IMG-LOGO
Internasional

Kepada PCINU Sedunia, Waketum PBNU: Sebarkan Islam Nusantara!

Rabu 30 September 2015 9:3 WIB
Bagikan:
Kepada PCINU Sedunia, Waketum PBNU: Sebarkan Islam Nusantara!

Makkah, NU Online
Wakil Ketua Umum PBNU Selamet Effendy Yusuf berpesan kepada Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) di berbagai negara untuk menjadi corong bagi penyebarluasan wawasan ke-NU-an di dunia.
<>
“Kalian adalah duta-duta NU di luar negeri untuk menyebarkan fikrah-fikrah NU, memperkenalkan Islam Nusantara kepada dunia dalam konteks bagaimana menjalankan Islam dengan negara. keislaman kita tidak bisa dipisahkan dengan kebangsaan,” katanya dalam di acara Silaturrahim PCINU Sedunia yang digelar di Rubat Jawa an-Nawawy, Distrik Misfalah, Kota Makkah al-Mukarramah, Arab Saudi.

Pria kelahiran Purwokerto ini mengaku sangat gembira dengan pergerakan NU di berbagai belahan dunia. Ia optimis, hal ini menjadi sarana bagi pengembangan NU di masa depan.

“Apa yang kalian lakukan di berbagai negara merupakan perluasan NU di mancanegara. NU dianggap sebagai organisasi agama yang besar dan mempunyai pergerakan positif di mata dunia. Alhamdulillah, dengan adanya PCINU di berbagai negara ini, merupakan bukti eksistensi NU di mancanegara,” tuturnya.

Forum yang berlangsung 21 September 2015 lalu ini dihadiri antara lain oleh perwakilan PCINU Belanda, PCINU Hongkong, PCINU Jepang, PCINU Lebanon,  PCINU Malaysia, PCINU Maroko, PCINU Mesir, PCINU Pakistan, PCINU Sudan, PCINU Tunisia, PCINU Yaman, dan PCINU Aljazair.

Acara yang dihelat oleh Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI NU) Arab Saudi selaku tuan rumah ini juga menghadirkan sejumlah tokoh, di antaranya Rais Syuriah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi, dan Abdul Wahid Maktub (Staff Ahli Menristek Dikti dan mantan Dubes RI untuk Qatar).

Wakil Rais Syuriah PCINU Arab Saudi Arsyad Hidayat mengatakan, “Ibadah haji adalah ‘muktamar internasional’ di mana umat muslim dari seluruh dunia berkumpul dan ini adalah momen strategis untuk mempererat tali silaturrahim,” ujarnya. (Ridho Hasan/Mahbib)

Bagikan:
Rabu 30 September 2015 23:7 WIB
Daker Makkah Gelar Tahlil untuk Korban Crane dan Mina
Daker Makkah Gelar Tahlil untuk Korban Crane dan Mina

Makkah, NU Online
Tatkala mengabdi di Tanah Suci, banyak petugas mengorbankan kepentingan pribadinya demi melayani umat. Berusaha menahan duka demi profesionalitas, tidak meminta pulang ke Tanah Air walau orang yang dicintainya meninggal dunia.
<>
Sebagai bentuk kepedulian sesama, kantor urusan haji Daker (daerah kerja) Makkah menggelar tahlilan usai salat Ashar. Tahlilan diikuti langsung oleh Menag Lukman Hakim Saifuddin, Dirjen Penyelenggara Haji dan Umroh (PHU) Abdul Djamil, Kepala Daker Makkah Arsyad Hidayat dan petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) yang bertugas di Daker Makkah. Demikian dikutip dari laman kemanag.go.id.

“Kita juga mendoakan saudara-saudara kita yang wafat di Tanah Suci termasuk karena insiden crane dan yang di Mina,” tutur Sekretaris Menteri Khoirul Huda Basyir, Selasa (29/09), sebelum pembacaan Yasin dan tahlilan dimulai.

Selain itu, ada pula petugas PPIH yang berduka karena kerabatnya meninggal dunia. Sekurangnya ada 2 petugas PPIH yang berduka: Kepala Seksi Media Center Haji (MCH) Moh Khoeron Durori. Ayahandanya wafat di Tegal, Indonesia pada Selasa (29/09) dini hari. Ikut berduka juga Ida Rahmal yang ayahnya turut menjadi korban tragedi Mina 204.

Mereka bertahan demi tugas di tengah duka yang mendalam. Berserah diri pada Allah demi melayani jemaah haji, yakin balasannya akan setimpal. “Semoga Al Fatihah dan Yasin yang kita kirim bisa membawa kebaikan bagi almarhum,” tutur Choirul usai tahlilan. Red: Mukafi Niam

Rabu 30 September 2015 20:25 WIB
Menag Kunjungi Pesantren Riyadul Jannah, Guru Ulama Indonesia di Makkah
Menag Kunjungi Pesantren Riyadul Jannah, Guru Ulama Indonesia di Makkah

Makkah, NU Online
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menghadiri peringatan haul Syeikh Ismail Zein yang ke-22 di Pesantren Riyadul Jannah, Ruseifah, Makkah, Selasa (29/09).  Menurutnya, Syeikh Ismail merupakan ulama terkemuka di Makkah yang menjadi guru para ulama dan kiai di Indonesia.
<>
“Syaikh Ismail Zein adalah ulama besar di Makkah yang menjadi tempat belajar para Kiai yang ada di Indonesia. Selaku Pemerintah, saya menghaturkan terima kasih,  karena tempat ini telah memberikan banyak manfaat,” terang Menag seperti dilansir oleh laman kemanag.go.id.

Haul ke-22 Syeikh Ismail diperingati dengan sederhana di dalam Masjid Pesantren Riyadhul Jannah. Selain para santri yang kebanyakan berasal dari Indonesia dan jamaah haji Indonesia, hadir juga salah salah satu ulama Turki, Syekh Mahmud. Seperti di Indonesia, peringatan haul diisi dengan  pembacaan Surat Yasin, Al Waqiah, Al Mulk, dan tahlil. Perjuangan Syeikh Ismail dilanjutkan oleh puteranya, Syeikh Muhammad bin Ismasil Zein.

Menurut Menag, sejak puluhan tahun yang lalu, banyak ulama Indonesia yang belajar di pesantren Riyadhul Jannah ini. pikiran-pikiran Syeikh Ismail banyak mewarnai pandangan ulama Indonesia dan itu sangat bermanfaat dalam menjaga Islam  Indonesai yang  rahmatan lil alamin,  wasathiyyah, tasammuh, tawazun, dan tawassuth. Bukan Islam yang  tatharruf, ekstrim. 

“Semua itu sesungguhnya karena pengaruh jasa dari banyak guru yang ada di Tanah Suci dan salah satunya adalah yang ada di majelis ini,” tutur Menag.

Selaku pemerintah, Menag menyampaikan terima kasih kepada Syekh Muhammad yang mampu melanjutkan, tidak hanya memelihara dan menjaga, tapi juga mengembangkan pesantren ini sehingga para pelajar Indonesia  bisa belajar dan memanfaatkan ilmunya di Tanah Air. 
Syeik Muhammad dalam sambutannya juga menghaturkan terima kasih atas kehadiran Menteri Agama Lukman dan para jamaah haji lainnya. Menurutnya, kehadiran mereka tidak hanya sebagai saudara sesama Muslim, tetapi juga sebagai tamu-tamu Allah. 

“Barangsiapa menghormati tamu Allah maka akan dihormati Allah,” terangnya.

Senada dengan Menag, Syeikh Muhammad menambahkan, pesantren Riyadhul Jannah ini didirikan sejak sekitar lima puluh tahun yang lalu oleh ayahnya, Syeikh Ismail Zain. “Alhamdulilha sampai sekarang masih berjalan,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Menteri Agama memberikan kenang-kenangan kepada Syeikh Muhammad berupa sarung tenun khas Indonesia. 

“Ini sarung khas Indonesia dari saya pribadi semoga menjadikan Syekh Muhammad selalu terkenang dengan Indonesia,” kata Menag sembari menyerahkan bingkisan sarung kepada tuan rumah. 

Tidak mau kalah, Syeikh Muhammad juga memberikan kenang-kenangan kepada Menag berupa Kitab Suci Al-Qur’an.

Usai pengajian, diadakan makan bersama dengan menu Nasi Kabsah. Tampak Menag dan Syeikh Muhammad berbaur bersama para santri dan undangan lainnya, makan bersama sajian nasi dan daging kambing  di beberapa penampan besar. Red: Mukafi Niam

Rabu 30 September 2015 10:0 WIB
Kiai Masdar: Ini Tantangan Komite Hijaz Abad 21
Kiai Masdar: Ini Tantangan Komite Hijaz Abad 21

Makkah, NU Online
Komite Hijaz adalah sebuah kepanitiaan kecil yang dibentuk umat islam di Indonesia medio 1924-1925 bertepatan dengan berkuasanya Ibnu Saud, Raja Najed yang beraliran Wahabi, atas Hijaz (Makkah dan Madinah). Salah satu latar belakang kelahirannya adalah kebijakan anti pluralitas madzhab dan pemusnahan situs-situs peradaban Islam oleh Ibnu Saud. Komite Hijaz yang diketuai KH. Abdul Wahab Hasbullah menjadi embrio berdirinya Nahdlatul Ulama.<>

Rais Syuriah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi mengingatkan kembali cerita itu. Menurutnya, Nahdlatul Ulama sejak awal berdiri memiliki visi dan cita-cita internasional. “Sesungguhnya NU lahir dengan perspektif dan cita-cita yang luar biasa. Perspektif global ini tidak boleh surut,” tuturnya.

Kiai Masdar berbicara dalam acara Silaturrahim PCINU Sedunia yang digelar di Rubat Jawa an-Nawawy, Distrik Misfalah, Kota Makkah al-Mukarramah, Arab Saudi. Utusan Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) datang antara lain dari Belanda, Hongkong, Jepang, Lebanon, Malaysia, Maroko, Mesir, Pakistan, Sudan, Tunisia, Yaman, dan Aljazair.

“Saat ini kita bisa merasakan bagaimana haji sebagai laku napak tilas spiritual sudah hilang, rumah Rasulullah (bersama Sayyidah Khadijah-red) sudah tidak ada, petilasan-petilasan bersejarah juga sudah hilang. Ini tantangan komite hijaz abad 21 saya kira, bagaimana menjaga haji sebagai proses penulusuran sejarah spritual umat Islam,” tutur santri KH Ali Maksum Krapyak ini, Senin (21/9).

Dalam kesempatna yang sama, ia juga juga menekankan pentingnya berjamaah. Menurutnya, jamaah bukan sekadar kumpul, melainkan kumpulan manusia yang teroganisasi seperti halnya jamaah shalat, ada imam dan ada makmum.

“Jamaah dalam konteks hablum minannas ya organisasi dan Indonesia sudah ideal, di mana organisasi-organisasi keagamaan tumbuh subur, tinggal bagaimana duduk bersama merespon isu lokal maupun isu internasional,” ujar Kiai Masdar.

Abdul Wahid Maktub, Staf Ahli Menristek Dikti RI, yang juga hadir dalam forum tersebut mengingatkan pentingnya merespon perubahan zaman. Ia mengatakan, dunia ini terus berubah karena itu bagian dari sunnatullah. Menjadi problem jika zaman berubah begitu cepat tetapi manusianya tidak berubah.

Wahid Maktub menekankan pentingnya kecepatan, kecermatan dan ketepatan dalam membaca keadaan zaman. Menurutnya NU harus mampu menjawab tantangan zaman dan harus semangat dan cepat berubah sebagaimana semangat jihad yang pernah digelorakan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabatnya. (Ridho Hasan/Mahbib)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG