IMG-LOGO
Pendidikan Islam

Pesantren Fathul Ulum Jombang Terapkan Sistem Penjurusan

Rabu 4 November 2015 8:0 WIB
Bagikan:
Pesantren Fathul Ulum Jombang Terapkan Sistem Penjurusan

Jombang, NU Online
Pondok Pesantren Fathul Ulum, Desa Gardu Laut, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Jawa Timur menyiapkan tiga jurusan utama dalam membina para santrinya. Jurusan tersebut di antaranya adalah ilmu fiqih, ilmu tafsir al-Qur’an hadis dan ilmu tashawuf.
<>
Habibul Amin, pengasuh pondok pesantren ini, mengatakan bahwa pesantren saat ini sudah harus mulai merancang kurikulum-kurikulum yang bisa mengarahkan santrinya lebih terdidik, setidaknya pesantren juga bisa memperhatikan serta mewadahi berbagai kemampuan dan keterampilan santri ke dalam jurusan-jurusan tertentu supaya lebih fokus.

“Tiga jurusan (fiqih, ilmu tafsir al-Qur’an hadis dan ilmu tashawuf) itu kita masukkan pada kurikulum pondok pesantren ini, agar apa? Supaya mereka lebih bisa menekuni kemampuan mereka masing-masing. Dan ini, saya rasa lebih efektif daripada hanya ikut alur salaf  seperti biasanya itu,” katanya kepada NU Online saat ditemui di kediamannya. Senin (2/11).

Dalam pandangan Amin, sapaan akrabnya, mayoritas pondok pesantren berdiri kokoh karena sosok figur bukan disebabkan oleh sistem, termasuk kurikulum yang ada di pesantren itu sendiri. “Maka mulai rapuh. Dengan demikian saya dan para santri mengajak, mari kita membuat pesantren yang salaf kokoh katrena sistem bukan karena figur dan sistem kurikulum yang tepat guna,” ujarnya.

Sementara penerapan sistem penjurusan di pesantren ini setelah enam tahun menekuni belajar ilmu nahwu, sharof  dan ngaji beberapa kitab salaf yang lain. Masing-masing jurusan tersebut ditargetkan selesai selama tiga tahun. “Kalau S1 kan empat tahun, di sini tiga tahun para santri sudah bisa dikatakan sarjana ilmu fiqih, sarjana di bidang tafsir dan sarjana tashwuf,” ujarnya.

Pondok pesantren ini berdiri sejak tahun 2007. Saat ini Pesantren Fathul Ulum menampung kurang lebih dari 300 santri. Mereka datang dari asal yang berbeda hingga kepulauan dan luar jawa. Setiap santri juga diwajibkan riyadhah puasa hari senin dan kamis. “Riyadhah juga masuk kurikulum, jadi kelas 1 2 3 SD mereka wajib puasa Senin Kamis,” tuturnya. (Syamsul/Mahbib)

Bagikan:
Selasa 3 November 2015 23:2 WIB
Pesantren Sidogiri, Mercusuar Pengembangan Ekonomi Syariah
Pesantren Sidogiri, Mercusuar Pengembangan Ekonomi Syariah

Berbicara tentang pesantren yang sukses dalam pengembangan ekonomi syariah, kita langsung mengarah pada pesantren Sidogiri di Pasuruan dengan Baitul Mal wa Tamwil (MBT) UGT yang hingga kini terus melebarkan sayapnya ke berbagai wilayah di seluruh penjuru Indonesia. Pesantren ini kini menjadi rujukan tempat belajar ekonomi syariah pesantren lain dan menjadi jujukan para mahasiswa, dosen, dan peneliti yang ingin tahu lebih dalam kiat kesuksesan mereka.  

Karena banyaknya pihak yang ingin belajar ekonomi syariah ini, akhirnya dibentuklah Shariah Business Centre (SBC) Sidogiri, yang merupakan Lembaga Diklat Profesi Koperasi Jasa Keuangan Syariah (LDP KJK) yang  bergerak di bidang pelatihan untuk penyediaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal di bidang koperasi syariah. Selain memberikan layanan pelatihan, SBC Sidogiri juga menyediakan jasa konsultan dan pendampingan UKM dengan pola atau sistem syariah

Tentu saja kesuksesan yang kini diraih itu tidak datang dengan tiba-tiba. Banyak aral melintang dan hambatan yang harus dilaluinya. Tetapi berbagai kesulitan itu tidak membuat para para pengagas BMT Syariah di Sidogiri patah semangat, melainkan dijadikan sebagai penghela semangat untuk terus belajar. Kini mereka telah memetik hasil dari proses belajar yang sulit dan secara hati-hati terus mengembangkan usahanya. Koperasi Syariah Sidogiri telah memiliki anggota 8.871 orang, 256 Cabang, di 10 Propinsi, jumlah simpanan 165 Milyar, aset 1,2 Triliun, dengan omset 13.6 Triliun rupiah

Bagaimana awal mulanya pengembangan ekonomi syariah ini berkembang. Seperti pesantran-pesantren lainnya, kajian kitab kuning merupakan “makanan” sehari-hari. Dalam bab muamalah, pembahasan tentang riba secara gamblang dibahas. Pengasuh pesantren Sidogiri KH Nawawi Thoyib merasa tak bisa lepas tangan dengan kondisi masyarakat di sekitarnya yang dicekik oleh renternir, sementara mereka hanya berdiam diri dan mengharamkan saja tanpa mampu berbuat sesuatu. Dengan tekad bulat, pada 1993 ia mulai membantu masyarakat mengganti pinjaman dari renternir dengan pinjaman tanpa bunga. 

Teladan yang diberikan oleh pengasuh pesantren tersebut memberi inspirasi para ustadz muda waktu itu seperti Ust H. Mahmud Ali Zain, yang kini menjadi tokoh penting dalam koperasi syariah Sidogiri. Mereka berusaha belajar dan mencari jejaring yang terkait dengan pengembangan ekonomi syariah. Pada tahun 1990an, Konsep simpan pinjam berbasis syariah masih langka, tetapi hal itu tidak menyurutkan langkahnya untuk mencari ilmu. Upayanya tak sia-sia, salah satunya mereka mendapatkan akses mengirimkan 10 orang untuk mengikuti pelatihan BMT dari sebuah Bank Syariah yang mulai diizinkan beroperasi di Indonesia. 

Dari situlah kemudian dilanjutkan dengan pendirian Koperasi BMT yang diberi nama Baitul Mal wat-Tamwil Maslahah Mursalah lil Ummah dengan anggota para guru MMU (Madrasah Miftahul Ulum) Pondok Pesantren Sidogiri. Koperasi ini secara resmi didirikan pada tanggal 12 Rabi’ul Awal 1418 H (ditepatkan dengan tanggal lahir Rasulullah SAW) atau 17 Juli 1997 di kecamatan Wonorejo Pasuruan. 

Setelah bermusyawarah dan mensosialisasikan cita-cita mulia ini, terdapat 148 orang yang bersedia menjadi anggota dan berhasil dikumpulkan modal sebanyak 13.5 juta rupiah. Koperasi itu mulai usahanya dengan menyewa kantor seluas 16 meter persegi. Dari tempat kecil inilah, para pelopor ekonomi syariah dari Sidogiri mulai berupaya ilmu yang diperoleh dari pesantren dan pelatihan.  

Pelan tapi pasti, dengan mengedepankan sikap profesional, memisahkan antara manajemen pesantren dan manajemen ekonomi, koperasi tersebut berkembang dengan baik. Hal ini membuat komunitas Sidogiri yang lebih luas, khususnya para guru dan alumni menginginkan pendirian koperasi dalam skup yang lebih luas. Maka pada tanggal 05 Rabiul Awal 1421 H (juga bertepatan dengan bulan lahirnya Rasulullah SAW) atau 22 Juni 2000 M diresmikan dan dibuka satu unit Koperasi BMT UGT Sidogiri di Jalan Asem Mulyo 48 C Surabaya. Seperti pendahulunya, BMT ini berjalan dengan baik. Dengan target pasar yang memang luas, BMT UGT Sidogiri mampu melayani konsumen dalam jangkauan yang luas dan kini menjadi perbincangan nasional. 

Kini Sidogiri bukan lagi sekedar pesantren yang mengajarkan kitab kuning, melainkan telah menjadi Lembaga Ekonomi dan Sosial dibawah payung Sidogiri Network Forum (SNF) dengan serangkaian usaha yang meliputi (1) koperasi pesantren, (2) BMT Maslahah, (3), BMT UGT Usaha Gabungan Terpadu (4) BPR Syariah Ummu (jasa Keuangan), (5) koperasi Agro, (6) SBC Sidogiri (Diklat Profesi Jasa Keuangan Syariah), (7) LAZ Sidogiri (Lembaga Amil Zakat), (8) L-KAF Sidogiri (Lembaga Wakaf), (9) IASS Sidogiri (Ikatan Alumni Santri), (10) majalah Buletin Sidogiri, dan (11) Penerbitan Pustaka Sidogiri. 

Seiring dengan semakin bertambahnya kepercayaan masyarakat, luasnya jaringan alumni, bertambahnya akses modal dan pengalaman. Tak diragukan lagi, upaya dakwah ekonomi yang secara langsung menyentuh lapisan akar rumput akan terus berkembang. Dakwah tak sekedar bil lisan, tetapi juga bil hal atau dengan aksi nyata. Model seperti inilah yang akan memberikan hasil yang dahsyat.  

Upaya pengembangan ekonomi berbasis pesantren yang kini gencar dilakukan, baik oleh masyarakat maupun oleh pemerintah melalui Kemenag, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan lembaga pemerintah lainnya mendapat partner yang baik yang bisa mendampingi pesantren lain yang ingin belajar ekonomi syariah. Sidogiri paham betul tradisi pesantren dan tahu apa yang harus dilakukan agar kegiatan ekonomi pesantren ini bisa tumbuh. (Mukafi Niam)

Selasa 3 November 2015 13:0 WIB
Juara Matematika, Siswa NU Ini Studi Banding ke Singapura
Juara Matematika, Siswa NU Ini Studi Banding ke Singapura

Prestasi membanggakan diraih M. Kafa Mas’udi, siswa Madrasah Ibtidaiyah Nurul Ulum (MINU) Unggulan, Bojonegoro, Jawa Timur, sekolah di bawah naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama.
<>
Siswa yang baru menginjak kelas III itu berkesempatan studi banding ke Singapura karena prestasinya menjadi Juara I pada Olimpiade Matematika dan Sains Level I Tingkat Jawa Timur yang diselenggarakan oleh Emerald Education Center (EEC).

Menurut Sang Ibunda, Farida, putra pertamanya itu memang sejak kecil memiliki kecerdasan yang beda dari teman-teman seusianya. Tak ayal, meski  baru menginjak 9 tahun, anaknya yang akrab dipanggil Kafa itu sudah memiliki segudang prestasi di tingkat kabupaten, provinsi dan nasional. Hingga akhirnya berkesempatan pergi ke Singapura.

“Karena jadi Juara I saat Olimpiade Matematika tingkat provinsi dia dapat hadiah ke Singapura,” ujarnya beberapa waktu lalu.  

Menurutnya sejak kelas II, Kafa sudah mencoba mengikuti kegiatan olimpiade baik. Dia bersaing ketat dengan anak-anak seusianya hingga akhirnya dia berhasil memperoleh nilai tertinggi dan didaulat sebagai perwakilan sekolah dan kabupaten untuk mengikuti olimpiade tingkat provinsi.

Sebelumnya, Kafa juga sudah berpengalaman mengikuti kompetisi yang sama dan berhasil menjadi Juara III di tingkat Nasional. Pengalaman-pengalaman saat mengikuti olimpiade-olimpiade terdahulu menjadi bekal untuk meraih prestasi lebih baik.

Di tingkat sekolah, Kafa bersaing dengan teman-teman se-almamaternya. Tahapan awal seleksi dilalui Kafa dengan santai. Setelah melakukan seleksi, pihak sekolah memilih peserta yang memiliki nilai tertinggi untuk didaulat mewakili sekolah yang beralamat di Desa Sukorejo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur itu.

"Setelah seleksi tingkat sekolah, akhirnya Kafa terpilih untuk dikirim mengikuti olimpiade tingkat kabupaten, hingga provinsi," imbuhnya.

Diakuinya, tahapan demi tahapan putranya menjajaki ajang olimpiade tidak lah mudah. Dia harus bersaing dengan siswa-siswi terbaik dari perwakilan beberapa sekolah dan dari berbagai daerah. Namun, pengalaman-pengalaman serta bimbingan-bimbingan yang diberikan oleh pihak MINU Unggulan membuatnya percaya diri dan terus berjuang untuk membuktikan bahwa dia bisa.  

"Apalagi, sebelum olimpiade Kafa juga sudah diberi bekal dari sekolah dengan pelatihan soal dan bimbingan-bimbingan. Karena itu, dia tidak grogi," jelasnya.

Sejak mulai Kelas I, Kafa sudah menunjukkan bakat yang mencolok di antara teman-temannya. Selain itu, dia dikenal sebagai murid yang percaya diri.

"Anaknya memang pintar, tahun ini dia mendapat predikat siswa terbaik di MINU Unggulan. Kemampuannya diatas rata-rata dan cepat menyerap pelajaran,” tutur salah satu guru di MINU Unggulan, Abdul Mujib.

Dijelaskan, sebelum mengikuti olimpiade, Kafa mengikuti bimbingan seminggu dua kali sampai mendekati hari penyelengaraan kompetisi, termasuk pemantapan materi Matematika dan Sains. Namun seringnya mengikuti kejuaraan dan olimpiade tingkat Kabupaten, Provinsi sampai Nasional sejak Kelas II, membuat pembimbing tidak kesulitan memberikan materi. Apalagi, dia memiliki semangat bertarung untuk menjadi pemenang saat kompetisi apa pun.

“Kafa memang calon bibit bagus, anaknya PD (percaya diri) dan tidak pernah grogi. Minat belajarnya bagus dan semangat bersaingnya tinggi, tidak mau kalah dengan temannya. Kalau kalah, harus berupaya bagaimana mengalahkannya,” imbuhnya.

Terbukti saat mengikuti olimpiade Matematika dan Sains, dari ratusan lebih peserta, Kafa Juara 1 dan mewakili Jawa Timur di tingkat Nasional.  Saat maju dan menjadi finalis di tingkat nasional, akhirnya dia meraih juara III dari ribuan peserta yang mengikuti ajang kejuaraan tingkat SD sederajat itu. Pada tahun berikutnya, saat dia naik kelas III, Kafa kembali menjadi perwakilan sekolah dan berhasil dikirim mewakili kabupaten di tingkat provinsi dan kembali menyabet Juara I dan dikirim ke Singapura.

Selain aktif di sekolah Kafa juga aktif mengikuti kegiatan-kegiatan luar sekolah. “Selama tiga hari, Kafa bersama 20 temannya mengikuti trevel educati di Malang. Karena keaktifan, kecerdasan dan rasa percaya diri yang dimilikinya, Kafa juga menjadi duta karakter di MINU Unggulan,” ujarnya.

Menurut penuturan orang tuanya, Sang Putra sejak kecil memang sudah menunjukkan prestasinya dengan menjadi juara di ajang perlombaan anak-anak. Di antaranya ketika masih duduk di jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Kafa pernah menjadi juara lomba mewarnai dan berbagai lomba lainnya.

"Memang sejak kecil dia sudah sering juara, dan saat ini kami bangga Kafa bisa berprestasi tingkat kabupaten, provinsi dan nasional apalagi dia juga berkesempatan studi banding dan liburan keluar negeri," ujarnya.

Menurutnya, dibandingkan anak sebayanya, Kafa termasuk memiliki tingkat kecerdasan dan perkembangan motorik di atas rata-rata. Saat usianya sembilan bulan, putra pasangan Nur Hakim dan Farida Ekowati itu sudah bisa berjalan, sementara teman-teman sebayanya masih belum.

"Dari segi perkembangan ketika sekitar umur setahun lebih, dia sudah bisa mengendarai sepeda roda dua. Selain itu, dia juga sudah bisa baca padahal belum sekolah," tuturnya.

Tidak hanya itu, ketika masih duduk di PAUD, teman-teman sekelasnya baru bisa menulis angka 1 sampai 10, namun Kafa sudah bisa menulis angka 1 sampai 100, meskipun ada beberapa yang salah dan belum sempurna menghitung.

"Karena itu, dia kami sekolahkan di madrasah. Harapannya bisa berprestasi dari segi Iptek dan Imtaqnya," pungkasnya. (Nidhomatum MR)


Senin 2 November 2015 20:1 WIB
Nurul Haramain NTB, Pesantren dengan 33 Hektar Lahan Hijau
Nurul Haramain NTB, Pesantren dengan 33 Hektar Lahan Hijau

Pondok Pesantren Nurul Haramain Narmada di Lombok Barat ini telah berhasil berhasil mewujudkan lembaga pendidikan yang ramah lingkungan. Pemimpin pesantren ini, TGH Hasanain Juaini membeli lahan gundul di kawasan hutan seluas lebih dari 33 hektar, lalu menggarapnya menjadi lahan hijau dan lebat. <>

Proses penghijauan itu memakan waktu lebih dari 9 tahun yang melibatkan santri serta warga sekitar. Dana yang dikeluarkannya tidak sedikit mencapai Rp 4,3 miliar lebih.

TGH Juaini bercerita, semenjak awal bersama-sama dengan para tokoh agama pemerhati lingkungan seperti KH Masdar Farid Mas’udi menerbitkan buku “Fiqih Lingkungan”.

Menurut TGH Juaini, ia ingin menyampaikan pesan bahwa melestarikan lingkungan itu adalah amanat, ciptaan manusia. Sama halnya dengan perintah untuk menyembah Allah.

“Kita tidak akan bisa menyembah Allah, mengimplementasikan keimanan kita dalam kondisi lingkungan kita hancur. Apalagi kita dalam posisi masih bisa melakukan sesuatu, ajakan saya untuk melestarikan lingkungan itu semata-mata merupakan perintah Allah dan Rasulullah SAW,” katanya.

Banyak yang bernggapan bahwa sebuah institusi pendidikan Islam umumnya hanya bergerak di bidang tafaqquh fiddin, atau pendidikan agama saja, dan acuh-tak acuh dengan kondisi lingkungan.

Menurut TGH Juaini, kesimpulan itu tidak tepat. Melestarikan lingkungan adalah amanah ciptaan manusia. Kita sebagai individu pribadi baik sebagai kelompok sosial harus turut melestarikan lingkungan. Karena Rasulullah sendiri bersabda, Berhati hatilah dengan bumi ini sesungguhnya dia adalah ibumu.

Jadi kita perlakukan bumi ini seperti bagaimana memperlakukan ibu kita. Memuliakannya. Karena jasa-jasanya kepada kita,” tambanya.

TGH Juaini, tidak sepakat pondok pesantren Nurul Haramain dikategorikan sebagai “pesantren yang pro lingkungan”. Karena seharusnya semua pondok pesantren itu harus pro lingkungan. Setiap orang itu juga harus pro lingkungan, katanya.

“Saya mengatakan hal itu (pro lingkungan) adalah sesuatu yang harus khusunya pondok pesantren yang selama ini dikenal oleh masyarakat. Jangan hanya nyaman di menara gading tapi tidak mau tahui urusan luar. Saya kira ini suatu kesalahan dalam konsep pendidikan islam yang selama ini dipahami banyak orang,” tambahnya.

Pada tahun 2011 TGH Hasanain Juaini memperoleh penghargaan Ramon Magsaysay. Salah satunya karena ia dinilai sukses mengembangkan pesantren yang peduli lingkungan. Dengan memperoleh penghargaan ini, namanya sejajar dengan tokoh-tokoh seperti Abdurrahman Wahid, Mochtar Lubis, atau Pramoedya Ananta Toer, yang juga pernah meraih penghargaan serupa. (Syamsul Hadi)

 

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG