang dianugerahkan kepada Allah SWT. Sehingga, sebenarnya penghambaan yang mengarah kepada transendental (Tuhan) akan tetap berakhir kepada sosial (pemberdayaan dan bersikap baik kepada sesama).

Satu hal penting yang harus dipahami juga bahwa Nabi Ibrâhîm AS memiliki keturunan yang banyak menjadi Nabi sehingga beliau pun digelari “Bapaknya para nabi”. Hal ini karena beliau memperjalankan logika dan spiritualitasnya kepada Allah SWT, sehingga beliau menjadi kekasih Allah SWT. Selain itu, beliau pun menjadi role model dengan memiliki kepribadian yang bersifat mulia, seperti difirmankan Allah SWT dalam Q.S. Hûd ayat 75, “Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang Penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah.”

Sebagai gantinya, Allah SWT memberikan anugerah berupa keturunan yang shâlih. Selain itu, beliau juga senantiasa bersyukur, berdoa agar diberikan keturunan yang menjauhi kekafiran, senantiasa mendirikan shalat, serta mendoakan ampun untuk orang tuanya dan kaum mu’mîn, seperti difirmankan Allah SWT dalam Q.S. Ibrâhîm ayat 35 sampai ayat 41.

Perjalanan logika dan spiritualitas Nabi Ibrâhîm AS serta totalitas dalam penghambaan keapda Tuhan yang kemudian secara prinsip juga dipraktekkan oleh kaum sufi di jaman mendatang, akan mampu menciptakan kepribadian (personality) dengan keimanan dan kepekaan sosial yang tinggi. Pada akhirnya, kepribadian tersebut akan menjadi modalitas penting dala melaksanakan pemberdayaan (empowering), pencerahan (enlightment), dan pembebasan (liberation). Wallâhu a’lam bish shawâb.

* Wakil Sekretaris PW IPNU Jawa Tengah

Bagikan:
IMG
IMG