IMG-LOGO
Trending Now:
Internasional

Ribuan Remaja Malaysia Hamil di Luar Nikah

Sabtu 31 Oktober 2015 3:5 WIB
Bagikan:
Ribuan Remaja Malaysia Hamil di Luar Nikah

Kuala Lumpur, NU Online
Rata-rata sebanyak 18 ribu remaja usia 10 hingga 19 tahun di Malaysia hamil setiap tahun dan dirawat di klinik kesehatan pemerintah.<>

Menteri Kesehatan Malaysia Datuk Seri Dr S Subramaniam mengatakan, dari jumlah itu, sebanyak 25 persen atau sekitar 4.500 kasus remaja yang hamil di luar nikah.

Subramaniam seperti dikutip media setempat di Kuala Lumpur, Jumat mengatakan, rata-rata 1.500 kasus remaja hamil tercatat dalam sebulan atau 50 kasus sehari di seluruh Malaysia, dan paling banyak melibatkan remaja umur 16 hingga 19 tahun.

"Berdasarkan kajian, remaja mulai melakukan hubungan seks pada umur 14 tahun dengan Sarawak mencatat kehamilan remaja paling tinggi," katanya.

"Diantara faktor utama kehamilan remaja disebabkan faktor pendidikan, kerapuhan institusi keluarga, sistem kesehatan, pengaruh rekan sebaya, media massa dan sosio budaya," katanya.

Ia mengatakan berdasar kajian Global School-Based Student Health Survey 2012, 8,3 persen pelajar sekolah yang berumur antara 13 hingga 17 tahun mengaku pernah melakukan hubungan seks.

"Masalah yang mengkhawatirkan ialah tren kehamilan dan kematian di kalangan remaja hamil semakin meningkat."

"Perasaan malu dan stigma masyarakat merupakan penghambat usaha remaja untuk mendapatkan pertolongan awal yang sewajarnya dan mengakibatkan mereka menghadapi berbagai masalah kesehatan dan sosial," katanya. (Antara/Mukafi Niam)

Bagikan:
Sabtu 31 Oktober 2015 12:1 WIB
Muslim di Tiongkok juga Lakukan Tahlilan dan Ziarah Kubur
Muslim di Tiongkok juga Lakukan Tahlilan dan Ziarah Kubur

Xiamen, NU Online
Rombongan PWNU Jatim yang melakukan kunjungan ke Tiongkok, diawali dengan ziarah ke makam murid sahabat Sa’ad bin Abi Waqash. Ketika berada di area makam tersebut ternyata sejumlah jamaah muslim setempat sedang membacakan tahlil seperti layaknya di tanah air.<>

Pengalaman ini disampaikan Wakil Ketua PWNU Jatim, KH Abdurrahman Navis kepada media. "Selama di pemakaman tersebut, mereka  membaca al-Qur'an dan berdzikir seperti layaknya tahlilan di tanah air," katanya, Jumat (30/10). Rombongan juga terlihat sangat khusyuk saat membaca doa.

Yang menarik, saat rombongan dari PWNU Jatim yang terdiri dari KH Anwar Manshur (Pjs Rais Syuriah), H Ahmad Shiddiq (Wakil Ketua), Prof Ach Muzakki (Sekretaris), H Misbahul Munir dan H Husnul Yaqin (Wakil Sekretaris), ikut melakukan tahlil, ada jamaah yang membagikan uang Negara setempat, yakni Yuan kepada seluruh peziarah yang berada di area pemakaman. "Semua dapat bagian, dan setelah saya hitung ternyata jumlah yang saya terima 30 Yuan," kata Kiai Navis, sapaan akrabnya.

Bahkan sejumlah rombongan dari tanah air yang tidak ikut tahlilan, namun berada di lokasi makam  juga mendapatkan "bisyarah" atau amplop yang sama. "Kawan dari Muhammadiyah yang saat itu tidak ikut tahlilan malah ada yang dapat 60 Yuan," terangnya.

Bagi Kiai Navis, soal berapa "bisyarah" yang diterima jamaah, mungkin jumlahnya sangat relatif. "Namun yang perlu dicatat adalah tradisi ziarah kubur di komunitas muslim Tiongkok ternyata telah berlangsung lama dan dijaga dengan baik, hal ini tentu saja sangat membanggakan,” ungkapnya.

Dengan ditemukannya fakta ini, berarti tradisi ziarah kubur tidak hanya ada di Indonesia. "Ternyata kaum muslimin Tiongkok juga mentradisikan ziarah ke makam para sahabat, auliya dan orang yang mereka hormati, khusus para tokoh agama," tandas Direktur Aswaja NU Center Jatim ini. Dengan demikian semakin jelas bahwa ziarah kubur dilakukan oleh mayoritas muslim sunni di berbagai negara, dan bukan warisan atau meniru agama lain.

Tidak hanya itu, persamaan yang ditemukan selama kunjungan. "Saat kami bersilaturahim ke masjid di Kota Xiamen Tiongkok, fasilitas di masjid tersebut juga layaknya di Indonesia," kata dosen UIN Sunan Ampel Surabaya ini. Di masjid tersebut terdapat mimbar yang menggunakan tongkat untuk bilal dan khatib. "Sedangkan di mihrab masjid juga terdapat tasbih," terangnya.

Pada kegiatan tersebut, rombongan PWNU Jatim bergabung dengan 20 pemuka agama Islam dari propinsi ini. Mereka melakukan kunjungan ke sejumlah destinasi yang berbuansa agama. Rombongan adalah perwakilan Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah dan MUI Jatim.

Kegiatan yang berlangsung sejak 28 Oktober 2015 hingga 4 November 2015 ini bertujuan membangun silaturahim antara para pemuka agama Islam. (Ibnu Nawawi/Fathoni)


Foto: Suasana di makam murid sahabat Saad bin Abi Waqash di Xiamen Tiongkok.

Jumat 30 Oktober 2015 12:0 WIB
NU Jatim Berbagi Pengalaman di Komunitas Muslim Tiongkok
NU Jatim Berbagi Pengalaman di Komunitas Muslim Tiongkok

Xianen, NU Online
Ada 20 pemuka agama dari Jawa Timur melakukan kunjungan ke sejumlah destinasi yang berbuansa agama. "Rombongan adalah dari perwakilan Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah dan MUI di Jawa Timur," kata KH Abdurrahman Navis, Kamis (29/10).
<>
Kegiatan yang direncakanan berlangsung sejak 28 Oktober hingga 4 November ini bertujuan membangun silaturahim. "Agar antara pemuka agama di Jawa Timur dengan para ulama di Tiongkok ada kerja sama yang lebih intensif dalam khidmat kepada umat," kata Wakil Ketua PWNU Jatim ini.

"Selama kunjungan, kami juga akan melakukan serangkaian kegiatan ziarah ke sejumlah tempat bersejarah yang bernuasa religi," tandas Direktur PW Aswaja NU Center Jatim ini. Karena seperti diketahui, ada sejumlah makam sahabat yang berada di kawasan tersebut. "Salah satunya adalah sahabat Saad bin Abi Waqqas," ungkap Kiai Navis, sapaan akrabnya. Demikian juga berbagai kegiatan dakwah yang digagas masyarakat maupun pemerintah dalam mengembangkan Islam juga menjadi agenda selama kegiatan tersebut.

Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Surabaya ini mengemukakan bahwa tantangan Islam semakin berat dan kompleks. "Tidak semata dari luar, juga dari internal umat Islam sendiri tantangan itu sangat kita rasakan," katanya. Karenanya, menyambung silaturahim dan kerja sama yang lebih erat dengan banyak kalangan adalah sebuah jawaban yang konkret.

"Makna kunjungan ini juga diarahkan ke hal positif tersebut," terangnya. Termasuk saling berbagi pengalaman dan informasi dalam menjalankan dakwah dan mendampingi umat. "Kita bisa memberikan pengalaman NU Jawa Timur saat melakukan sejumlah kegiatan dakwah," katanya. Demikian juga rombongan menerima pengalaman dari tuan rumah dalam membina umat, lanjutnya.

Rombongan PWNU Jatim terdiri dari KH Anwar Manshur (Pjs Rais Syuriyah), H Ahmad Shiddiq (Wakil Ketua), Prof Ach Muzakki (Sekretaris), H Misbahul Munir dan H Husnul Yaqin (Wakil Sekretaris). Di samping melakukan pertemuan, sesuai jadwal yang ditetapkan pemerintah setempat, mereka akan berkunjung ke komunitas NU di sana. (Ibnu Nawawi/Mahbib)

Foto: KH Abdurrahman Navis di salah satu sudut kota di  Xianen Tiongkok

Senin 26 Oktober 2015 13:40 WIB
Semarak Hari Santri di Hadramaut Yaman
Semarak Hari Santri di Hadramaut Yaman

Tarim, NU Online
Peresmian tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional disambut meriah umat Islam di Tanah Air di berbagai daerah, juga diperingati di Hadramaut, Yaman.  Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) Yaman bersama sejumlah organisasi setempat menggelar diskusi dan drama teatrikal bertajuk “Resolusi Jihad”.
<>
Ragkaian acara bertema "Menggelorakan Kembali Semangat Resolusi Jihad dan Patriotisme Santri untuk Negeri" ini diawali dengan menggelar Indonesia Santri Club (ISC) pada Rabu (21/10) di Auditorium Universitas Al-Ahgaff.

Diskusi tersebut dihadiri sejumlah pelajar yang mengenyam pendidikan di Kota Tarim, antara lain Universitas Al-Ahgaff, Perguruan Darul Musthafa dan Ribat Tarim. Forum yang dikemas secara santai  ini mendiskusikan permasalahan seputar Resolusi Jihad serta menguak peran penting para ulama dengan santri-santrinya dalam mempertahankan kemerdekaan NKRI.

Di malam puncak, Kamis (22/10), kemeriahan acara diisi dengan penampilan drama teatrikal “Resolusi Jihad” yang dimainkan sekitar 25 aktor yang meceritakan kembali peran ulama dan santri dalam memeperebutkan NKRI. Pesan cerita diinspirasi dari seruan perang suci Hadratussyaikh Muhammad Hasyim Asy'ari dalam menumpas kaum penjajah.

Drama treatikal berdurasi 1,5 jam ini berhasil menghipnotis para penonton yang hadir di malam itu. Bukan hanya pelajar Indonesia, acara ini juga dihadiri pelajar-pelajar luar Indonesia, seperti Thailand, Malaysia, Tanzania, Somalia, serta pelajar Yaman.

Aksi-aksi yang diperagakan disambut sorakan serta tepukan tangan penonton pun membuat suasana semakin meriah hingga jam menunjukkan pukul 23:00 KSA. Di luar itu, acara juga diramaikan dengan bazar masakan ala santri dengan menu khas Nusantara.

Ketua PCI NU Yaman Thohirin Shodiq menyayangkan masih banyak pelajar yang belum mengetahui sejarah kiprah ulama dan santri pada era revolusi. "Resolusi Jihad beserta para ulama yang turut berkecimpung dalam peristiwa ini, misalnya kiai Abbas Buntet yang membentuk Laskar Santri telah dilupakan oleh sejarah sehingga pelajar tak mengetahuinya," katanya.

Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama PCINU Yaman, PPI, AMI Al-Ahgaff, FLP dan didukung oleh sekitar 8 organisasi daerah. (Aidil/Abda/Mahbib)

 

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG