IMG-LOGO
Nasional

Dubes Uni Eropa: Indonesia Harusnya Jadi Role Mode Islam Damai

Jumat 6 November 2015 19:2 WIB
Bagikan:
Dubes Uni Eropa: Indonesia Harusnya Jadi Role Mode Islam Damai

Jakarta, NU Online
Perkembangan Islam di Eropa meski tidak signifikan, mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Sebut saja Jerman, Inggris, Perancis, Rusia, dan Turki adalah negara-negara yang jumlah pemeluk agama Islam semakin bertambah. Sedangkan Islam yang hari ini identik dengan kekerasan, seperti yang digambarkan di tanah kelahirannya Timur Tengah. Membuat keresahan tersendiri bagi negara-negara eropa.
<>
Demikian disampaikan Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia Vincent Guerend saat berkunjung ke Kantor PBNU jalan Kramat Raya nomor 164 Jakarta untuk berdiskusi terkait Islam itu sendiri, Jumat (06/11). Dalam pertemuan ini kedua pihak berbicara banyak tentang radikalisme yang mengatasnamakan Islam. Tentang anak muda yang ikut perang.

Vincent mengatakan, alasan pemilihan Indonesia bukan tanpa dasar. Pasalnya Indonesia negara dengan jumlah muslim terbanyak di dunia, yang di dalamnya juga banyak, bukan saja agama tetapi juga ras, suku dan budaya. Indonesia telah membuktikan mampu menjaga perdamaian dan hidup bisa berdampingan. “Harusnya Indonesia menjadi role mode dunia mengenai cara berislam yang benar,” tuturnya.

Di kesempatan ini Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan bahwa kekerasan atau radikalisme yang mengatasnamakan Islam bukanlah original pemikiran umat Islam. “Sebab Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan,” ujarnya.

Sebab itu, Kang Said mengatakan untuk menangkal itu semua, terutama NU, membekali pendidikan kepada kader-kader sampai ke pelosok-pelosok desa agar tetap memegang paham Sunni yang moderat. Ia menganjurkan Dubes Uni Eropa melakukan hal yang sama di dunia barat. “Memberikan pendidikan Islam yang benar kepada imam-imam masjid,” tutupnya.

Dalam pertemuan ini tampak Waketum PBNU H Slamet Effendi Yusuf, Sekjen PBNU Helmi Faisal Zaini, Ketua PBNU KH Marsyudi Syuhud, Bendahara Umum Bina Suhendra, dan Wasekjend PBNU Imam Pituduh. (Faridur Rohman/Alhafiz K)

Bagikan:
Jumat 6 November 2015 18:1 WIB
Kemendesa Gandeng Facebook untuk Kembangkan Potensi Desa
Kemendesa Gandeng Facebook untuk Kembangkan Potensi Desa

Demak, NU Online
Dalam rangka mengembangkan dan menggali potensi desa, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi terus menggiatkan berbagai kegiatan untuk mempromosikan potensi yang ada di desa. Bahkan, Kementerian yang baru lahir di masa pemerintahan Jokowi tersebut sudah membangun kerjasama dengan Facebook untuk memasarkan potensi desa agar dikenal dunia.<>

Hal tersebut disampaikan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi dihadapan ratusan kepala desa saat membuka acara Pameran Potensi Desa di Kabupaten Demak, Jumat (6/10).

Dalam kesempatan tersebut, Marwan meminta kepada para kepala desa untuk berlomba-lomba mengembangkan dan menggali potensi desa. "Tentu harus dikedepankan dan ditumbuh kembangkan. Saya berharap potensi desa bisa kita pasarkan melalui teknologi," ujar Marwan dalam rilisnya kepada NU Online.

Marwan menjelaskan, pemerintah pusat sudah melakukan kerjasama dengan Facebook untuk memasarkan potensi desa. "Mudah-mudah kerjasama kementerian desa dengan Facebook bisa berjalan baik. Karena memasarkan potensi desa dengan berbasis teknologi bisa lebih cepat untuk dikenal," imbuhnya.

Marwan menjelaskan pemerintah Indonesia sudah berkunjung ke Silicon Valley kantor pusat Facebook di Amerika Serikat. Dari pertemuan tersebut, imbuh Marwan, Facebook sudah siap untuk membantu pemasaran potensi desa yang sudah mempunyai UKM.

"Kemarin kita sudah ketemu, tinggal di matangkan dan menggali potensi apa saja yang akan di pasarkan," papar Marwan.

Tentunya, proses kerjasama dengan Facebook nantinya ada beberapa desa yang akan dijadikan pilot project untuk kerjasama dengan Facebook. "Pilot projectnya nanti desa-desa yang sudah siap dulu dan desa yang sudah ada infrastruktur pendukung. Ini desa-desa yang sudah maju dulu, rata-rata ada jawa, bali, sebagian sumatera nanti akan kita pilihi, targetnya tahun depan sudah mulai," imbuhnya.

Oleh karena itu, Marwan menegaskan pentingnya pameran potensi desa yang diselenggarakan di Kabupaten Demak ini sebagai stimulus untuk mengembangkan berbagai potensi desa secara nasional.

"Karena UMKM Desa ini memiliki peran penting penting untuk menumbuhkan potensi desa dan menggerakkan perekonomian masyarakat desa," imbuhnya.

Dengan adanya pameran potensi desa, Marwan berharap semangat masyarakat desa untuk mengembangkan dan menggali potensi yang ada semakin besar.

"Pameran potensi desa yang kelima ini diharapkan bisa menjadi semangat bagi masyarakat desa untuk menggali dan memasarkan potensi desa yang ada," tandasnya. (Red: Fathoni)

Jumat 6 November 2015 12:0 WIB
Munas, Mahasiswa Tafsir Hadits Indonesia Usung Islam Nusantara
Munas, Mahasiswa Tafsir Hadits Indonesia Usung Islam Nusantara

Jember, NU Online
Forum yang menamakan dirinya sebagai  FKMTHI (Forum Komunikasi Mahasiswa Tafsir Hadis Indonesia) resmi membuka kegiatan Seminar Nasional dan Musyawarah Nasional di IAIN Jember dan berlangsung selama tiga hari, 5-8 November 2015.
<>
Forum yang yang dibuka Kamis (5/11) diawali dengan seminar nasional yang mengusung tema “Islamisasi Nusantara ataukah Menusantarakan Islam?”.

Dalam seminar itu, Dr. Aksin Wijaya selaku narasumber mengatakan, Islam Nusantara harus dipahami sebagai dialog antara budaya dan agama, yang menghasilkan karakter yang khas. Watak Nusantara harus dijadikan pijakan untuk menafsirkan Islam, sehingga Islam yang berkembang di Nusantara tidak bersifat purifikatif, namun dialogis dengan budaya dan peradaban Nusantara.

Menurut Aksin, Islam itu mempunyai watak dialogis. Hal ini berdasar pada cara Islam  masa awal penyebarannya yang juga tidak serta merta menolak tradisi. Peradaban itu tidak ada yang monolitik. Ada banyak tradisi Arab pra-Islam yang diakomodasi Islam sebagai bentuk dialognya terhadap realitas.

"Dan begitulah juga Islam Nusantara yang diekspresikan oleh para ulama dengan mengakomodir tradisi berdasarkan nilai-nilai universal Islam," tutur doktor tafsir dari UIN Sunan Kalijaga ini.

Terkait tema, Achmad Nur memandang, bahwa Nusantara yang berdialog dengan Islam inilah yang disebut sebagai Islam Nusantara. Islam itu memiliki watak dialogis. Menurutnya, Islamisasi Nusantara dijalankan dengan jalan dialog bukan dengan cara-cara intoleran yang sering dilakukan oleh orang yang mengaku muslim pada masa kini.

"Islam itu hadir di Nusantara dengan wajah sufi. Islam sufi inilah yang kemudian  berdialeketika dengan masyarakat Nusantara. Jadi sebenarnya pendekatan yang dilakukan adalah pada tataran etika. Dan etika Nusantara inilah yang harus dikaji lebih mendalam dan dirumuskan," tandasnya.

Forum seminar kemudian diteruskan dengan Musyawarah Nasional yang membahas soal keorganisasian FKMTHI, meliputi sidang tata tertib, pembahasan AD/ART, dan lain sebagainya.

Dekan Fakultas Ushuludin IAIN Jember, Dr. Hifni Zaini dalam sambutannya menuturkan, bahwa forum ini menggagas satu hal yang penting bagi masa depan. Menghadapi perkembangan yg semakin masif, semua pihak memang harus segera berkonsolidasi, merapatkan barisan, sehingga itu melahirkan satu ekspektasi positif dan produk yang bermanfaat bagi dinamika Islam.

Sementara, Sekjend FKMTHI Hasan Albab mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan wawasan dan pemahaman mahasiswa dalam khazanah Tafsir Hadis di Nusantara. Selain itu juga dimaksudkan supaya tercipta dialektika dan  dinamika tentang kajian Islam Nusantara. (Siddiq AR/Anwar Kurniawan/Mahbib)

Jumat 6 November 2015 6:5 WIB
Memprihatinkan, Kondisi Pendidikan Agama di Wilayah Perbatasan
Memprihatinkan, Kondisi Pendidikan Agama di Wilayah Perbatasan

Jakarta, NU Online
Pendidikan agama dan keagamaan di wilayah perbatasan negara kita masih memprihatinkan. Kualitas pelayanannya masih rendah, hal ini diperparah dengan beragam kompleksitas permasalahan yang dialami saudara-saudara kita diperbatasan, demikian diungkapkan Kepala Badan Litbang dan Diklat Abdurrahman Mas’ud saat menjadi pembicara pada “Seminar Pendidikan Agama dan Keagamaan <>di Wilayah Perbatasan Negara” yang diselenggarakan oleh Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan, Balitbang dan Diklat Kemenag, di Auditorium HM Rasjidi, Gedung Kemenag MH Thamrin No. 6, Jakarta, Kamis (5/11)

Selain Kabalitbang dan Diklat, hadir sebagai pembicara adalah Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Malik Haramain dan Staf Ahli Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Rahmat T Bahruddin. Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir dan Dirjen Pendis Kamaruddin Amin.

“Tahun 2012, kami melakukan penelitian di beberapa daerah, seperti Distrik Sota, Distrik Arso, Distrik Muara Tami, Sebatik, Pulau Nunukan, Atambua Selatan, Atambua Barat, Rote Ndao, Belu, Sangihe dan Talaud. Kami mengukur sejauh mana ketercapaian 8 Standar Nasional Pendidikan untuk madrasah dan memotret kondisi pendidikan agama jenjang pendidikan formal untuk semua agama, serta pendidikan keagamaan. Secara umum, hasilnya menunjukkan bahwa kondisi pendidikan agama, pendidikan madrasah dan pendidikan keagamaan di wilayah timur perbatasan masih sangat memprihatinkan dan membutuhkan penanganan khusus,” urai Masud seperti dikutip dari laman kemenag.go.id.

Ia juga mempresentasikan hasil penelitian pada 2013 di Sabang, Bengkalis, Bintan, Bengkayang, Batam dan Entikong dengan fokus peneliant yang sama.

“Di daerah ini, kondisi pendidikan agama di madrasah, pesantren dan pendidikan keagamaan lainnya jauh lebih baik. Meski demikian, masih butuh penanganan khusus,” tegas Kabalitbang.

Sementara itu, Malik Haramain melihat, Badan Nasional Pengelolaan Perbatasan (BNPP) kurang efektif, karena di bawah Kemendagri. Ia melihat masalah perbatasan harusnya dikelola setingkat menteri, bahkan harusnya oleh menteri koordinator, jika tidak, maka sulit bergerak, karena sebuah badan di bawah kementerian, tidak mampu berkoordinasi dengan baik dengan banyak kementerian. Ia melihat, banyak masalah di perbatasan yang harus digarap, karena ini menyangkut banyak hal.

“Kita butuh SDM yang hebat dan mempunyai jiwa nasionalisme tinggi, karena banyak masyarakat di perbatasan seakan merasa bukan warga negara Republik ini,” kata Malik.

Sedang Rahmat T Bahruddin melihat betapa pentingnya kehadiran energi di wilayah perbatasan. Dalam pandangannya, sejak era Reformasi, wajah perbatasan kita dinilai lebih baik, tapi ini tidak cukup, karena kita masih kalah dari negara lain. Kita harus menyiapkan energi yang cukup di daerah perbatasan kita. PLN harusnya tidak melihat pada untung-rugi, karena ini menyangkut tentang kehadiran negara. 

“Ini tentang identitas dan kedaulatan negara. Jika ada energi, hampir semua peradaban bisa dilakukan di daerah perbatasan,” tegas nya. Red: Mukafi Niam

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG