IMG-LOGO
Daerah

Perpustakaan Mutamakkin Bedah Konsep Fiqih Sosial Mbah Sahal

Senin 2 November 2015 15:1 WIB
Bagikan:
Perpustakaan Mutamakkin Bedah Konsep Fiqih Sosial Mbah Sahal

Pati, NU Online
Dalam rangka menggali pemikiran dan memperdalam keilmuan Almaghfurlah KH Sahal Mahfudh atau akrab dipanggil Mbah Sahal, pengurus perpustakaan Mutamakkin mengadakan bedah buku “Elaborasi Lima Ciri Pokok Fiqih Sosial Kiai Sahal Mahfudh”, Sabtu (31/10) lalu di Kajen, Pati, Jawa Tengah.<>

Menurut Jamal Makmur selaku narasumber Kiai Sahal Mahfudh merupakan sosok santri yang penuh multitalenta. Kebiasaannya dalam menjalankan sholat tahajud tidak pernah beliau tinggalkan, makan tidak sampai kenyang, hadir tepat waktu dalam sebuah acara, berpenampilan sederhana dan tidak berlebihan, semua itu dia lakukan secara istiqomah.

“Selai itu, sejak di pesantren sampai akhir hayatnya beliau aktif membaca, musyawaroh, diskusi agama (bahtsul masail), dan organaisasi yang beliau lakukan secra kontinyu.  sehingga mampu melahirkan karya-karya besar beliau yang fenomenal sampai go internasional baik intelektual maupun ilmu sosial, yang uniknya semua karya beliau merujuk pada refrensi kitab kuning tanpa satu pun yang merujuk pada refrensi dari teori-teori Barat,” terang Jamal.

Sedangkan menurut Muhammad Ni’am Sutaman, Kiai Sahal Mahfudh adalah seorang mujtahid yang mampu memberikan dampak sosial positif di masyarakat melalui konsep fiqih sosial. “Ambil contoh kontribusi fiqih sosial dalam menggerakkan dinamika fiqih, kemudian peran Kiai Sahal dalam memberdayakan ekonomi masyarakat mampu memberikan sumbangsih terhadap masyarakat Kajen dan sekitarnya,” ungkapnya.

Niam menambahkan, fiqih sosial merupakan trobosan pikiran yang luar biasa di lingkungan NU maupun Islam Indoneisa. Karena fiqih sosial yang ditulis oleh Kiai Sahal merupakan ijtihad untuk menemukan problem-problem di masyarakat.

“Mbah Sahal mengambil konsep gagasannya dari teks kitab klasik yang dikontekstualisasikan. Sehingga fiqih sosial ini bisa memberikan pandangan, solusi dan menjawab tantangan zaman yang ada di masyarakat,” terangnya. (Siswanto/Fathoni)
  

Bagikan:
Senin 2 November 2015 22:3 WIB
Pelajar NU Harus Jadi Pelopor Organisatoris
Pelajar NU Harus Jadi Pelopor Organisatoris

Sidoarjo, NU Online
Sebanyak 30 mahasiswa Universitas Sunan Giri (Unsuri) di Waru Sidoarjo mengikuti Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) selama tiga hari mulai dari Jumat-Ahad (30 Oktober-1 November) 2015. Melalui kaderisasi awal ini, mereka diharapkan dapat menggerakkan organisasi pelajar NU di kampus setempat.
<>
Ketua PKPT IPNU Unsuri Nur Muhammad Iskandar mengatakan, selama Makesta para peserta mendapatkan materi seputar analisa diri, ke-IPNU-IPPNUan, ASWAJA, ke-NUan, keorganisasian, kepemimpinan, dan komunikasi.

"Makesta merupakan pengkaderan pertama untuk merekrut anggota IPNU-IPPNU baru yang berintelektual tinggi. Dengan Makesta ini, para anggota baru diharapkan mampu meneruskan perjuangan para pengurus seperti pada masa sebelumnya," kata Iskandar, Ahad (1/11).

Iskandar menjelaskan, saat ini banyak mahasiswa organisatoris yang melupakan kewajibannya sebagai mahasiswa yang sesungguhnya. Maka, dalam kesempatan itu diambil tema "Mengukuhkan jiwa sosial dan akademis generasi Nahdliyin".

"Melalui tema itu, semoga IPNU-IPPNU Unsuri mampu menjadi pelopor mahasiswa yang organisatoris dan akademis di kampus Unsuri," tukas Iskandar. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Senin 2 November 2015 18:1 WIB
PCNU Sumenep Sikapi Persoalan Agraria
PCNU Sumenep Sikapi Persoalan Agraria

Sumenep, NU Online
Banyaknya tanah rakyat khususnya di daerah pesisir yang dibeli orang luar daerah bahkan dari luar negeri menjadi keprihatinan bagi PCNU Sumenep, Madura, Jawa Timur. Karena itu, Ahad (1/11) PCNU Sumenep menggelar seminar agraria bertempat di gedung pertemuan PCNU Sumenep dalam rangka menyikapi banyaknya persoalan tersebut.<>

Menurut sekretaris PCNU Sumenep, A Waris Umar, maksud diadakannya seminar ini sebagai bagian mengonsolidasi Nahdliyin serta memberikan pengetahuan seputar masalah agraria dan konflik yang menyertainya.

Hadir dalam seminar tersebut dua orang narasumber, Muhammad Fayyadl (Gus Fayyadl) dari Paiton, Probolinggo dan KH Muhammad Shalahuddin (Gus Mamak) dari Guluk-Guluk, Sumenep.

Menurut gus Mamak, kerusakan bumi dalam Alquran selalu dikaitkan dengan ketamakan atau kerusakan. Berpindahnya kepemilikan tanah pada pemodal bisa menjadi pemicu bagi munculnya kerusakan bumi.

Lebih lanjut Gus Fayyadl menegaskan, maraknya pembelian tanah oleh para pemodal di tingkat lokal tak lepas dari desain di tingkat nasional bahkan global. Kapitalisme global dengan kuatnya invasi modal asing telah menguasai seluruh sumber daya alam. 

“Darat dan laut kita banyak yang telah dikelola asing. Kehadiran Front Nahdliyin Untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam sebenarnya didorong oleh kegelisahan realitas ini,” ujar Fayyadl.

Seminar agraria ini diikuti utusan MWC NU se-Kabupaten Sumenep, lembaga dan banom, mahasiswa, pesantren, perguruan tinggi, dan insan pers.

Mengakhiri seminar, PCNU Sumenep mendirikan Front Nahdliyin untuk Kedaulatan SDA di Kabupaen Sumenep sekaligus melantik A Dardiri Zubairi sebagai koordinatornya. (Dayat/Fathoni)

Senin 2 November 2015 17:1 WIB
Lakmud IPPNU Probolinggo Bahas Penguatan Aswaja NU
Lakmud IPPNU Probolinggo Bahas Penguatan Aswaja NU

Probolinggo, NU Online
Sebagai upaya pengkaderan pengurus secara berjenjang, Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kota Probolinggo menggelar Latihan Kader Muda (Lakmud) di Pondok Pesantren Raudlatul Muta’allimien di Kelurahan Wonoasih Kecamatan Wonoasih Kota Probolinggo, Sabtu (31/10) hingga Ahad (1/11).<>

Lakmud yang digelar untuk menyambut Konferensi Cabang (Konfercab) PC IPPNU Kota Probolinggo ini diikuti oleh 75 orang peserta se-Kota Probolinggo. Menariknya, Lakmud ini juga dihadiri oleh sejumlah pengurus badan otonom (banom) PCNU Kota Probolinggo.

Sekretaris PC IPPNU Kota Probolinggo Imro’atul Azizah mengatakan, bahwa Lakmud merupakan jenjang pengkaderan yang ada di dalam organisasi IPPNU. Dimana tujuan utamanya adalah untuk menanamkan ilmu-ilmu ke-IPPNU-an lebih dalam lagi ke kader-kader IPPNU se Kota Probolinggo.

“Setidaknya melalui Lakmud ini nantinya dapat memberikan pemahaman kepada seluruh pengurus bagaimana kader IPPNU itu mampu mengerti ciri khas NU dan memperdalam serta memperkuat keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) NU di kalangan pelajar,” ujarnya.

Dalam Lakmud ini para peserta diberikan beberapa materi untuk memantapkan pemahaman terhadap organisasi IPPNU. Meliputi ke-NU-an, ke-IPPNU-an, ke-Aswaja-an, Leadership, teknik persidangan dan ke-organisasi-an.

“Dengan Lakmud ini diharapkan agar para kader IPPNU tidak hanya bisa bergerak menjalankan roda organisasi saja, tetapi mampu berfikir secara kreatif dan inovatif demi kemajuan roda organisasi ke depannya,” harapnya.

Selain dihadiri jajaran pengurus PC IPPNU Kota Probolinggo, Lakmud ini juga dihadiri oleh Khoirun Nisa’ dari Pimpinan Wilayah (PW) IPPNU Provinsi Jawa Timur. Dimana dia merupakan mantan Ketua PC IPPNU Kota Probolinggo periode 2011-2013 lalu. Sehingga mampu memberikan motivasi kepada pengurus agar bisa lebih berkhidmat memajukan organisasi.

“Melalui kegiatan ini saya berharap kader IPPNU mampu dan mengerti bagaimana sebenarnya hidup dan bergerak yang selalu sesuai dengan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja),” ungkap Ririn, panggilan akrab Khoirun Nisa’. (Syamsul Akbar/Fathoni)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG